Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 148 : Aditia 8)


__ADS_3

Mereka sampai di markas. Seperti perkataan Alka sebelumnya, dia bisa membuka kunci ghaib dan memunculkan gedung markasnya.


Mereka bertiga masuk begitu gedung sudah muncul dan masuk ke salah satu ruangan yang berjajar begitu banyak botol-botol, entah berisi apa.


Di antara rak botol itu ada sebuah lemari kaca yang tidak terlalu besar tapi cukup tinggi.


Jana membuka rak kaca itu dan mengambil beberapa kitab diantara sepuluh kitab yang ditulis Mulyana. Sisanya buku-buku dari beberapa pengarang yang merupakan Kharisma Jagat juga. Tapi tentu saja jati diri Kharisma Jagatnya tidak dibuka. Kebanyakan buku horor dan juga pengalaman pribadi.


"Ini ada tiga buku yang judulnya bisa jadi mendekati penyakit bapak." Jana memberikan tiga buku itu pada Alka dan Dirga.


Mereka duduk di bangku yang ada di sana. Sofa yang cukup nyaman dilengkapi meja.


Pak Dirga membaca kitab kumpulan mantra santet.


Alka membaca kitab kumpulan mantra pelet dan Jana membaca kumpulan tanaman pesakitan.


Lembar demi lembar dibaca tapi mereka merasa tidak ada yang mirip kejadiannya, tapi mendekati ada.


Dimulai dari Dirga.


"Di sini dibilang kalau terkena santet itu bisa aja sakit. Tapi nggak tidur tanpa bangun macam Mulyana. Nah media santet ini biasanya dari makanan, dari bagian tubuh korban atau dikirim secara langsung."


"Kalau santet dikirim dari makanan, bapak akan cepat sadar karena makanan yang diguna-gunai akan berbau busuk bagi Kharisma Jagat." Jana tahu karena dia beberapa kali ikut bapak menangani kasus santet melalui makanan. Dia dan bapak mencium bau busuk itu di makanan orang yang akan dijadikan media santet.


"Bener Jan. Aku setuju sama kamu. Nggak mungkin bapak nggak sadar kalau dimakanannya dikirim santet." Alka mendukung pernyataan Jana.


"Kalau pelet gimana Ka?" Jana bertanya.


"Tidak ada riwayat pelet yang korbannya jadi tertidur. Kalau pelet, kan tujuannya untuk mendapatkan bukan mencelakai." Alka menjawab karena dia yang pegang kitab pelet.


"Kalau pelet bukan, tapi santet mungkin nggak sih?" Dirga membuka diskusi.


"Bisa jadi. Musuh bapak kan banyak." Jana setuju.


"Berarti kita harus menemukan media santetnya yang membuat Mulyana nggak sadar seperti sekarang dan yang membuat dia juga nggak sadar telah disantet?" Dirga membuka pertanyaan.


"Di kitab tumbuhan pesakitan ada nggak tumbuhan yang punya sifat ghaib tinggi," Alka bertanya.


"Ada beberapa tumbuhan yang punya sifat itu," Jana menjawab.


"Apa itu tumbuhan yang punya sifat ghaib tinggi?" Dirga bingung.


"Maksudnya Alka tuh gini Pak, tumbuhan dengan sifat ghaib tinggi itu adalah tumbuhan yang tidak memiliki benih, tidak butuh tempat untuk tumbuh dan muncul tiba-tiba."


"Kok bisa muncul tiba-tiba?" Dirga bertanya lagi.


"Karena tirakat biasanya Pak. Jadi dukun melakukan tirakat dengan berziarah ke gunung atau hutan untuk mendapatakan tumbuhan bersifat ghaib tinggi itu." Jana kembali menjelaskan.


"Oh gitu, bisa gitu ya? kalau dapat tumbuhan itu, kita bisa kaya nggak?"


"Kenapa Pak? mau dapat tumbuhan itu? nggak akan mudah Pak, banyak dukun bahkan tidak berhasil setelah bertahun-tahun mengulang tirakat di gunung. Kebanyakan gagal karena untuk menahan segala macam godaan sebelum akhirnya mendapat tumbuhan itu, berat."


"Oh gitu."


"Satu lagi Pak, tumbuhan itu tidak hanya bisa bikin orang yang mendapatkannya jadi kaya saja. Bisa jadi juga bisa berkuasa. Karena tumbuhan itu sekali didapat, dia akan menuruti semua apa yang diperintahkan tuannya."

__ADS_1


"Memang tumbuhan itu memberikan efek apa sampai bisa membuat seseorang menjadi berkuasa?"


"Nah itu dia masalahnya Pak. Di sini hanya dijelaskan kalau tumbuhan itu membawa masa lalu berupa kenangan dan masa depan berupa harapan dalam versi terburuk."


"Apa nama tumbuhan itu Jan?" Alka bertanya.


"Kembang Sukapuran."


"Wah aku pernah dengar tuh, kembang itu paling sulit didapat. Dia memiliki kelopak bunga mencapai tiga belas kelopak. Setiap kelopak mampu menyantet satu manusia." Alka kali ini menanggapi.


"Cara nyantetnya pakai kelopak itu gimana?"


"Dimasukkan ke dalam tubuh si korban pak."


"Jan, masa iya si Mulyana mau asal makan tuh kembang. Kan dia mah pinter ilmu gituan. Masa iya dia mau aja gitu makan tuh kelopak bunga." Dirga protes.


"Iya juga sih."


"Jan, coba kamu baca sekali lagi. Apakah kembang itu kalau dicampur ke makanan tidak berbau dan sulit dikenali oleh Kharisma Jagat?"


"Bentar ... Ka, di sini sih nggak dijelasin ya. Cuma kembang ini emang tingkat ghaibnya yang tertinggi. Gue sama bapak juga belum pernah dapet kasus kembang ini, karena nggak banyak yang bisa dapat kembang ini. Makanya jarang yang pakai kembang ini sebagai media santet.


Tapi kalau sifat ghaibnya tinggi, maka berdasarkan sifatnya kembang itu tidak terlihat dan tidak terasa kecuali oleh orang yang memiliki kemampuan setinggi kembang itu.


Kalau bapak kemampuannya di bawah kembang itu, maka kemungkinan bapak merasakan, membaui dan melihat kelopak itu saat dicampur di makanannya, kecil."


"Oh, jadi maksudmu bapak bisa aja disantet melalui makanan yang udah dicampur kelopak itu? jiwanya ditahan di suatu tempat sehingga bapak tidak bisa bangun."


"Ya. Bisa aja begitu." Jana menjawab pertanyaan Alka.


Ok lah dia kejebak dan kesantet. Tapi ini udah tiga hari. Kok dia masih nggak bisa lawan?" Dirga protes.


"Bapak bisa aja lawan kalau bapak tahu itu musuh. Gimana kalau bapak bahkan nggak sadar itu musuh?"


"Maksud kamu Ka?" Jana bertanya.


"Apa tadi? Kenangan dan harapan? gimana kalau bapak terjebak di suatu dunia dimana dia nggak bisa pergi karena dia nggak sadar kalau dirinya lagi kejebak di sana? Mungkin karena kenangan dan juga harapan itu."


"Nggak ngerti saya Ka," Pak Dirga berkata.


"Kenangan itu adalah apa yang sudah kita lewati. Sedang Harapan adalah apa yang kita inginkan untuk masa depan. Gimana kalau bapak terjebak bersama kenangannya yaitu bisa jadi orang terdekat bapak kayak istri dan tuanku ... maksudnya istri dan anak bapak, atau harapan, harapan yang melibatkan istri dan anaknya.


Karena itu bapak sulit atau bahkan tidak bisa mengenali itu sebagai jebakan dan jiwanya telah ditawan di sana."


"Wah Ka, kalau yang kamu bilang benar, kemungkinan bapak balik sulit, kecuali kita sadarkan dia, kalau dunia yang dia sedang tempati adalah dunia yang salah. Dimensi jebakan yang diciptakan oleh kembang itu atas kenangan dan harapan yang paling buruk." Jana semakin khawatir.


"Jadi kita harus gimana? kan nggak mungkin sesederhana bisikin Mulyana bilang kalau dia lagi ditipu ama kembang." Dirga kesal karena mereka belum menemukan jawabannya.


"Kita harus datang ke dimensi itu Pak, menyadarkan bapak bahwa dia sedang ditipu."


"Caranya ke sana gimana Ka?"


"Aku bisa ke sana. Aku punya kemampuan melihat dan memasuki dimensi seseorang yang bagian tubuhnya aku pegang." Alka punya solusi.


"Tapi Ka, kamu kalo bisa masuk ke dimensi itu juga belum tentu bisa komunikasi ama bapak. Kan, tadi udah kita bahas. Bapak kemungkinan nggak sadar kalau dia lagi ditipu di dunia itu. Karena kenangan dan harapan dia kan belum tentu ada kamu." Jana menyebalkan, mematahkan kesimpulan Alka.

__ADS_1


"Memang harus orang yang ada di kenangan itu?" Dirga bertanya.


"Iyalah, orang yang paling mungkin selalu ada di sisi bapak baik dulu sebagai kenangan dan nanti sebagai harapan atau masa depan," jelas Jana.


"Kalau begitu yang paling mungkin menyadarkan Mulyana itu adalah istrinya atau anaknya kan?" Dirga membuat pertanyaan yang membuat Alka tersenyum sumringah."


"Ya, kalau dua orang itu kemungkinan ada dalam kenangan dan harapan bapak," Jana menjawab.


"Istrinya tidak akan mungkin aku libatkan. Tapi kalau Aditia dia masih bayi."


"Pak Alka kan yang harus antar baik istrinya maupun Aditia untuk bisa ke dimensi itu dan menyadarkan bapak. Jadi biarpun tuan masih bayi, kan Alka bisa jagain."


"Ka, saya sih yakin kamu bisa jaga Aditia. Tapi apa tidak bahaya bawa bayi ke dimensi lain?" Dirga bertanya lagi.


"Bayi ataupun orang dewasa sama aja bahayanya. Cuma kalau bayi kan enaknya bisa dibawa kabur tanpa perlu repot ketakutan dia akan terpengaruh dan ikut terjebak di sana. Kan masih bayi, jadi dia belum bisa ambil keputusan sendiri atau dikendalikan oleh kembang itu." Jana menjelaskan lagi.


"Tuh kan Pak, lebih mudah bawa Aditia ketimbang ibu. Izinin aku bawa tuan jemput bapak ya?" Alka memohon.


Dirga bingung, takut kalau dia izinkan Mulyana akan marah. Tapi Alka dan Jana adalah dua orang yang jauh lebih bisa dipercaya ketimbang dukun itu.


"Ka, tapi janji dulu kamu nggak akan bawa kabur Adit kayak waktu itu."


"Lah, kenapa kamu bawa kabur anaknya bapak?" Jana memang belum tahu soal itu.


"Kemarin pada saat penetapan Kharisma Jagat, aku jadi Karuhun sementaranya Aditia dan aku kena Lanjo."


"Wah parah." Jana langsung mundur reflek.


"Tenang aja, kan bukan kamu tuanku."


Jana saja yang sudah terbiasa bersama Karuhunnya begitu dengar penyakit itu mengenai Alka langsung mundur, saking berbahayanya Lanjo.


"Janji dulu Alka." Dirga mengulang pertanyaan.


"Sebentar Pak. Jangan melakukan perjanjian dengan Karuhun sakit Lanjo ini hanya dengan lisan saja. Dia sekarang pasti akan iya saja. Tapi begitu melihat tuannya, dia pasti tidak bisa mengendalikan Lanjonya."


"Jana!" Alka kesal karena dia memberitahu Dirga kemungkinan terburuk.


"Jadi aku harus melakukan perjanjian apa?"


"Perjanjian ikat darah saja. Kau dan dia saling membuat perjanjian di secariK kertas, lalu stempel dengan darah. Darah kau dan Alka. Kalau Alka melanggar, dia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya selama sesuai perjanjian."


"Alka kau licik ya, seharusnya kau beri tahu aku soal ini." Dirga menatap kesal pada Alka.


"Aku kan bilang mungkin saja aku bisa mengendalikan Lanjonya."


"Tapi kemungkinan tidak bisanya juga sama besar, kan?" Dirga kesal.


"Ya Pak." Alka sudah tidak bisa berkutik lagi. Dirga bersyukur ada Jana di sana yang bisa bantu.


"Yasudah, Jana bantu bapak ya buat surat perjanjian ikat darah itu. Biar Alka bisa menjemput Mulyana dengan membawa Aditia."


"Iya Pak."


Alka hanya senyum-senyum saja. Dia memang licik kalau sudah soal Aditia.

__ADS_1


Tapi Alka sebenarnya tulus ingin bapak bangun.


__ADS_2