Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 473 : Nyebrang 5


__ADS_3

Pamanmu hanya menahan diri, diam tak membalas, aku yang emosi, aku yang selalu melawan mereka, hingga kami juga ikut dimusuhi, tak masalah bagiku, karena aku kerja juga digaji orang di kota, bukan dari mulut-mulut tetangga.


Semakin hari aku lihat pamanmu semakin kurus, makannya jadi tidak teratur, aku sungguh takut Dit, makanya akhirnya aku meminta nomor ayahmu dari pamanmu, aku bilang saja aku akan ke kotanya, aku ingin sekedar ngopi.


Aku memang benar ke kotamu Dit, tapi bukan untuk kerja, aku menemui ayahmu, aku mengatakan semuanya.


Aku melihat betapa sedihnya raut ayahmu, dia lalu ikut aku kembali ke rumah kakaknya.


Pamanmu sempat marah padaku, tapi aku lebih takut warga desa akan melakukan hal jahat, jika saja bila api itu masih terus berada di atap rumahnya.


Saat itu aku melihat Mulyana bahkan memohon kepada kakaknya untuk mau dibantu, tapi dia menolak, hingga kejadian naas itu terjadi.


Banyak sekali bola api yang datang malam itu, ayahmu sudah pulang karena ditolak kakaknya untuk membantu, temanku itu masih saja berusaha untuk bersabar, aku melihatnya dari kejauhan, karena dia juga marah padaku.


Berhari-hari dia berdiam diri saja di rumahnya tanpa keluar dari rumah, tidak juga ke masjid karena ataupun sekedar duduk di halaman denganku seperti dulu.


Karena sudah seminggu dia tak juga keluar, aku sungguh sangat khawatir, maka aku mengetuk pintu rumahnya, tidak dibukakan.


Lalu aku berteriak, ‘JIKA KAU MASIH TIDAK BUKAKAN, AKU DOBRAK YA!’, aku mengancam karena sudah dari kemarin aku tak melihatnya beli makan ke luar, di rumahnya tak ada satu pun orang selain dia, jika dia tak keluar beli makan, lalu siapa lagi yang belikan dia makan? maka kesimpulanku, dia tak makan sama sekali sejak kemarin.


Tidak ada jawaban, maka aku terpaksa mendobrak rumahnya, aku masuk, di ruang tamu tak ada siapa-siapa, lalu aku ke  kamar, dia juga tak ada, aku terpaksa harus masuk makin ke dalam, rupanya dia ada di sana sedang duduk saja menatap ke arah belakang rumah.


Kebetulan belakang rumah kami adalah kebon yang tak terlalu luas, kebon milik tetangga. Dia sedang mengepulkan asap rokoknya, dengan segelas kopi ....


PADA SAAT ITU.


“Aep! Maneh teu jawab (kamu tidak jawab!)” Wak Eman marah pada temannya yang terlihat asik duduk saja di dapurnya, tanpa peduli temannya telah mendobrak pintu rumah hanya agar memastikan dia baik-baik saja.


“Aya naon (ada apa)?” Masih dengan tenang dia menjawab, rokok di tangan tak juga dia singkirkan, padahal telah lama sekali dia tak merokok lagi.


“Kamu ya bener-bener! Dari tadi aku gedor pintu rumahmu, tapi tak dijawab juga, kau malah asik merokok!”


“Maaf, aku tidak bisa bukakan.”


“Hah? kenapa kau tak bisa bukakan?” Wak Eman bingung, dia lalu melihat dengan hati-hati ke arah temannya itu, kalau dilihat-lihat, memang aneh temannya ini, dia duduk di atas kursi dengan kaki ke bawah dua-duanya, biasanya, cara duduknya, pasti mengangkat kaki satu walaupun duduk di bangku.


“Dari semalam, aku sudah tak bisa jalan, Man.”


“Sia goblog!” Eman kesal karena prasangkanya benar, kalau dari semalam dia memang sulit berjalan, paling tidak seharusnya dia berteriak, tapi ternyata dia tak berteriak! Dia hanya diam. Pantas dia merokok, karena hanya ada rokok di meja itu dan kopi serta termos air panas, makanya dari semalam hingga siang ini dia hanya duduk dan merokok, lalu meraih apa saja yang bisa dia raih, didekatnya ada kopi dan termos air panas, maka jadilah kopi.


“Aku malu Man, malu sama kamu dan adikku, kau tahulah, aku sudah mengusir kalian berdua kemarin-kemarin itu. Makanya aku malu mau minta tolong.”


“Yaudah, kamu tunggu sini, biar aku ambilkan nasi dari rumah ya, kamu lapar kan?” Eman tanpa menunggu jawaban dari temannya itu jalan kembali ke rumahnya, tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sepiring nasi dengan lauk seadanya, tapi cukup untuk mengembalikan stamina.


“Ini makan, baru kau kupindahkan ke kasur ya, sementara biar aku yang mengurusmu!”


“Nggak usah lah, Man. Aku malu ....”

__ADS_1


“Kau mau kusuapi juga!” Eman kesal dan tanpa mendengar kata-kata sahabatnya dia hendak menyendokkan sendok berisi nasi dan lauk pada temannya itu, tapi urung karena Aep segera mengambil piring itu dan makan dengan lahap, tak dapat dipungkiri dia sangat kelaparan.


Walau memang sebenarnya dia sangat takut, kalau Eman baru datang beberapa hari kemudian, dia pasti telah mati membusuk karena kelaparan, tapi beruntung, dia punya teman yang memperhatikannya dengan sangat baik.


“Kau tak perlu sungkan padaku, kau menjaga keluargaku dengan baik, aku tahu itu dari istriku dan juga tetangga, kau menjaga keluargaku dengan batasan ketika aku bekerja ke luar kota, sekarang gantian, kau tak ada keluarga di sini, biar aku sebagai teman menjadi keluargamu, dalam agama kita juga diajarkan, bahwa tetangga adalah saudara yang paling dekat, bukan?”


“Kau pandai bermain kata Man, apa karena kau kerja di kota, hingga mulutmu sangat manis seperti orang kota.”


“Kau menyepelekan temanmu, makanlah, setelah itu kau akan aku gotong ke kamar ya.”


Suraep kakaknya Mulyana makan dan setelah selesai, Eman memapah temannya itu untuk ke kamar.


Setelah sampai kamar, Aep lalu meminta Eman untuk menemaninya sebentar, ada hal yang harus dia ceritakan pada temannya itu.


“Aku mau cerita, kau duduk dulu, Man.”


“Ya, ceritalah, ceritakan semuanya padaku, aku takkan menghakimimu walau apapun yang terjadi.”


“Baiklah, ini sebuah kisah kelam, pertama, aku akan ceritakan tentang hubunganku dengan Mulyana, aku adalah anak dari istri pertama ayah kami, lalu ayahku menikah lagi karena ibuku meninggal dunia, dia menikah dengan ibunya Mulyana, lalu lahirnya Mulyana, ibunya Mulyana sangat baik padaku, kami keluarga yang harmonis ... pada awalnya, sayang itu hanya bertahan sebentar.


Ayah kami itu seperti Mulyana, dia adalah ... ingat-ingat gelar ini ya Man, gelarnya adalah Kharisma Jagat, sama seperti adik tiriku, sikap dan sifat mereka pun sama.


Ayahku cenderung sangat kasar, dia menggunakan ilmunya memberantas dukun-dukun di daerah kami, hingga kelak jauh ke pulau lain.


Ayahku juga orang yang sangat gigih seperti Mulyana, dia mengumpulkan kekayaan dari berbagai bisnis yang dia bangun sambil memberantas dukun-dukun itu, mungkin karena kebaikan ayahku itu, keluarga kami jadi sangat kaya raya, ayahku menjadi orang yang sangat disegani oleh banyak orang, karena uang dan tentu saja, karena dia mampu memberantas dukun-dukun itu.


Kami berdua disekolahkan di sekolahan yang bergengsi, saat jaman itu kau tahulah, sekolah itu hal yang mewah, kami juga hidup enak.


Kharisma Jagat adalah orang yang diturunkan Karuhun, kamu tahu kan, Karuhun adalah nenek moyang, tapi maksudnya adalah ... nenek moyang ghaib untuk menjaga kami.


Dalam satu keluarga, hanya akan ada satu Karuhun yang diturunkan untuk satu garis keturunan, saat itu, ternyata adikku yang dipilih Karuhunnya, nama Karuhunnya adalah Abah Wangsa, aku tahu kenapa Abah memilih Mulyana di banding aku, karena Mulyana memang lebih kuat daripada aku, dia sangat tegas dan keras dalam memberantas kejahatan dengan jalur ghaib, mirip seperti ayahku.


Aku tidak masalah dengan itu, karena aku memang tidak terlalu suka dengan hal-hal seperi ghaib, aku hanya ingin hidup tenang, sekolah dengan baik, sekolah tinggi, lalu setelah itu menikah punya anak. Aku ingin kehidupan normal.


Tapi itu semua jadi berantakan, rencanaku tentang masa depan jadi kacau karena ternyata ada salah satu musuh ayah kami, dukun terkenal yang mengirimkan seorang jin yang sangat kuat, jin itu bernama Sabdah Zaid, jin itu berbentuk raksasa yang seluruh tubuhnya menghitam, jin itu datang menyerang rumah kami.


Mulyana yang masih muda, membantu ayahku menghalau semua serangan itu, aku? tidak bisa apa-apa, karena aku dan ibu tiriku hanya orang biasa.


Ayahku dan Mulyana orang kuat, tapi serangan terus saja berdatangan. Aku pikir orang baik akan banyak temannya, tapi ternyata salah, ayahku banyak musuhnya, karena dia mencoba untuk membubarkan perdukunan.


Hampir setiap malam ayah dan adik tiriku yang masih mudah itu, bertarung dengan banyak dukun, dukun-dukun itu sangat jahat, menyerang kami setiap malam, persis seperti saat ini yang mereka lakukan padaku.


Ketika Sabdah Zaid menyerang itu, ayah dan adik tiriku kalah, karena ternyata jin kiriman itu lebih tua dari Abah Wangsa yang dimiliki oleh ayahku, sedang Mulyana masih belum mendapatkan Karuhun, tapi sudah menjadi Kharisma Jagat sejak dia sudah akil baligh, walau belum memiliki Karuhun, istilahnya, masih dilatih dan dipersiapkan.” Kejadian ini sama terjadi pada Aditia, sudah menjadi Kharisma Jagat bahkan sebelum dia mendapatkan Karuhun, hingga Alka harus menjadi Karuhun sementaranya, sedang Mulyana sudah bisa melihat hal Ghaib dan mampu menghalau hal ghaib karena sangat tekun berlatih walau belum mendapatkan Karuhun.


Kenapa hal ini bisa terjadi, karena biasanya Karuhun turun tepat setelah tuan sebelumnya meninggal dunia, tapi pada kasus Mulyana berbeda, Abah Wangsa secara intens melatih Mulyana, walau dia belum menjadi Karuhunnya, Abah Wangsa memang sangat mengagumi Mulyana, makanya bahkan sebelum ayahnya meninggal, Abah sudah melatih Mulyana hingga dia siap jadi Kharisma Jagat.


“Kembali pada malam itu ya Man, malam itu karena ayah dan adikku tak bisa menghalau Sabdah Zaid, akhirnya jin itu masuk ke rumah kami, ayahku dan Mulyana bingung, apa yang harus mereka lakukan agar jin itu bisa kalah, kalau memusnahkannya, tidak mungkin, ilmunya sangat tinggi, kalau mengusirnya, tidak mungkin juga, orang saat itu mereka kalah.

__ADS_1


Maka yang mereka lakukan adalah, ingin menjadikan Sabdah Zaid sebagai Karuhun Mulyana, dengan membaca mantra penundukkan, itu mungkin dilakukan di sana, di rumah kami Man, rumah kami dengan pagar Kharisma Jagat, jika itu berhasil, maka Mulyana kelak akan memiliki 2 Karuhun, wajar bagi seorang Kharisma Jagat memiliki beberapa Karuhun, yang satu bisa dari keturunan, sisanya bisa karena jin yang ikut Kharisma Jagat.


Maka ritual itu dilakukan, mantra dibaca, duku kalang kabut karena tiba-tiba hubungan antar tuan dan jinnya terputus, mantra berhasil, walau begitu, tapi ternyata tidak sesuai rencana, bukannya menjadi Karuhun milik Mulyana, jin itu malah masuk ke dalam tubuhku sebagai ... Khodam.”


Eman mundur sedikit, kaget, mengingat khodam Aep adalah jin raksasa.


“Jangan taku, Mulyana dan ayahku sudah menguncinya di dalam tubuhku untuk tidak keluar, karena jin itu memang sangat jahat dan bengis.


Setelah itu, jin terkuat yang ayahku dan Mulyana mampu kalahkan, bunuh diri, dia tak mau bertobat, dia memilih mati. Nama dukun itu adalah, Aki Hagir, dia sudah sangat tua, banyak orang bilang dia mati bunuh diri karena malu.


Satu minggu setelah Sabdah Zaid dikunci di tubuhku, Aki Hagir ditemukan tubuhnya sudah menggantung di dalam rumah belakang, rumah tempat dia melakukan praktek perdukunan.


Orang-orang yakin, itu karena ayahku dan Mulyana berhasil mengalahkannya, dia malu dan tidak mau bertobat, lalu dia memilih mati dalam kehinaan.”


“Wah sangat menakutkan ternyata ya, dunia perghaiban. Lalu sekarang kenapa kau diserang? Kan dukun dengan ilmu tertinggi sudah dikalahkan?” Eman bertanya.


‘’Karena dukun-dukun dengan ilmu biasa saja ternyata lebih banyak, mereka adalah murid-murid dari dukun itu, si Aki Hagir, mereka ternyata berjumlah ribuan di setiap pelosok negeri ini, maklum Aki Hagir sangat tua, konon katanya, dia memang berumur sangat panjang, karena ilmu hitamnya. Tak heran, cakupan ilmunya menyentuh seluruh negeri ini.


Ayahku dan Mulyana semakin dihajar setiap malam, aku juga mulai dilatih untuk ikut pertarungan, karena aku ketika itu sudah berbeda, bukan orang biasa, tapi pemilik khodam, aku sudah bisa melihat hal ghaib dan menghalau serangan karena ada Sabdah Zaid di dalam tubuhku, walau dia tak bisa keluar dari sini.” Aep menunjuk dadanya.


“Jadi kalian masih diserang?”


“Ya, masih diserang, aku lelah dengan pertarungan ini Man, bahkan Mulyana juga sudah menikah dan tidak memunculkan identitas keluarganya, karena ini, takut kalau ... keluarga kecilnya diincar.  Dia belajar dari kisah rumah tanggaku.


Aku pun menikah Man, aku menikah duluan, salahku, aku tetap membawa istriku ke dalam rumah kami, aku menikah duluan dibanding Mulyana, padahal Mulyana yang ketika itu umurnya lebih muda dariku, sudah mewanti-wanti, bahwa aku harusnya tidak menikahi wanita biasa, aku harusnay menikahi wanita yang sama seperti kami, tapi aku tidak bisa, aku mencintai kekasihku yang sudah kupacari bahkan sebelum aku menjadi pemilik khodam, wanita biasa.


Mulyana sangat menentang hal itu, dia sangat ingin aku menikah dengan wanita yang memiliki pegangan sama seperti kami.


Aku bersikeras menikah dan membawa masuk istriku ke rumah kami yang sangat bahaya itu, saat itu, aku hanya memikirkan satu hal, kami akan aman jika masih di rumah itu.


Sayang aku salah ... Mulyana benar, aku tidak seharusnya menikah dengan wanita biasa, atau kalaupun menikah dengan wanita biasa, aku harus menyembunyikan wanita itu dan mengeluarkannya dari kemungkinan yang sangat berbahaya dari garis kelam keluarga kami.”


“Tapi Ep, ayahmu dan adikmu melakukan tugas mulia, mereka memberantsa dukun Ep. Itu bagus kan?”


“Tidak Man, kalau akhirnya bahkan istriku dikerjai berkali-kali, lalu akhirnya ....”


“Ep, istirahatlah, kau harus istirahat, aku akan panggil Mulyana ke sini, aku akan ke kota menjemputnya. Mulyana pasti tahu, apa yang harus dilakukan.”


“Man, maafkan aku merepotkanmu ya.”


“Tak mengapa, bagiku, kau adalah keluarga.”


_____________________________


Catatan Penulis :


Kisah Mulyana akan aku ceritakan terpisah dari judul ini ya, judulnya akan Mulyana, tapi nanti, aku pertimbangkan dulu, setelah kasus ini atau selanjutnya lagi, ini hanya sekilas tentang keluarga mereka.

__ADS_1


Maaf kemarin tak up.


Terima kasih dukungan kalian.


__ADS_2