
“Maksudnya?” Alka dan yang lain bingung dengan perkataan Aditia.
“Ini bukan kopi! Ini tanah kuburan!” Aditia berteriak sembari membersihkan mulutnya dari minuman biadab itu.
“Kau yakin?” Ganding bertanya, dia membantu Aditia meringankan penderitaannya dengan memberikan air putih.
“Ya, aku sangat yakin.”
“Bagaimana kau tahu itu adalah tanah kuburan? Kau pernah makan tanah kuburan?” Ganding si jenius merasa bingung.
“Aku tidak tahu, tapi aku yakin, tanah kuburan itu punya tekstur dan wangi yang khas, wangi air mawar ini takkan bisa aku lupakan!”
“Tapi kan bisa saka kalau itu hanya ramuan yang dicampur kembang tujuh rupa, masa tanah kuburan, maksudku ....”
“Nding, itu tanah kuburan.” Alka menatap Ganding dengan tegas, dia meminta Ganding untuk tidak bertanya lagi kepada Aditia, karena Alka tahu apa yang menyebabkan Aditia bisa yakin.
Ganding mengerti dan diam.
“Jadi dukun itu bukannya memberikan bahan kopi pada semua ibu yang anaknya jadi korban itu? dia memberikan tanah kuburan? Pantas dukun itu meminta agar bahan yang dia berikan dicampur kopi. Pada dasarnya setiap anak pasti belum pernah mencicipi kopi karena kopi bukan minuman anak kecil dan ketika akhirnya diberikan ramuan tanah kuburan dicampur susu itu, mereka tidak curiga, tapi kenapa ibu-ibu itu tidak curiga? Mereka kan, manusia dewasa, seharusnya mereka curiga. Apakah mereka tidak pernah minum bahan dari dukun itu? orang dewasa bahkan ibu-ibu biasanya tahu rasa kopi, lalu kenapa mereka mudah dibohongi?” Hartino kesal dan bingung.
“Bahan ini mahal sekali, seingatku ibunya Bagus bilang bahwa membeli bahan ini mahal sekali, secara psikologis, seorang ibu tidak akan menyia-nyiakan bahan minuman yang berharga itu dengan mencicipinya, mereka akan sangat irit agar minuman itu hanya dikonsumsi untuk keperluan anak yang sedang dia coba sembuhkan dari penyakit nakal, padahak nakal adalah salah satu fase anak yang menjadi ujian bagi orang tuanya.” Alka berpendapat dan bisa diterima semua orang.
“Jadi gimana?” Alisha bertanya, semua orang terlalu fokus pada bahannya, tapi lupa bahwa tujuan mereka bukan menemukan bahannya, tapi menemukan dukunnya.
“Aku masih belum menemukan tempat itu.” Semua orang setuju dengan perkataan Ganding.
“Sebentar ... kalau dipikir-pikir, semua anak yang kita pagari adalah anak-anak yang masih aktif meminum kopi susu alias tanah kuburan itu bukan? seingatku anak yang kita kunjungi belum ada yang meninggal, mereka semua baru menurut saja, bahkan belum berada di tahap koma seperti Bagus, itu artinya ....” Aliha menahan perkataannya.
“Calo dukun itu masih aktif mengunjungi untuk menawarkan bahan!” Semua menjawab serempak.
“Kita harus mengintai setiap rumah?” Hartino bertanya.
“Tidak perlu, cari gang perumahan yang belum ada korbannya, itu pasti target selanjutnya calo dukun itu.” Aditia kali ini yang memberikan ide.
“Pintar, itu masuk akal, Dit.” Ganding memuji.
“Aku memang pintar.” Lelucon dimulai lagi.
“Fokus ya!” Alka sudah memperingati karena melihat gelagat Ganding akan membalas lelucon Adiita dan akhirnya tidak jadi.
“Ayo, kita harus bergegas.” Alka dan yang lain membuka pintu kamar hotel lalu keluar dari kamar dan ....
Brak!!!
__ADS_1
Mereka semua jatuh begitu sudah sampai di luar kamar, karena pintu kamar begitu dibuka, jurang terhampar di hadapan mereka, jurang itu terbentuk beberapa detik setelah mereka semua keluar dari kamat hotel itu.
Tubuh kawanan berdarah babak belur seperti dipukuli, padahal jatuh entah dari ketinggian berapa.
“Alka!” Aditia berteriak, dia khawatir Alka akan terluka, seolah lupa kalau Alka adalah setengah jin, umurnya lebih panjang dari manusia.
“Aku di sini, yang lain gimana?”
“Sakit!!!” Semua teriak hal yang sama, pintu hotel dan hotel lenyap.
“Kita dipindahkan dari hotel itu.” Alka berkata dan kawanan berkumpul mendekati Alka, mereka istirahat sejenak karena tubuh mereka sakit akibat terjatuh tadi.
“Di mana ini?” Ganding bertanya.
“Jurang Nding.” Aditia lagi-lagi membuat lelucon.
“Ya aku tahu! Bukan itu maksudku!”
“Mereka berusaha menjauhkan kita dari lokasi, hal baiknya adalah, berarti kita benar-benar sudah dekat!” Alka berdiri, dia lalu meminta semua orang menggandenga tangannya, dia akan menggunakan semua kemampuan untuk membawa balik kawanan ke hotel itu, ini bisa dibilang teleportasi dengan tekhnik ghaib.
Walau agak sulit dan cukup berbahaya bagi Alka, karena kalau lokasinya sangat jauh, berarti energi Alka akan terkuras. Tapi ini harus dilakukan dibanding berjalan dan menyusuri jurang menghabiskan waktu.
Mereka sudah sampai di lobby hotel, begitu kaki mereka berpijak di lantai hotel itu lagi, mereka langsung berlari ke luar, Jarni lalu membuat pagar ghaib dengan ularnya agar mereka tidak dikirim ke tempat lain lagi entah oleh siapa, pasti oleh dukun dan bala tentaranya.
“Alisha, jangan keluar dari lingkaran, ingat, kau tidak boleh bertarung, kau baru pulih, dengar aku!” Ketimbang bersikap sebagai kakak, Alka lebih seperti seorang ibu, Hartino diam saja, karena itu adalah kata-kata yang sebenarnya ingin Hartino ucapkan, tapi sudah diwakili oleh kakaknya.
Kawanan menegeluarkan senjata dan bersiap untuk bertarung, di detik kemudian, muncul entah dari mana, satu persatu anak kecil dengan wujud yang mengerikan, mereka berlari dan hendak menyerang kawanan, mereka menubruk pagar ghaib dan terjatuh.
“Awww!!!” Hidung Jarni mimisan.
“Biksa Karma!” Ganding berteriak, dia kaget melihat Jarni mimisan, karena dia yang membuat pagar ghaib di mana anak-anak itu terpental dan jatuh karena pagar ghaib Jarni itu, Jarni terkena Biksa Karma karena telah mencelakai ruh anak itu.
“Lepas Jar, lepas!” Alka meminta Jarni melepaskan pagar ghaibnya, tapi Jarni masih bersikeras, dia tetap saja memasang pagar itu, walau sekarang lebih banyak ruh anak yang mencoba menerobos dan membuat mereka mental lagi, Jarni yang tadinya hanya mimisan, sekarang timbul memar di tubuhnya, Jarni mulai berteriak karena sakit dan panas, dia seperti di cambuk ratusan kali.
“Lepas!” Ganding meminta Jarni melepas pagarnya, Jarni masih bersikukuh, saat anak-anak itu kembali mencoba menerobos pagar ghaib secara bersamaan dan mental lagi, Jarni munah darah dan wajahnya babak belur, tidak dapat menahan sakitnya, Jarni pingsan, pagar ghaib lepas. Ganding dengan sigap menangkap tubuh Jarni yang pingsan dan menggendongnya di punggung lalu berlari, sementara Alka dan Aditia berlari di belakang Ganding, melindungi Ganding dan Jarni dari belakang. Sedang Alisha dan Hartino melindungi Jarni dan Ganding dari depan.
“Biarkan aku memegang cambukmu!” Alisha berteriak pada Alka saat mereka berlari.
“Kau gila!” Hartino berkata dengan lantang, itu namanya mencelakai diri sendiri.
“Aku bisa menghajar mereka karena aku tidak punya khodam! Aku bisa menghalau mereka sementara kita cari tempat aman!” Alisha benar tapi ... kalau Alka memberikan cambuknya, tangan Alisha akan terbakar, Alisha bukannya tidak tahu, tapi dia akan ambil resiko itu karena hanya cambuk Alka yang bisa Alisha gunakan, kalau senjata kawanan yang lain tidak akan bisa dipegang sama sekali karena benda pusaka dari khodam, sedang senjata Alka adalah benda pusaka yang bisa dipegang Alisha karena pada benda itu, yang kuat adalah Alkanya energi Alka yang membuat senjata itu kuat, Alka kan setengah jin setengah manusia, jadi kemungkinan Alisha bisa menggunakan senjata itu sangat besar, walau mungin tangannya akan terbakar, karena senjata itu mengenali tuannya.
“Aku tidak mau membuatmu celaka, kita cari cara lain.” Mereka menunduk, berhenti berlari karena bersembunyi, tubuh mereka terlindungi oleh dinding suatu toko.
__ADS_1
“Nggak ada cara, hanya aku yang bisa mendidik anak-anak nakal itu.” Alisha berkata meyakinkan.
“Tapi apakah kau kuat memegang cambukku? Kau manusia biasa sekarang, kalau dulu mungkin bisa karena ada khodam di dalam tubuhmu, sekarang berbeda.” Hartino yang menjawab.
“Bisa, sini!” Alisha memaksa.
“Tidak!” Alka menolak.
“Kau tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu!” Alka kesal dituduh tidak percaya keluarga, itu perkataan yang paling dia benci.
“Kalau begitu berikan, kalau kau tak berikan, aku akan keluar dan menghadapi anak ruh itu dengan tangan kosong.” Alisha mengancam.
“Tidak!” Semua sepakat untuk tidak memberikannya, Alisha menjalankan ancamannya, dia berdiri dan berusaha menarik perhatian anak-anak ruh itu, Alka dan Hartino panik, itu membuat Alka reflek melemparkan cambuknya, saat menangkap cambuk itu, tangan Alisha terbakar, dia melempar kembali cambuknya.
“Sorry panas ternyata.” Alisha tertawa dan kembali mengambil cambuk itu tapi setelah sebelumnya membalut telapak tangan dengan sapu tangan yang selalu dia bawa, walau masih terasa panas, tapi tidak seperti sebelumnya.
Setelah cambuk itu di tangan, Alisha melepas ikatan rambut yang dia gunakan, lalu mengikat cambuk itu ke tangannya agar tidak lepas, dia perlu untuk memastikan cambuk Alka tidak terlepas.
“Alisha! Kau mau apa?” Alka bertanya.
“Kalau mereka tidak mau menyetujui kesepakatan, maka aku akan menjadi ibu tiri bagi mereka, biar kucambuk satu-satu, ingat aku hanya manusia biasa yang kau buka mata batinnya, aku bukan kalian yang terikat khodam, hingga aku akan terlepas dari Biksa Karma.” Alisha sangat percaya diri, yang lain merasa ragu.
Alisha menyabet cambuk Alka dengan kencang ke tanah, suaranya menggelegar, membuat ruh anak itu berdatangan.
“Maju sini kalian, biar mama ajari apa itu namanya disiplin!” Alisha sekali lagi menyabet cambuk Alka ke tanah yang dipijak, tanah yang berjenis aspal.
Anak-anak ruh itu tidak gentar, dia berusaha mendekati Alisha dan hendak mencelakainya, tapi Alisha berhasil menyabet tubuh beberapa anak kecil itu dan membuat mereka terpelanting cukup jauh, yang lain kaget karena melihat temannya terpelanting dan Alisha baik-baik saja.
“Kalian piki aku akan kena Biksa Karma? Dasar anak-anak berandal, sini kalian, biar kau ajari disiplin, aku ini ibu tiri yang jahat, ingat itu baik-baik!” Alisha mengejar anak-anak itu, mereka berlarian tak tentu arah, persis seperti anak kecil yang dikejar ibunya saat lupa waktu karena bermain dengan teman-temannya.
Tidak lama kemudian Alisha kembali dan Alka langsung meminta cambuknya. Setelah cambuk itu diberikan, Alka melihat telapak tangan Alisha sudah sangat terluka, bahkan sapu tangannya saja hampir habis, sapu tangan yang melindungi tangannya itu.
“Kau ini!!! keras kepala!” Alka kesal karena Alisha terluka.
“Belajar darimu! Kau lupa aku dulu bahkan patah tulang rusuk karena bersujud pada iblis.” Alisha mengingatkan, dia ingin semua orang tahu, ini luka kecil baginya, walau tetap saja perih.
“Dit, buka pintu ghaibnya, biar kita bisa keluar dari dunia ghaib ini.”
“Iya Ka, aku masih berusaha, ini butuh waktu.” Aditia kesulitan membuka pintu ghaib, makanya dari tadi mereka hanya lari saja tidak keluar dari dunia ghaib walau punya kuncen ilmu tinggi seperti Aditia.
Tidak lama kemudian pintunya terbuka, mereka keluar dari dunia ghaib dan langsung melihat begitu banyak orang di depan hotel ini.
__ADS_1
“Kembali ke kamar dulu, aku mau memeriksa keadaan Jarni.” Alka meminta semua orang kembali.