
Seelah mendapatkan bukti yang cukup kuat, akhirnya Diga mencoba meminta kesaksian lagi dari Deden, selama satu bulan penuh, Deden tetap tidak mau mengaku, Dirga akhirnya tetap memajukan kasus ini ke Pengadilan Negeri, waktu yang diperlukan untuk memulai proses persidangan hingga akhirnya diputuskan hukuman adalah satu bulan. Waktu yang cukup cepat untuk kasus pembunuhan, seolah semua orang sudah yakin Dedenlah pembunuhnya.
Saksi Nicko tidak tidak dihadirkan, begitu juga dengan istrinya yang bahkan tidak sekalipun dipanggil karena dianggap sudah tidak diperlukan lagi, efek dari ditemukannya bukti kuat, yaitu sidik jari Deden pada tubuh Suminah.
Deden tadinya terus berusaha melawan, tapi dia tahu bahwa posisinya sudah sangat terpojok, walau dia tetap bersikukuh tidak membunuh Suminah. Walau kadang dia tercekat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.
Entah apa dan karena apa dia begitu.
Pengadilan akhirnya memutus hukuman seumur hidup, hal ini dikarenakan, pembunuhan dianggap pembunuhan berencana dengan motif cemburu, lalu tubuh korban dimutilasi dengan kejam dan akhirnya dikubur di sumur agar tidak ada yang menemukan.
Lalu kenapa si pembunuh akhirnya memberitahu lokasi tubuh Suminah? Hakim dan Jaksa beranggapan itu adalah karena dia merasa bersalah, perasaan itu menekannya menjadi berhalusinasi dan membuatnya melihat hantu Suminah. Sungguh pengadilan yang dibuat sesuaui kebutuhan.
Setelah mendapatkan putusan hakim, Deden beberapa kali mengajukan banding, tapi ditolak, keluarganya sudah pergi dari kampung, keluarga Suminah masih di sana dan hidup berdua saja hingga akhirnya meninggal dunia.
Waktu berjalan, kisah Suminah mulai dilupakan, Deden juga tak dikenal lagi. Hingga tiba-tiba sepuluh tahun belakangan setelah belasan tahun tenang, sumur mulai menunjukan gelagat yang aneh.
Bau anyir mulai tercium lagi, darah keluar dari sana, lalu setiap orang kena efek sumur yang membuat hilang akal. Tidak ada yang berani mengungkap apa penyebabnya, tidak ada yang berani turun tangan untuk melakukan pembersihan lagi, karena menimbulkan terlalu banyak korban.
“Hingga akhirnya kita datang.” Hartino selesai menceritakan kisah yang cukup panjang itu.
“Loh, kalau begitu, bisa jadi itu jiwa Suminah yang memberontak dong?” Ganding jadi bingung.
“Tapi Adit bilang dia yakin itu jin.” Hartino berkata dengan wajah sama bingungnya.
“Kita bisa pastiin setelah mengadakan ritual pemanggilan jiwa atau jin di sana, dia pintar, tidak muncul ketika kita berada di sekitar. Oh ya satu lagi, aku akan bertemu dengan Pak Dirga, aku ingin bertanya lebih jauh soal Deden, semoga dia masih punya berkas dan ingat kejadian itu, mengingat banyak kasus yang dia tangani selama menjabat menjadi Polisi lalu kepala Polisi. Tolong jaga Alka ya, sementara aku bertemu dengan Pak Dirga, mungkin juga Deden.” Aditia lalu hendak pergi meninggalkan semua orang, walah hatinya masih sedikit kalut dengan semua yang terjadi sebelumnya, soal Lanjo yang dia dan Alka idap. Walau telah sangat lama curiga, tapi dia tidak siap menemukan kebenarannya, apalagi jika Alka tahu bahwa dia sebenarnya tahu penyakit Alka, pasti Alka meilih pergi dan menghindarinya. Makanya sampai kapanpun Aditia takkan memberitahu Alka, biarlah begini, yang penting bersama.
“Dit! Aku ikut!” Ganding mengejar Aditia yang sudah masuk angkotnya, Ganding ingin menemani Aditia supaya bisa mengorek apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tadi antara dia dan Alka.
Angkot melaju ke kantor Polisi tempat Pak Dirga bertugas. Waktu mulai petang, Ganding memulai percakapan.
“Dit, apa yang terjadi di dalam, kau yakin kakak akan lupa kejadian ini?”
“Yang terjadi di dalam, tidak pernah terjadi, itu yang harus kau ingat Nding.”
“Dit, kau yakin kakakku takkan ingat?”
“Aku yakin.”
“Kalau kau curiga sejak lama, kenapa kau tak bilang? Kenapa kau malah diam dan menyembunyikannya?”
“Lalu kenapa kalian diam dan menyembunyikannya padaku?” Aditia yang sedang menyetir menatap tajam pada Ganding.
“Kakak nggak mau sampai kamu tahu tahu bahwa dia menderita Lanjo, bapak dan kakak memilih menyembunyikannya darimu.”
“Aku sudah curiga sejak pertama kali bertemu Alka, karena aku memiliki ketertarikan yang berbeda padanya, tidak kurasakan pada Alya sekalipun. Perasaan takut, cemas, khawatir, suka, cinta dan ketergantungan. Perasaan yang sulit kujelaskan, tapi aku pikir itu karena Alka terlalu cantik, makanya aku bisa teralihkan. Tapi makin ke sini aku makin curiga, kalian bermain dibelakangku, seolah kalian lupa aku Kharisma Jagat dengan kelas yang cukup tinggi.” Aditia jika bicara seserius ini cukup menakutkan. Ganding merinding mendengarnya, sorot mata Aditia juga tajam.
Setelah mendengar itu, Ganding memilih diam, Aditia sedang tidak bisa dibujuk, maka saat ini hanya mendampingi saja cara terbaik.
Mereka sampai di Kantor Polisi tempat Pak Dirga bertugas, dia sudah menunggunya di ruangan. Aditia memang sudah mengabari Pak Driga bahwa dia akan datang.
“Ini soal Deden? Wah kasus yang sudah lama sekali ya. Bapak sudah baca berkasnya sebelum kamu datang untuk mengingat kembali dan Bapak ingat.
Waktu itu, penyelidikan cukup berat buat Bapak yang baru saja masuk ke satuan reserse kriminal, alat bukti juga masih sulit dicari, saksi ada yang jujur ada yang bohong, TKP yang rusak karena di dalam air, tubuh korban yang sangat hancur, bisa dibilang itu adalah kasus mengerikan bagiku.
Dulu aku sempat membawa ayahmu ke sumur itu Dit, tapi sayang, ayahmu bilang ada apa-apa yang dia lihat di sana, makanya kesaksian Deden melihat hantu Suminah dan ditunjukan tubuhnya terbantahkan.
Tidak lama kemudian, Dokter Forensik memberitahu kalau ditemukan sidik jari Deden pada lengan Suminah, satu-satunya bukti yang memberatkan Suminah.
Karena banyak tekanan akhirnya kami seluruh anggota sepakat untuk memajukan kasus ini ke pengadilan negeri, walau kalau dipikir saat itu terlalu prematur untuk maju.
Tapi apa boleh buat, kami tidak punya tersangka lain yang paling masuk akal. Tubuh Suminah takkan mungkin terkubut dan terpotong begitu saja tanpa seorang tersangka.
Walau Deden tidak pernah mengakui itu semua, putusan akhirnya ditetapkan, bahwa Deden bersalah dan dihukum seumur hidup.”
__ADS_1
“Pak, bolehkah aku bertemu Deden?” Aditia meminta izin.
“Untuk apa?”
“Bapak tahu kalau sumur itu berulah lagi, airnya menyebabkan bau anyir dan juga mengeluarkan warna berwarna merah seperti darah. Selain itu, sumur itu juga memakan korban yang membuat orang-orang itu menjadi gila.”
“Apa? kok bisa, bukankah Mulyana bilang tak ada apa-apa di sana?” Dirga bingung.
“Tapi kenapa bapak tidak menghapus kasus sumur ini dicatatannya jika memang dia tidak melihat apapun?” Ganding bertanya.
“Waktu itu mungkin karena sebenarnya dia penasaran, karena sempat ada rumor tentang hantu, makanya, dia masih menaruh kasus itu dicatatannya yang mungkin akan dia tangani kelak, walau akhirnya tidak pernah sempat. Karena saat itu kasus yang Mulyana tangani jauh lebih banyak dan berat.
Jadi kau datang ke sumur itu karena catatan ayahmu?” Dirga bertanya.
“Iya betul Pak, kami datang ke sana karena catatan bapak dan ternyata sudah ada beberapa korban yang berjatuhan makanya kami tidak bisa diam.” Ganding yang menjawab.
“Kalau begitu, ayo aku antar kalian ke tempat di mana Deden di penjara, naik mobilku saja ya, biar cepat.” Pak Dirga meminta mereka naik mobil jeep tuanya, plat nomor membantu mereka sampai lebih cepat.
Semua bergegas naik mobil Jeep Pak Dirga. Begitu sampai, mereka disambut oleh beberapa Polisi muda yang terlihat sangat menghormati Pak Dirga. Aditia izin ingin bicara berdua saja dengan Deden, dia butuh ruangan lebih pribadi, Pak Dirga meminta Polisi muda itu menyiapkan tempatnya, tentu bisa diatur, selama ini memang untuk mengusahakan keadilan dengan cara abu-abu.
“Pak Deden pasti tak mengenal saya.” Deden yang terlihat sangat kurus dan tua hanya menatap Aditia dengan wajah bingung.
Saat ditangkap Polisi umurnya masih dua puluhan, saat ini umurnya sudah menginjak lima puluh tahunan.
“Kamu siapa?” Deden bertanya lagi.
“Saya Aditia, kita memang belum pernah bertemu Pak, tapi begini, saya ke kampung tempat bapak dulu tinggal, di sana ada sumur ….”
Deden mulai gusar, dia yang tadinya terlihat tenang, tiba-tiba dia bangkit dan hendak keluar dari ruangan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membicarakan hal pribadi yang tidak diperbolehkan diketahui oleh orang lain, makanya hanya Aditia dan Deden di sana.
“Pak, aku tahu kau melihat hantu Suminah di sana, aku bukan orang biasa, aku bisa melihat apa yang kau lihat.” Aditia mencoba membujuk agar Deden tidak meminta keluar dari ruangan itu.
“Aku tidak ingin berbicara lagi mengenai wanita sial itu! aku hanya ingin hidup tenang!” Deden berteriak.
Deden mendengar itu berbalik, tadinya tubuhnya sudah menghadap pintu untuk keluar, tapi setelah mendengar ucapan Aditia, dia tiba-tiba berbalik, duduk di hadapan Aditia, mereka berdua hanya terpisah meja yang tidak begitu besar juga.
“Kalau kau benar-benar bisa melihat, apakah sekarang kau melihatnya juga?” Deden bertanya, dia menunjuk belakang Aditia, ada seorang wanita dengan pakaian putih yang lusuh penuh darah, rambut panjang dan wajah hancur, tangan kanannya memegang tangan kiri yang sudah putus, sementara lehernya tergorok hingga memperlihatkan tenggorokannya.
“Wanita itu?” Aditia bertanya dan menunjuk dengan arah yang sangat tepat.
“Ka-kau bisa melihatnya?” Deden terlihat gugup.
“Ya, kepalanya hampir putus, tangan kirinya yang sudah putus dipegang oleh tangan kanannya, pakaiannya berwarna putih lusuh, seperti orang yang habis tercebur dan basah, dia Suminah?” Aditia berkata, dia hendak mendekati Suminah, tapi dalam hitungan detik, Suminah hilang.
“Dia pergi! Dia pergi!” Deden senang sekali, seolah itu hal yang tidak pernah terjadi.
“Apakah dia selalu ada di sini?” Aditia bertanya, dia kesal karena melewatkan kesempatan berbicara dengan Suminah, kenapa Suminah juga terlihat hanya bisa menampakkan diri tapi tak bisa bicara.
Di saat seperti ini Aditia butuh kekasih hatinya, karena Alka pasti punya jawaban.
“Dia muncul sekitar sepuluh tahun lalu dan selalu berada di sekitarku, aku lelah dan ketakutan, lalu terbiasa. Aku tidak tahu apa lagi yang dia inginkan, seolah berada di penjara ini untuk waktu yang lama, masih kurang baginya. Apakah seumur hidupku masih kurang baginya!” Deden menangis.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya, kau tahu kan, siapa pembunuhnya?” Aditia bertanya.
“Kalau kuberitahu, apa yang bisa kau lakukan? Toh aku sudah di sini selama puluhan tahun.” Deden terlihat ragu lagi.
“Kalau aku berjanji, bisa mengeluarkanmu dari penjara, bagaimana?” Aditia menjanjikan sesuatu yang berat.
“Kalau begitu, apa jaminannya kau akan mengeluarkanku dari penjara?”
“Jaminannya diriku sendiri, jika kau tidak keluar dari penjara ini, maka aku akan menjadikan mengorbankan diriku sendiri.”
“Kau anak muda yang penuh dengan semangat tinggi ya, walau janjimu seperti angan, tapi tak masalah, aku akan ceritakan semuanya, hanya sebagai dongengku pada anak muda yang penasaran. Tapi jujur, mungkin ini takkan benar-benar bisa membantumu menangkap tersangkanya.”
__ADS_1
“Bisa kita mulai?” Aditia mengeluarkan rekaman suara dan Deden mulai bercerita.
DUA HARI SETELAH HILANGNYA SUMINAH
Deden sedang narik ojek seperti biasa, walau hilangnya Suminah masih menjadi misteri, Deden tetap bisa melanjutkan hidup, cinta ya cinta, uang ya uang tetap butuh. Itu yang Deden pikirkan saat itu.
Setelah kejadian kemarin saat dia dihina, Deden sudah tidak ingin lagi bertemu dengan wanita itu, karena dia sungguh membuat Deden sangat sakit hati, walau saat dihina ingin rasanya dia menjambak rambut wanita itu, menyeretnya ke tempat sepi dan melecehkannya, tapi Deden masih berpikiran panjang. Dia tidak mau menjadi pembunuh sekaligus pelaku pelecehan.
Hari ini sangat dingin, kampung geger karena sudah dua hari Suminah hilang, Deden hendak pulang karena ternyata sudah cukup malam, jam setengah satu malam.
Saat akan belok ke gang menuju kampungnya, lagi-lagi Deden melihat mobil yang sedang terparkir tidak jauh dari gang menuju kampungnya, mobil itu memang tidak terlihat plat nomornya, tapi jelas itu mobil kekasih Suminah, Deden hapal betul.
Awalnya dia tidak peduli, tapi, kok hatinya merasa sangat penasaran, apa yang mobil itu lakukan, apakah dia juga mencari Suminah?
Deden perlahan mendekati mobil itu, dia mematikan motornya dan menyandarkan motornya masuk ke dalam gang, hingga tak terlihat. Begitu sampai di dekat mobil itu, kosong. Tak ada satupun orang di dalam mobil itu, Deden bisa pastikan tak ada orang di sana.
Deden lalu berbalik, dia hendak meninggalkan mobil itu, tapi … “To-to-tolooonggg ….” Ada suara dari dalam mobil, suara itu terdengar sangat lirih dan lemah.
Deden merinding mendengar suara itu, dia takut kalau itu adalah suara hantu, bisa pocong atau kuntilanak.
Tapi entah kenapa Deden merasa bahwa suara itu dari dalam mobil.
Deden kembali lagi ke mobil dan dia memberanikan diri untuk mengintip ke dalam mobil, ada siluet seseorang yang berbaring di bagian belakang mobil, sepertinya itu adalah … siluet tubuh perempuan.
Deden mencoba membuka pintu mobilnya, tidak terbuka, terkunci!
“Sum! Sum!” Deden yakin itu Suminah yang sedang terluka.
“Toolooonggg!” Suminah menguatkan dirinya dan bangun dari posisi tidurnya, dia meminta Deden untuk menolongnya.
“Mundur Sum!” Deden meminta Suminah untuk mundur dan dia mengambil batu yang cukup besar ada di sekitar mobil itu, Deden hendak memecahkan kaca mobilnya.
Suminah mundur dan kaca mobil berhasil dipecahkan oleh Deden dengan batu yang ia tumbukkan ke kaca mobil.
Setelah kaca mobil pecah, Deden membuka pintu mobil itu dan menarik Suminah agar keluar dari mobil, tapi … belum juga tubuhnya keluar dari mobil, sementara tangannya sudah Deden tarik agar bisa keluar, ada seorang pria mendekati Deden.
Pria itu memegang senjata api yang ditodongkan ke kepala Deden.
Deden gemetaran, ia sangat takut kalau senjata itu ditembakan, maka pecahlah kepalanya.
“Lepaskan wanita itu.” Ujar pria yang menodongkan senjata api.
Deden melepaskan pengannya dari Suminah, Suminah menangis, wajahnya babak belur, terlihat karena sudah hampir keluar dari mobil.
Deden melepaskan Suminah, tapi Suminah tidak mau Deden melepaskannya, Suminah menarik tangan Deden, sedang Deden berusaha melepaskan karena takut nyawanya melayang karena aksi sok pahlawan.
Deden dan Suminah tarik menarik, tangan Suminah menarik tangan kiri Deden yang hendak dia lepaskan, sementara tangan kangan Deden berusaha melepas tangan Suminah yang tak mau melepas tangan kiri Deden, hingga akhirnya Deden tidak sengaja mencakar lengan Suminah dengan kasar saat berusaha melepaskan tangan kirinya dari pegangan Suminah, hingga membuat pegangan Suminah pada tangannya lepas.
Karena inilah, ada bekas cakaran yang meninggalkan sidik jari Deden di lengan Suminah.
“Sum maaf, aku tidak mau mati konyol.” Deden berlari tanpa bisa melihat wajah lelaki yang menodongkan senjata api itu, dia terus berlari masuk ke kampungnya dengan sepeda motor yang tadi disandarkan.
Sementara di mobil itu, seorang lelaki memasukkan senjata api ke dalam pinggangnya, dia memukul Suminah dengan kejam hingga membuat Suminah pingsan lagi.
“Bereskan dia.” Seseorang yang lain muncul dari belakang, dia memerintahkan lelaki yang memegang senjata api itu untuk menghabisi Suminah. Yang satu yang memerintahkan pembunuhan, yang satu yang mengeksekusi. Kapak dan piasu sangat tajam sudah disiapkan.
_________________________________________
Catatan Penulis :
Maaf ya baru update, jempolku tangan kananku lagi cedera, jadi sulit digerakkan, kirain bakal sembuh sendiri, tapi ternyata makin parah, ini aku paksain ngetik panjang, biar nggak terlalu lama absen, kasian kalian yang nungguin.
Makasih ya.
__ADS_1