Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 64 : Ruang Ujian 4


__ADS_3

Bagian 64 : Ruang Ujian 4


"Dit bangun sudah siang." Ibunya membangunkan Aditia, tapi Aditia tidak bangun juga.


"Dita, kamu coba telepon Pak Dirga, ibu binung, ini kakakmu nggak bangun-bangun." Ibunya terlihat panik kareba Aditia tidak bangun juga, padahal sudah dibangunkan dengan cara digoyangkan tubuhnya lumayan kencang, tapi tidak ada reaksi, Aditia masih bernafas tapi tidak sadar, seperti orang pingsan.


“Bu, udah di telepon Pak Dirganya, sebentar lagi datang.” Ibunya Aditia tidak tahu harus meminta tolong kemana, hanya Pak Dirga satu-satunya yang dia fikir bisa membantu.


Tidak lama kemudian Pak Dirga datang, tapi dia tidak sendiri, dia datang bersama yang kawan yang telah ditingalkan Aditia.


“Ini siapa?” Ibunya bertanya.


“Sahabat Aditia, mereka bisa membantu, jawab Pak Dirga.


“Mereka Dokter?” dengan polos ibunya Aditia bertanya.


“Bisa dibilang begitu.” Supaya tidak ada pertanyaan lagi, Pak Dirga mengiyakan saja.


Begitu hendak masuk, bau busuk memenuhi ruangan, ini hanya di cium oleh empat sekawan, Pak Dirga dan yang lain tidak mencium bau ini.


Alka memberi kode pada Pak Dirga supaya membawa ibu dan adiknya Aditia untuk keluar, karena mereka tidak bisa memeriksa Aditia di depan keluarganya.


“Kita keluar saja dulu ya, biar merekaa periksa.” Lalu setelah Pak Dirga, ibunya dan Dita keluar, Hartino buru-buru menutup pintu lalu menguncinya.


Alka duduk di samping Aditia, dia memegang ubun-ubun Aditia, mencoba mencari keberadaan ruhnya, semoga masih di sana.


“Gimana Kak?” Ganding bertanya.


“Dari semalem aku udah coba komunikasi batin, tapi dia nggak jawab, tiba-tiba aku ngerasa nggak bisa ngejangkau dia, aku tahu pasti ada yang salah, tapi nggak nyangka bisa sejauh ini.”


“Kenapa Kak?” Ganding bertanya.


“Lepas raga, dipaksa lepas raga tepatnya.” Alka menjelaskan.


“Kok bisa?” Ganding bingung.


“Pasti dia pelakunya dia, aku sudah yakin, seandainya Aditia mau mendengar.” Ada nada kecewa dalam kata-katanya.


“Kita mesti gimana Kak?” Ganding masih perhatian, padahal Aditia sudah mengabaikan mereka, sepertinya, bagi mereka, jika sudah dianggap keluarga, maka tak ada alasan meninggalkan, sama seperti dulu ketika Aditia kehilangna penghilatan ghaibnya.


“Nggak ada yang bisa masuk ‘ke sana’, kecuali dipanggil, kita nggak bisa ‘ke sana’ kecuali minta dimasukan ‘ke sana’ itu areal miliknya.”


“Aku yang akan coba mancing dia buat masukin aku ‘ke sana’.” Ganding bertekad.


“Nggak bisa, Aditia pasti pernah meninggalkan kerisnya makanya kena dan dapat dilemahkan, tapi kita terlalu mencolok Nding, dia tidak akan terpancing.”


“Lalu kita harus bagaimana?” Ganding masih berusaha.


“Serang langsung.” Dibanding semua, Alkalah yang paling kesal dan kecewa, Aditia bahkan memilih perempuan lain dibanding dirinya, dirinya yang sudah menunggu sejak Aditia lahir.


“Hah, serius?”


“Iya Nding, serius. Kalian siap? Ini bukan sembarang lawan, kalian tahu sejarahnya iblis ini bukan? si pengumpul ruh.”


“Nggak ada masalah, asal kita bersama, kita pasti bisa hadapi, Kak.”


“Ok, siap-siap.” Alka dan semua orang keluar.


“Gimana?” Ibunya ada di depan pintu dan langsung bertanya pada Alka.


“Aditia hanya perlu istirahat, tetap rawat dia ya, Bu, bersihkan tubuhnya dan jangan biarkan dia kedinginan. Kami akan mengambilkan obat untuk membangunkan dia, jadi, sementara ini tolong jaga Aditia baik-baik, jangan panggil Dokter lain, jangan pergi ke rumah sakit dan jangan panggil orang pinter atau dukun, ustad, kyai, hanya jaga dia.” Alka mengatakan dengan penuh penekanan, ibunya Aditia mengangguk, lagian Alka sudah meminta Jarni memagari rumah ini agar tidak ada dukun yang bisa masuk, pagar Pak Mulyana sudah usang, jadi harus ditambal.


Mereka berempat keluar, Pak Dirga mengejar mereka, sementara mereka hendak mengendarai angkot Aditia, tidak memakai mobil mewah milik yang lain, karena operasi ini memang butuh mobil itu.


“Apa yang terjadi pada Aditia?” Pak Dirga bertanya, mereka sudah di dalam angkot, Pak Dirga ikut naik hanya untuk bertanya.


“Dia lepas raga Pak, kemungkinan ini ulah jin pengumpul ruh, dia biasa mengumpulkan ruh untuk dijadikan budak, dia melakukan itu untuk membuat manusia semakin jauh dari Tuhan.”


“Bagaimana mungkin Aditia bisa kena?” Pak Dirga bingung.


“Siapapun yang dalam keadaan marah, kecewa dan penuh fikiran, bisa saja kena, karena dia memang bisa merasakan energy kasar dari orang yang sedang ada masalah, membuatnya semakin lemah lalu perlahan mencabut ruhnya untuk dijadikan budak.”


“Kasihan Adi.”


“Kami akan ke markasnya, kami akan menyerang dia langsung.” Alka tegas.


“Kalian yakin bisa?”


“Kalau bukan kami, siapa lagi? Tidak ada yang tahu keberadaan ruh Aditia selain kami.” Kali ini yang jawab Ganding, mereka sayang dengan keluarga baru yang keras kepala itu.


“Baik, hati-hati, tolong jangan sampai terluka, kembali dengan selamat.” Pak Dirga meminta dengna tulus.


Lalu mereka berpamitan datang ke kantor Aditia, karena di sanalah portal ghaibnya.


Alka dan Aditia hendak masuk tapi dihadang oleh security.


“Mau kemana? Angkot nggak boleh masuk.”


“Mau jemput orang Pak.”

__ADS_1


“Yaudah tunggu aja di luar.” Security menolak.


“Kak, kelamaan, sorry ya Pak.” Ganding turun dari mobil, dia mendekati security menutup matanya tiba-tiba dan menidurkannya dengan gendam.


“Dia akan bangun kalau aku bangunkan nanti, Har, bantu aku pindahkan tubuhnya ke dalam” Hartino keluar, mereka memasukkan tubuh security ke posnya, lalu Alka kembali menyetir sementara Jarni di sampingnya.


Saat sudah memasuki kawasan kantor, Alka dan Jarni menutup hidung.


“Bau busuk. Pasti di sini tempatnya.” Alka meminta Jarni turun.


Setelah itu mereka masuk ke lobby, Hartino dan Ganding menyusul, saat sampai lobby tidak ada siapa-siapa, tentu saja, mau ada siapa lagi?


Alka memperhatikan perempuan yang berwajah rusak, dia lalu mendekatinya.


“Kau melihat Aditia?” Alka langsung bertanya.


“Kau bisa melihatku?” dia terdengar senang, karena ada yang menyapanya duluan padahal seorang manusia, dia tidak tahu kalau Alka setengah jin dan setengah manusia.


“Yang mana? Yang tinggi, wajahnya tampan? semalam dia baru datang, tapi tubuhnya tidak di sini.” Dia tertawa saat mengatakannya.


“Dimana dia sekarang?” Alka bertanya lagi.


“Di ruang ujian seperti yang lain, sedang ada perintah dari ratu, kau tidak akan bisa masuk.”


“Di mana ruang ujian itu?”


“Di lantai 2, naik lift saja, kalau naik tangga darurat kau tidak akan menemukan lantai itu, karena gedung ini cuma satu lantai. Oh ya, kalian tidak bisa melihat lift itu ya? Dia tidak mengundang kalian, mana bisa kalian naik.”


Gedung ini memang hanya satu lantai, bukan gedung berlantai-lantai yang Aditia lihat selama ini.


“Lagian, Aditia bisa ketipu sama kantor busuk gini, pasti kena pemikat penglihatan dia, bodoh sekali.”


Hartino kesal, dengan kemampuan sangat tinggi, Aditia masih bisa ketipu.


“Orang yang marah dan kecewa memang gampang tertipu.” Wanita dengan wajah hancur itu berkata, seperti kami semua, membawa harapan ke kantor ini, tapi malah terjebak.


“Aku akan menolongmu, kau masih hidup atau ….” Alka menawarkannya.


“Kata lelaki itu wajahku hancur, kemungkinan aku sudah tiada, tapi aku tidak bisa lihat wajahku, karena kaca di sini tidak memantulkan bayangan kami.”


“Kalau begitu, aku akan menolongmu keluar dari sini.”


“Apa bisa? Ratu terlalu jahat dan berilmu, kalian hanya sekumpulan anak muda.”


Tentu wanita yang hancur wajahnya tidak tahu, bahwa empat orang anak muda ini, bukan anak muda biasa.


“Aku janji, kau dan yang lainnya akan selamat, bawa kami ke ruang itu,” kata Alka.


“Kak, gimana ini?” Hartino bingung.


“Aku tidak bisa tembus masuk ke sana, dia berilmu tinggi, kemungkinan usianya sudah ratusan tahun, mengumpulkan ruh juga kemungkinan sudah lama, aku tidak bisa menembus ruang ghaibnya, satu-satunya orang yang bisa menembus batas ruang ghaib hanya Ayi Mahogra, tapi kalian tahu, dia tidak akan menolongku dan terlalu lama jika menunggu Ayi, aku takut menghubunginya akan membuatnya murka lagi padaku.”


“Apa kita tidak bisa menyelamatkannya Kak?”


“Bisa, kita harus menemui ratu mereka, tapi masalahnya kita harus menunggu dia keluar dulu, sementara mangsa terakhirnya adalah Aditia, jadi kemungkinan dia tidak akan berburu lagi.”


Jadi, kita hanya akan menunggu?”


“Har! Kalau lu fikir Kak Alka bisa lakuin sesuatu, dia akan menunggu gitu! Ini buntu juga buat Kak Alka, kita fikirin aja dulu gimana caranya Kak.”


“Yaudah, kita ke angkot aja dulu.” Lalu mereka mundur dan ke angkot lagi, mereka akan mengawasi di sana.



“Kak!” Hartino mengagetkan mereka yang masih mengawasi gedung kantor itu dari luar di dalam angkot.


“Kenapa sih!” Alka kesal.


“Gue tadi hack emailnya Adit. Terus gue nemu ini, situs yang dia lamar kerjaan, situs kantor ini, gue udah coba pake akun dan nama samara untuk upload CV, seolah mau ngelamar kerja di sini, kita tunggu siapa tahu Ratu akan tertarik untuk memanggil akun palsuku melamar pekerjaan.” Hartino memang selalu bisa diandalkan kalau urusan IT.


“Tapi siapa yang akan datang untuk melamar pekerjaan? Kau kan tahu, dia akan mencium bau kita.”


“Pak Dirga mungkin.”


“Ketuaan!” Alka dan Ganding berkata bersamaan dan kesal, Hartino tidak berfikir jauh.


“Lalu siapa?” Hartino bingung sendiri.


“Aku saja yang datang.” Ganding berkata.


“Kan udah Kakak bilang, nggak bisa, kita ….”


“Aku bisa melakukan ritual Anglaksa Dayaka.”


“Lu gila Nding!” Hartino marah.


“Itu terlalu beresiko.” Alka menolak.


“Siapa lagi yang bisa masuk selain kita berempat? Kakak nggak mungkin, karena dia nggak punya khodam, jadi nggak bisa melakukan ritual itu, Hartino, duh nggak deh, bisa ikut kejebak di sana dia, Jarni? Lebih baik aku mati kalau suruh dia masuk.” Jarni terdiam mendengar itu, hatinya hangat.

__ADS_1


“Nding, aku nggak mau ngorbanin siapapun di sini, satu selamat semua selamat.”


“Kakak nggak ngorbanin aku, kita cuma mengadakan ritual itu.”


“Terus gimana cara balikinnya? Khodammu akan marah belum tentu dia mau balik.”


“Resiko, toh hidup tanpa khodam akan tetap hidup. Tapi kalau kita nggak ngelakuin ini, kemungkinan Aditia akan tidur selamanya.”


Anglaksa Dayaka adalah ritual melepas khodam, ilmu yan dimiliki mereka karena memiliki khodam, Aditia Kharisma Jagat, yang lain bukan, jadi mereka hanya pemilik Khodam, dalam ritual Anglaksa Dayaka ini, Khodam akan di usir dari tubuh pemiliknya, lalu setelah itu pemiliknya tidak memiliki lagi ilmu seperti saat khodam masih di dalam tubuh.


Ada ritual pembalik, tapi bisa saja tidak berhasil, itu yang membuat Alka ragu.


Anglaksa Dayaka biasanya dilakukan untuk menyelamatkan si pemilik khodam yang tidak kuat, Ayi Mahogra pernah melakukan ini dulu kepada pemilik Pangeran, jin macan putihnya, dia mengambil pangeran dari tubuh pemiliknya yang sakit-sakitan, agar pemiliknya bisa selamat, karena memiliki Pangeran terlalu berat untuk pemilik lamanya saat itu. Lalu Pangeran menjadi milik Ayi begitu dikeluarkan dari tubuh pemilik lamanya.


Lalu tidak ada catatan mengenai ritual pembaliknya, walau ada caranya pada kitab ghaib tapi tidak ada catatan sejarah pernah dilakukan.


Alka ragu, tapi tidak dengan Ganding.


"Biar Jarni yang ambil khodamnya, dengan begitu kita akan bisa berkompromi untuk mengembalikannya lagi nanti." Ganding memberi lagi alternatif lain.


"Aku akan melakukannya, jika nanti khodamnya tidak mau kembali, kita bisa menikah sebagai jalan persatuan, ya kan?" Jarni tiba-tiba bicara.


Ganding dan Alka tertawa, karena menikah bukan solusi yang berhubungan. Itu mungkin hanya keinginan Jarni saja.


"Kak, kita tidak bisa lama-lama memilih solusi, ayo kita lakukan, jangan sampai terlambat lalu kita menyesal."


Alka terdiam, dia mencoba menimbang-nimbang apakah jalan ini akan menjadi pilihan yang baik?


"Ok, ayo kita lakukan. Jarni yang akan ambil khodamnya, lalu kita akan cari cara melakukan ritual pembalik." Alka memutuskan, mereka lalu pergi dari kantor itu untuk ke gua Alka. Tentu saja mereka harus melakukannnya di tepat yang tepat.


Saat angkot itu meninggalkan kantor, dari dalam gedung itu terlihat Aditia sedang menatao keluar, dia tersenyum karena tahu, kawan-kawannya akan menolong dia.


"Kenapa tadi kau tidak menyapa mereka tapi malah bersembunyi dan menyuruhku mengatakan itu?" Wanita berwajah hancur itu bertanya, mereka ataupun yang lain tidak bisa keluar dari gedung itu karena memang ditawan.


"Aku malu, mereka datang dengan cepat bahkan setelah aku abaikan."


"Kau beruntung, punya mereka. Sementara tubuhku mungkin sudah membusuk, tidak tertolong. Wajahku saja hancur.


"Alka akan menyelamatkanmu, setidaknya kau bisa dikubur dengan layak."


Tiba-tiba ada suara sesuatu jatuh yang mengagetkan, wanita berwajah hancur itu berlari ketakutan dia berusaha bersembunyi.


"Ratu datang, kau harus bersembunyi atau kau akan diperintahkan hal yang berat dan menyakitkan, cepat sembunyi."


Saat itu tina-tiba muncul banyak ruh yang Aditia lihat di ruang ujian waktu dia pertama kali ke sini.


Mereka berlarian seperti monyet dilepas dari kandangnya. Aditia menghampiri tempat persembunyian wanita dengan wajah hancur itu.


"Mereka kenapa?"


"Habis disiksa oleh ratu, sekarang mereka diberi istirahat dulu, makanya seperti itu."


"Apakah ratu begitu kejam?" Aditia bertanya lagi.


"Kalau tidak kejam, mengapa dia menawan sebanyak itu? Kasihan, ada kepala keluarga, ada pacar orang ada tulang punggung sepertiku. Kami harus berakhir sia-sia."


"Apa sulit keluar dari sini?"


"Sulit, aku juga tidak tahu sudah berapa lama di sini."


"Kita pasti bisa keluar, percayalah, kita pasti bisa keluar." Aditia meyakinkan wanita berwajah hancur itu."


"Aku tidak ingin berharap banyak, diam jangan berisik, kalau dia mendengar kita, dia akan menyiksa kita."


"Apa yang dia lakukan pada tubuh-tubuh mereka?" Aditia bertanya.


"Kalau aku tahu, aku akan mengamankan tubuhku, aku juga tidak tahu."


"Kau beruntung, tubuhmu di rumah, mungkin mereka akan menjaga tubuh itu, tapi kami, entah dia simpan dimana tubuh kami.


Pertama dia memberi kami semua harapan agar bisa bekerja di perusahaan ini, gaji besar dan tunjangan signifikan membuat kami tergiur, padahal itu semua hanya tipuan muslihan setan, bahkan kantor ini juga sudah sangat usang, sedang yang kami lihat gedung kantor ini besar dan mewah, sama seperti yang kamu lihat kemarin-kemarin.


Kami tertipu oleh ruh-ruh itu, kami fikir mereka adalah manusia sama seperti kita, tapi ternyata ruh yang tejebak di sini, saat kami bekerja di gedung ini, kami lupa makan, lupa rumah hingga akhirnya ruh kami lepas, bergabung dengan mereka yang telah duluan lepas raga.


Hanya kau yang mampu bertahan sampai seminggu dan akhirnya lepas raga juga di rumah."


Sedang kami bertahan tiga hari tanpa pulang hanya bekerja tidak ingat yang lain, tidak ingat makan dan pulang lalu lemas dan dia berhasil mengumpulkan ruh kami untuk dijadikan budak dan disiksa."


"Mungkin karena aku dalam keadaan marah makanya aku tertipu, sama seperti saat kalian semua dipancing ke sini, dalam keadaan marah dan kecewa, jadi mudah terkena tipu muslihat iblis," ucap Aditia.


"Ya, walau sepertinya kau punya ilmu yang membuatmu tidak terlelap dalam pekerjaan dan selalu sadar saat jam pulang, tapi itu terlambat, ratu perlahan menggerogoti sukmamu, hingga akhirnya kau ada di sini."


"Seharusnya aku mendengar ibu ketika itu, dia bilang aku telrihat pucat dan mudah marah, seharusnya aku sadar, ibu sudah memperingatkanku, tapi aku malah mengabaikannya. Oh ya, kau tahu ada Pak Broto, Ibu Ningsih dan Nita yang bekerja di sini juga, apakah mereka korban?" Aditia baru ingat tentang mereka berdua.


"Ya, Ibu Ningsih dan Pak Broto pemilik perusahaan katanya, Nita temanrekan kerja kita, mereka dua orang yang tetap hidup karena dibutuhkan untuk merekrut jiwa-jiwa baru, bisa jadi mereka saja tidak sadar kalau perusahaan ini sebenarnya sangat usang dan tidak layak menjadi kantor, bisa jadi mereka bertiga juga dalam tipu muslihat ratu. Biar bagaimanapun ratu butuh manusia untuk berburu manusia lain."


___________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Jangan lupa dukung kami ya, Vote, Bucket hadiah atau tips, yang belum follow akunku, ayo dong follow biar kalau ada judul baru kalian nggak ketinggalan.


Terima kasih.


__ADS_2