Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 535 : Mulyana 41


__ADS_3

Malam tiba, Dirga mengendap ke kamar ayahnya yang sudah tertidur lelap dengan ibunya, sepasang suami istri yang tak lagi bercumbu mesra karena sudah tak mampu merasakan harmonisasi manisnya pernikahan.


Dirga lalu membuka lemari baju ayahnya dengan sangat hati-hati agar tak bersuara, sembari sesekali melihat ke arah tempat tidur orang tuanya, karena kalau sampai orang tuanya bangun, pasti mereka akan bertanya kenapa Dirga ada di sana dan mengendap-endap.


Dirga terus berusaha membuka lemari itu dengan perlahan ... KRIETTT.


Suara lemari kayu lama yang dibuka itu terasa lumayan bising, ayahnya terbangun dan melihat ke arah suara, hening ... Dirga rupanya telah tiarap agar tak terlihat oleh ayahnya yang terbangun, karena jarak antara lemari dan tempat tidur tak terlalu jauh, maka apa yang ada di lantai tak terlihat, di sana ada tubuh Dirga yang ketakutan ketahuan.


Tak lama kemudian terdengar lagi suara dengkuran ayahnya, artinya Dirga sudah bisa bangkit dari tiarapnya dan mencoba membuka lemari kayu itu lagi.


Dirga lalu membuka lemari itu dengan menahan sekuat tenaga pada bagian kaki lemarinya agar tak berbunyi seperti itu lagi, karena bagian kaki lemari itu telah rusak, hingga terasa macet jika dibuka, karena itulah timbul suara.


Setelah terbuka, Dirga lagi-lagi memastikan bahwa ayahnya masih tidur, Dirga melihat ke arah ayahnya, dengkuran itu masih terdengar jelas.


Dengan sigap Dirga lalu merogoh lemari pada bagian di mana dia melihat ayahnya menaruh kotak itu, kotak yang berisi paku bumi dan juga mantra, Mulyana harus melihatnya dan membuat mantra ini batal.


Setelah merogoh dengan seksama, beberapa menit kemudian dia baru bisa merasakan kotak kayu itu pada tangannya, karena cahaya di sana minim, orang tuanya tak suka tidur dalam keadaan lampu menyala, maka sulit bagi Dirga mencari kayu itu dalam kegelapan plus ketakutan ketahuan.


Setelah yakin, dia lalu menarik kotak kayu itu, kembali menutup lemari dengan sangat hati-hati dan mengendap layaknya maling untuk keluar kamar, setelah keluar kamar, Dirga buru-buru memasukkan kotak kayu itu ke dalam tas dan bergegas untuk pergi menemui Mulyana di rumanhnya, Dirga sudah mendapatkan alamat itu dari Mulyana, karena tidak ada yang perlu disembunyikan oleh Mulyana dari Dirga, maka pertemanan mereka menjadi lebih jujur dan terbuka.


Tak lama kemudian Dirga sampai di rumah Mulyana, Mulyana juga ternyata baru sampai.


“Kau baru sampai juga?” Dirga bertanya, mereka mengobrol di halaman.


“Iya, aku dari tempat pelatihanmu.”


“Kok nggak ajak?”


“Kau kan mesti selidiki yang aku minta, lagian, bahaya! Jangan ikut-ikut urusanku, itu berbeda dengan urusanmu.”


“Wah, aku kan setia kawan, tak mau kawanku yang hebat ini terluka.”


“Kau mau kuhantam, menjijkan sekali bicaramu.” Mulyana kesal karena Dirga sudah terlihat membual, sebenarnya dia hanya meledek saja.


“Aku hanya bercanda anak muda, ini kotak yang ayahku tunjukkan, ada paku bumi dan juga mantra, lihat mantranya, apakah benar perjanjian penglaris?” Dirga menyerahkan kotak itu pada Mulyana.


Mulyana segera membuka kotak kayu itu dan tertegun.


“Kain kafan bekas, paku bumi dan mantra, ayahmu sungguh tak terduga, aku pikir dia berpikiran terbuka dan luas, sebagai pengusaha, dia seharusnya tak bertumpu pada hal-hal semacam ini.”


“Aku tak bisa membelanya, karena sama seperti kau, aku pun kecewa, bahkan kecewaku lebih dalam.” Dirga ikut kesal.


Mulyana membuka mantranya, membaca mantra itu.


Burindak sangit jahwi


Saring tak sia damun


Jar dahwe jamun


Burindak tak sia dahwe

__ADS_1


“Hmm, sudah kuduga.” Mulyana berkata dengan wajah yang cukup khawatir.


“Ada apa?” Dirga bertanya penasaran.


“Ini mantra pengabdian, bukan mantra perjanjian.”


“Artinya? Aku nggak paham.”


“Jika kau melakukan perjanjian, maka ada dua hal yang akan terjadi, baik dari sisi ayahmu maupun sisi Dasim, yaitu, terima dan kasih, maksudnya, ada yang diterima dan ada yang diberikan. Baik untuk ayahmu maupun untuk Dasim.


Jadi kalau kau melakukan perjanjian, maka ayahmu akan mendapatkan keuntungan sebagai gantinya, dia juga harus menumbal. Itu kalau perjanjian.


Tapi kalau pengabdian, maka hanya satu arah, siapa tuan dan siapa pengabdi. Dalam hal ini, ayahmulah pengabdinya, maka tak heran, apa yang Dasim katakan, menjadi titah yang ayahmu wajib lakukan, tubuhnya sudah terikat mantra itu.”


“Lalu bagaimana dengan ibuku? Apakah dia juga melakukan perjanjian?”


“Kau tahu, kalau kita menjual rumah, sebagai aset, maka perlu adanya persetujuan pasangan, karena memang hukum di negara kita mengatur itu, jika ada seoang menjual aset dan statusnya sudah menikah, maka persetujuan pasangan diperlukan sebagai syarat terjadinya transaksi, begitu kan?”


“Iya, tentu saja Yan, tapi apa hubungannya sama kasus keluargaku?”


“Maka ibumu tentu saja terseret sebagai renteng masalah, dia menjadi terseret karena istri dari ayahmu, maka perjanjian itu berlaku sepenuhnya termasuk ....”


“DIRIKU!” Dirga setengah berteriak mengatakan itu.


“Ya, termasuk dirimu.”


“Pantas saja kau ingin berteman denganku, apakah kau merasakan energi Dasim sejak awal pada diriku?”


“Baiklah, kuterima pujian itu, lalu bagaimana bisa mantra itu membuat toko ayahku laris? Kan bukan mantra penglaris?” Dirga bertanya lagi.


“Itu memang bukan mantra penglaris, tapi jin anak buah Dasim banyak, dia bisa mengerjai toko lain agar tak terlihat dan membujuk orang yang lewat dengan iman yang lemah untuk datang ke tokomu, namanya juga tipu muslihat, dia pasti membuat seolah mantra yang yang diucapkan ayahmu itu berhasil, dia akan menganggap tokonya yang laris itu karena mantra penglarisnya, padahal dia ditipu daya oleh Dasim. Dia bisa membuat seolah-olah itu adalah penglaris, pada kinerja para jin suruhannya.”


“Yan, bagaimana dengan orang tuaku?” Dirga bertanya lagi.


“Kita harus batalkan mantra pengabdian itu, karena mantra itu hanya bisa dibatalkan oleh sang tuan.”


“Brengsek sekali jin laknat itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”


“Kita hanya perlu mengikuti apa maunya, aku sudah baca banyak sumber, bahwa Dasiman suka sekali berteka-teki, kita akan coba memancingnya untuk bermain, nanti kita jebak dia di sana.”


“Kau yakin ini berhasil?” Dirga tak yakin. Karena menipu tukang tipu itu rasanya ... mustahil!


“Tak ada lagi cara selain saling tipu.”


“Baiklah, aku akan lakukan apapun agar bisa menyelamatkan pernikahan ayah dan ibuku.” Dirga bertekad, begitu juga dengan Mulyana.


...


“Aku akan lepaskan kau, tapi dengan satu syarat.” Dirga dan Mulyana sudah ada di pekarangan rumah Dirga, sudah larut hingga tak ada orang yang akan melihat mereka.


“Apa syaratnya?” Dasim bertanya, tubuh ruhnya masih ada di dalam botol.

__ADS_1


“Lepaskan mantra pengabdian itu.” Mulyana berkata dengan licik.


“Oh, kau sudah tahu mantra itu, anak muda yang cerdas, lalu apalagi? Ini menarik.”


“Lepaskan mantra pengabdian itu, maka aku akan melepaskanmu.”


“Loh, tidak sepadan itu, aku sudah mengerjai mereka hitungan tahun, kau baru menyekapku hanya beberapa hari, aku tidak mau, tunggu beberapa tahun dulu, baru sepadan.”


“Kau ingin disekap ayahku dan disiksa?” Mulyana mengancam.


“Daripada menyerah dan dilepaskan anak ingusan macam kau, maluku dihadapan anak-anak buahku tak tertolong lagi. Lebih baik disiksa ayahmu, Kharisma Jagat yang sangat ternama.”


“Lalu, kau maunya apa supaya bisa melepas mantra pengabdian itu?” Mulyana mencoba bersabar walau telah direndahkan, karena apa yang dikatakan Dasiman itu benar. Dia belum jadi apa-apa dibanding ayahnya.


“Kita main gimana?” Dasiman tersenyum licik.


“Main apa?” Mulyana penasaran, jiwa mudanya terpanggil.


“Mari buat perjanjian.” Jin itu memulai melancarkan aksinya.


“Aku tak penah membuat perjanjian dengan jin, tapi kali ini baiklah, karena pertaruhannya besar.”  Mulyana setuju.


“Baiklah, sekarang tebak, siapa aku dan apa tujuanku?” Dasim mulai melempar pertanyaan, apakah kalian ingat, bahwa ini juga dilontarkan kelak olehnya pada kawanan dan apakah kalian ingat, siapa yang menebak dengan benar pertanyaan ini?


“Jika aku jawab, bagaimana aku tahu kau memberi jawaban benar? Bisa saja kau berbohong.” Mulyana memastikan dulu.


“Makanya kubilang kita lakukan perjanjian, pakai darahmu dan ludahku.”


Mulyana lalu setuju dan melakukan perjanjian itu, perjanjian yang harus ditepati, karena kalau ada yang melanggar, maka fatal hukuman ghaibnya.


Setelah perjanjian itu selesai dilakukan, maka Mulyana harus menjawab pertanyaan Dasim.


“Jawab pertanyaanku, siapa aku dan apa tujuanku?” Dasim mengulang lagi.


“Baiklah, kau itu adalah jin yang suka merusak rumah tangga orang lain agar mereka bercerai, tujuanmu adalah perceraian, perpisahan agar kau dapat menjadi jin paling hebat di mata jin lainnya, kau ingin statusmu naik kan.”


“Kau ini benar-benar bocah ingusan dan jawabanmu ... salah!” Lalu dalam hitungan detik, Dasim menghilang ... Dasim lepas karena perjanjian itu, perjanjian yang dilakukan Mulyana, apabila dia menjawab salah, maka dia akan melepaskan Dasim, maka otomatis Dasim lepas dari botol kaca itu dan menghilang dengan cepat, kabur dari Kharisma Jagat muda yang memang ternyata masih anak muda ingusan.


“Kenapa Mul, kenapa kau diam saja?” Dirga yang sedari tadi tak tahu apa-apa hanya mendengar Mulyana berkata saja bingung, karena Mulyana tiba-tiba pucat dan terjatuh.


“Aku ... aku ... aku gagal Ga.”


“Dirga terdiam, dia mundur dan ikut terjatuh, lalu nasib orang tuaku bagaimana, Yan?”


Walau kelak Dasim akan dikalahkan oleh kawanan, tapi dititik ini Mulyana membuat Dasim bebas dan menjatuhkan banyak korban di kuburan jalan buntu itu, kalian ingat kisahnya kan? karena sudah ada jawabannya aku tak main tebak-tebakan di sini ya. Hanya memberi benang merah saja.


Lalu bagaimana dengan orang tua Dirga?


Pada akhirnya mereka bercerai dan Dirga tidak tinggal lagi bersama orang tuanya, karena memang pengaruh Dasiman seburuk itu, tak ada di rumah itu pun, rumah tangga orang tua Dirga tetap hancur.


Dirga akhirnya mengekost dan tetap melanjutkan kuliah.

__ADS_1


__ADS_2