
“Den! Den! Deden!” Seseorang menepuk bahu Deden yang mereka kira sedang tertidur.
Deden tersadar, saat sadar dia tak ingat apapun, dia melihat ada beberapa orang yang mengerumuninya.
“Den, bangun, kamu mabuk ya?” Seseorang bertanya.
Deden mencoba mengingat apa yang terjadi, setelah sadar sepenuhnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar, keringatnya mulai mengucur, dia tidak menjawab, tapi berteriak sejadinya, “Suminah! Suminah! Suminah!” Deden menunjuk sumur itu, dia menunjuk-nunjuk hingga membuat orang-orang meminta dia untuk tenang dan sadar.
“Ada apa ini?” Pak RT datang dengan tergopoh-gopoh. Dia terlihat khawatir.
“Ini Pak, si Deden, dia teriak-teriak kalau nama Suminah sambil nunjuk sumur.” Seseorang menjelaskan.
“Kamu kenapa Den?” Pak RT mendekati dan bertanya, menahan tubuh Deden agar tidak jatuh ke sumur.
“Pak, Suminah ada di sumur ini.” Deden berkata, dia menangis sesegukan.
“Kok bisa? Kamu tahu dari mana?” Pak RT bertanya lagi.
“Semalam dia mendatangiku, tubuhnya ... tubuhnya hancur! Kepalanya putus, tangannya putus, tubuhnya membiru bengkak, lalu dia menarikku ke sini, dia bilang sakit, sakit, lalu menceburkan dirinya ke dalam sumur.” Deden berkata dengan sedih, dia juga menangis.
“Den, kau yakin melihatnya begitu, berarti kau ... melihat hantunya?” Pak RT berkata dengan jati karena saat ini Suminah masih dalam pencarian Polisi.
“Pak, aku mohon, bantu aku, kalau tidak mungkin Suminah akan terus menghantuiku.” Deden memohon.
“Ada apa dengan anankku!” Ibunya Suminah berteriak, dia mendengar sepotong kalimat tentang anaknya yang akan menghantui, karena dalam pikirannya, Suminah masih hidup dan sedang dicari.
“Bu, tenang dulu.” Ayahnya Suminah berkata sembari menarik istrinya yang terlihat panik.
“Pak, Bu, tenang dulu ya, semua warga juga tenang, jangan ricuh, ini saya akan minta orang untuk mendatangi pemadam kebakaran dan Polisi, saya akan percaya apa yang Deden katakan, kita nih orang Indonesia, kita percaya hal ghaib, mungkin kemunculan Suminah untuk memberitahu di mana mayatnya berada. Kalian bersabar, Deden kau tetap di sini, kami butuh kesaksianmu, mengerti ya.” Pak RT meminta Deden tetap di sana walau dia tidak harus dekat dengan sumur, yang penting tetap dalam jangkauan Polisi nanti.
Pak RT menyuruh salah satu pembantunya memanggil Polisi dan juga pemadam kebakaran, untuk mengevakuasi korban, jika memang ada Suminah di dalam sumur ini, yang dia khawatirkan hanya satu, jika benar Suminah berada di sini, maka sumur ini kemungkinan tidak akan bisa digunakan lagi sebagai sumber mata air di kampung ini, masalah ini jauh lebih menakutkan.
Pemadam dan Polisi datang hampir bersamaan, Pemadam turun ke sumur untuk mencari tubuh Suminah, sementara Polisi mulai menandai lokasi tersebut sebagai lokasi yang tidak diizinkan untuk dilewati, semua warga hanya boleh melihat dari jauh, termasuk orang tua Suminah, hanya perangkat desa yang diperbolehkan berhubungan dengan Polisi.
Satu jam berlalu, potongan tubuh pertama ditemukan ....
__ADS_1
Orang tua Suminah histeris, karena tubuh itu adalah tangan yang masih memakai cincin yang biasa Suminah kenakan, cincin itu jelas sebagai bukti bahwa itu adalah tubuh anaknya.
“Suminah! Suminah!!!” Ibunya berteriak dan mencoba menerobos garis Polisi, tapi keburu ditahan oleh suami dan juga beberapa warga, karena tubuh itu belum diketemukan seutuhnya.
Setelah tangan lengkap sampai ke jari, titik dikuburnya tubuh itu mulai tertandai, di titik itulah Pemadam Kebakaran terus menggali meski air memenuhi sumur itu.
Kepala! Mereka menemukan kepala yang masih lengkap dengan rambut panjangnya, walau wajah dari kepala itu sudah tidak jelas lagi, wajahnya bengkak dan tidak utuh.
Setelah penggalian selama lima jam, akhirnya tubuh Suminah diketemukan.
Tim forensik datang dari dua jam yang lalu, mereka langsung mengidentifikasi korban dengan alat seadanya dulu, karena jaman itu tim forensik belum memiliki alat yang ahli.
Setelah tubuh sempurna dan telah diperiksa tim forensik, tubuh tak bernyawa itu dimasukkan ke dalam kantung mayat, lalu langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan otopsi, karena penyidik merasa perlu melakukan otopsi, hal ini dilindungi oleh pasal 120 KUHAP dan pasal 133 KUHAP, karena kematian Suminah ini masuk ke dalam salah satu kategori harus dilakukan untuk keperluan penyidikan, jadi tidak diperlukan persetujuan keluarga, kalaupun dimintakan izin itu hanya sebagai kearifan saja, menghindari konfllik selanjutnya.
Orang tua Suminah akan diberi kesempatan untuk melihat mayat putrinya jika otopsi selesai dan tubuh akan diperlakukan dengan layak sehingga terlihat jauh lebih baik saat nanti keluarganya mengidentifikasi, walau mereka semua yakin kalau ini adalah Suminah.
Begitu sampai ruang otopsi tubuh Suminah langsung dibawa diperiksa oleh seorang staff ahli dibidangnya, ahli forensik senior yang bekerja di kepolisian cukup lama dan biasa menangani kasus pembunuhan.
“Mari kita mulai otopsi ini, sebelumnya kita berdoa dulu, agar Jenazah dapat beristirahat dengan tenang setelah kita lakukan otopsi, berdoa dimulai.” Dokter ahli forensik itu ditemani oleh Dokter lain yang lebih muda, mereka masih magang, ikut mengotopsi sebagai pelatihan.
Setelah beberapa jam otopsi, Dokter ahli tersebut menutup otopsi dengan laporan yang sudah dia yakini.
“Sekarang kita akan menjahit tubunya dengan layak, karena akan dipertemukan dengan keluarganya.” Dokter itu sangat menghargai tubuh manusia, meski telah tidak bernyawa, karena dia yakin, walau tubuh telah ditinggalkan ruh, tubuh itu tetaplah berharga, karena menjadi tempat tinggal ruh, tubuh itu tetaplah memiliki identitas yang pasti dicintai oleh keluarganya.
Setelah menjahit tubuh Suminah hingga terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, Dokter menyerahkan laporan itu kepada Polisi untuk diusut tuntas.
Polisi perlu menganalisa laporan itu selama dua hari penuh, karena beberapa hal yang harus mereka pastikan.
Dan inilah harinya di mana orang tua Suminah boleh menemui anaknya sembari mendapatkan laporan tentang kematian anaknya.
Begitu orang tua Suminah datang, mereka diperlihatkan mayat Suminah yang sudah jauh lebih baik dari saat ditemukan, begitu melihat mayat itu, mereka tahu, bahwa itu adalah anak perempuan cantik kesayangan mereka, ibunya jatuh terduduk lemas, ada beberapa Polisi dan juga Dokter yang telah mengotopsi, dia yang akan menjelaskan kematian putrinya di sini.
“Selamat siang Bapak dan Ibu, sebelumnya perkenalkan saya Dokter yang telah mengotopsi mayat anak ibu, saya juga sudah menyerahkan laporan terkait waktu dan penyebab kematian anak ibu.
Saya akan mulai dari waktu kematiannya, berdasarkan otopsi yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa waktu kematiannya adalah sekitar empat sampai lima hari yang lalu, jangkauan waktu itulah kami bisa menerkanya dari semua rangkaian otopsi yang kami lakukan.
__ADS_1
Lalu penyebab kematiannya adalah cekikan, karena ditemukan pendarahan pada kepalanya yang diakitkan oleh cekikan, jadi kemungkinan, ketika tubuhnya di ... maaf, di mutilasi, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Lalu baru tubuhnya dimutilasi dan di kubur di bawah sumur, tidak hanya dibuang, tapi dikubur di dalam tanah di dalam sumur itu, makanya tubuhnya tidak mengambang.”
Ibunya terjatuh, lemas dan pingsan mendengar itu, betapa kesakitan putrinya karena apa yang dilakukan oleh penjahat itu.
“Pak tolong tangkap penjahatnya, aku mohon Pak, biadab mana yang sampai tega melakukan ini!” Ibunya terlihat sangat depresi mendengar detik kematian putrinya.
“Dok, maaf mau tanya, kalau memang anakku meninggal empat sampai lima hari yang lalu, berarti saat dia hilang, dia masih hidup? Karena begitu hari di mana dia tidak pulang itu seminggu yang lalu, tujuh hari yang lalu, berarti seharusnya saat kita mencarinya, Polisi mencarinya, dia masih hidup, baru dua atau tiga hari kemudian dia meninggal dunia?” Ayahnya sedang berpikir keras dan mengemukakan pendapatnya.
“Ya betul, seperti itu kejadiannya, karena waktu kematiannya sudah bisa dijelaskan, berarti saat korban menghilang, bisa dipastikan dia masih hidup.” Dokter itu berkata dengan yakin.
“Pak Polisi, apakah kita bisa menemukan pembunuhnya?” Ayahnya jauh lebih menggunakan logika, dia terlihat tegar, walau dalam hatinya sangat hancur melihat putrinya diperlakukan sangat kejam seperti ini.
“Pak, kami akan berusaha sebaik mungkin, kami juga sudah mengumpulkan informasi, karena ini adalah kasus pembunuhan, makanya kami sudah mempersiapkan pemanggilan beberapa saksi, yang mungkin juga akan menjadi tersangka, kita akan mulai kesaksiannya besok, Bapak dan Ibu diizinkan mengikuti sesi kesaksian ini. Tapi kalau tidak berkenan, kami akan berkala mengirim laporan tentang penyelidikan kami.” Salah satu Polisi muda saat itu berkata, dia terlihat sangat arif dan jujur.
“Iya Pak, mohon bantuannya, nama Bapak siapa?” ayahnya Suminah bertanya.
“Saya Dirga Pak.”Polisi muda itu berkata sambil mengulurkan tangan, dia memang memiliki begitu banyak energi untuk berbuat kebaikan dan keadilan.
Setelah itu proses penyelidikan dimulai, berikut adalah orang-orang yang akan diperiksa sebagai saksi.
Deden
Nicko
Istri Nicko karena dianggap punya potensi membunuh.
Beberapa karyawan yanh dekat dengan Suminah.
Proses interogasi akan sangat panjang, Author izin minta waktu lagi buat susun naskahnya ya.
__ADS_1
Selamat malam.