
Mereka semua berkumpul di hotel tempat dulu bertemu pertama kali, mereka sedang menyelidiki seluruh rumah sakit di sekitar lokasi ditemukannya Pak Roni untuk melihat apakah ada Pasien koma yang bernama Pak Roni.
Dengan begitu siapa tahu mereka bisa menemukan keluarga Pak Roni dan menemukan cara mengembalikan ruhnya kembali ke tubuh.
Tapi setelah hamper seharian, banyak rumah sakit besar bahkan kecil, di kota besar dan juga di unit desa, tetap tidak ditemukan Pasien koma bernama Pak Roni.
Alka seharian hanya terus mencoba menggenggam tangan Pak Roni, siapa tahu dia bisa mendapatkan penglihatan.
Tapi nihil, tidak ada visual masa lampau yang bisa dilihat olehnya.
“Pak, masa Bapak hanya ingat nama saja, tidak ingat keluarga, tidak ingat tempat tinggal.” Daripada bertanya, Aditia sebenarnya sedang menggerutu.
“Dit, kamu nggak dalam posisinya, jadi jangan pernah memaksa.” Alka menatap Aditia dengan tatapan kesal, ini untuk pertama kalinya, Alka yang selalu lembut pada Aditia, berubah sikap. Adit pun tampak selalu kesal seharian ini.
“Kalian berdua kenapa sih!” Ganding tampaknya sadar dengan perubahan sikap kedua kakaknya.
“Nggak apa-apa!” Aditia dan Alka menjawab dengan serempak, makin membuat mereka terlihat mencurigakan.
“Lagi berantem ya?” Hartino meledek, dia memang yang paling iseng, kalau Ganding lebih bijaksana, makanya bertanya.
“Berantem? Kayak anak kecil aja,” Aditia menjawab.
“Bisa fokus nggak? Bapak ini nggak boleh lama-lama pisah dari tubuhnya, bisa bahaya.”
“Bahaya, Mbak Alka? Kenapa ya?” Pak Roni bertanya, wajahnya cemas.
“Ruh yang berpisah dari jasadnya, akan membuat jasadnya semakin lemah, semakin hari daya tahan tubuh akan menurun, ada alasan Tuhan memberikan ruh pada rubuh kita, makanya tubuh dan ruh harus saling berkesinambungan dalam menjaga kehidupan seseorang. Kalau salah satunya lepas, maka bisa saja tubuh atau rumah bagi ruh itu akan melemah. Makanya kita nggak boleh banyak main-main, ngerti!” Alka menatap seluruh adik angkatnya dan Aditia.
“Siapa yang main-main! Kamu fikir saya dan mereka sedang main-main!” Aditia geram dengan tatapan dan perkataan Alka.
“Saya tidak bilang kalian main-main, saya sedang memperingatkan kalian, jadi kalian nggak main-main, lalu ….”
“Lalu apa? Apa? Kamu fikir saya di sini main-main aja? Saya juga mau bantuin Pak Roni, jadi jangan seolah kamu tuh yang paling kuat dan paling mikirin segala hal!”
“Adit!!!” semua orang berteriak kepada Aditia, ucapannya sudah keterlaluan, adik-adik Alka marah dan langsung membentak Adit, walau mereka menganggap Aditia kakak, tapi posos Alka jauh diatasnya di hati mereka, sampai kapanpun, Alka adalah kakak yang tidak akan pernah mereka biarkan terluka.
“Cukup,” Alka berkata dengan dingin, “Kalau begitu, kita mulai cari ke rumah-rumah dekat dengan areal kuburan, siapa tahu kita bisa ketemu alamatnya, tapi masalahnya, kita nggak bisa foto Pak Roni untuk diperlihatkan ke orang kampung saat mencari, kita andalkan saja intuisi, aku bagi kelompok menjadi dua. Jarni, Ganding dan Adit pergi bersama ke kampung sebelah barat, aku dan Hartino bergi ke sebelah timur, kita tetap harus berkabar.”
“Kok aku pisah ama mereka? Biasanya kan Kak Alka sama Adit.” Hartino protes.
“Kamu nggak mau pergi denganku?” Alka melotot, Hartino bergegas menyiapkan tas dan berlalu tanpa aba-aba lagi.
Aditia terlihat kesal, karena dia biasanya pergi observasi dengan Alka, tapi Aditia tahu, sepertinya Alka sedang menghindarinya.
Ganding mengendarai mobilnya, mobil tipe jeep keluaran terbaru, dalam perjalanan, Aditia, Jarni dan Ganding lebih banyak diam, sepertinya Ganding terbiasa dengan kesunyian ini karena di sampingnya adalah Jarni yang jarang sekali bicara kecuali untuk hal mendesak.
“Turun di sini.” Ganding menghentikan laju kendaraannya, “kita nyebar ya Dit, tapi Jarni sama gue, dia nggak suka ngomong sama banyak orang.”
“Iya, nggak apa-apa.”
__ADS_1
Lalu mereka mulai menyebar, Aditia menyusuri rumah demi rumah dan pejalan kaki, dia menanyai mereka satu persatu, hanya berdasarkan nama dan ciri-ciri tubuh, apakah mereka mengenal Pak Roni, sampai setelah satu jam, masih belum ada satu pun orang yang mengenalnya.
Aditia kelelahan dan kepanasan, cuaca memang sedang tidak bagus. Matahari terik sekali.
Aditia memutuskan untuk memesan es kopi di warung pinggir jalan, dia duduk sembari nyeruput kopi dan makan gorengan yang tersedia di warung itu.
“Pak Roni, nggak mampir dulu?” Penjaga warung menegur seseorang yang sedang lewat, Aditia langsung melihat pria yang dipanggil itu.
Yang dipanggil hanya menoleh sesaat, tersenyum lalu berlalu.
Aditia terpaku, kok bisa, itu kan … Pak Roni yang ruhnya ada bersama mereka, kok bisa Pak Roni berjalan dengan sehat seperti itu.
Aditia buru-buru membayar dan mengejar lelaki itu secara perlahan, dia ingin memastikan, apakah dia benar Pak Roni yang tubuhnya mereka cari atau Pak Roni kembarannya, tapi kalau Pak Roni punya kembaran, masa iya namanya sama. Itu yang Aditia fikirkan.
Saat sedang mengikutinya, ada seorang wanita yang yang menyapa Pak Roni, mereka berbincang sebentar lalu pergi bersama.
Aditia menggunakan kesempatan itu untuk memotret mereka, siapa tahu bisa jadi bukti akan sesuatu.
Aditia masih terus mengikuti mereka, hanya untuk tahu rumahnya, karena dia tidak tahu harus melakukan apa, dia bingung, kenapa bisa tubuhnya jalan dengan bugar sementara ruhnya lepas, ini hal yang aneh.
Setelah tahu rumahnya, Aditia lalu kembali ke warung untuk bertanya-tanya.
“Bang, itu tadi Pak Roni?” Aditia bertanya.
“Iya Pak Roni, itu yang tinggal di Blok A.”
“Oh, itu karena dia baru pindah sama istrinya, saya kenal karena dia suka ngopi di sini, tapi beberapa hari ini dia nggak ngopi, cuma jalan aja bulak-balik, makanya saya panggil, takutnya dia bingung. Maklum, namanya juga orang baru.”
“Oh begitu, pindahnya udah berapa lama, Bang?” Aditia kembali bertanya.
“Ya, udah 5 atau 6 bulan gitu, cuma katanya dia kerja jauh, jadi kadang di rumah kadang di tempat kerjaan.”
“Oh begitu.”
“Kamu siapa? Baru pindah juga?” Dia bertanya.
“Nggak Bang, saya supir angkot, lagi ngadem aja, angkot saja di ujung jalan.”
“Oh gitu, angkot 09?” penjaga warung bertanya lagi.
“Iya.” Aditia berbohong, angkotnya bukan dengan nomor trayek tersebut. Tapi untuk membaut abang warung percaya, dia terpaksa bohong.
Setelah selesai berbincang dengan penjaga warung pinggir jalan, Aditia lalu bergegas menemui Ganding dan Jarni yang sudah dihubungi, mereka bertemu lagi di mobil.
Tidak lama kemudian, Hartino dan Alka datang, tentu bersama ruh Pak Roni.
Mereka sudah berada di tempat yang lebih sepi, mereka harus membicarakannya secara rahasia.
“Jadi, apa yang lu temuin, Dit?” Hartino bertanya, Alka hanya diam saja.
__ADS_1
“Coba kalian lihat, aku udah kirim semua di chat fotonya Pak Roni dan istirnya.” Aditia mengambil kesimpulan, seorang wanita yang bertemu dengan Pak Roni di jalan dan akhirnya mereka pulang bersama adalah istrinya.
“Loh kok, ini kan Bapak.” Hartino langsung menunjukan foto itu pada ruh Pak Roni.”
“I-iya, ini saya.”
“Bapak punya kembaran?” Pemikiran yang sama dengan Aditia dilontarkan oleh Hartino.
“Tidak tahu.” Jawab Pak Roni.
“Nggak mungkin dia saudara kembarnya, masa saudara kembar namanya di samain, nggak mungkin!” Aditia berkata.
“Kak, jadi ini gimana, kita mesti apa?” Ganding bingung.
“Bapak kenal sama wanita ini?” Alka bertanya, Hartino kembali menunjukkan foto di telepon genggamnya.
Pak Roni melihat fotonya lebih seksama dan ….
“Dia … sekertaris saya.”
“Hah!” Mereka kaget.
“Nggak mungkin Pak, masa sekertaris Bapak tinggal serumah, trus liat deh, pakaiannya terlalu kasual kalau dia lagi berkunjung dalam tujuan kerjaan saat temuin Pak Roni tadi di jalan, pakaian rumahan gitu. Itu pasti istri Bapak.” Aditia ngotot.
“Ada lingkaran hitam pada tubuh Pak Roni di foto ini.” Alka akhirnya mulai mengutarakan pendapatnya.
“Lalu?” Aditia bertanya.
“Ini masih kecurigaanku, tentang kemungkinan kedua, tapi kalau ini benar, akan sulit mengembalikan tubuhnya.” Alka menatap Pak Roni dengan iba.
“Kenapa?” Aditia kembali bertanya.
“Banyak orang yang tidak selamat begitu kembali ke tubuhnya, karena tubuhnya dirampas paksa, ini masih kecurigaanku, semoga aku salah, tapi aku harus bertemu dengannya dulu untuk memastikan, malam ini, aku dan Hartino akan mengintai rumahnya.”
“Tidak, jangan Hartino, denganku saja.” Aditia tahu, bahwa Hartino tidak memiliki keris yang bisa membantu Alka berkelahi, kemampuan berkelahi Hartino juga kurang, makanya Aditia meminta Alka mengajaknya, bukan Hartino, akan bahaya kalau Hartino yang ikut, dia tidak bisa melindungi Alka. Tapi, Aditia lupa, Alka adalah wanita istimewa.
Alka menatap Aditia saat dia minta ikut, lalu mengangguk pasrah, Alka tahu, kalau dilarang, Aditia akan tetap ikut.
Alka tahu, bahwa jauh di atas kekecewaan ditolak cinta, kekhawatirannya lebih besar. Itu karena rasa sayang Aditia terhadap Alka lebih besar.
__________________________________
Catatan Penulis :
Ada yang bisa nebak, gimana alur selanjutnya?
Ini berdasarkan kisah nyata ya, yang terjadi di dekat Author, jawabannya next part ya, jangan lupa vote.
Terima Kasih.
__ADS_1