Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 551 : Mulyana 57


__ADS_3

Istri Yoga mendatangi ayahnya, dari seminggu ini dia terus melakukan pendekatan kepada papanya.


“Pa, aku perlu dana untuk memodali bisnis Yoga yang akan ekspansi, dia perlu suntikan dana untuk memuluskan jalannya menuju tender pemerintah.” Istrinya Yoga sedang makan siang di lapangan golf bersama papanya.


“Kau tahu kan, untukku uang itu tidak masalah, asal tujuannya jelas, ini untukmu atau untuk Yoga? Aku tidak mau kau menghamburkan uang untuk gaya hidup mewahmu lagi, kau harus belajar mengelola uang, bagaimana mungkin aku memberikan perusahaan jika kau sibuk menghaburkan uang.”


“Tidak Pa, kali ini aku serius, aku memang akan menggunakan dana itu untuk Yoga, untuk usaha kami. Tolong lah Pa, ini juga langkahku untuk memperbaiki hubungan dengan suamiku, papa tahu kan, hubungan kami tak berjalan baik akhir-akhir ini karena penipuan yang dilakukan temanku, sehingga membuat uangnya terkuras tanpa kembali, papa tahu kan, bahwa mungkin dia akan menceraikanku jika bisnisnya tak berjalan dengan baik.


Aku mohon Pa, ini bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang kehidupan rumah tanggaku, jika kelak usahanya besar, maka nama kita akan ikut naik, apalagi hubungannya dengan pemerintah, bisa juga membantu langkah papa untuk menjadi anggota DPR.” Mulut anak perempuan ini manis sekali, padahal dia tak benar-benar paham soal bisnis, dia hanya tahu soal menghamburkan uang dengan barang mewah.


“Berapa dana yang kau butuhkan?” Papanya bertanya.


“Seratus juta, Pa.”


“Baiklah, dananya akan papa kirim siang ini ke rekeningmu, tapi ingat, ini tidak cuma-cuma, karena kau harus memberikan manfaat padaku atas uang tersebut, ingat, masa foya-foyamu telah berakhir karena kau sudah punya suami, makanya kau harus  lebih waspada dalam mengatur keuangan, karena tetap akan kuanggap hutang. Paham!”


“Ya Pa, aku paham, jika bisnis kami sudah jalan, pasti uangnya akan kami kembalikan.” Istrinya Yoga berjanji, padahal dia tak pernah tahu kalau bahwa uang itu bukan untuk bisnis, tapi untuk membangkitkan selingkuhannya Yoga, yang setelah kematiannya baru dianggap selingkuhan, sungguh dunia ini mempermainkan mereka yang bermain-main.


Maka setelah mendapatkan kabar akan dikirimkan uang oleh papa, dia lalu pulang ke rumahnya untuk memberi kabar pada suami yang hatinya telah pergi jauh ke dalam pusara sang kekasih hati yang tiada.


...


Sementara di tempat yang jauh, ayahnya Wulan sudah mengirim surat ke banyak dukun sakti, para keturunan dari anak cucu kampung itu yang menyebar ke seluruh pulau yang ada di negeri ini, akan dia kumpulkan, dia memberi tahu pada semua dukun yang berkumpul untuk melakukan ritual pembangkit jasad, hal yang semua dukun pasti akan lakukan, karena begitu ritual ini berhasil dilakukan maka ilmu mereka dan status sebagai dukun akan naik, bahkan mungkin mengalahkan kemsyuran yang sudah dimiliki oleh Kharisma Jagat.


Maka kesempatan ini pasti digunakan dengan baik, pada dukun keturunan kampung itu tetap dibiayai perjalanan ke lokasi di mana mayat Wulan dikuburkan, dana yang dia butuhkan, pasti akan turun sebentar lagi, karena pelet milik mereka, takkan pernah gagal menghinggapi jiwa kotor laki-laki. Pun jika tak berhasil, setidaknya lelaki itu akan tetap bersikap baik.


Seperti Yoga yang sudah dipagari, nyatanya dia masih tetap bersikap baik pada Wulan, peletnya tidak kena sempurna, begitu pagarnya dibuka karena dukun keluarga Badrun harus kabur dan tidak akan membiarkan dirinya dilacak dengan mudah dari pagar yang dia buat di tubuh Yoga, maka Yoga sekarang terkena pelet secara sempurna dan akan membuat Yoga melakukan apapun untuk bisa membangkitkan Wulan lagi.


“Apa ritual ini akan berhasil?” Yoga bertanya, dia sudah membawa ayahnya Wulan ke kantornya, di lokasi konstruksi itu.


“Tidak ada yang tahu, tapi nenek moyang kami melakukannya dan berhasil.” Ayahnya Wulan hanya berkata apa yang dia yakini saja.


“Kalau tidak berhasil?” Yoga bertanya.


“Kau tahu, semua orang harus berhasil melakukannya, karena sebelum melakukan ritual pembangkitan aku akan melakukan ritual sumpah darah kepada semua dukun yang mengikuti ritual, sumpah darah ini akan membuat siapapun yang ikut ritual akan mati jika tidak berhasil melakukan ritual tersebut.”


“Hah, kau gila!”

__ADS_1


“Maka kalau kau tanya, jika ritual tak berhasil, apa yang akan terjadi, maka semua orang akan mati.”


“Apa! kau tak bilang seperti itu sebelumnya!”


“Maka aku katakan sekarang.”


“Apakah aku juga akan ikut sumpah darah?” Yoga bertanya.


“Ya, tentu saja, kau adalah Pandhega, pemimpin ritual.”


“Apa!” Yoga bingung, karena dia sungguh tak paham maksudnya.


“Kau pikir siapa yang bisa mengembalikan ingatan ruh selain wangi yang berasal dari tubuhmu? Wangi terakhir yang dia tabur dari minyak kasturi kami? Kalau dia sampai bangun dalam keadaan tak ingat apapun, maka akan bahaya untuk kita semua, dia akan mengamuk, maka kau harus jadi Pandheganya agar kau bisa membuat Wulan terbangun dalam keadaan mengingat siapa dirinya.”


Ruhnya telah kami tidurkan kembali, karena terakhir setiap kami bangunkan, dia selalu tak ingat, makanya aku butuh kau, selain tentang uang juga tentunya.”


“Tapi, kalau kita tak berhasil, maka aku bisa mati juga?”


“Ya, tapi aku takkan pernah biarkan ini tidak berhasil, kau tahu kan ... kalau pertaruhannya tidak sebesar itu, maka hasilnya juga tak sebesar itu. Maka, yakinlah!”


“Baiklah, tapi kau harus janji padaku kalau kau akan berhasil.”


“Ya, aku akan lakukan apapun untuk Wulan, saat dia bangun, aku ingin mewujudkan mimpinya.”


“Baiklah.”


...


“Dananya sudah dikirimkan ke rekening bank milikku, jadi aku akan segera mengirimkan dananya padamu.” Suami istri itu sedang makan malam bersama, hal yang jarang sekali mereka lakukan sebelumnya, tentu Yoga melakukan itu karena ada maksud.


“Kalau begitu, kau kirimlah dananya.”


“Aku akan kirimkan, tapi kau harus janji, libatkan aku dalam bisnismu.” Istri Yoga terlihat bersemangat, karena dulu Yoga selalu bilang agar istrinya ikut mengurus bisnis mereka, tentu sebelum Yoga mengenal Wulan.


“Kenapa kau ingin ikut campur!” Seketika Yoga marah, karena istrinya dianggap macam-macam.


“Karena aku ingin memperbaiki hubungan kita, dengan mengurus bisnis bersama, aku yakin kita akan memiliki banyak waktu yang intens, dengan begitu kita juga bisa membuat hubungan kita lebih harmonis, dulu juga kau ingin sekali aku ikut mengurus bisnismu.”

__ADS_1


“Dulu itu berbeda, dulu itu bisnisku masih kecil, cakupan urusan juga tidak fatal jika ada kesalahan, tapi sekarang, langkah perlu dipikirkan hati-hati, karena jika salah, bisa langsung menghancurkan bisnisku.”


“Kau tidak percaya padaku, sayang ....” Istrinya Yoga bertanya, dia terlihat sangat sedih, karena tujuannya tidak bisa tercapai.


“Aku hanya ingin bisnis kita berjalan dengan baik dulu, setelah semuanya siap, kau baru bisa masuk, percayalah padaku, aku melakukan ini untuk kita.”


Istrinya jadi bahagia lagi, karena Yoga berbicara sembari memegang tangan istrinya, sudah lama sekali dia tak melakukan itu, walau masih satu ranjang, tapi kadang Yoga tak selalu pulang ke rumah.


Apakah Yoga benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan istri? Tentu saja tidak, dia bahkan sudah berandai-andai, jika Wulan sudah bangkit, maka dia akan menikahinya, lalu memastikan Wulan bisa menggapai mimpi dan mereka bisa membangun bisnis bersama, jiwa muda Wulan membuat Yoga sangat tertarik.


Sementara jauh di tempat lain, seorang lelaki sedang sibuk mengirimkan bola api pada sebuah rumah di tengah hutan, dia sangat marah karena mendengar bahwa akan ada banyak dukun datang, dia mendapat informasi dari anak buahnya, berani-beraninya mereka datang tanpa izin ke wilayah pegangan Kharisma Jagat, belum selesai urusan dengan dukun di wilayahnya, sekarang akan banyak dukun wilayah lain berkumpul di sini.


“Mereka akan melakukan ritual.” Abah Wangsa berbicara pada Kharisma Jagat, tuannya sendiri, Drabya.


“Ritual apa?


“Entahlah, tapi kalau menggunakan ilmu dari banyak dukun suku mereka, artinya bukan ritual sembarangan.” Abah menambahkan lagi.


“Apa ini ada hubungannya dengan pemimpin bangsa?” Drabya bertanya lagi.


“Bisa jadi, bisa juga hal lain, tapi kalau melibatkan banyak orang, kemungkinan ini ritual penting.”


“Kita harus tahu ritual apa itu, jangan sampai melanggar hukum Tuhan, karena yang akan kena bala, bukan cuma pelaku, tapi kita sebagai penjaga dua alam.”


“Kau yakin akan menghalau mereka jika akhirnya mereka melakukan hal yang melanggar hukum Tuhan?” Abah bertanya.


“Ya, tentu saja.”


“Ya tentu, seperti aku tak tahu dirimu saja!” Abah lalu pergi, dia memang sedang marah pada Drabya akhir-akhir ini, makanya dia lebih banyak menghabiskan waktu menjaga calon Kharisma Jagatnya, jika Drabya mangkat, Mulyana maksudku.


Jika kelak Drabya tahu ritual apa, tentu saja ini akan menjadi masalah bagi Kharisma Jagat, mereka hendak membangkitkan mayat, melawan hukum ghaib, menyatukan ruh yang tersesat dengan tubuh matinya, bukan malah mengembalikan ruh itu pada Tuhan, Kharisma Jagat yang seharusnya menjaga pasti kena bala karena tidak mampu melakukan tugasnya.


____________________________________


Catatan Penulis :


Yang kemarin nebak Bali dan Kediri, benar ya, Legenda Calon Arang memang dari sana, lalu di manakah kampung Wulan, yang jawab Kalimantan juga benar ya, ingat ... aku pernah menulis kalimat, bahwa anak dari Calon Arang setelah menikah dengan Bahula pindah ke kampung itu dan akhirnya beranak pinak di sana, maksudku adalah Kalimantan, tapi ini fiksi ya, kampung itu tidak benar-benar ada di Kalimantan, ini murni hanya imajinasi Author untuk mendukung cerita.

__ADS_1


Karena mau Bali, Jawa dan Kalimantan, banyak orang baik dan tentu saja ada orang yang tidak baik juga, jadi jangan gunakan tulisan ini sebagai acuan menilai orang berdasarkan wilayah.


__ADS_2