Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 542 : Mulyana 48


__ADS_3

Mulyana terus berjalan, lalu dia berhasil keluar dari rumah sakit, tapi saat keluar gerbang, ada yang aneh, tiba-tiba suasana menjadi sepi, tak ada kendaraan satu pun, tak ada orang yang lewat, maka Mulyana sadar, sudah ada yang menariknya ke dunia lain, tepat setelah dia keluar dari gerbang rumah sakit.


“SIAPA ITU!” Mulyana berteriak, dia tahu kalau dia sedang dikerjai, tapi kenapa harus sekarang sih? Mana tangannya lagi terluka, mana bisa dia melawan orang saat ini.


Tapi apa boleh buat, Kharisma Jagat bukan manusia biasa yang menghadapi hari dengan normal bukan?


“Jangan ikut campur!” Seorang pria dengan pakaian serba hitam berdiri di hadapannya, mereka berdua berada di jalanan sepi tepat depan rumah sakit, tapi bukan pada dunia yang manusia pijak, melainkan di dunia yang para ruh tempati.


“Oh, manusia … kalau mau ajak ngobrol ngapain mesti dibawa ke tempat kayak gini? Kalau mau ajak duel, tidak masalah, jangan terlalu banyak basa-basi, aku lagi sibuk banget nih.” Mulyana lalu memasang kuda-kuda.


Tangannya masih sakit, sangat sakit, tapi dia tak boleh terlihat ketakutan, mental adalah modal dari para Kharisma Jagat tanah Pasundan, anti mengadakan negosiasi lembek pada dukun atau jin yang mereka hadapi.


“Anak kecil banyak tingkah!” Dukun itu berlari hendak menghajar Mulyana, tapi belum sampai dia mengenai tubuh Mulyana, seorang kakek tua tiba-tiba muncul di hadapan Mulyana, hendak menghalau serangan, dia melakukan kuda-kuga yang ajeg, tangannya yang bersiap mengeluarkan tenaga dalam langsung mengenai dada dukun dengan pakaian serba hitam itu.


Dukun tersungkur dengan jatuh yang sangat kencang.


“Kembali ke tubuhmu, dia menarikmu ke sini dengan mantra yang bisa ditangkap oleh tubuhmu yang merupakan terowongan ghaib itu.”


“Iya Bah, aku tahu, begitu aku melangkah ke luar gerbang rumah sakit, pasti jiwaku ditarik dari tubuh, makanya sekarang aku di sini.”


Abah mengangguk dan mendorong Mulyana sekuat tenaga, karena pada dasarnya, Mulyana tak mampu melepas raga seperti Aditia, di mana ketika dia melepas raga, dia bisa melihat raganya sendiri, sedang jika itu Mulyana, tubuhnya adalah media untuk bisa ke ranah ghaib, maka ketika jiwanya ingin pergi ke dunia ghaib, dia harus melalui tubuhnya sendiri, artinya dia tak bisa melihat tubuhnya tapi menggunakan tubuhnya sebagai terowongan. Apakah kalian ingat bagaimana Mulyana kecil dulu harus menjadi sarana terowongan para makhluk ghaib ketika gerbang di tubuhnya terbuka lebar?


Mulyana kembali ke tubuhnya, dia tersadar dan bangun, ternyata dia jatuh tepat di depan pintu gerbang rumah sakit, beruntung tak banyak orang lalu lalang, karena ini bukan gerbang utama.


Mulyana sedikit merasakan sakit pada tangannya, tapi tak masalah karena dia harus segera menemui istrinya Yoga.


Mulyana jalan terus dan tidak menemui satu pun kendaraan di sana yang bisa membawanya ke rumah istri Yoga lebih cepat.


Maka dia memutuskan terus saja jalan, siapa tahu di jalanan ketemu orang, sembari terus memberi tanda dia butuh tumpangan.


Saat sedang berjalan, ada seseorang yang mengklakson dari belakang, Mulyana lega, karena dia akhirnya bertemu dengan orang yang bisa dia tumpangi, saat menengok, dia lalu tersenyum.


“Ep, beruntung sekali aku bertemu kau.”


Ternyata Aep yang mengklakson.


“Kau percaya di dunia ini semua serba kebetulan?”


“Kau sengaja menjemputku?”


“Dirga yang merengek, dia bilang tunggu kau di ujung jalan itu, dia tak mau kau pergi sendirian, tapi kau tak juga datang, aku pikir rencanamu tak jadi, makanya aku bermaksud pulang, eh malah ketemu di sini.”


“Wah, dia memang teman yang bisa diandalkan, bahkan dia bisa membujuk kakakku yang paling anti dengan hal ghaib, untuk datang membantu.”


“Itu pujian atau sindiran? Tapi, tadi kenapa kau lama sekali? Ada masalah?” Aep heran, kenapa tadi Mulyana tidak kunjung sampai di ujung jalan itu.


“Oh itu karena ada dukun gila yang menarik jiwaku melalui tubuhku untuk masuk zona ghaib, dia ingin berkelahi.”


“Berani sekali dukun itu menantang Kharisma Jagat dengan kelas yang sangat tinggi?”


“Tenang, sudah ditangani abah.”


“Nah, kalau itu beruntung, kau selalu dilindungi Wangsa.”

__ADS_1


“Abah Wangsa.”


“Iya deh cucunya abah.” Aep kesal karena Mulyana sangat membela calon Karuhunnya.


“Kita harus segera ke rumah itu Ep, jangan sampai terlalu larut.”


“Ya, aku tahu. Lalu bagaimana dengan Ibu Badrun? Kau sudah dapat kabar tentangnya?” Aep bertanya.


“Dia sudah ditangani pengacara ayah, saat ini dia masih ditahan, karena terbukti menembaki aku dan Dirga, aku tak berniat membebaskannya sampai aku tahu apa yang terjadi sebenarnya di keluarga itu, aku tak ingin salah langkah. Kalau memang dia yang jahat, mumpung dia masih dipenjara, kita bisa cari cara untuk membuatnya mengaku, tapi harus temukan bukti dulu.”


“Kalau bukan dia gimana?” Aep bertanya.


“Makanya kita harus cari tahu.”


“Kau tak lelah Yan?”


“Tidaklah, aku sangat bersemangat.”


“Aku pikir kau terkadang harus mengkaji ulang ini semua, aku saja yang melihatmu pulang selalu dalam keadaan memar atau babak belur lelah melihatnya.”


“Kita beda keyakinan.”


“Sama-sama islam kok.”


“Kau sedang bercanda?” Mulyana meledek kakaknya.


Mulyana dan Aep memang punya keyakinan yang berbeda tentang bagaimana menghadapi dunia ghaib.



“Jadi kemarin itu hanya menyamar? Kalian Polisi atau intel?”


“Bukan, saya bukan Polisi atau intel, tapi kami adalah orang-orang yang harus menyelesaikan perkara ghaib.”


“Dukun?”


“Bukan!” Aep dan Mulyana langsung membantah, karena mereka jelas sangat memusuhi dukun, yang menarifkan apa-apa yang mereka lakukan atas dasar pertolongan yang diberikan, tapi untuk Kharisma Jagat, pantang menerima uang dari apa yang dilakukan, karena itu akan merusak harkat dan martabat para pemegang kunci pintu ghaib itu.


Pada zaman ini tentu saja Ayi Mahogra belum menjabat sebagai Ratu para Kharisma Jagat.


“Baik, terserah saja, yang penting saya tak mau kalian menipu kami lagi, saya muak dengan semua yang ibu dan bapak mertua saya lakukan, mereka memanggil banyak dukun untuk mendoakan suamiku, uang mereka dikeruk, padahal putranya jelas salah!”


“Kenapa kau selalu menuduh suamimu pembunuhnya?”


“Ya jelas, wanita itu mati saat suamiku tak ada di rumah, aku bahkan melihatnya membawa cangkul malam itu.”


“Membawa cangkul tidak membuktikan seseorang menjadi pembunuh.” Aep mencoba membantah, tapi Mulyana menyenggol kakinya, agar Aep diam, karena Mulyana butuhnya agar wanita itu bicara hal yang dia curigai, kalau dibantah, dia akan diam.


Aep melihat Mulyana mengangguk.


“Apa kau bertanya padanya, untuk apa dia malam itu membawa cangkul?”


“Dia bilang butuh untuk membersihkan tanaman di rumah ibunya, lalu ibunya mengiyakan, tapi aku tahu, mereka berbohong, untuk apa membersihkan tanaman di rumah ibunya malam-malam? Itu aneh kan?”

__ADS_1


“Katakanlah dia membunuh, motifnya apa?”


“Ingin agar wanita itu diamlah, karena mereka berselingkuh.”


“Jadi kau tahu kalau suamimu berselingkuh?” Mulyana bertanya.


“Mana mungkin ada istri yang tak tahu saat suaminya berselingkuh, lama-lama bangkai akan tercium juga.”


“Lalu apa yang menimpa Pak Badrun dan suamimu?”


“Perempuan itu anak dari orang kampung yang terkenal dengan klenik, pasti orang tuanya yang mengerjai keluarga Badrun.”


“Kau tidak takut kalau anakmu juga bisa kena?”


“Makanya, kita harus beri keadilan pada wanita itu agar orang tua wanita itu tidak lagi mengirim bala ke keluarga kami.”


“Kau sangat yakin suamimu yang membunuhnya?”


“Ya.”


“Kalau begitu, ayo kita lapor Polisi?”


“Aku tidak punya bukti. Percuma! Keluarga mereka masih besar pengaruhnya.”


“Tapi Ibu Badrun sudah dipenjara, aku bisa membuatnya mendekam sangat lama.” Mulyana sombong.


“Dia hanya akan ditahan untuk menenangkanmu, seminggu lagi juga dilepas, percayalah.”


“Kau bisa bantu kami untuk menemukan buktinya?”


“Bisa, tapi kalian harus bantu aku.”


“Caranya?”


“Pengakuan, kita buat suamiku mengaku, tapi aku selama ini sulit sekali mendapatkannya, apalagi dia sudah jadi gila begitu.”


“Maksudmu, kau ingin kami membuat suamimu mengaku kalau dia pembunuhnya?”


“Ya, kalian itu kan mahir soal ghaib, buat dia sadar dan paksa dia mengaku.”


“Baiklah, aku akan coba pikirkan caranya.” Mulyana sepakat, lalu mereka berdua pamit pulang.


Mulyana dan Aep sudah di jalan ke arah rumah sakit lagi, mereka berdiskusi atas informasi yang baru saja di dapat.


“Jadi, menurutmu, siapa pembunuhnya?” Aep bertanya.


“Tidak satu pun di antara mereka.” Mulyana menjawab.


“Kok bisa? Lalu siapa?”


“Kita temui Ibu Badrun setelah aku keluar dari rumah sakit, ada satu hal yang aku ingin pastikan, kalau kali ini aku dapatkan, apa yang aku sangka, itu pasti benar.”


“Bisiki aku, siapa yang kau sangka?” Aep berkata dengan penasaran.

__ADS_1


Lalu Mulyana membisikinya sebuah nama … apa kalian dengar apa yang dikatakan Mulyana?


__ADS_2