
Perang berlangsung, kubu Ayi terlihat sangat sengit melawan, ternyata mereka sudah membuat siasat yang begitu hebat, mereka membagi beberapa kekuatan untuk menghadapi kubu Mudha Praya, mereka kalah jumlah, tapi jelas, mereka orang-orang terbaik yang loyal terhadap Ayi Mahogra.
Sedang kubu Mudha Praya adalah orang-orang yang serakah dan pengecut, mereka memang banyak, tapi sedikit yang benar-benar memiliki ilmu yang mumpuni untuk melawan, maka tidak heran hanya menunggu waktu agar Ayi bisa memecah barisan milik Mudha Praya.
Pasukan Ayi menyerang membagi tiga sisi, Alka melihat Ayi bertarung di sisi tengah, dia terlihat sangat brutal menebas para jin milik Kharis Jagat yang mendukung Mudha Praya, sungguh sebuah keindahan dalam berperang, Ayi dan pasukan sebisa mungkin menyerang para Karuhun dan tidak menyentuh sedikit pun para Kharisma Jagat. Sedang dalam kubu Mudha Praya berperang dengan serampangan, tanpa strategi sama sekali, sedang Alka begitu takjub dia melihat dari jauh, betapa semua pasukan Ayi berperang dengan begitu penuh taktik, Mudha Praya mulai mengendap untuk menusuk Ayi Mahogra, Alka mengawasi dari belakang ayahnya, karena dia adalah umpan yang harus menjadi penjegal bagi korban yang hendak diserang ayahnya dari arah yang sangat jauh dari jalannya Mudha Praya hendak menusuk Ayi Mahogra.
Tapi dalam perang yang ia lihat, Ayi memang berkharisma, dalam hati dia ingin berada di kubunya, menjadi orang yang loyal terhadap perintah Tuhan.
Perang terus berlangsung Ayi tertusuk oleh senjata Mudha Praya, tapi Ayi berhasil membuat Mudha Praya jatuh ke dalam tanah yang ia hentakkan dengan kaki, sementara Alka dan ayahnya sedang berada dekat dengan Malik, mereka mengiringi seorang tetua yang menjadi penyerang Malik, dia memang diperuntukkan membunuh Malik untuk memecah konsentrasi Ayi Mahogra yang menguasai seni perang dengan baik.
Tetua berjubah mengejar Malik yang memunggunginya, ayah Alka di belakang penyerang itu, sementara Alka di belakang ayahnya.
Alka memang pandai melakukan sihir penembang, Alka menyanyikan lagu yang membuat musuh terdiam karena terhipnotis dengan tembang magis yang dinyanyikannya, hingga lagunya membuka jalan bagi tetua berjubah itu untuk berada tepat di belakang Malik, Alka mendengar cerita kalau dia adalah suami Ayi Mahogra yang menjadi target mereka. Ayi akan mudah dikalahkan jika Malik mati, atau malah Ayi akan menjadi semakin gila membunuh, entahlah, Alka lebih percaya malapetaka akan hadir jika Malik benar-benar mati.
Alka terus menerobos kerumunan, dari kejauhan Alka melihat Ayi Mahogra mengejar mereka, jaraknya cukup jauh, dan dari kejauhan juga Alka melihat Ayi Mahogra tidak mempedulikan tusukan yang dilakukan oleh Mudha Praya padanya, dia mengejar tetua dengan jubah yang sedang mengincar Malik, sepertinya dia tahu bahwa tetua ini memakai senjata dengan ilmu yang tinggi, walau belum mampu memastikan apa senjata itu, tapi Ayi benar-benar menggunakan intuisinya, jika saja senjata itu mengenai Malik, Malik takkan selamat.
__ADS_1
Ayi benar karena tetua berjubah yang mengincar Malik itu sedang membawa keris naga, senjata pembunuh Kharisma Jagat yang paling ampuh, jika mengenai Kharisma Jagat akan mati sekarat lalu mati, jika kena orang dengan ilmu hitam, dia akan langsung mati, ini adalah rencana cadangan dari Mudha Praya, karena dia tahu, sekali tertusuk, Malik akan mati seketika, keris ini sudah dipersiapkan jauh hari dan kerahasiaannya sungguh dipertahakankan, hingga kubu Ayi tidak tahu sama sekali.
Mereka berkejaran, Alka pun melihat semua orang sibuk dengan tembang yang dia nyanyikan, hingga mampu membuka jalan dengan mulus bagi tetua untuk menyerang Malik dari belakang, saat tetua menghunuskan keris naganya, Alka berteriak ... salah sasaran! Pramudya Aksara menerima hunusan keris itu dengan tiba-tiba, tetua yang menusuknya gemetar, karena salah tusukan itu, dia kehilangan fokus, Malik yang melihat itu, langsung berlari mengejar tetua yang menusuk Pram, Alka dan ayahnya bersembunyi dari balik kerumunan orang, Alka gemetar karena saat Pram datang tiba-tiba tadi, detik itu juga Alka melempar cambuknya hingga membuat kaki Pram terjegal dan tidak mampu bergerak lalu akhirnya tertusuk oleh keris naga yang memang dipersiapkan untuk membunuh Malik.
Alka tidak berniat menyerang Pram, ini kenyataannya, dia hendak menahan kakinya ... Malik, tapi lagi-lagi karena kedatangan Pram yang tiba-tiba, itu membuat serangan Alka menjadi salah sasaran. Tepat mengenai kaki Pram yang akhirnya membuat Pram tidak bisa melawan.
Banyak kemungkinan jika saja saat itu Alka tidak menahan kakinya Pram, jika saja Alka tidak menembang yang membuat kubu Ayi menjadi terhipnotis. Mungkin Pram masih akan hidup saat ini, hingga keris itu benar-benar kena ke tubuh vitalnya Kharisma Jagat Agung itu.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Sementara Zerata masih ikut berperang dengan tubuh yang sangat gagah, sedang darahnya juga menjadi harapan hidup para jin, kecepatan Ayi menyerang tidak dapat ditandingi, kubu Mudha Praya kehabisan waktu dengan kedatangan Raja Bapati yang menyerang tiba-tiba dari arah belakang kubu Mudha Praya.
|
“Jadi ... kakakmu kabur dari peperangan itu?” semua kawanan masih mendengarkan cerita Alka dengan seksama, mereka masih di markas ghaib, tentu setelah semua jiwa anak itu telah diantar dengan baik.
__ADS_1
“Iya, aku menerima hukuman dari Ayi Mahogra, wajahku sampai gosong sebelah karena hukuman itu, sedang cambukku putus hingga sudah tidak panjang lagi, itu semua tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan pada Ayi Mahogra.
Maka dari itu aku menebus kesalahan ini seumur hidupku, melakukan apapun agar membantu tugas para Kharisma Jagat untuk memerangi kejahatan, khusus di dunia ghaib.
Sedang kakakku, beberapa tahun setelah itu, aku mendengar bahwa ada perkumpulan penyembah Dajjal, aku menyelidikinya karena curiga, aku pikir kalau kakakku masih hidup, pasti dia ada di sana, karena jiwanya adalah penyembah bapaknya para iblis itu, pasti dia di dalam perkumpulan itu, aku benar, kakakku di sana, bahkan dia masih dimanfaatkan untuk membuat ramuan abadi itu, kalian pasti tidak dapat membayangkan, berapa banyak jin yang ditukar jiwanya dari neraka dan berapa banyak lagi jin yang sudah menyebabkan kehancuran pada dunia ini! Kakakku penyebabnya.
Adit kau benar, aku memang sudah berlaku tidak adil pada anak-anak itu, tidak membawa kakakku pada Ayi, tapi ... ada jiwa manusia biasa dalam diriku, aku ingin kakakku dimaafkan, karena dia ... dia melakukan itu untuk adiknya, kalau kalian di posisinya, akankah kalian meninggalkan aku sebagai adik?
Tentu perbuatannya pada anak-anak itu jahat dan biadab, tapi jiwa iblis neraka di dalam dirinya yang membuat dia melakukan itu.
Aku menguburnya, karena kalaupun kita bunuh dia, suatu saat dia akan bisa dibangkitkan lagi dan darahnya akan digunakan lagi, kalau kita kubur dengan sangat hati-hati, mereka takkan mendapatkannya sama sekali dan praktek pembuatan ramuan abadi itu akan selesai.
“Tapi kak, kalau sampai tubuhnya diketemukan lagi, maka dia bisa dimanfatkan lagi.”
“Tidak akan, karena aku sudah menyegel tanah itu dengan ... maafkan aku karena tidak bicara, karena aku inginnya membawa cerita ini sampai mati karena begitu menyaktikan, tapi suruhan Ayi Mahogra datang padaku, dia membawakan mantra segel dan juga potongan karembo Hejo milik Ayi Mahogra, pesannya begini, ‘PAKAI DENGAN BIJAK’. Maka aku tahu, Ayi sudah mendengar tentang Zeraya yang kita buru, dia memintaku untuk menghukum kakakku dengan bijak, maka mantra segel itu dia berikan, mantra tertinggi yang hanya bisa disebutkan jiwa bersinggungan dengan barang milik Ayi.
__ADS_1
Ayi tahu kalau sampai Zerata dibawa padanya juga, darahnya yang bisa membangkitkan jiwa neraka, akan menjadi polemik dan membuat para pengikutinya mungkin menjadi serakah juga, jadi aku menguburnya dan ini merupakan langkah paling bijak yang aku kira bisa aku tetapkan padanya.”
“Kau lagi-lagi menyembunyikan informasi, Ganding dan Alka, kalian membuatku kecewa. Kalian membahayakan kawanan karen egois, aku kecewa pada kalian!” Aditia marah dan dia pergi meninggalkan kawanan, tentu dia marah, karena melawan Zerata yang mereka anggap dukun itu tidak mudah, tapi Alka dan Ganding ikut menghalangi penemuan dukun itu dan membahayakan anak-anak itu, ruh anak itu bukan jiwa yang sepele hingga bisa dipermainkan, Aditia benar-benar merasa tidak dianggap pada titik ini.