Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 259 : Pabrik Seragam 8


__ADS_3

“Jadi anda siap?” tanya Aditia pada Ardi, mereka sudah ada di depan pabrik.


“Tergantung apa yang kalian ingin perlihatkan. Kalau hanya omong kosong, jangan harap aku akan melepaskan kalian.” Ardi telihat sangat kesal karena menuruti enam pemuda aneh ini.


Aditia berjanji kalau kelak dia tak bisa membuktikan apa yang dikatakan Dinda itu salah, maka dia dan kawanan akan menyerah, tapi jika Aditia dan kawanan bisa membuktikan bahwa Dinda benar, maka Ardi harus melepas Dinda dan kawanan.


Sebagai orang yang penuh dengan pemikiran logis, Ardi enggan percaya, tapi Aditia menantangnya, itu menodai harga diri Ardi jika menolah, bahkan Aditia memakai kata-kata, ‘anda takut pak?’ hingga membuat Ardi merasa direndahkan makanya dia akhirnya ikut.


“Alka akan membuka mata batinmu Pak, pada dasarnya semua orang punya mata batin, karena di dalam raga setiap manusia ada ruh yang memilliki sifat ketuhanan, yaitu, membangkitkan apa yang mati menjadi hidup, yaitu tubuh kita.


Sedang mata batin adalah kemampuan melihat wujud yang tak kasat mata, yang juga memiliki sifat keilahian. Maka dari itu, semua orang sebenarnya mampu melihat ‘mereka’ tapi pertanyaannya adalah, apakah terbuka atau tidak.


Makanya, sebelum Alka membuka mata batin Bapak, apakah bapak siap? karena setiap pengalaman pertama akan membuat seseorang trauma.”


“Kau bercanda, kau pikir aku anak kecil?!” Ardi kesal karena dia semakin direndahkan.


“Alka, buka matanya.”


“Seluruh atau setengah?” Alka bertanya.


“Kau mau lihat bayangan atau wujud nyata?” Aditia bertanya lagi dengan wajah datar, dia tidak bermaksud merendahkan, dia benar-benar memberi penawaran.


“Yang jelas hingga aku bisa tahu kalian bukan pembohong.”


“Baiklah, yang jelas Alka, buka seluruhnya, tapi mungkin akan sulit menutupnya secara sempurna kelak, karena jika sekali dibuka sempurna, menutupnya kembali mungkin hanya bisa setengahnya.” Aditia sebenarnya sedang mengetes keberanian Polisi ini karena dia terlihat sangat sok tahu.


“Sempurna, aku tidak takut, bukalah dengan sempurna.” Ardi sungguh-sungguh.


Alka mendekatinya, menatap matanya, menutup mata itu, membaca mantra, dari tangan dan mata lelaki itu keluar sinar, setelahnya mata Arti dibuka, pertama kali yang ia rasakan adalah, silau seperti ada kilatan cahaya kamera yang cukup menyilaukan, perlahan matanya mulai normal lagi.


“Tidak melihat apapun, apa yang kalian maksud dengan melihat ‘mereka’?” Ardi sepertinya tidak puas.


“Ayo jalan, bukan di sini kau melihat mereka, tapi di dalam.”


Kawanan jalan menuju pabrik, mereka melewati gerbang sampai pintu depan.


“Kalian harus izin dulu, jangan asal masuk.” Ardi mendekati seorang security yang sedang berdiri di pos.


“Pak, saya Ardi Polisi, kami semua ....” Ardi terdiam, dia lalu mengeluarkan pistolnya, kaget, karena ....


“Ka-kau ini apa! kenapa wajahmu rusak sebelah!” Ardi berteriak, karena Security itu bukan manusia, tapi makhluk yang tak terdefinisi oleh Ardi, pertama kalinya melihat setan dalam wujud nyata dia hanya bisa mengeluarkan pistolnya, bodoh sekali.


“Pak, balik sini, semua security sudah kami tidurkan, itu bukan security di sini.” Ganding berteriak, tapi Ardi masih terpaku di sana sambil menodongkan pistolnya, padahal setan itu hanya diam dan menatap Ardi bingung, karena dia terlihat.


“Pak ayo, jangan buang waktu.” Hartino menarik Ardi dan memintanya menurunkan pistol.”


Ardi sedikit terguncang, wajah itu tak bisa hilang, saat dia akan ke pos untuk izin, wajah security itu memang tidak terlihat dengan jelas, saat mendekat, Ardi baru menyadari bahwa memang benar security itu sudah pasti bukan manusia.

__ADS_1


“Ini sihir! Pasti sihir kan yang kalian berikan padaku?” Ardi kesal karena kaget di depan pemuda ini.


“Ya memang, semua yang kau lihat adalah sihir, alam ghaib penuh sihir, kayak anak baru kemarin lihat beginian aja.” Hartino meledek.


“Har, barusan, bukan kemarin.” Semua tertawa, Ardi hanya diam, karena dia masih kaget.


“Pak, masih mau ikut nggak? di dalam yang kayak begitu, lebih mengerikan dan lebih banyak, kau juga mungkin akan muntah awalnya, lalu mual dan ketakutan, mungkin juga trauma dan kesulitan tidur, jika ....” Aditia memotong kata-katanya.


“Jika apa?” Ardi kesal karena Aditia tidak melanjutkan perkataannya.


“Jika kita selamat.” Aditia berkata dengan serius.


“Memang ada kesempatan untuk kita tidak selamat, bukankah makhluk seperti itu tak bisa menyentuh kita?”


“Jika kita berada di dunia nyata, tapi kalau kita ada di dunia mereka, itu berbeda.”


“Sebahaya apa sih? seharusnya manusia lebih bahaya dibanding setan kan.”


“Baiklah, sekarang kita masuk apapun yang terjadi di dalam, jangan lepas gelang ini.” Aditia memberikan gelang yang terbuat dari kayu gaharu, ini membuat Ardi bisa terdeteksi oleh mereka jika kelak dia hilang, karena makhluk sebanyak itu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di dalam sana nanti, ini bukan perlindungan tapi semacam deteksi, karena yang melindungi tetaplah Tuhan Yang Maha Esa.


Mereka lalu berjalan ke dalam, seksi packing adalah ruang pertama yang mereka datangi.


Begitu pintu dibuka, mereka langsung masuk ke dimensi ghaib.


Seperti biasa, di sini sangat ramai, tapi tidak ada penerangan selain pencitraan yang terasa abu-abu, lalu udara pengap dan panas terasa.


“Jangan menatap mereka jika terlalu takut, jangan bertanya pada mereka, hanya ikuti kami. Mengerti Pak?” Aditia memperingatkan, Ardi menempel pada Aditia dan mengangguk.


Mereka berjalan, semua makhluk terlihat sibuk mengelilingi semua barang dagang dengan arah membentuk bilangan tak hingga, sampai di ruang jahit, betapa terkejutnya Ardi, karena melihat Erin sama seperti yang lain, sedang berjalan tanpa arah, itu yang Ardi ketahui, tanpa ia sadari, dia meninggalkan kawanan dan berlari menuju arah Erin, sementara yang lain seibuk menabur sesuatu ke setiap penjuru ruangan.


Ardi berlari mendekati Erin, begitu dia sudah sampai padanya, Ardi menarik Erin dan melihat bahwa benar itu adalah dia.


“Bagaimana kau ada di sini, kau itu sudah ... dikubur!” Ardi berteriak, membuat Erin mendengarnya. Erin terhenyak dan berhenti dari barisan, Lais menyadari itu, dia berlari mendekati Ardi hendak memperingatkannya, bahwa Erin belum tahu kalau dirinya telah tiada.


Erin menarik Ardi agar masuk lagi ke dalam kawanan, tapi terlambat, Erin telah mendengarnya, dia lalu marah dan berteriak.


“Apa benar aku telah tiada!” Dia berlari mendekati kawanan, karena teriakan Erin yang lain ikut berhenti mereka terganggu dengan kata-kata Erin.


“Erin masuk kembali ke dalam lingkaran.” Aditia memerintahkan Erin, tapi Erin tidak menggubris, dia mencecar Ardi, Ardi heran melihat semua makhluk itu terlihat sangat mengerikan, tubuhnya gemetaran, karena mereka sepertinya hendak menyerang.


“Erin masuk barisan, nanti kami jelaskan.” Alka menarik Erin agar dia masuk barisan.


Tapi entah kenapa, semua makhluk itu berhenti dan mulai terlihat marah pada kedatangan kawanan.


Mereka mendekati kawanan hendak mengejar, tadinya adalah barisan makhluk yang sedang bekerja menjadi barisan makhluk yang mengerubungi kawanan, mereka memposisikan diri mereka melingkar dan di dalam lingkaran kecil itu Pak Ardi dilindungi.


“Sepertinya ada yang mengendalikan mereka untuk menyerang kita.” Aditia mengambil kesimpulan.

__ADS_1


“Siapa?”


“Kau pikir aku cenayang?” Aditia kesal karena dia tak punya jawaban untuk yang satu ini.


“Kau kan memang cenayang.” Ardi nyeletuk, yang lain kesal karena dia tadi sudah membuat kekacauan dan membuat mereka terancam, karena Erin keluar dari barisan, tuannya tahu ada yang tidak beres.


“Dukun sepertinya Dit, tapi yang membayar dia yang harus kita ketahui, biasanya yang membayar tak punya ilmu tapi punya uang.”


“Apa bedanya, toh nanti juga kita membantai mereka.” Aditia mengeluarkan senjata, yang lain juga.


“Dit kau belum menyebar bubuk gaharunya di ruangan lain.”


“Bereskan di ruangan ini dulu, karena pintunya aku pasang pagar ghaib pada seksi packing dan juga seksi jahit ini, sementara kita bereskan yang ada di sini dulu.


Mereka mulai menyerang sementara Ardi diperingatkan tetap pada lingkaran yang dibuat Jarni.


Aditia mulai menusuk satu persatu makhluk itu tepat dijantung, mereka musnah setiap kali kena keris Aditia.


Alka menyabet-nyabet cambuknya pada tubuh ruh makhluk itu, setiap sabetan membuat satu ruh musnah, Lais mengeluarkan pedangnya yang sangat besar, sementara Jarni mengeluarkan semua ular mininya dan membaut setiap makhluk musnah karena diserang ular mini itu.


Ganding dan Hartino juga menggunakan senjata mereka untuk terus menghajar makhluk itu.


Kelelahan, karena banyak yang harus mereka habisi, setelah kosong, hanya tertinggal Erin yang jongkok dipojokkan ketakutan melihat kebringaran lima sekawan dan Lais.


Setelah memulihkan tenaga sebentar, mereka mendekati Erin dan membiarkan Ardi menginterogasi ruh itu.


“Erin, kau tidak tahu kalau kau sudah tiada?” tanya Ardi.


“Aku tidak tahu Pak, apa benar aku telah tiada, bukankah katamu kami akan diselamatkan?” Erin menuntut penjelasan Alka.


“Aku bohong, tidak ada satupun dari kalian yang masih hidup.” Alka berkata dengan tenang tanpa rasa bersalah.


“Kalian berbohong! Kau berbohong!” Erin menunjuk Alka dengan tatapan marah, wajahnya menghitam karena itu.


Alka mendekatinya, tentu ruh baru ini tidak membuat Alka takut.


“Aku memang berbohong padamu, tapi kau jauh lebih busuk, keserakahan apa yang kau lakukan hingga bisa masuk ke dalam dunia ghaib ini?” Alka menekan Erin.


“Apa maksudmu!” Erin mundur dan berusaha mengingat.


“Karena jika memang kau masuk ke dunia sihir Ananta, itu karena kau adalah manusia yang serakah sehingga jiwamu masuk dengan mudah, jiwamu juga sebenarnya sudah lama diincar, keserakahan apa yang kau lakukan hingga membuatmu masuk ke dunia ini!” Aditia kali ini yang bertanya.


“Aku tidak mengerti maksud kalian!” Erin masih bingung.


“Keserakahan itu selalu berkaitan dengan uang, kekuasaan dan terakhir, milik orang lain, yang mana yang kau hendak kuasai?” Alka menekannya, yang lain ikut mendengar.


“A-aku, aku tidak mengerti maksudmu.”

__ADS_1


“Baiklah, bagaimana dengan foto ini.” Alka melempar foto itu hingga semua orang melihat, bagaimana mungkin Alka memiliki foto itu sementara kawanan tidak tahu, kenapa Alka selama ini menyembunyikannya, pantas dia tidak segan membuat Erin terjebak di sini kemarin.


__ADS_2