Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 401 : Toko Emas 31


__ADS_3

“Trus, kalau memang dia membodohi kita dan akhirnya bisa masuk tubuh kakak, kita harus pura-pura tidak tahu, mengikuti semua rencananya, dia akan senang jika merasa telah menipu kita.


Di tubuh kakaknya, dia takkan berulah. Karena dia takkan meminta energi dari kakaknya, saat di tubuh manusia, rasa laparnya akan berkurang, dia akan makan dengan cara manusia, dia bisa kenyang dengan makanan manusia, walau porsinya pasti luar biasa banyak, karena dia bukan manusia.” Alisha memiliki banyak pengetahuan tentang dunia ghaib.


“Lalu setelah itu, kita tinggalkan dia sendiri dengan dengan papinya? Kau yakin akan aman?” Ganding bertanya, karena dia agak tidak percaya bahwa anak ambar itu bisa dipercaya dan tidak mencelakai kakaknya.


“Siapa bilang kita akan tinggal dia sendiri?” Alka tiba-tiba menyahut.


“Maksud kakak?” Ganding bertanya.


“Kita akan menaruh mata-mata di sana.”


“Mata-mata?” Kawanan bertanya dengan serentak.


“Ya.”


(Lalu tragedi itu terjadi, kawanan akhirnya pura-pura tertipu oleh adik yang masuk ke tubuh kakak, dia memberikan tabung berisi patung manusia mini yang dia katakan bahwa dirinya ada di sana dengan tubuh kakaknya. Kawanan pulang dan akhirnya membiarkan mata-mata melakukan tugasnya).


...


“Kamu sekarang makannya nggak boleh banyak-banyak , takut gemuk.” Papi menarik nasi yang belum habis, ini piring ke tiga. Ini pertama kalinya papi melarang adik makan banyak.


“Tapi Pi! Itu nasiku, aku masih lapar.”


“Kau itu sudah makan dua piring, jadi tidak akan merasa lapar lagi.” Papi tetap mengambil piringnya dan tidak membiarkan adik dalam tubuh kakak makan lagi.


Adik marah dan menatap papi dengan tatapan tajam.


“Apa? kau tidak suka? keluar saja dari sini kalau tidak suka.”


“Papi! kok aku diusir.” Untuk pertama kalinya adik tahu rasanya diusir.


“Terserah, aku sudah lelah dengan kelakuanmu, karenamu adikmu meninggal dunia.” Papi kesal dan akhirnya meninggalkan meja makan.


“Papi jahat.” Mereka sudah masuk kamar lagi, adik berbicara dengan kakak di meja rias di hadapan kaca, dia ingin curhat soal perlakuan papi.


“Kenapa?” Kakak yang tahu bahwa tubuhnya mungkin tidak bisa kembali padanya, hanya tenang dan terdiam saja. Adiknya sangat kerasa sekali kali ini, dia benar-benar ingin tubuhnya, sedang kakak tidak bisa mengalahkan adiknya saat ini. Maka dia hanya bisa menerima semuanya.


“Masa aku cuma boleh makan dua piring, harusnya kan lebih dari tiga piring biasanya. Sekarang malah ditahan-tahan, emang kenapa kalau makan banyak?” Adik kesal.


“Papi memang begitu, dia selalu harus dipatuhi, kau pikir aku juta tidak tersiksa dengan cara mereka berdua mendidikku, mereka cenderung memaksa tanpa mau tahu perasaanku.” Kakak mengemukakan pendapatnya, kali ini mereka seperti selayaknya dua orang yang berhubungan darah.


“Dia juga mengancam akan mengusirku, kalau aku masih saja tidak mendengar dia.” Adik mengeluh lagi.


“Itu baru ancaman, aku bahkan sudah diusir saat usiaku masih belasan tahun, sudah dipindahkan ke rumah kerabat. Kau harusnya bersyukur.” Kakak tertawa karena adu nasib dan dia yang menang.


“Aku kesal! Seharusnya papi nggak gitu, dia harusnya lebih tenang, aku kesal sekali, aku tidak ingin dengan papi lagi, kita kabur aja ya?” Adik membujuk.


“Trus kamu bakal makin nggak bisa makan dong, karena di luar tanpa uang papi, kita bisa apa? pekerjaan kita juga gajinya nggak sebesar uang saku yang papi kasih, kau juga tidak paham pekerjaanku, jadi kita akan benar-benar kelaparan di luar sana.”


“Gitu Kak?” Adik jadi takut untuk kabur.


“Iya, begitu. Gimana kalau kira diam-diam makan aja saat papi sudah tidur, kita kan bisa diam-diam makan saat itu. Jadi saat dihadapan papi, kita pura-pura makan sedikit saja dulu, saat papi tidur, kita bisa makan sepuasnya.” Kakak memberikan ide.

__ADS_1


“Kak, kau itu pintar sekali.”


“Tentu saja.” Kakak bangga dipuji adiknya untuk pertama kalinya.


Mereka lalu menunggu waktu di mana malam itu tiba.


Setelah memastikan papi tidur, mereka berdua ke dapur, ternyata nasi dan lauk pauk masih banyak, adik dalam tubuh kakak itu makan dengan lahap sebanyak dua piring.


“Kau sudah kenyang?” Kakak bertanya.


“Iya, aku sudah kenyang.” Mereka akhirnya kembali ke kamarnya lagi, adik dengan cepat terlelap karena kekenyangan.


Kakak juga sama.


Tapi saat kakak terlelap, kakak merasa bahwa ada yang menariknya, dia melihat tubuhnya tertinggal saat dia ditarik.


Dia dapat melihat tubuhnya sendiri, apakah ini yang orang-orang bilang lepas raga? Kakak tidak dapat memastikannya.


Atau ini memang karena kakak tidak bisa kembali lagi ke tubuhnya? Entahlah, yang pasti kakak sudah lepas raga.


“Selamat malam Cici.” Ada suara dari hadapannya. Cici spontan melihat ke arah depannya setelah yakin bahwa dia telah meninggalkan raganya.


“Se ... selamat malam.” Kakak terlihat sangat ketakutan.


“Boleh kita bicara?” Orang itu berkata dengan sopan.


“Apa kau malaikat? Karena kau sangat bersinar dengan pakaian serba putih itu.” Kakak bertanya dengan sedikit ketakutan, karena kalau dia dijemput malaikat, berarti jiwanya memang kalah dan keluar dari tubuhnya sendiri.


“Oh begitu, apakah kau yang mengeluarkan aku dari tubuhku sendiri? Apa benar adik yang akan mendapatkan tubuhku? Apa aku harus mendapatkan karma?” Kakak bertanya begitu banyak pertanyaan.


“Petama, ya benar, aku yang mengeluarkan jiwamu dari tubuhmu, kedua, kau benar, adik memang berhak atas tubuh itu, karena kau harus bertanggung jawab atas kematian adikmu, perkenalkan, namaku Abah Wangsa.  Selama ini aku bersembunyi di tubuh papimu, dia kutidurkan sejak datang ke rumah ini sehabis adikmu masuk ke tubuhmu dan menipu kawanan. Adikmu juga akan tetap tertidur karena sudah kumantrai, makanya kita bisa bicara.”


“Oh pantas papi terasa keras sekali, ternyata itu kau?” Kakak tersenyum, karena walau papi keras padanya, tapi tidak berlebihan menghinanya, dulu itu.


“Tujuanku menemuimu adalah, kau harus menyerahkan tubuh itu pada adikmu, jangan melawan, minggu depan kau akan dijemput mamimu, kau akan menggantikan adikmu untuk masuk ke alam kubur, karena seharusnya dia hidup dalam taman surga, tapi karena dia dijadikan anak ambar, dia kehilangan kesempatan itu. Sekarang kau harusm menggantikannya ke alam kubur itu.” Abah Wangsa Karuhun Aditia berkata, dia selama ini bersabar di dalam tubuh papi sejak hari pertama papi datang ke lagi ke rumah ini.


“Jadi ... memang harus kuberikan ya?” Kakak berkata dengan sangat sedih.


“Ya, harus, kau harus memberikannya agar adikmu tidak mencelakai orang lain lagi, aku bisa saja mengeluarkan jiwa adikmu dari tubuhmu, tapi apakah kau akan menjamin jika adikmu lagi-lagi mengambil nyawa orang dengan energi yang dia serap dari orang-orang itu?” Abah Wangsa bertanya dengan tegas.


“Tentu saja aku tidak bisa menjami, aku ini siapa?”


“Maka kau harus merelakan tubuhmu dan pergi bersama ibumu kelak.”


“Baiklah, aku akan menuruti semua apa yang kau perintahkan.”


“Baiklah, kau akan beritahu adikmu untuk bertemu seseorang minggu depan, jangan bilang ibumu, kita akan memberikannya kejutan yang membuat dia bahagia, kau juga akan memberikan tubuh itu padanya, harus!”


“Baik.” Kakak menurut saja.


Hari berlalu, adik dalam tubuh kakak main ke toko emas, bertemu Sum, bertemu Amanda dan masih tetap di hina papi karena gemuk dan sulit dapat jodoh.


Kakak memberitahunya tentang bertemu seseorang seminggu lagi, adik setuju.

__ADS_1


Setelah beberapa hari,  tepatnya 2 hari sebelum pertemuan yang Abah Wangsa jadwalkan, adik tiba-tiba berkata ingin jalan-jalan.


“Kak, kita main ke taman yuk, aku ingin pergi ke taman bersamamu.” Adik bertanya di pagi hari itu, biasanya mereka ke toko emas, tapi tidak hari ini, adik tidak ingin ke sana lagi, bosan katanya.


“Kalau ke dunia fantasi mau?” Kakak bertanya.


“Boleh, apa bisa?” Adik antusias.


“Bisa, aku akan minta papi untuk antar kita, lagian kita berdua, tidak pernah pergi ke dunai fantasi berdua bukan?” Kakak terlihat semakin ikhlas memberikan tubuhnya, dia ingin mengingat hari ini, hari ketika dia dan adiknya bermain bersama.


Mereka akhirnya ke dupan, satu tubuh dengan dua jiwa itu terus saja mengobrol sendiri. Mereka pergi dengan supir dan mobil papi, saat sudah sampai di dunia fantasi, adik terlihat sangat amat senang, dia meminta kakak untuk berani main semua wahana, adik memang seseorang yang tangguh, dia sangat berani main semua wahana, sementara kakak di tubuh yang sama, hampir saja muntah.


“Kau itu pemberani, aku saja tidak mau, tapi selalu kau paksa, karenamu aku merasakan semua wahana ini dan aku jadi berani, terima kasih ya adikku.” Kakak mengusap kepalanya sendiri, ini aneh kalau dilihat orang, padahal kakak sedang mengusap kepala adiknya, tapi kan mereka satu tubuh.


Setelah asik bermain, adik mulai lapar lagi, mereka berdua memutuskan makan fast food, adik membeli 8 paket makanan, dia sangat kelaparan dan bahagia.


“Kau yakin bisa memakan semuanya?” Kakak bertanya.


“Tentu saja. Kita nikmati saja ya.”


“Ya, terserah kau, toh ini akan menjadi milikmu.”


“Maksudnya?”


“Tidak, lanjutkan makanmu.” Kakak masih belum terbuka, kalau dia akan memberikan tubuh itu pada adiknya dengan sukarela.


Setelah bermain, mereka memutuskan pulang dan menunggu supir datang menjemput, setelah supir datang menjemput, mereka pulang.


Adik sangat bahagia, selama beberapa hari ini kakaknya sangat patuh dan penurut, dia tidak memaksa ingin tubuhnya kembali, adik sangat senang, karena mereka berdua bisa menghabiskan waktu bersama.


“Cici, selamat tidur.” Mereka sudah di rumah, sudah mandi dan sekarang akan tertidur.


“Ingat Dik, dua hari lagi kita akan bertemu seseorang, aku akan memberikanmu kejutan.” Kakak berkata dengan tulus.


“Serius nggak sih Ci? Aku jadi nggak sabar.” Adik memeluk dirinya sendiri, padahal dia bermaksud memeluk kakaknya.


“Serius, aku sudah mengatur pertemuan ini, kau pasti senang bertemu dengannya.”


“Siapa sih Ci?”


“Takkan jadi kejutan kalau kuberitahu siapa yang akan kita temui, maka bersabar ya.” Kakak tidak mau soal pertemua itu bocor.


“Aku benar-benar tidak sabar, tapi apapun itu, aku yakin, karena kakak sayang aku makanya mau kasih kejutan kan?” Ukuran kebaikan bagi anak adalah, jika orang dewasa bisa memberikan hadiah, sangat basic sekali.


...


“Kejutanku hari ini?” Adik tidak sabar, mereka akan ke suatu tempat, entah ke mana, adik tidak tahu.


“Iya, kita akan ke suatu tempat, aku akan memberikan hadiah yang paling besar padamu, kakak siapapun tidak akan bisa sepertiku, karena aku ... aku sayang padamu.”


Adik mendengarnya terdiam, ada rasa sangat sakit di hatinya, entahlah, adik merasa bahwa dia jahat sekali.


“Yuk kita ke sana.” Kakak dan adik dalam satu tubuh itu akhirnya berkendara ke tempat tujuan mereka.

__ADS_1


__ADS_2