
“Kita tak bisa datang ke keluarga pak Badrun begitu saja.”
“Kira-kira kita bisa memakai alasan apa untuk tahu lebih jauh asal-usul keluarga itu?” Mulyana mengerti kekhawatiran Dirga. Tentu di zaman ini tak ada mesin pencarian di internet yang bisa bantu mencari data, apalagi dark web yang selalu dibanggakan Har, karena dari sanalah nyawa pencarian selalu mampu menjadikan kita seorang detektif yang mahir, profiling jadi lebih mudah.
Tapi zaman ini? bagaimana mereka mencari informasi? Masa harus pura-pura jualan sayur lagi? kan kurang masuk akal, karena keluarga mereka yang memiliki kelas tinggi, tak mungkin beli sayur abang-abang lalu bergosip.
“Kalau tadi kau bilang, orang kaya tak mungkin beli sayur sendiri di abang-abang sayur keliling, hingga memungkinkan kita melihat lebih dalam melalui pergosipan yang mereka lakukan saat membeli sayur, bagaimana jika kita dekati garda paling bawah rumah mewah itu?” Dirga punya ide yang aneh sepertinya.
Mereka masih di rumah Mulyana, masih makan mi dan juga es limun yang tidak terlalu dingin lagi, Aep membaca buku pelajaran, dia tidak terlalu tertarik, tapi rasanya lebih menyenangkan bergabung di kamar adiknya.
“Garda paling bawah? Siapa?” Mulyana tidak paham.
“Pembantu dan supir! Bodoh ah!” Aep kesal, Mulyana tak paham soal ini.
“Oh ya, mereka kan pasti terkadang beli sayur untuk kebutuhan yang teka sempat di beli di pasar besar.” Mulyana baru paham.
“Apalagi, mbak-mbak begitu kan lebih gampang dibujuk.”
“Kita pura-pura jadi tukang sayur, Ga?” Mulyana bertanya.
“Ya, aku pura-pura jadi tukang sayur, kau pura-pura jadi tukang bakso sajalah, jadi kita bisa jalan beriringan, kan nggak mungkin kita berdua pura-pura jadi tukang sayur, aneh nggak sih, bawa gerobak sayurnya satu, trus yang jualan dua, memang gerobak sayur butuh kenek?”
Aep tertawa terbahak-bahak, dia menyepelekan dua anak muda yang menggemaskan ini.
“Kenapa?” Mulyana mulai tersinggung, karena Aep terkesan menertawakan mereka.
“Lebih aneh, tukang bakso sama tukang sayur jalan beriringan, memang kalian tidak pernah melihat tukang beriringan? Coba pikirin deh, tukang apa yang selalu jalan beriringan dengan tukang sayur, jangan sampai kau bilang tukang sol ya, kuhajar nanti!” Aep memberikan kepalan tangan pada adiknya yang pintar namun kadang terlalu polos.
“Tukang apa?” Dirga bingung.
“Hmm, tukang cendol?” Mulyana asal jawab.
“Sekalian aja jawab tukang gorengan.”
“Emang aneh Ep, kalau tukang gorengan jalan bareng sama tukang sayur?”
“Dirga! Sama aja kamu sama adikku, bodoh! Gini, tukang sayur itu kan selalu bawa sayuran dan paling beberapa ikan segar, jarang sekali mereka membawa ikan maupun ayam yang segar secara lengkap, karena perlu perlakuan khusus bagi ikan segar atau ayam segar agar tak cepat basi, sedang kalau sayuran, disimpan beberapa hari tidak cepat layu, apalagi sayuran itu barang paling dicari dan selalu habis. Lalu bumbu dapur dan keperluan dapur lain yang punya masa simpan cukup panjang.
__ADS_1
Maka, menurut kalian, yang paling masuk akal untuk jalan beriringan dengan tukang sayur tanpa dicurigai itu apa?” Aep masih main teka-teki, padahal dia kan tinggal bilang tukang apa, malah buang waktu.
“Tukang ikan dan ayam segar?” Mulyana dan Dirga menjawab bersamaan.
“Betul, kalian pernah lihat kan, ada yang datang ikan dan ayam segar, atau malah yang dagang ikan dan ayam berbumbu, jadi itu masuk akal, kedatangan kalian yang beriringan tidak akan dicurigai karena apa yang kalian sediakan bagi orang-orang di komplek perumahan itu sesuatu yang wajar jika dijual bersamaan atau beriringan dengan 2 penjual yang berbeda.”
“Ep, kau pintar!” Mulyana berbinar.
“Tentu saja, aku lebih pintar darimu, kau baru sadar?” Aep menyombongkan diri.
“Aku bilang kau pintar, bukan lebih pintar dariku!” Mulyana kesal lagi.
“Kalau begitu, kau harus minta uang sama ayah untuk sewa gerobak tukang sayur, sewa yang sudah lengkap saja, bilang kau akan beli semua dagangannya, lalu kau juga sama, uang tinggal minta ayah, ini kan masuk biaya pengerjaan kasus.”
“Kalian ini detektif ghaib atau apa sih? kok sangat terstruktur ya?” Dirga sangat takjub dan juga sekaligus bingung.
“Bisa dibilang gitu, tapi kami tidak dibayar, sering kali malah mengeluarkan uang untuk membayar keperluan.” Aep menjawab dengan enggan.
“Wah, ayahmu sangat dermawan ya, dia bahkan menyediakan uang untuk membantu orang, bukannya dibayar.”
“Dia kan bukan dukun, makanya tak terima bayaran, lagian, uang kami juga memang diperuntukkan kasus, sudah turun temurun begitu.”
“Jangan terlalu senang dulu Ga, karena untuk masuk ke sana kau harus bersiap dengan segala kemungkinan. Kau ikut tidak, Ep?”
“Tidaklah, malas menjaga dua bayi yang kurang pintar.” Aep menolak, walau Mulyana lebih suka kakaknya ikut, karena dia merasa aman saja, tapi dia tak boleh memaksa, ayahnya saja tidak diizinkan Aep untuk memaksanya masuk kembali ke dalam tim, apalagi Mulyana, adiknya sendiri, dia harus menghormati keinginan Aep yang lebih suka hidup normal.
Hari itu, Dirga dan Mulyana mempersiapkan semua yang mereka butuhkan, menjadi tukang sayur rasanya agak berlebihan, kau tahu bahkan cara ini dipakai kawanan untuk menggali informasi kelak, tapi tidak jadi tukang sayur juga sih.
...
“Sayur!” Mulyana mendorong gerobaknya.
“Ikan ... lele!” Dirga teriak, dia membawa sepeda dengan box pada bagian boncengan sepeda itu, boc berisi daging segar dari ikan dan ayam yang direndam dengan es batu.
“Emang lu jualan ikan lele?” Mulyana bertanya, karena agak aneh mendengar Dirga berteriak begitu.
“Nggak tahu, kemarin yang siapkan daging, kan kau! kenapa kau malah bertanya padaku?” Dirga protes, karena yang menyiapkan semua bahan adalah Mulyana.
__ADS_1
“Seingatku tak ada ikan lele, tapi sudahlah, itu rumah Badrun, kita mangkal di depan rumanya saja, biar pembantunya keluar untuk membeli sayur.” Mulyana mengajak, Dirga hanya mengangguk.
10 menit pertama, tak ada yang datang untuk membeli, 15 menit selanjutnya ada satu dua orang yang beli, tak ada gerombolan pembantu yang datang untuk bergosip, apakah karena ini perumahan elit makanya tak ada yang datang untuk beli, karena semua kebutuhan akan dipenuhi majikan setiap awal bulan? tapi sepertinya itu mustahil, karena setiap hari itu, pasti ada saja sesuatu yang harus dibeli, akibat dari kebutuhan yang mendadak.
Tiga jam sudah mereka mangkal.
“Yan, kita nggak mungkin di sini seharian, nanti mereka bisa curiga, ayolah kita pergi dari ini.” Dirga sudah lelah, padahal hanya menunggu dan sesekali melayani yang tidak jadi beli.
“Iya kita harus pergi dari sini.” Mulyana setuju, lalu mereka pergi dari perumahan itu, masuk gang yang lebih sempit untuk cari jalan keluar, tapi tiba-tiba ada segerombolan ibu-ibu yang datang, mereka sepertinya berniat membeli sayur dan daging segar, tanpa banyak tanya, ibu-ibu itu mulai memilih sayur.
Gang ini bukan bagian dari perumahan, tapi bagian dari jalan tembus ke rumah yang lebih kecil hampir kumuh berada di belakang komplek perumahan itu.
“Kok di perumahan itu nggak ada yang beli daging dan sayur kami ya bu?” Dirga iseng bertanya saat para ibu-ibu sedang memilih sayuran.
“Lah, ngapain ke perumahan itu? nggak bakal ada yang beli, orang gedongan mah belinya di pasar besar, sekali beli banyak, kalau ada yang kurang, tukang sayur langganannya dititipin pesen hari sebelumnya untuk belanja apa aja.
Jadi nggak ada yang nyari tukang sayur kelling kaya kalian, mereka mah pesen trus dianter deh.” Jelas seorang ibu yang mengambil seikat kangkung.
“Oh, pantas sepi banget, siang-siang aja sampai merinding lewat rumah yang paling pojok itu.” Mulyana berusaha menggiring obrolan lebih fokus.
“Oh, itu rumah Almarhum Pak Badrun, dia itu pejabat kepolisian loh, tapi sayang banget udah meninggal, padahal orangnya baik banget, sering nyumbang ke kampung kita ini, dia juga tuh yang bangun masjid di sana tuh, jadi kita nggak perlu jalan jauh lagi buat solat jamaah, solat jumat sama solat ied.” Ibu yang lain menimpali, memang paling enak bicara dengan orang yang tidak sombong, orang dengan ekonomi menengah ke bawah memang orang yang paling tahu caranya menyebarkan informasi.
“Oh, meninggalnya kenapa? sakit?” Dirga melempar umpan yang sudah dipersiapkan Mulyana.
“Yah gitu deh, tapi sakitnya aneh, masa suka lari telanjang di lapangannya sendiri, katanya sembari dia berlari, dia sering berkata panas, nggak heran dia telanjang, karena dia merasa seluruh badannya panas.” Masih ibu yang sama yang berbicara.
“Oh begitu, kasihan sekali ya, orang hebat begitu, tapi anak-anaknya pasti sedih, karena ayah yang mereka kenal hebat, akhir hanyatnya malah begitu.”
“Ih anaknya malah lebih parah, masih muda tapi ikut sakit kayak bapaknya, ada yang bilang mereka tuh disantet, yang kirim santet itu orang yang nggak suka sama Pak Badrun pas menjabat, karena Pak Badrun adalah orang yang jujur dan bijaksa jadi malah banyak musuh, karena orang yang menjadi musuh-musuhnya adalah orang-orang yang sukam neyogok dan lain-lainnya agar Polisi tunduk, tapI Pak Badrun nggak mau, makanya dia dimusuhin.”
“Hah? anaknya sakit begitu juga? kok bisa?”
“Makanya katanya di rumahnya sering ada ritual aneh-aneh, untuk nangkal bala, biar nggak kena yang lain, itu anaknya yang laki-laki, dia bahkan nggak tinggal bareng di rumah pojok depan itu, walau ibunya sudah sendirian, anak-anaknya tetap tinggal di rumah masing-masing, aku kadang kasihan sama Bu Badrun, bergelimang uang, tapi tak ada yang peduli.” Ibu lain ikut menimpali.
“Ritual apa bu? Saya jadi penasaran.” Mulyana terus mencoba mendapatkan informasi lebih jauh.
“Itu, tolak bala, biar yang santet nggak ngirim lagi,”
__ADS_1
Mulyana dan Dirga saling berpandangan dan mengangguk, tanda informasi dirasa cukup, besok lanjut lagi, mereka harus masuk rumah itu, apapun caranya!