
“Suamimu mana?” Tanya temanya, begitu dia datang.
“Sudah kutidurkan dulu, anakku juga, tapi aku tidak memberinya obat, aku menidurkannya seperti biasa.”
“Bagaimana bisa anakmu memegang boneka itu?”
“Saiful memberikan boneka itu saat mereka di kamar, lihat ini baik-baik, apakah manimung masih di sana?” tanya Melia.
“Sebentar, aku harus bertanya ada Mbah dulu, mantra untuk memanggilnya, aku kan bukan dukun, jadi tidak bisa.”
Temannya Melia menelpon mbah dukun itu dan setelahnya dia kembali pada Melia.
“Sini berikan bonekanya padaku.” Temannya Melia meminta boneka itu, dia dan Melia lalu menyalakan lilin di meja makan, sementara lampu dimatikan sehingga suasana menjadi temaram.
Angarbini ipatirah tapati
Angarbini ipatirah tapati
Jang taksasu darin darin ahdi
Mun Jagat tak jiban sak tirah
Setelah mengatakan mantranya, lilin mati, ruang meja makan menjadi gelap gulita.
Lalu terdengar suara seretan kaki, suara itu entah datang dari mana, Melia dan temannya menajamkan pendengarannya.
Arah suara itu datang dari bagian kanan, itu adalah tempat di mana kamar anaknya Melia berada.
Melia dan temannya berlari ke arah suara itu, menyalakan lilin lagi, karna Manimung tidak akan mau memunculkan diri jika lampu begitu terang, dari jauh saat mereka hampir sampai kamar anaknya Melia, mereka berdua melihat sosok yang mengambang tapi kain jariknya mencapai lantai hingga saat mengambang kain itu terseret dan mengeluarkan suara seretan yang cukup menakutkan, kakinya tidak napak pada lantai, itu terlihat walau mereka hanya membawa lilin sebagai penerangan.
Ini adalah sosok wanita, dia menggunakan pakaian serba merah, pakaian khas penari, kemben dan kain jarik, dengan sanggul besar di kepalanya, dia terlihat berjalan terus ke kamar anaknya Melia, hampir menembus pintu, temannya Melia mengarahkan boneka itu dan membaca mantra yang sama ketika dulu dia memasukan Manimung ke boneka itu dulu saat mereka dari tempat dukun itu.
Manimung terdiam, dia melihat ke arah boneka dengan tatapan mengerikan, matanya putih sempurna, jika dilihat dari dekat kulitnya terlihat pucar sekali membiru, lalu wajahnya, wajahnya sungguh membuat bulu kuduk merinding siapa saja yang melihatnya.
“Mel, jangan hilang fokus, dia milikmu, perintahkan dia masuk, sekarang!” Temannya mengingatkan Melia yang terlihat sangat ketakutan. Karena setelah membacakan mantra, itu tidak mempan, maka tuan jin ini yang harus bicara.
“Kau! masuk!” Melia memerintahkan.
Jin itu masih terdiam saja, tidak mau mengikuti perintah Melia.
“Dia nggak mau masuk, gimana ini?” Melia panik.
“Diam kau!” Temannya Melia meminta Melia diam, dia takut Manimung kembali meneruskan jalannya.
“Beri dia pertukaran, dia mengincar anakmu.” Temannya berkata dengan pelan, sedang Manimung masih berdiri di tempatnya.
“Apa maksudmu pertukaran?”
“Suamimu atau anakmu? Atau ... aku?” Temannya bertanya.
“Aku saja! Aku!”
“Tidak bisa, kau tuannya, cepat putuskan!”
“Tidak bisa!” Melia kesal, dia masih bingung dan ketakutan.
“Kau lama!” temannya lalu berlari ke dapur mengambil pisau kecil, dia hendak menyayat tangannya, tapi dihalangi Melia, temannya hendak menjadikan dirinya korban pengganti, agar anak Melia selamat.
__ADS_1
Tapi Melia buru-buru mengambil pisau itu, menghalangi temannya mengorbankan diri, dia lalu berkata.
“Aku tunjukan korbanmu.” Melia mendekati Manimung dan memintanya ikut, Manimung melihat mata Melia dan tersadar, walau begitu inginnya dia terhadap anak itu, tapi Melia adalah tuannya.
Manimung ikut berjalan di belakang Melia, melewati temannya Melia yang terlihat lemas karena detik sebelumnya dia memang berniat mengorbankan diri.
Melia mengarahkan Manimung untuk menjadikan suaminya korban, seharusnya dia bukan korban tapi boneka yang dikendalikan Manimung, kalau korban, maka dia akan menjadi tumbal yang seluruh tubuhnya akan menjadi milik Manimung sepenuhnya, bukan sebagai korban pelet atau santet dimana pemilik tubuh korban adalah pelakunya atau Melia.
Melia terpaksa, karena kalau mengorbankan temannya, dia takkan bisa hidup dengan tenang karena Melia sangat menyayangi temannya itu.
“Ini korbanmu.” Melia menunjuk pada suaminya, Manimung terdiam, dia masih tidak melakukan apapun.
“Mel, dia masih diam aja.” Temannya terlihat mulai ketakutan.
“Ini korbanmu!” Melia berteriak, tapi Manimung masih diam saja, dia bahkan mulai berbalik dan di saat itu, tiba-tiba ....
“Mah ....”
Melia terkejut bukan main, anaknya tiba-tiba telah berada di kamarnya dan terlihat masih belum tersadar sepenuhnya, dia menggaruk matanya tanda bahwa dia masih mengantuk.
“Mel!” Temannya berteriak dan buru-buru berlari hendak menggapai anak Melia, tapi terlambat ....
Manimung hilang, seketika itu juga anak Melia terjatuh, pingsan.
“Ade! ade! ade!” Melia berteriak memangku anaknya, sementara temannya telah berada di dekat anak itu sedari tadi walau terlambat dan tidak mampu mencegah Manimung masuk ke dalam tubuhnya.
“Mel, kita ke Mbah dukun, sekarang juga.”
“Tidak! kau mau anakku di cabuli juga!” Melia jijik mengingat itu.
“Cukup! Aku akan melakukannya dengan caraku.”
Melia menggendong anaknya, mereka masuk ke kamar anaknya Melia.
“Apa yang akan kau lakukan Mel?”
“Aku akan menukarnya dengan Saiful, aku akan menukarnya, kita tunggu dia keluar dulu.”
“Kalau begitu suamimu akan mati!”
“Dia mati tak mengapa, yang penting anakku baik-baik saja. Ini awalnya salahku, aku pilih jalan yang salah sedari awal. Aku seharusnya tidak mengambil jalan ini, kita tahu bahwa terlalu beresiko membawa Manimung ke sini, tapi aku tetap membawanya berpikir bahwa Manimung akan bisa kita kendalikan ddi dalam boneka itu, tapi lihat bukannya membantuku mengikat jiwa suamiku, tapi dia malah meminta korban untuk menjadi tumbalnya.”
“Mel, kita harus apa?”
“Aku sudah bilang! kau tenang saja, aku akan menukarnya, aku akan menukarnya!”
Malam itu akhirnya terpaksa mereka lewati tanpa tidur, mencari cara melalui semua rekan kecuali dukun itu, rekan Psikiknya, mereka memberikan banyak nasehat pada Melia agar anaknya selamat.
...
“Pagi sayang.” Saiful mencium kening istrinya, mereka akan sarapan, sementara temannya sudah pulang, dia tak mau Saiful curiga tentang keberadaan temannya di rumah ini.
“Pagi.” Melia terlihat tidak bersemangat karena kelelahan.
“Mana adek?” suaminya bertanya.
“Di kamar, nanti sarapannya nyusul setelah kamu pergi kerja.”
__ADS_1
“Adek sakit?”
“Nggak kok, kamu sarapan dulu ya, nanti berangkat kerja ya.”
“Nggak, aku kerja dari rumah aja, soalnya aku nggak mau terlalu lama di luar rumah.” Jiwa suaminya masih terikat, makanya efek Manimung masih tersisa.
“Kau harus kerja ke kantor, sekarang!” Melia tahu dia sekarang tuan dari suaminya sendiri.
“Ya, aku berangkat, tapi sebentar aja ya?”
“Tidak, kau pulang jam tujuh malam, tidak boleh kurang dari itu, mengerti?” Melia kembali memerintahkan dengan tegas.
“Baik sayang, aku akan pulang tepat jam tujuh.” Pandangan suaminya menjadi kosong dan dia sarapan dengan tatapan yang aneh seolah dia bukan dirinya. Berangkat kerja dengan menyetir sendiri dalam keadaan yang kosong seperti itu.
Setelah suaminya pergi kerja, Melia lalu buru-buru berlari ke kamar anaknya, kosong, tidak ada anaknya di sana, dia kembali ke luar, ketika hendak mencari, dia melihat anaknya telah duduk di meja makan.
“Adek!” Melia berlari dan memeluk anaknya, anaknya diam saja, terpaku pada satu hal.
Melia menatap putrinya dengan lekat, dia melihat pada matanya. Tidak kosong, tapi aneh.
“Adek mau makan?”
Anaknya meununjuk roti.
“Tidak boleh yang itu.” Melia ingat dengan jelas, itu adalah makanan suaminya, sudah ditaburi kotoran.
“Yang lain boleh?” Melia bertanya lagi.
Anaknya hanya menggeleng, dia masih menunjuk roti itu.
“Roti itu nggak enak Na, Mamah beliin roti lainnya aja ya, yang sama, kamu tunggu sebentar ya.” Melia lalu beranjak ke kamarnya, ingin mengambil dompet dan pergi ke mini market untuk membeli roti yang tentu belum ditaburi kotoran.
“AKU INGIN ROTI ITU!” Anaknya Melia tiba-tiba berteriak saat sebelum Melia masuk kamar untuk mengambil dompet. Ada yang aneh dalam suaranya, bukan suara anaknya, tapi suara yang melengking, seperti suara nenek-nenek yang serak.
“Nak ....” Melia memeluk anaknya dengan sangat erat. Dia menangis, menyadari bahwa, bukan dia lagi tuannya, tapi anaknyalah tuan Manimung, karena kalau Melialah tuannya, Manimung takkan memerintah seperti ini, apalagi sekarang dia ada di tubuh seorang anak. Manimung tidak bermaksud menjadikan tubuh anak itu sebagai korban untuk tumbalnya, tapi dia menjadikan tubuh anak itu sebagai rumah barunya.
Pantas saja dia begitu mengincar anak ini, Manimung rupanya ingin hidup sekali lagi, jiwa anak itu sudah dikeluarkan dan disembunyikan entah di mana, sementara Manimung masuk ke dalam tubuh kosong itu dan menggunakan tubuh anak itu untuk melakukan semua yang mereka inginkan.
Kenapa dia suka sekali anak kecil? Karena kemungkinan hidup lamanya sangat besar, berbeda dengan orang dewasa yang kemungkinan hidupnya masih diatara dua, panjang atau pendek, itulah yang ada dalam pikiran jin.
Makanya menjadikan anaknya Melia sebagai tuan merupakan pilihan yang Manimung lakukan.
“Aku ingin roti itu.” anaknya Melia masih memaksa.
Melia bangkit dan menyiapkan roti itu, dia takut kalau sampai keinginan Manimung tidak dipenuhi, maka anaknya akan dalam bahaya.
Setelah roti itu disiapkan, roti yang telah tercemari oleh kotoran, baik roti maupun selainya telah tercemari, dimakan oleh Manimung dengan lahap.
Meli menangis melihat itu. Tapi dia tidak bisa melawan.
________________________________
Catatan Penulis :
Mau ucapin makasih buat kalian yang udah baik banget membantu novel ini bisa dikenal, AJP masuk rekomendasi beranda ya, masuk ke Genre scroll ke bawah ada judul Surga Thriller, cover AJP terpampang di sana.
Makasih ya, kalian hebat. AJP berkembang karena kalian semua.
__ADS_1