
Janin ditemukan, janin itu dikubur di pekarangan rumah dukun, saat janin ditemukan Aditia meminta janin itu segera diperiksa, untuk mengetahui, milik siapa janin yang diawetkan itu.
Benar saja itu adalah janin Nicko, tapi membuktikan itu adalah janin milik Nicko, tidak menjadi bukti kuat dia pembunuh Suminah, maka Aditia datang kepada istrinya Nicko, untuk menagih janjin.
“Seperti yang ibu janjikan sebelumnya, bahwa jika kami bisa membuktikan Nickolah dalanng pembunuhan itu, maka Ibu mau bersaksi memberatkan Nicko.” Lima sekawan dan Lais berkumpul di rumah Nicko, sementara Nicko telah diserahkan kepada Polisi.
“Baiklah, tapi saya juga akan meminta kalian menepati janji, kalian harus membantu saya untuk bisa memenangkan pemilihan daerah, ketika saya kehilangan suami, maka saya juga kehilangan pemberi nafkah, jika kalian menepati janji, saya akan melakukan yang kalian inginkan.”
“Jadi, waktu itu apa yang terjadi?” Aditia bertanya.
“Saya dan Suminah mengobrol, dia lalu kabur, saya pikir dia sudah diamankan lagi oleh Nicko, tapi saya salah, malam itu, ketika Suminah kabur selesai saya temukan, Nicko pulang, dia pulang sangat malam, bukan sesuatu yang aneh, karena dia memang suka pulang larut, entah pekerjaan atau bersenang-senang. Aku tidak terlalu perduli, yang penting uang mengalir.
Tapi hari itu terasa lain, aku takut padanya. Hari itu, seperti ada aura jahat di dalam tubuhnya, dia pulang dalam keadaan kusut, membuka baju untuk mandi. Seperti biasa, aku mengambil baju kotornya hendak menaruh di tempat baju kotor. Kebiasaanku adalah, membalik baju kotor itu, agar kelak ketika digosok, pembantu kami bisa lebih cepat melakukannya, karena baju kotor itu sudah kubalik dengan rapih.
Saat melakukannya ... aku menemukan sesuatu yang janggal. Warnanya merah, bukan lipstik, bukan juga makeup perempuan, karena warna itu terlalu pekat, aku mencium noda merah di kemejanya itu, ada di bagian lehernya, seperti terciprat, saat kucium, bau anyir.
Aku yakin itu adalah bau darah. Maka aku tidak jadi mencucinya, aku menyimpan baju itu dengan baik, hingga puluhan tahun. Entah kenapa, aku merasa Nicko telah melakukan hal buruk, makanya aku menyimpannya sebagai pegangan, kalau-kalau kelak Nicko bisa saja melakukan hal jahat padaku. Setelah itu aku mendengar kabar tubuh Suminah ditemukan dalam keadaan termutilasi, aku yakin Nicko pelakunya, tapi tentu tidak berani mengatakan pada Polisi, dia suamiku saat itu dan aku masih terlalu muda untuk menjadi janda.
Aku tahu Nicko akan lepas dari masalah ini walau dia sempat di panggil Polisi dan aku urung dipanggil karena katanya, pelaku sudah ditemukan, entah bagaimana Nicko bisa membuat pelaku itu bungkam.
Tebakanku adalah uang, pasti itu, karena manusia itu selalu kalah dengan uang, sepertiku. Tapi jujur, pernikahanku tidak sama lagi, aku selalu ketakutan setiap hari, takut kalau dia akan membunuhku juga. Dari rasa takut itu, aku akhirnya pelan-pelan mengumpulkan banyak bukti, tentang penyelewengan pajak yang dia lakukan, kemungkinan pembunuhan wanita muda lainnya, untuk berjaga.
Aku tahu kedengarannya mungkin aku tamak, karena meminta upah atas semua bukti yang akan aku berikan, tapi percayalah, semua ibu bertidak hanya untuk melindungi keluarganya.”
“Kalau kita menyerahkan bukti baju yang ada noda darahnya, darah dan sidik jari Suminah pasti ada di sana, bisa jadi, itu adalah bukti kuat. Kita punya Darmin sebagai saksi serta bukti kuat, maka Nicko pasti takkan bisa lolos. Ditambah, bukti lain yang bisa membuatnya membusuk di penjara.” Ganding sangat bersemangat.
“Selain itu, apakah ada hal lain?” Aditia bertanya lagi.
“Hanya itu yang aku punya, aku akan kooperatif membantu kalian, bukan hanya karena upah, tapi juga karena aku ingin dia dipenjara.”
“Baiklah kalau begitu, berikan semua bukti itu pada kami, kami akan memastikan, suntikan dana yang kami janjikan untuk pemilihan kepala daerah anda, akan segera cair, tapi kalau aku melihat anda melakukan hal-hal buruk dengan kekuasaan anda, maka percayalah, kami akan membuat anda menyesal.” Aditia memperingatkan.
Lima sekawan agak khawatir membantu wanita tua ini, tapi janji adalah janji, mereka akn mengawasinya, jangan sampai melakukan hal buruk dengan kekuasaan, tapi kalau perempuan ini amanah dalam melakukan tugas kenegaraannya, maka lima sekawan telah sekali lagi berhasil membantu negeri ini, walau bantuan mereka, jangankan diakui, diketahui saja tidak.
Setelah mendapatkan bukti itu, Aditia pamit, dia akan menyerahkan bukti itu pada Pak Dirga, dia haru membicarakan hal ini secara pribadi dengan ayah angkatnya itu, karena ini pasti menyakitinya.
...
__ADS_1
“Ini semua bukti akuratnya, kejadian sebenarnya telah aku ceritakan, karena aku telah berbicara dengan Suminah, setan di sumur itu.
Dia sudah menceritakan segalanya padaku, apa yang terjadi hari itu.
Dia dipukuli Nicko, lalu bertemu Deden, tapi tidak ditolong oleh Deden, setelahnya Nicko menghajarnya lagi, membunuhnya dan akhirnya meengubur tubuh Suminah di sumur itu dengan tubuh yang terpisah.
Kenapa ayahku tidak bisa melihatnya hari itu, karena dukun itu menyegel sumurnya dengan segel Anindyamentari, segel khusus untuk membuat Suminah tidak bisa keluar dari sana dan menjadi yang orang bilang sebagai, kuntilanak.
Setelah disegel, Suminah tak bisa kemana-mana, lalu segel rusak karena tubuhnya ditemukan, ayahku tidak bisa melihatnya karena segel itu begitu kuat, saat itu pasti ayahku juga belum pada kemampuannya yang tertinggi, karena saat itu umurnya masih muda, jadi tidak heran, jika jejak Suminah tidak bisa terlihat oleh ayah.
Lalu karena banyak kasus yang ayah pegang, kasus Suminah terlupakan, untung saja, kasus itu tetap ayahku tulis di bukunya. Jadi kami bisa mengusut ulang kasus itu.
Mengenai semua korban Suminah, saat ini mereka telah menemukan akalnya lagi, mereka sudah sembuh, ketika kemarin mereka terkena efek dari dendam Suminah karena tanggal lahirnya sama dengan Nicko pelaku pembunuhan itu, mereka menjadi hilang akal karena kena sawan tingkat tinggi, akibat penampakan Suminah. Setelah Suminah tenang, maka efek itu juga menghilang dari mereka, tidak lagi tergila-gila pada sumur berbau anyir itu.
Sekarang, semua terserah Bapak, bukti dan juga semua keterangan sudah Adit taruh di sini. Bapak bisa gunakan, atau ... bisa Bapak sembunyikan.
Karena kalau ....”
“Dit, Bapak ambil bukti ini, biarkan bapak mengusut ulang semuanya secara tuntas, Bapak tahu, kau pasti takut jabatanku dan juga nama baikku terseret. Tapi itu sudah jadi tanggung jawabku. Dulu aku mengerjakan semuanya dengan hati, tapi usia muda membuatku gegabah, walau Deden salah tidak berbicara dengan jujur, aku juga salah, karena mengambil keputusan secara sepihak dan memajukan itu ke persidangan, padahal bukti masih begitu mentah dan dipenjara selama puluhan tahun ini, adalah bentuk ketidakadilan bagi Deden. Itu bagian dari tanggung jawab yang harus aku pikul.
Saat ini, Bapak hanya akan mengawal kasus ini sampai Nicko bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan.
Karena aku percaya kalian, tanpa cela. Dari kalian aku tahu apa yang orang tidak bisa lihat dan tahu, kalau banyak hal di dunia ini, begitu banyak keburukan dan kebusukan yang masih tertanam bahkan di bawah sumur dan tanah. Rosa dan Suminah, dua kasus itu membuatku tahu kalau saja aku tidak bertemu kau dan ayahmu, aku takkan bisa menangani kasus itu dengan baik.
Jangan merasa bersalah jika kelak, hal tak baik terjadi padaku, itu resikoku sebagai penegak hukum. Yang aku takut adalah, kau akan sungkan padaku setelah ini.
Ingat baik-baik Aditia, kau adalah anakku, bapakmu menitipkanmu sejak masih bayi padaku, maka kau harus tetap menjaga hubungan denganku, tak perduli apapun akhir dari kasus ini. Mengerti, Nak?” Pak Dirga berkata dengan lugas.
“Pak, maafin Aditia, ya. Belum bisa jadi anak yang baik.”
“Kalau aku boleh meminta, aku ingin kau menjadi anakku, kau anak terbaik yang pernah aku temui, maka jangan berubah, sekalipun yang salah adalah orang yang kau sayangi, kau harus tetap tegas, karena memang seperti itu dirimu dilahirkan.”
Pak Dirga dan Aditia berpelukan, mereka adalah ayah dan anak angkat yang dipersatukan karena takdir dan situasi.
...
Kasus Nicko bergulir, semua berjalan dengan lancar, Deden akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan, walau dia telah salah karena tidak menolong Suminah dan menutupi yang terjadi malam itu, tapi hukuman penjara selama puluhan tahun telah membuatnya bebas dari segala tuduhan. Setelah keluar penjara, Deden ganti nama dan hidup di desa menjadi pribadi yang baru, Suminah sudah tidak pernah menghantuinya lagi karena sudah dijemput oleh lima sekawan untuk ‘pulang’.
__ADS_1
Nicko menunggu waktu untuk dihukum mati, karena putusan pengadilan adalah menghukum mati Nicko sebagai dalang dari pembunuhan Suminah dengan cara yang keji itu, sementara Darmin dipenjara seumur hidup dia akan mengakhiri sisa hidupnya di penjara, mereka berdua akhirnya menjadi musuh karena saling serang di pengadilan.
Lima sekawan menepati janji dengan tidak menyentuh anak Darmin yang bekerja di luar negeri, keluarga Darmin pindah dari negara ini karena malu.
Sementara istri Nicko maju dalam pemilihan daerah dan menang dengan telak. Citranya sebagai istri yang tertindas membuat namanya menjadi dikenal dan membuat semua orang berpihak padanya, karena dia berani maju ke persidangan untuk membuat suaminya dihukum karena membunuh simpanannya, di negeri ini, istri sah selalu menang bukan? dia memang wanita cerdas sejak awal, hanya tidak beruntung mendapatkan suami seperti Nicko.
Sementara Pak Dirga ... tidak ada tuntutan untuknya, karena orang tua Deden telah tiada dan Deden memilih untuk melupakan semuanya, tidak mau mengungkit masalah itu lagi, karena dia juga tidak seratus persen benar.
Tapi karena beban batin, Pak Dirga mengundurkan diri dari kepolisian tepat setelah akhirnya berbulan-bulan persidangan, putusan pengadilan dikeluarkan untuk Nicko, Darmin, preman yang menculik Suminah, serta dukun ilmu hitam itu.
Aditia cukup kecewa, karena Pak Dirga memutuskan untuk berhenti, dia tahu, menjadi Polisi jujur dan benar itu impian ayah angkatnya, dia naik ke posisi yang cukup tinggi dengan kerja keras dan kejujuran, tapi harus berhenti karena kejujuran itu sendiri.
Aditia marah karena Pak Dirga mengambil keputusan tanpa ragu, dia marah pada dirinya sendiri kenapa Aditia yang harus menjadi orang yang ‘menendang’ Pak Dirga ke tangga paling bawah.
Berhenti sebagai Kepala Polisi dan membuat nama baiknya terhina. Aditia marah pada Pak Dirga hingga membuatnya tidak mau bertemu dengan ayah angkatnya itu.
Padahal sebelumnya Pak Dirga sudah mengatakan bahwa apapun keputusannya, Aditia harus menghormati keputusan itu, sejak awal Pak Dirga memang ingin mengundurkan diri, tapi dia harus menyelesaikan kasus ini terlebih dahulu.
Dia adalah orang baik yang jujur, dia tidak bisa menanggung beban rasa bersalah pada korban dan juga tersangka yang salah. Dia merasa tidak kompeten dan akhirnya memilih untuk berhenti dari kepolisian.
Lima sekawan tetap mengerjakan kasus selanjutnya, Aditia ditemani Alka menenangkan diri dulu di sebuah desa, Alka bersikeras menemani Aditia karena melihat Aditia terpuruk.
Sementara yang lain, harus mulai mengerjakan kasus berikutnya, yang mungkin saja malah dekat dengan yang sedang terpuruk.
|
|
|
“Nding lagi nyusun kitab kasus?” Alka bertanya setelah mereka menyelesaikan kasus Suminah.
“Iya Kak,” Ganding menjawab, dia masih menulis dengan tangannya.
“Hestia? Kenapa judulnya Hestia?” Alka bertanya. Seharusnya judulnya Suminah atau Anindyamentari.
“Hestia adalah Dewi Yunani Kuno, dia adalah Dewi penjaga perapian dan keluarga, dia adalah Dewi yang sederhana, tugasnya menjaga keluarga tetap hangat makanya dia dikenal dengan dewi penjaga perapian dan keluarga. Kasus Suminah intinya adalah soal menjaga keluarga, Suminah menjaga janinnya, Istri Nicko menjaga keluarganya, istri Sumohadi menjaga suaminya, Darmin menjaga anaknya, Deden menjaga orang tuanya dengan menerima suap, dan Pak Dirga menjaga nama baik keluarganya.
__ADS_1
Mereka adalah perwujudan Hestia, menjaga keluarga walau dengan cara yang salah. Tapi tujuan mereka adalah persis seperti Hestia, menjaga keluarga mereka, tungku keluarga mereka bisa jadi rejeki dan juga kesehatan.”
“Aku setuju, kau benar soal itu, Hestia, Dewi Hestia penjaga keluarga.” Alka lalu bersiap pergi untuk menemani tuannya pergi ke Bandung.