
“Pak! Pak! Tolong!” Seorang pria berlarian ke pos security, dia terlihat ke luar dari mobilnya, dia bukan orang komplek, karena kalau orang komplek, Security pasti kenal.
“Kenapa Mas?” Security memanggil dengan sebutan mas karena pria ini terlihat masih muda, umurnya mungkin sekitar 25 tahunan.
“Pak, tadi saya … saya … saya sama pacar saya ke dalam naik mobil, terus pacar saya ilan!”
“Hah? ilang gimana?” Security bingung karena dia komplek ini aman, mana ada penculik, semua orang yang masuk harus lewat pos security dan ditanya keperluannya apa.
“Iya tadi pas saya mau antar pacar saya ke rumahnya, tapi pas di jalan, tiba-tiba dia minta berhenti, katanya mau beli bubur yang lewat, saya berhenti, terus saya angkat telepon, saya nggak perhatiin pas pacar saya keluar, selesai teleponan, saya kaget, kok pacar saya nggak balik-balik ke mobil.
Saya keluar, nggak ada siapa-siap di luar, kosong, sepi, saya trus lanjut sampe rumahnya, tapi kata orang rumahnya dia belum bali, trus saya muter lagi, cariin dia, tetep nggak ketemu, Bapak kenal nggak? namanya Mira, ini fotonya.” Pemuda itu menyodorkan telepon genggam yang ada foto Mira.
“Oh kenal ini mah, anak yang rumahnya blok B nomor 15 itu kan? Tapi bentar deh, tukang bubur?”
“Iya katanya dia mau beli bubur, trus saya berhentiin mobil.”
“Kamu lihat tukang buburnya?” Security bertanya.
“Nggak Pak, saya kan langsung terima telepon, makanya nggak lihat.”
“Setelah Mira keluar, kamu juga nggak perhatiin dia ke mana perginya?”
“Ya enggak lah Pak, saya lagi telepon, mana saya lihat! Lagian ini kan komplek rumahnya, saya pikir aman, dijaga security banyak juga, tapi kenapa sekarang dia malah hilang!” Lelaki itu kesal karena dia malah dipojokkan, apakah orang-orang ini curiga padanya?
“Sudah berapa lama kira-kira kejadiannya?”
“Skeitar satu setengah sampai dua jam yang lalu, makanya saya panik, orang tuanya juga sekarang lagi telepon dia terus sama beberapa orang temannya.”
“Begini Mas, sekarang ikut kami yuk, kamu ikuti kami dari belakang dengan mobil, kami naik motor, kemungkinan kalau di ketemunya sama tukang bubur, berarti dia ada di tanah kosong, ujung komplek, itu jalan keluarnya kami tutup rapat kok, jadi tenang, dia nggak akan sampai ke luar.”
Dua security naik motor dan lelaki itu mengikuti dengan mobilnya dari belakang, mereka menyusuri jalan beriringan.
Lalu setelah sampai di ujung komplek dan tidak ada perumahan lagi, lelaki itu menghentikan mobilnya karena motor juga berhenti, begitu dia keluar, dia melihat Mira tergeletak di tengah jalan, kemungkinan pingsan.
Lelaki itu segera berlari menghampiri Mira, lalu dia melihat sekeliling, dia ingin melihat apakah ada penculik atau perampok yang masih di sini, orang yang mencelakai Mira.
Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar situ selain mereka yang baru saja datang, lelaki itu segera memeriksa kondisi kekasihnya, masih bernafas, kemungkinan dia pingsan saja.
Lelaki itu lalu menggendongnya di punggung, sementara bagian belakang punggung wanita itu di jaga oleh salah seorang Security komplek agar tidak jatuh.
Lelak itu memasukkan Mira ke dalam mobilnya dan membawa Mira ke rumah. Dua Security turut ikut, Pak RT juga mereka hubungi.
Semua orang berkumpul di rumah Mira, orang tuanya terlihat cemas karena Mira belum juga bangun, pacarnya masih ada di sana.
Lalu Mira terbangun setelah cukup lama pingsan, seperti yang sudah dikhwatirkan oleh Security dan Pak RT, Mira bangun dalam keadaan tidak bisa bicara, dia kehilangan suaranya.
“Ini kenapa anak saya?!” Ayahnya Mira marah, karena anaknya pulang dalam keadaan seperti ini.
“Pak tenang dulu.” Pak RT mencoba menenangkan.
“Kamu apain anak saya!” Ayahnya Mira terdengar sangat kesal pada pacarnya.
“Pak, pacarnya nggak salah-salah amat, Mira dikerjain sama tukang bubur setan, Bapak nggak denngar ceritanya?” Pak RT mencoba memberi informasi.
“Apa? ini anak saya jadi korbannya?” Ibunya histeris, ayahnya tidak tahu berita itu karena memang dia lebih sering di luar kota mengurus bisnisnya, sedang ibunya tahu dan terkejut melihat anaknya jadi korban.
“Tenang dulu Bu, tolong ambilkan kertas dan juga pulpen, biarkan Mira cerita dulu apa yang terjadi, supaya jelas.” Pak RT meminta itu agar Mira bisa bercerita dengan cara menulis.
DUA JAM LALU
“Yank, berhenti! Aku mau beli bubur.” Mira meminta pacarnya menghentikan mobilnya, padahal sekitar lima menit lagi mereka sampai rumah.
“Mana sih?” Pacarnya tidak lihat, tapi dia tetap menghentikan mobilnya.
“Itu yang dibelokan depan, yaudah aku turun dulu, kamu tunggu sini ya, mau nggak? kita makan di rumah nanti.”
Pacarnya mengabaikan Mira karena ada telepon, dia juga tidak melihat ke arah mana Mira pergi karena sibuk dengan teleponnya, dia di telepon bosnya soal laporan, maklum anak baru, jadi sering di sibukkan kerjaan di laur jam kantor.
Sementara begitu keluar mobil, Mira mengejar tukang bubur yang sudah mulai belok.
__ADS_1
“Bang! Abang bubur!” Mira berlari mengejarnya, tapi tukang bubur itu masih saja terus menjalankan gerobaknya.
“Abang!” Mira berteriak lebih kencang, tapi masih tidak di dengar, mira masih terus mengejarnya karena merasa bisa menghampiri tukang bubur itu.
Saat mengejar tukang bubur, Mira papasan dengan seorang tetangga, tetangga itu menyapa.
“Mir, mau kemana?” Mira tidak menjawab, tatapannya kosong, dia terus berjalan ke depan, tetangga itu adalah teman SMAnya dulu.
Mira melewati temannya begitu saja, tidak menoleh apalagi menyapa.
Temannya Mira tersinggung, dia tidak curiga apapun, dia hanya merasa Mira sombong sekali dan akhirnya berlalu begitu saja, itu adalah apa yang temannya lihat saat papasan dengan Mira, yaitu Mira yang jalan dengan tatapan kosong dan mengabaikan dirinya yang berusaha ramah dengan menegur.
Tapi apa yang Mira rasakan berbeda, dia tidak melihat temannya, dia berlari sambil memanggil-manggil tukang bubur sepanjang jalan itu, dalam penglihatannya hanya ada dia dan tukang bubur itu.
Mira terus berjalan mengejar tukang bubur, hingga akhirnya tukang bubur berhenti, seperti yang kita semua bisa tebak, dia berpindah ke bagian samping gerobak, seperti hendak melayani, Mira mendekatinya, setelah cukup dekat, dia lalu mulai memesan.
“Empat ya Bang, semuanya lengkap.” Mira memesan.
Tukang bubur, diam saja tapi tangannya sibuk melayani.
“Bang, kok tadi dipanggil diam aja, saya ikutin dari depan loh, eh tapi … ini di mana ya? Kok sepi banget, ini juga tangan kosong.” Mira baru sadar kalau dia sudah di tempat yang asing.
Tukang bubur masih sibuk dengan buburnya.
“Bang ini ….” Mira baru mau tanya ini bagian mana komplek, tapi dia tidak jadi, karena kesal.
“Bang, dibungkus, kok malah di mangkok sih buburnya.” Mira kesal karena dia malah dilayani di mangkok, pesan empat kok ngelayaninnya satu-satu, mau sampai kapan, nanti pacarnya marah lagi kalau dia kelamaan.
“Bang, itu kok di mangkok, harusnya kan dibungkus semua, kok malah di mangkok, saya nggak bisa makan di tempat, apa abangnya mau sekalian ke rumah saya? Lagian saya beli buat orang rumah.”
Mira masih tidak digubris, abang bubur masih saja sibuk dengan mangkuk buburnya berlogo ayam itu.
“Bang! Denger nggak sih! Ah nyebelin!” Mira kesal akhirnya dia hendak pergi, tapi saat kakinya sudah siap untuk jalan, tiba-tiba abang bubur itu berkata dengan lirih.
“Iniiiihhhhh ….”
Tapi Mira tahu, kalau tukang bubur itu mendekatinya, kita biasanya sadar kalau ada orang yang hendak mendekati.
Mira bingung dan kaget, kenapa tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Tukang bubur itu tiba-tiba ada di depannya, dia menyodorkan mangkuk yang Mira kira berisi bubur dan isiannya, tetapi ternyata dia salah, mangkuk itu isinya adalah air kotoran yang berwarna hitam pekat, tukang bubur itu menyodorkan buburnya semakin lama semakin dekat pada wajah Mira. Mira mencoba untuk mundur, tapi dia tidak bisa menghalau ketika tukang bubur itu semakin mendekatkan mangkuknya, hingga akhirnya terciumlah bau busuk dari mangkuk itu.
Mira menangis dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Lalu setelah memastikan Mira mencium bau buburnya, dia mendekatkan wajahnya pada Mira, wajah mengerikan itu, yang Mira ingat, wajah itu begitu mengerikan hingga akhirnya semua terasa gelap. Bangun-bangun dia sudah ada di rumahnya dan banyak orang, ditambah dia tidak bisa bicara.
“Pak, kita kapan kita mengadakan doa bersama, mau sampai kapan korban berjatuhan?” Security senior mengingatkan. Pak RT bukannya tidak mau membuat acara doa bersama, tapi dia belum dapat izin dari semua warga, ada warga yang tidak setuju diadakannya doa bersama itu, terlebih pemilik tanah dari tempat biasa tukang bubur itu membawa korbannya, karena rencananya, di lahan kosong itu akan diadakan doa bersama.
Apapun yang terjadi di lahan kosong itu, mereka akan meminta kepada Tuhan untuk membantu menyelesaikan masalahnya, hingga ruh pengganggu itu berhenti mengganggu.
“Pak, jadi rumor itu ada? Saya nggak tahu karena saya sering ke luar kota untuk ngurus usaha saya. Maafkan bapak ya, tadi udah marah-marah.” Ayahnya Mira minta maaf pada kekasih Mira karena salah sangka dan marah-marah pada kekasihnya tadi.
“Yasudah, besok saya usahakan akan mendapatkan persetujuan dari semua warga di komplek ini, saya harap semua orang ikut doa, semakin banyak yang doa, semakin baik, mana tau yang mana diterima Tuhan.”
Pak RT dan dua security juga akhirnya pamit pulang, sementara pacarnya Mira memutuskan untuk tetap tinggal, orang tua Mira takut kalau pacar anaknya malah jadi korban berikutnya kalau dia pulang.
…
Pak RT akhirnya mendapatkan izin dari seluruh warga untuk mengadakan doa di tanah kosong, tempat dari tukang bubur selalu membawa korbannya.
Walau sebenarnya dia tidak mendapatkan izin dari pemilik tanah, dia takut kalau harga jual tanahnya akan turun kalau sampai tersiar kabar soal tanahnya yang angker, tapi Pak RT tidak mau berdiskusi, karena pemilik tanah itu tidak tinggal di komplek ini, jadi tidak tahu betapa berbahayanya setan itu.
Akhirnya doa bersama itu tetap dilakukan, di lokasi yang memang angker, tempat ditemukannya para korban.
Korban-korban itu juga diundang untuk datang, mereka berharap agar doa ini bisa mengembalikan suara para korban.
Begitu para korban di dudukkan bersama, ada Surti, Ezy dan Mira, Pak RT merasa ada yang aneh, kenapa leher mereka bagian kiri terlihat membengkak. Sejak kapan itu terjadi, lalu kenapa leher bagian itu yang bengkak di ketiga korban secara serentak.
“Apa leher ini sakit?” Pak RT bertanya sambil menunjuk bagian leher yang bengkak.
Ibunya Ezy mendekat dan dia menjelaskan tentang bengkak itu.
__ADS_1
“Awalnya hanya benjolan kecil Pak, di bagian leher sebelah kiri, bagian bawah. Tapi makin lama, benjolan itu makin besar dan makin naik ke atas, kami bingung itu apa, karena setiap kali ke Dokter, benjolan itu tidak dapat disembuhkah.
Bisa dioperasi agar hilang, tapi kami tak punya biaya, taunya semua korban tukang bubur itu juga sama, mengalami bengkak pada bagian kiri leher.”
“Oh begitu, Bu.” Pak RT mengerti sekarang, ternyata ini memang penyakit dari setan itu.
Digelar tenda di tanah kosong itu dan juga terpal untuk semua warga duduk, semua yang beragama muslim berdoa dengan cara muslim dan yang beragama non muslim, berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Selain di panggil Ustad, dipanggil juga Pendeta untuk ikut berdoa bersama, karena tanah kosongnya cukup luas, maka barisan muslim dan non muslim diberi jarak agar masing-masing bisa fokus pada doanya.
Doa diadakan siang hari, yaitu setelah dzuhur, mereka sengaja mengadakan doa pada siang hari, karena kalau malam hari, bisa jadi semua orang ketakutan.
Saat doa dimulai, tiba-tiba angina berhembus, tadinya cuaca panas, menjadi mendung seketika, semua orang masih fokus berdoa, hingga tiba-tiba terdengar suara kentungan khas tukang bubur gerobak lewat, semua orang saling duduk berdekatan, ketakutan karena tiba-tiba ada suara yang begitu nyaring, padahal ini jam dua belas siang.
Baru saja doa dimulai sekitar lima belas menit, tiba-tiba ada satu orang yang kesurupan, lalu dua orang, tiga, empat dan hampir setengah dari warga kesurupan massal.
Pak RT dan seorang Security mencoba untuk menenangkan warga, beberapa warga yang tidak kesurupan juga memegangi orang-orang yang kesurpan, Pendeta juga berusaha untuk menenangkan jemaatnya yang ikut kesurupan.
“Pak gimana nih?” Hanya tinggal satu Security yang tersisa, beberapa Security sudah ikut kerasukan.
Semua yang kerasukan berteriak tapi mengucapkan kata yang tidak jelas, suara mereka serak dan seperti kesulitan bicara, Pak RT melihat ini semua akhirnya lemas, karena Ustadpun kewalahan menangani orang yang kesurupan sebanyak ini.
Saat mereka semua bingung harus apa, tiba-tiba ada sekumpulan pemuda datang, kawanan.
Alka dan Jarni menangani warga-warga non muslima sedang Ganding, Hartino dan Aditia menangani orang-orang muslim yang kesurupan.
Jarni membuat Garis memutar di sekitar orang yang kesurupan, orang yang tidak kesurupan disuruh berdiri di luar lingkaran, lalu Jarni melepas ular ghaib mininya, ular-ular itu menghinggapi tubuh-tubuh yang kesurupan, sementara Alka memukul tengkuk orang-orang itu membuat orang-orang kesurupan itu akhirnya pingsan. Sama dengan tubuh yang dipatuk ular ghaib Jarni, mereka pingsan.
Aditia dan yang lain juga melakukan hal yang sama, satu kali pukul tengkuk mereka pingsan. Ini adalah cara cepat untuk mengeluarkan energi hitam dari tubuh yang telah terkontaminasi, mereka membuat orang yang kesurupan pingsan dulu agar bisa diobati dengan tenang, semacam memutus arus listrik dari pusatnya agar pingsa, setelah itu baru Aditia akhirnya mengeluarkan energi jahat dari tubuh-tubuh itu, dengan cara membaca mantra dan menarik energi hitam itu dari ubun-ubun, Alka dan Jarni juga melakukan hal yang sama, hingga energi hitam terkuras keluar seluruhnya, energi itu menguap.
Setelah semua orang sadar dan tidak ada yang kesurupan lagi, semua orang pulang untuk istirahat.
“Kalian siapa?” Pak RT bertanya.
“Kami cucu-cucu sekaligus murid Kiai Tardi, kenapa bapak mengumpulkan semua orang di sini?” Aditia bertanya, dia berbohong lagi.
“Karena mau doa bersama, kami benar-benar terganggu dengan gangguan ruh setan tukang bubur itu.”
“Oh, seharusnya jangan lakukan ini Pak, jangan mengumpulkan semua orang di satu tempat yang jelas sudah tau angker, karena ada banyak energi hitam di sekitaran sini, siapa yang bisa jamin orang-orang yang bapak kumpulkan tidak bengong atau sedang merasakan perasaan buruk yang membuat mereka jadi tidak fokus. Orang-orang seperti itu gampang terpengaruh energi hitam dan bisa jadi memancing energi hitam untuk masuk ke dalam tubuh itu dan mengendalikan mereka.”
“Maaf saya tidak tahu, saya pikir makin banyak yang doa, makin baik.”
“Iya itu benar, tapi jangan di tempat angkernya dong.” Har kesal melihat kebodohan Pak RT, tapi kan, tidak semua orang tahu tentang hal ghaib seperti mereka.
“Ini Pak, suruh semua orang minum air daun bidara ya, semua orang, jangan ada yang terlewat, semua orang yang datang, yang kesurupan dan tidak, semua orang yang sering datang ke komplek ini, kalau perlu tamu pun paksa minum.” Ganding memberikan air daun bidara.
“Ini untuk apa?” Pak RT tahu khasiat daun bidara, tapi tidak tahu kalau akan seampuh itu.
“Ini bukan daun bidara biasa Pak, bapak rebus daun bidara sendiri tak akan memiliki khasiat yang sama seperti daun bidara yang kami berikan, karena ini adalah racikan kakak kami, daun bidara ini sudah dibuar sedemikian rupa untuk menangkal ruh-ruh jahil.
Jadi bisa menjadi pelindung sementara saja, karena pelindung yang kekal hanya Tuhan. Minum ini dulu sampai kami temukan cara untuk mengusir tukang bubur setan itu ya Pak.” Ganding melanjutkan.
“Iya, makasih banyak ya, ini satu tabung untuk satu orang?” Pak RT bertanya lagi
“Iya benar, kami sudah siapkan tabung-tabung mini ini banyak, buat stok bapak juga, jadi tolong bantu kami distribusikan, sementara itu, kami akan bangun tenda di tanah ini, untuk menyelidiki sesuatu.” Ganding menjawab lagi.
“Kalian akan bermalam di sini?”
“Iya Pak, boleh kan?” Ganding lebih seperti memerintah ketimbang meminta izin.
“Ya boleh saja, tapi apa kalian berani?”
“Pak, kami pernah menghadapi yang lebih mengerikan dari ini, jadi percaya ya, kami takkan menjadi korban lagi. Masalahnya sekarang adalah, apakah dia masih mau menampakkan diri kalau kami di sini.”
“Kalian ternyata orang-orang yang berani ya. Pastikan kalian selamat ya, jangan sampai terluka.”
Pak RT bersungguh-sungguh mengatakannya, karena dia takut, anak-anak muda ini akan terluka.
“Pak perhatian sekali, jangan sampai kami jadi nyaman loh.” Hartino sudah kembali bisa bercanda, itu membuat kawanan senang.
Sementara itu, mereka mulai membangun tenda di tanah kosong itu. Kalau kalian, berani nggak bangun tenda di tanah kosong itu?
__ADS_1