Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 520 : Mulyana 26


__ADS_3

“Kau akan ambil ini sebagai kasusmu?” Aep bertanya hal yang tidak perlu dijawab.


“Aku akan mengambil ini sebagai seorang teman yang tidak pernah dia miliki.”


Dari kejauhan ada seseorang yang melihat dua kakak beradik itu berbicara lalu dia berlari dari sana untuk melaporkan temuannya.


...


“Aku tidak lagi melihatnya setelah beberapa hari ini, Ayah.” Mulyana sudah mencoba untuk mencari Nando karena beberapa hari ini dia tak melihat Nando menampakkan dirinya lagi.


“Kau sudah tahu kenapa dia tak ingat sudah meninggal dan menempel pada dua sahabatnya?”


“Hah? menempel? Aku sudah tahu alasan dia tak ingat sudah meninggal, kemungkinan karena ruhnya ditawan oleh kakeknya, lalu saat terbangun dia tak ingat lagi kejadian terakhir dia meninggal dan menyangka selama ini Rahman dan juga Adi mendiamkannya hanya karena mereka masih marah padanya soal kejadian fitnah itu.”


“Lalu apakah ingatannya berulang setiap hari? Apakah dia pulang ke rumah? Apakah dia ....”


“Aku tahu sekarang harus apa, Ayah.” Mulyana lalu menarik kakaknya yang asik nonton TV tanpa tahu apa yang hendak dilakukan oleh adiknya.


“Dia tidak menempel padaku, dia menempel pada Rahman dan Adi, karena beberapa hari ini kita tak berinteraksi dengan mereka, makanya Nando juga tak bisa kita lihat.”


“Kau, bukan kita, aku mah nggak pernah lihat dia tuh!”


“Iya, makanya sekarang bantu aku, aku harus bertemu Nando, karena hal pertama yang hendak aku lakukan adalah, mengintai Rahman dan Adi, serta ayahnya, aku tak punya pasukan seperti ayah yang bisa dibagi tugas, tapi aku kan punya kau.” Mulyana tersenyum licik.


“Kau anggap apa aku ini? bala tentaramu!”


“Panglima atau penasehat, yang mana yang kau suka, terserahlah.”


“Ya tapi tetap saja! Aku bawahanmu.”


“Yasudah, kalau begitu, kau Raja aku Panglima, sekarang bantu aku untuk mengintai ayahnya Nando, biarkan aku yang mengintai Rahman dan Adi, aku harus bertemu dengannya.”


“Nah gitu dong, yasudah aku siap-siap, kau pergi saja duluan.” Mulyana tersenyum licik lagi setelah mendengar itu, karena dia berhasil menipu kakaknya hanya karena iming-iming status.


Bukankah di negara kita juga banyak kejadian, orang yang sebenarnya tidak memegang tahta dengan sungguh-sungguh, hanya dijadikan pion untuk para penguasa sesungguhnya.


Aep lalu bersiap, lalu dia hendak izin pamit, lalu tersadar ... “Kok, raja disuruh-suruh!” tapi dia tetap melakukan apa yang diminta Panglimanya, karena jabatan raja tetap saja menyenangkan.


Mulyana sudah dikediaman Adi, walau dia sebenarnya tak benar-benar yakin kalau Nando akan ada di sana, dia lebih curiga Nando menempel pada Rahman.


Benar saja, setelah menunggu beberapa saat, Nando tak muncul juga, Mulyana mengubah haluan dan akhirnya ke rumah Rahman.


Begitu sampai sana, Rahman sedang bersiap untuk mengaji, dia sedang berjalan ke arah mushala tempat mengajinya di dekat rumah, di belakang Rahman, terlihat ada seseorang dengan tampilan yang ... sangat berantakan mengikuti dari belakang.


Kepalanya hanya tersisa setengah, lalu kakinya bengkok hingga jalannya menjadi aneh, sedang tangannya hanay menggelantung seolah tak merekat pada sikunya.


“Ketemu!” Mulyana melihat tampilan Nando yang sangat mengerikan, ini mungkin karena Mulyana sudah mengenali energinya, tidak seperti sebelumnya.


Begitu Rahman masuk ke mushala, Nando hanya menunggu di luar saja.

__ADS_1


“Nando ....” Mulyana menyapanya, Nando dengan tubuh ruh mengerikan tak menggubris, dia hanya terdiam saja melihat ke arah dalam mushala, di mana Rahman berada.


“Nando!” Mulyana memanggil lagi dengan keras, Nando tetap hanya diam saja, maka tak ada cara lain, Mulyana memegang bahu Nando yang sudah hampir putus itu, seketika Nando terkejut dan melihat ke arah Mulyana.


“Yan ... kok aku di sini?” Nando kembali ke tubuh ruh yang terlihat sangat baik, tidak kacau seperti saat dia berada di dekat Rahman.


“Ya, kau tadi bilang mau ikut Rahman mengaji, sekarang ayo kita pulang.” Mulyana berkata dengan lembut dan mengulurkan tangannya.


Nando menyambut tangan itu, mereka berdua bergandengan tangan untuk pulang ke rumah Nando.


Begitu mereka sampai, Aep melihat mereka.


“Yan, kok ke sini?” Aep bertanya.


“Ini, udah ketemu.”


“Oh, trus kau mau apa?”


“Mau meminta ayahnya untuk melepas anaknya.”


“Hah? maksud kamu apa Yan?” Aep bingung.


“Yaudah yuk, kita ke rumah ayahnya dulu, dia pasti sudah di rumah juga, karena ini kan sudah tutup sekolah.


Mulyana mengetuk rumah Nando, ayahnya ke luar dan dia untuk sesaat dia terdiam setelah mundur karena terkejut.


“Aku memang yang membangunkannya, tapi kau yang mencoba memberikannya kehidupan kedua. Kau membodohiku, kau ingin aku ... menggantikannya bukan?”


Manggel antareja shanum


Graksa Bajang! Graksa Bajang!


Mantra itu tiba-tiba melemahkan Mulyana, Nando yang tadinya terlihat dengan tubuh yang seperti sebelum dia meninggal dunia, sekarang berubah kembali menjadi tubuh yang mengerikan, setelah tubuh itu kembali pada wujud mengerikannya, Nando dengan gerakan cepat setelah mantra dibacakan ayahnya, berlari mendekati Mulyana.


Mulyana lalu menahan tangan Nando yang berusaha meraih jantungnya.


Aep melihat adiknya kesakitan bingung harus berbuat apa, dia lalu akhirnya menubruk ayahnya Nando agar berhenti untuk membaca mantra lalu menarik Mulyana menjauh dari rumah itu, Nando yang tidak berhasil masuk ke dalam tubuh Mulyana seketika menghilang.


Mulyana ditarik kakaknya dengan cara dipapah di tangan, dia terus menarik adiknya dan begitu sampai rumah, ayahnya sudah di sana, seperti menunggu mereka.


Dia melihat Mulyana dalam keadaan yang sangat lemah.


“Apakah ruh itu berhasil masuk ke dalam tubuh adikmu?”


“Tidak, tapi tangannya sempat masuk ke bagian jantung, entah tersentuh atau tidak.”


“Baringkan dia di meja makan, aku perlu melihat keadannya.” Drabya menyuruh Aep membaringkan adiknya.


Begitu Mulyana sudah dibaringkan, lalu Drabya memegang dada Mulyana.

__ADS_1


“Sudah tersentuh, Mulyana terkena mantra Graksa Bajang!” Drabya terlihat khawatir, Abah Wangsa keluar dari tubuh Drabya, tentu Aep tak melihatnya.


“Kenapa  kau biarkan dia menanganinya sendiri!” Abah terlihat kesal dengan kelakuan tuannya.


“Aku pikir dia mampu.”


“Dia masih belum siap untuk kasus sebesar itu!” Abah Wangsa lalu membaca mantra pembatal mantra, dia memegang seluruh tubuh Mulyana dengan terus membaca mantra itu, setelah satu jam mantra terus dibacakan sambil menyalurkan energi, Mulyana akhirnya tertidur.


“Mantranya sudah lepas?” Drabya bertanya.


“Beruntung dia punya kakak yang cekatan dan buru-buru membawanya pulang, kalau saja dia memilih kabur dan mendatangi kita duluan bukan mengambil tindakan dengan menjauhkan adiknya dari rumah itu, Mulyana sekarang pasti sudah bukan anakmu lagi, tapi dia akan dikuasai oleh jiwa anak itu.”


“Aku tidak menyangka lelaki itu akan berbuat sangat jauh seperti ini.”


“Kalau kau yang kehilangan dua anakmu, apakah kau akan tidak segila dia hingga mengupayakan berbagai cara agar anaknya kembali lagi bersamamu?”


“Ya Bah, aku salah.” Drabya mengakui kesalahannya.


“Jadi ayah tahu bahwa ruh itu mengincar tubuh adikku!” Aep kesal mendengarnya. Walau dia tak mendengar dan melihat abah, tapi dia mengerti maksud pembicaraan ini.


“Itu kecurigaan Ep, tapi ternyata benar.”


“Seharusnya kau memberitahu kami dan tidak membiarkan Mulyana menghadapinya sendirian, kenapa kau tega sekali, Ayah!” Aep kesal.


“Kak, sudah jangan marahi ayah, itu memang sudah tugasku sebagai Kharisma Jagat untuk menyelesaikan kasus.” Mulyana yang terbangun tiba-tiba dengan wajah pucat itu membuat Aep terkejut, dia membantu adiknya untuk duduk di meja makan itu.


“Jadi, apa yang terjadi Yan? kau bilang di rumah Nando, bahwa tubuhmu diincar, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tujuan ayahnya Nando bekerja sekolah adalah untuk mengawasi anaknya, mencari cara melepaskan anaknya dari tawanan kakeknya yang sedang mencari cara membalikkan jiwa penumbalan itu padanya. Begitu kau masuk sekolah, ayahnya Nando melihat rantai yang mengikat anaknya ... hancur, sebagai anak dukun berilmu tinggi, tak mungkin dia tidak memiliki ilmu, salahku terlalu percaya pada penjelasannya.


Setelah melihat aku mampu melepas rantai itu secara tak sengaja, ayahnya Nando buru-buru mengambil jiwa anaknya yang lemah, membaca mantra pengendalian ruh atau jiwa, itu membuat anaknya menjadi ruh jahat yang tak ingat apapun, karena kehilangan jati diri setelah menjadi korban tumbal yang batal.


Setelah berhasil mengendalikan ruh anaknya, dia kembali melepas ruh itu, hanya untuk melihat, apakah aku akan bereaksi dengan ruh anaknya, ternyata dia benar, aku bahkan tak sadar dengan kehadiran Nando yang ruh, apakah mungkin itu semua karena aku melepaskan dia sebagai tawanan, maka ....”


“Kau dan Nando yang seorang ruh, secara tak sengaja melakukan perjanjian pengabdian, maka Nando akhirnya dikenali energimu sebagai energi yang sama seperti dirimu, walau sebenarnya dia tak mengabdi padamu, karena ayahnya sudah membacakan mantra pengendalian yang tidak membuat perjanjian antara dirimu dan Nando yang terbuat tanpa sengaja itu batal, karena mantra pengendalian bukan perjanjian baru yang membatalkan perjanjian lama.” Drabya melanjutkan.


“Dan di masa itu, orang suruhan ayahnya Nando tahu, bahwa kakeknya Nando sudah menemukan cara untuk membuat tumbal yang disetujui Nando aktif kembali, yaitu, dengan menemukan tubuh baru untuk Nando, dia akan mengulang lagi mantra penumbalan, membuat tubuh baru itu mati lagi. Seperti yang ayah pernah bilang, bahwa sifat ghaib dalam diri seseorang itu berada pada jiwanya, bukan tubunya.


Maka tubuh baru bagi Nando akan membuat perjanjian tumbal dengan kakeknya kembali bisa dilaksanakan, karena jiwa sebelumnya sudah sepakat untuk menjadi tumbal.


Ayahnya yang tahu itu jadi punya rencana lain, menjadikan tubuhku sebagai tubuh anaknya, dia merasa bahwa tubuhku mampu menampung jiwa anaknya yang kuat, karena aku pun seorang Kharisma Jagat, sedang dia adalah pemilik khodam dengan ilmu turunan yang tinggi.


Berjalannya waktu, Nando akrab denganku, Nando lupa bahwa dia telah meninggal karena mantra pengendalian ayahnya, Nando juga tetap menempel pada Rahman, kawan lama yang dia anggap sahabat, makanya rencana ini jadi berlarut, karena Nando tidak berusaha mendekatiku dan mengambil energiku, tapi dia malah mendekati Rahman dan berusaha mengambil energinya, beruntung, Rahman taat beribadah, jadi Nando tak bisa masuk seutuhnya ke dalam tubuh Rahman.”


“Kalau dia sampai masuk, Yan. Rahman akan mati, karena tubuhnya tidak sekuat dirimu, ini sungguh sangat bahaya, kau sudah menyelamatkan Rahman tanpa sengaja.”


“Dan juga melepaskan jiwa yang kelam dengan ilmu yang tinggi tanpa sengaja, aku harus menjemputnya pulang, dia harus kembali pada Sang Pencipta, bukan menjadi suruhan baik ayah maupun kakeknya, jiwa itu jika dibiarkan lama di dunia ini, dia akan menjadi iblis kejam yang mungkin malah mencelakai banyak orang. Ingat, alam pun tak segan menghabisi iblis ini dengan berbagai bencana, kita manusia yang akan menjadi korban kelak.” Mulyana menjawab Aep dengan lebih terperinci.


“Baiklah, sekarang sepertinya kita harus turun satu keluarga, seperti mereka yang mencoba mencelakaimu satu keluarga.” Drabya memutuskan akan ikut campur di kasus Mulyana kali ini.

__ADS_1


Aep juga bertekad untuk membantu adiknya, walau bukan pertarungan yang akan dia lakukan.


Sedang Abah, sangat bersemangat, karena dia akan bertarung bersama Kharisma Jagat dengan ilmu yang sangat tinggi, dua orang sekaligus.


__ADS_2