
“Sebentar, tadi kau bilang apa? 6 orang? Maksudnya aku juga?” Alisha protes, karena dia baru saja masuk dan mendengar itu.
“Ya, kami butuh bantuan Sha.” Alka memelas, Alka tahu, bahwa Alisha tidak pernah bisa menolak jika permintaan bantuan datang dari sahabat yang paling mengerti Alisha.
“Aku kan nggak bisa liat mereka.”
“Aku bukakan matamu, pada dasarnya semua orang punya indera keenam, hanya terbuka atau tidak, aku bisa usahakan itu. Kau juga seorang petarung sejati, karena kau menguasai ilmu bela diri, terlebih saat ini kau juga tidak memerlukan ilmu bela diri untuk menghadapi anak kecil. Mereka hanya anak kecil Sha. Bantu kami ya.”
“Upahku apa?” Alisha tiba-tiba mengatakan hal yang mengejutkan, orang kaya diupahinnya apa?
“Benda pusaka mau?” Jarni tersenyum licik.
“Anak licik, tentu saja, aku boleh pilih salah satu di markas ini ya.” Alisha memang sudah kehilangan pedang ghaibnya, ketertarikannya pada hal klenik tidak usang sama sekali. Apalagi sekarang dia bisa bekerja bersama dengan orang yang paling dicintainya. Walau sebenarnya, dia sangat amat sedih dengan pengorbanan Rania.
Tapi … satu hal yang membuat Alisha sadar adalah, perkataan Jarni, dia mengunjungi Alisha beberapa waktu lalu, Jarni tahu Alisha di mana karena secara sengaja membuat ular mininya mengenali bau Alisha, hanya untuk berjaga-jaga atas perintah Alka, kalau Alisha pergi tanpa diketahui kawanan karena marah.
Kawanan takkan pernah meninggalkan keluarga, keluarga adalah orang yang harus dijaga. Pergi sejauh apapun, keluarga akan tetap mengawasi.
Ketika itu Jarni datang, dia bilang rindu pada Alisha, dia lalu berkata bahwa Rania mengorbankan dirinya agar Alisha hidup dengan baik, hidup bahagia bersama orang yang dia cintai dan dapat melanjutkan hidup dengan normal. Jadi, kalau Alisha malah menderita, pengorbanan Alisha sia-sia.
Untuk itu, kembalinya Alisha memang sudah diperkirakan oleh Alka dan Jarni, karena mereka sudah membujuk.
Begitu melihat Alisha datang di rumah Melati, si iblis perempuan itu, Alka tahu, Alisha sudah memutuskan kembali.
Hartino tidak tahu, ini urusan perempuan, yang terpenting, kawanan tetap bersama.
Karena terluka, Alka dan Ganding perlu dua hari untuk membicarakan kembali langkah apa yang perlu mereka lakukan.
Karena menghadapi jiwa anak kecil terlalu membahayakan jika dilakukan dengan gegabah.
Hari yang ditentukan akhirnya tiba, Alka dan yang lain sudah berada di tempat yang seharusnya, tempat paling angker di dunia ini, mereka telah melakukan persiapan, agar semua bisa datang ke tempat ini, tempat untuk berlatih, karena kalau tidak tahu medan, bagaimana caranya mereka bisa menghadapi musuh?
Alka dan yang lain telah berpakaian dengan sangat rapih, seperti layaknya seorang ….
“Bu Guru dan Bapak Guru, silahkan ikut saya.” Seorang guru membimbing kawanan untuk ikut ke ruang kepala sekolah, mereka telah membuat identitas palsu lagi, sebagai guru magang, mereka memalsukan banyak dokumen kali ini untuk bisa tembus sebagai guru magang di sekolah … TK.
“Jarang sekali saya temukan anak muda yang mau magang di taman kanak-kanak. Apalagi kalian terlihat sangat, ya … hmm, bisa punya kesempatan bekerja di tempat lain.” Kepala sekolah yang seorang perempuan itu berkata.
“Kami memang sedang meneliti juga bu, bagaimana prilaku anak terhadap perubahan lingkungan, kami rasa mempelajari prilaku anak di ranah paling dasar jauh lebih baik.
__ADS_1
Karena di sekolah TK adalah tempat di mana perubahan lingkungan terjadi sangat kental, di mana mereka sebelumnya hanya bergaul dengan lingkungan terbatas, jadi memiliki pergaulan yang lebih luas, bertemu banyak orang, bertemu hal baru, untuk itu, kami berpikir sekolah ini dapat membantu kami.”
“Wah, sebuah penelitian yang sangat baik Pak Ganding, makanya begitu membaca proposal yang kalian kirimkan, saya langsung setuju, walau waktu yang kalian minta memang tidak terlalu lama, yaitu satu sampai tiga bulan saja bukan?”
“Iya betul bu, karena observasi lapangan kami, jadwalnya memang hanya satu sampai tiga bulan saja, tergantung data yang kami butuhkan, apakah bisa didapatkan dalam waktu yang telah kami tetapkan.”
“Kalau begitu, silahkan berkeliling, ditemani oleh ibu guru Erika ya.”
Lalu kawanan akhirnya ikut Ibu Guru Erika berkeliling.
“Bu, apakah bisa seperti yang saya utarakan?” Ganding berjalan beriringan dengan Ibu Erika, sedang yang lain di belakang.
“Iya bisa Pak, karena kebetulan memang anak-anak itu juga butuh pendampingan, saya akan tempatkan kalian semua di kelas dengan anak yang paling bermasalah.”
Sekolah ini adalah sekolah yang cukup besar, dimulai dari TK, SD, SMP dan SMA. Sekolah dengan uang muka yang cukup mahal dan bayaran bulanannya pun cukup membebani ini memiliki murid TK yang cukup banyak, untuk itu Ganding memilih tempat ini, untuk bisa tahu, bagaimana cara mereka menangani anak-anak.
Biarpun sudah jadi ruh, anak-anak ini pernah menjadi anak yang hidup bersama orang tua, teman dan juga bersekolah. Mengingat umur anak-anak itu juga bervariasi, Ani yang paling tua, yaitu SMP.
“Ini adalah kelas dengan anak yang cukup istimewa, karena di sini banyak anak yang berlatar belakang istimewa, sebenarnya kelas ini tidak diperuntukan untuk anak-anak istimewa itu, tapi berdasarkan tes yang kami lakukan. Maka berkumpullah anak-anak yang istimewa ini. Kalian bisa temani saya untuk mengajar di sini, mungkin setelah tiga hari, kalian akan kami izinkan untuk terjun langsung tanpa pendampingan.” Ibu Erika lalu mulai mengajar, kawanan hanya memperhatikan saja dahulu.
“Sekarang kita mewarnai ya, ibu dan bapak yang menemani Ibu hari ini untuk mengajar, akan membantu memberikan kertas gambarnya, alat mewarnai sudah bawa?” Ibu Erika masuk pada tahap pelajaran selanjutnya setelah salam pagi, baca doa bersama, belajar menyanyi dan hapalan abjad, sekarang waktunya mewarnai.
Mewarnai itu mampu mengasah kreativitas, keterampilan motorik dan meningkatkan kepercayaan diri jika didukung dengan baik di lingkungan.
“Banyak, tergantung anaknya, apakah anak yang aktif atau anak yang cukup tenang. Biasanya aktif dan tenang juga dibangun dari sejak anak itu lahir, bagaimana orang tua memperlakukan anaknya, akan membentuk kepribadian anak.
Tapi berbeda dengan anak yang berkebutuhan khusus ya, seperti anak yang di pojok itu, namanya Bani, dia dari keluarga yang bain dan hangat, tapi ada kalanya dia akan tantrum dan tantrumnya cukup parah. Karena dia adalah anak istimewa yang menyandang autisme.”
“Apakah sekolah ini menerima anak-anak berkebutuhan khusus juga, Bu?” Ganding kaget karena dia pikir semua anak normal yang nakal saja di sini, tapi dia salah, ternyata ada juga anak yang berkebutuhan kusus, pantas ibu Erika sebelumnya bilang, ini adalah kelas dengan anak-anak yang istimewa.
“Iya, kami akan melakukan tes terlebih dahulu, karena menghadapi anak dengan kebutuhan khusus akan lebih sulit penanganannya, maka jika lolos tes, maka kami izinkan sekolah, Bani anak yang baik, orang tuanya juga tidka terlambat menangani kebutuhan anaknya terkait Autisme yang disandang. Kudengar mereka melakukan banyak diet pada anak itu hingga gejala Autisnya jarang muncul. Kecuali ada pemicunya.”
“Memang tidak ada yang memicu di sini, Bu? Hingga anak itu terlihat tenang?” Ganding bertanya lagi.
“Tidak, karena kami semua sudah membicarakannya, kami membuat lingkaran di sini pada hari ke tujuh, saat itu konflik banyak sekali, antar murid, tapi setelah kami membuat kesepakatan bersama, akhirnya perseteruan itu berakhir, tapi ya gitu.”
“Gitu apa, Bu?”
“Mereka jadi kompak, kalau ribut ya ribut bareng, membuat kelas lain terganggu, jadi mereka tidak lagi ribut antar teman, tapi malah ribut bersama.” Ibu Erika tertawa karena mengingat kelakuan anak-anak didiknya.
__ADS_1
“Bu, kalau boleh tahu, apa sih kesepakatan yang ibu buat bersama anak-anak yang masih sangat kecil ini?”
“Kesepakatannya adalah, pertama semua anak harus saling kenal, saling mengatakan apa yang mereka suka dan tidak suka, lalu kita semua mulai membuat kesepakatan tentang tidak melanggar apa yang tidak disukai oleh satu sama lain, mengingat semua anak punya kelemahan, maka jika ada satu anak yang membuat anak lain kesal karena melakukan apa yang anak itu tidak suka, maka kami akan ingatkan bahwa anak yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan itu juga memiliki hal yang tidak disukai.
Seperti Bani yang tidak suka ditegur ketika dia sedang fokus atau sedang kambuh, maka semua anak tidak akan menegurnya, karena itu kesepakatan kita bersama.”
“Kesepakatan ya Bu? Menarik sekali.”
“Memang selalu menarik Pak Ganding, kalau soal anak-anak itu, yang penting sabar, jangan berkata kasar, jangan tunjukkan kita tidak suka, sekaligus jangan tunjukan kita lemah, karena terkadang anak-anak itu jauh lebih pintar dari yang kita pikirkan Pak Ganding. Mereka menyerap apapun yang dilihat, didengar dan dikatakan. Makanya kita sebagai orang yang mengajar, harus hati-ati memberikan pengetahuan kepada anak.” Ibu Erika lalu bersiap untuk mengajar, dia memberikan petunjuk untuk mewarnai, sedang kawanan ikut mengawasi dengan berada lebih dekat dengan anak-anak.
“Kamu suka warna merah?” Alka bertanya pada salah satu anak yang dia dampingi, dia itu seorang anak lelaki.
“Iya, aku suka warna merah.”
“Wah kamu sudah pintar mewarnai ya, rapi sekali.” Puji Alka pada anak itu.
“Iya, Ibu Guru juga cantik sekali.” Anak itu tetap mewarnai walau telah membuat Alka tersenyum, pujian yang tulus datang dari seorang anak.
“Aditia mendampingi juga seorang anak perempuan untuk mewarnai, anak itu tidak mahir memegang pensil warnanya, jadi warnya yang dia coba coretkan di kertas gambarnya, berantakan sekali.”
“Mau Bapak bantu?” Aditia berkata.
“Tidak, Pak, aku bisa.” Anak perempuan itu tetap berusaha walau sebenarnya dia tidak bisa dan butuh arahan.
“Bapak bantu ya.” Aditia tidak sabar ingin menunjukkan bagaimana yang benar.
“Tidak Pak! aku bilang aku bisa! Kenapa dipaksa sih!” Anak itu tiba-tiba berteriak, lalu tantrum. Melihat temannya berteriak dan tantrum, Aditia sekarang menjadi tersangka, semua anak menatapnya dengan tajam, seolah di dahi Aditia tertulis, si pengganggu.
“Pengganggu! Pengganggu! Pengganggu!” Semua anak tiba-tiba berdiri dan berteriak seolah diperintah, padahal tadinya hanya satu anak saja yang berteriak, lalu yang lain ikut berteriak, mereka kompak sekali, tapi dalam cara yang salah.
“Tenang, tenang, tenang!” Ibu Erika terlihat panik, karena semua anak akhirnya melempar kertas dan semua alat tulis yang mereka pegang kepada Aditia, Bani yang berkebutuhan khusus ikut panik, dia kambuh, dia lalu menyerang Aditia, dia memukul Aditia dan menumbukkan kepalanya ke badan Aditia, tentu dia tidak bisa melawan, karena kalau melawan, Aditia bisa dipenjara. Persis seperti menghadapi jiwa anak-anak itu.
Di dunia manusia saja mereka gagal pada hari pertama.
Ibu Erika berusaha menenangkan semua anak, begitu juga kawanan, Ibu Erika meminta Aditia untuk keluar sejenak, karena saat ini objek yang sedang dibenci adalah dirinya.
Lalu Ibu Erika menutup pintu kelas agar anak lain tidak terganggu. Dia lalu berdiri di atas bangku dan berteriak.
Ibu Erika lalu kembali menenangkan anak itu satu persatu, dia memeluk, membiarkan mereka menangis dan setelah setengah jam, kegiatan belajar mengajar habis hanya untuk menenangkan semua anak.
__ADS_1
Alka, Ganding, Jarni, Hartino dan Alisha keluar dengan rambut yang berantakan, baju yang yng kusut dan beberapa tubuh mereka kena cakar. Sedang Aditia terlihat berjalan, dia dari kantin memegang minuman dingin, melihat itu kawanan sangat marah.
“Bisa-bisanya kau santai begitu sementara kita semua disiksa di dalam! Kau benar-benar cari mati!” Alka yang biasanya sangat lembut pada Aditia marah dan mengejarnya, Aditia yang baru saja kembali dari kantin berlari, takut dipukuli, karena dia penyebab anak-anak itu trantrum.