
Alisha mundur setelah berpakaian lengkap, dia menatap Hartino sambil berjalan ke arah pintu, dia tidak bisa tahu yang mana suaminya.
Dia membuka pintu dan berlari keluar, sementara Hartino yang berada di jendela berlari masuk ke dalam rumah hendak ke kamar utama, Alisha dan Hartino bertemu di ruang tengah.
Mereka hampir saja tabrakan. Hartino mencoba menggapai Alisha, tapi Alisha menepisnya, dia tidak percaya bahwa Hartino yang dihadapannya adalah Haritno yang asli, dia menatapnya dengan seksama, apakah ini benar suaminya.
Mendengar suara teriakan Hartino memanggil Alisha barusan, kawanan datang dan semua sudah berkumpul di ruang tamu.
Alisha tetap waspada pada Hartino yang ada sekarang.
“Di kamar!” Alisha berteriak pada kawanan, yang lain tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka terbiasa langsung bertindak tanpa bertanya, seperti ada koneksi batin, sehingga Aditia dan Ganding masuk ke kamar, kosong … tidak ada siapa-siapa di sana.
“Kosong Sha!” Aditia berteriak dari dalam.
Alisha mendengar itu langsung lunglai, Hartino mendekati Alisha dan memeluknya, Alisha membiarkannya untuk beberapa saat, tapi dia menepisnya lagi, masih ada rasa khawatir yang menyelimuti Alisha.
“Kenapa?” Alka menghampiri Alisha, meminta Hartino mundur dan menarik Alisha untuk berdiri lalu duduk di sofa.
Yang lain ikut duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu, mereka mirip … tidak bukan mirip! Itu memang Hartino!” Alisha berteriak pada Alka.
“Ada apa Har?” Aditia bertanya. Hartino masih terlihat khawatir pada istrinya.
“Alisha bilang mau ke toilet untuk buang air kecil, lalu dia ke toilet sendirian, aku melanjutkan pencarian kita, tapi entah kenapa aku merasa tidak enak hati, lalu aku hendak menyusul Alisha, tapi belum juga sampai kamar, dari jendela kamar aku melihat … diriku sendiri sedang … sedang ….”
“Dia menyentuhku, dia bahkan membuka bajuku, aku tidak tahu kalau itu bukan kau, itu kau karena bau tubuh kalian sama, cara kau menghembuskan nafas saat sedang bergairah, caramu menatapku, caramu menyentuhku, setiap tahapan … semua sama! Aku tidak tahu kalau itu bukan kau, aku benar-benar tidak tahu.” Alisha menangis, bagaimana tidak, suaminya melihat dia sedang bercumbu dengan orang lain, yang amat sangat mirip dengannya, sayang karena panik mereka tidak bisa melihat sosok itu saat menghilang.
“Brengsek!” Aditia kesal karena kawanan baru saja dilecehkan, walau belum terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi itu membuat Alisha trauma, sangat keterlaluan.
“Kau tidak merakan energi apapun Har?” Alka bertanya.
“Aku merasakan energi kuat, sangat kuat ketika tadi, tapi itu adalah energiku, aku merasakan energiku sendiri, Kak!”
“Bagaimana hal ini mungkin!” Aditia makin kesal.
“Kalau begitu kalian jangan tidur bersama dulu, perempuan tidur bersama prempuan dan lelaki tidur bersama lelaki, kita harus waspada, kamar utama itu juga sedikit aneh, karena dari sana terjadi, aku akan berjaga malam ini di sana, sendirian.” Aditia memerintah, yang lain paham, karena Aditia ingin bertemu dengan sosok itu, sosok yang bisa menyerupai dengan sempurna.
Semua akhirnya tidur di kamar yang telah ditetapkan, Aditia akan tidur di kamar utama sendirian.
Dia membuka jendela, membuka pintu kamar mandi dan duduk di tengah ruangan dengan bersila, dia menunggu waktu, siapapun yang ada di sini pasti akan datang, cepat atau lambat.
Satu jam berlalu, tapi tidak ada yang datang juga, Aditia akhirnya terlelap, dia tertidur dalam keadaan duduk bersila.
Dalam tidur, dia merasa ada yang membangunkannya.
Seorang anak kecil yang sangat cantik, anak itu membangunkan Aditia, entah kenapa dia mengikuti anak kecil itu, anak itu memakai pakaian yang berbeda dari anak-anak di jamannya, anak itu hanya memakai kemben kain jarik selutut, rambutnya melewati bahu, umurnya mungkin hanya sekitar 6 atau 7 tahun, dia menarik Aditia, saat Aditia menggenggam tangannya, seketika ruangan kamar utama itu berubah menjadi taman, anak itu menarik Aditia untuk berlari dan bermain di taman bersamanya.
“Kakak, kita main ya,” ucap anak itu.
“Iya.” Aditia menjawab, entah kenapa, Aditia merasa bahwa dia memang kakaknya.
“Anggih kita pulang.” Seorang lelaki paruh baya berkata, dia memanggil anak kecil itu, sementra anak itu tetap memegang tangan Aditia dan menariknya ikut pulang.
Aditia mengikuti tanpa paksaan, dia tidak ingat bahwa dia adalah Aditia, yang dia ingat sedang bermain dengan adiknya.
“Makan dulu.” Ayahnya berkata, dia meminta anaknya makan, hanya tersedia 1 piring lengkap nasi dengan lauknya di sana.
“Makan berdua ya.” Anak yang bernama Anggih itu berkata, dia menggeser piringnya agar Aditia bisa makan bersama dengannya, anehnya, lelaki itu seperti tidak sadar akan kehadiran Aditia.
Aditia makan bersama adik Anggih dengan lahap sambil tertawa-tawa bercanda, Aditia sayang sekali pada adiknya ini.
__ADS_1
“Kalau sudah selesai, taruh piringnya di belakang ya.” Ayahnya berkata, sementara dia masih makan.
Selesai makan, Anggih mengajak Aditia menaruh piringnya di dapur, Aditia ikut, saat mereka berdua berjalan sambil masih berpegangan tangan, mereka berjalan melewati suatu ruangan, saat sedang melewati ruangan yang penuh dengan alat music khas Bali itu, ada seorang perempuan berambut panjang, rambut itu diikat konde pada bagian atas tapi menyisakan rambut bagian bawahnya, seperti ketika dikuncir kuda, hanya saja bagian atasnya dikonde, dengan bulatan konde yang tidak begitu besar.
Wanita itu sedang menari, dia menggunakan baju penari khas Bali, dengan warna merah hiasan emas. Wanita itu menari dengan sangat gemulai.
“Ibu sedang latihan menari, kamu jangan berisik ya.” Anak itu berkata sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.
“Iya.” Aditia paham, entah kanapa ingatan bahwa dia ibu mereka terpatri ke dalam kepalanya.
Mereka melanjutkan jalan ke dapur untuk menaruh piring.
“Dek, ibu tidak makan? kenapa menari terus?” Aditia bertanya, hanya saja dia merasa kalau ibunya menari sejak pagi, itu yang ada dalam ingatan Aditia.
“Kan ibu memang Penari, jadinya nari terus.”
“Ibu nggak makan?”
“Makan kok, kita ke kamar yuk.” Adiknya terus menggenggam tangan Aditia tanpa melepas, mereka akhirnya berjalan kembali melewati ruang latihan tari itu untuk menuju kamar.
Ibunya terdiam, hanya melihat ke arah bawah, berdiri tegak, menunduk. Aditia Menghentikan langkahnya, karena itu adik juga berhenti. Dia dan Aditia menatap ibunya, aneh, ibunya hanya diam saja tidak bergerak.
“Ibu ....” Adik memanggil, tapi ibu diam, tetap bergeming, tegak menatap ke bawah.
Adik hendak mendekati ibu, tapi Aditia menahan Adik, dia menarik adik semakin mendekat padanya.
Insting Aditia mengatakan bahwa, dia harus melindungi adik, ibu sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa detik kemudian, Aditia dan adik melihat kejadian yang sangat mengerikan.
Ibu jatuh, lalu tubuhnya, tubuh itu ditarik!!!
Adik berteriak histeris, begitu juga Aditia, dia merasa telah kehilangan ibu mereka.
Lalu gelap.
Aditia terbangun, dia merasakan tangannya digenggam, ternyata adik masih menggenggamnya.
“Main yuk.” Adik mengajak bermain lagi.
“Ayuk.” Aditia seperti lupa kejadian sebelumnya, dia ikut adik bermain.
Mereka berlarian di taman dekat rumah, ada banyak orang di sana, bermain bersama, ada ibu dan ayah dengan anak, ada hanya anak dengan ibu dan juga hanya anak dengan ayah, taman yang sangat ramai dan pemandangan sungguh indah, semua orang bahagia, termasuk Aditia dan adik.
“Anggih! Pulang.” Ayah kembali memanggil, Anggih menarik Aditia yang baru saja Aditia sadari bahwa adik tidak melepas pegangannya sejak tadi, sejak kemarin, sejak kapan? Aditia mulai merasa ada yang aneh.
“Ayah suruh pulang, ayo kita pulang.” Anggih terlihat sedih harus pulang, Aditia tersenyum dan tetap berjalan bersama adiknya untuk pulang.
Begitu sampai rumah, adik menghampiri ayah dan bertanya, “Mana ibu?”
Ayah diam, tidak menjawab.
“Mana Ibu? Adik mau makan sama ibu, dari kemarin belum makan sama ibu.” Aditia yang berada di sana juga dan kehadirannya masih terasa tak disadari oleh ayah, sementara tangannya masih menggenggam adik, bingung harus melakukan apa.
“Dik, ibu ....”
“Ibu kemana ayah? Mau sama ibu, mau makan sama ibu.” Adik merengek, Aditia mencoba untuk menenangkannya juga, tapi entah kenapa sepertinya ayah juga tak mendengar perkataan Aditia, ayah berbicara padahal Aditia sedang ikut menenangkan, sehingga suara mereka saling tumpang tindih.
“Ibu mana ayah?” Adik bertanya terus, ayah memeluk adik dengan erat dan berkata, “ibu diambil sama ....”
...
__ADS_1
“Dit, kamu kenapa? pucat sekali.” Alka bertanya, mereka sedang sarapan, makanan diantarkan sejak tadi, kawanan mandi dulu dan setelah semua bersiap, mereka berkumpul di meja makan.
“Entahlah, aku tidak enak badan.” Aditia merasa tubuhnya lemah.
“Alisha, kau masih tidak enak hati?” Alka bertanya, Alisha hanya mengangguk, masih tidak nyaman berada di samping suaminya.
Hartino paham dan tidak memaksakan untuk mendekat, padahal dia ingin sekali memeluk istrinya itu.
“Sha, kau mau berganti posisi dengan Jarni?” Alka menawarkan jalan tengah agar Alisha tidak tertekan berada di sini sampai mereka mendapatkan jawaban.
“Tapi pagar ghaib itu hanya Jarni yang bisa jaga.”
“Pagar ghaib itu akan aman, kau ada di dalamnya, aman buatmu dan Gea.”
“Bagaimana kalau sosok itu datang lagi dan kalian tidak ada, aku dan Gea bisa saja masuk dalam perangkapnya.” Alisha merasa tidak berguna.
“Kalau begitu tetap di sini kalau kamu takut, aku akan menjagamu, aku takkan lagi meninggalkanmu.” Hartino berkata dengan lembut.
“Justru aku takut padamu.” Alisha menunduk saat mengatakannya.
“Setan brengsek! Dimana lu! biar gue habisin lu!” Hartino sudah tak tahan lagi, melihat istrinya takut padanya.
Aditia mendekati Hartino dan menariknya ke ruang tamu, padahal sarapan mereka belum selesai.
“Kau di dekatku saja ya.” Alka mendekati Alisha dan membiarkan Alisha berpegangan padanya, Alisha memegang lengan Alka dan membenamkan wajahnya di lengan itu, Alisha menangis karena bingung harus apa.
“Ini bukan salahmu ataupun Hartino, aku tahu kau takut kalau sosok itu akan melecehkanmu lagi, tenang, kali ini dia takkan bisa menipu kita, maaf aku dan Aditia tidak bisa menjagamu.”
“Ini juga bukan salah kalian, aku saja yang bodoh, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengenali suamiku sendiri!”
“Siapa yang akan mengenali suamimu, sedang Hartino saja bingung, masa dia merasakan energinya sendiri, dia aja bingung kenapa dirinya bisa jadi dua. Teori amoeba sepertinya masuk akal dalam kasus ini.” Alisha tertawa, mendengar perkataan Alka membuatnya tergelitik, apakah benar bahwa setan yang mereka hadapi kali ini adalah setan amuba? Dia bisa membelah diri menjadi sosok yang dia inginkan, alih-alih menyerupai, dia memilih membelah diri aneh sekali, Alisha tertawa lepas sekali.
“Selucu itukah Sha?” Ganding tiba-tiba bertanya melihat perubahan emosi Alisha yang drastis, dari menangis menjadi tertawa terbahak-bahak.
“Masa Alka bilang, setannya amoeba bisa membelah diri, Nding, setannya ngomong gini kali ya, ah daripada menyerupai, mening aku membelah diri saja, sama persis lagi!” Alisha tertawa, Ganding tiba-tiba menyemburkan air yang sedang dia minum, bukan karena dia ingin tertawa hingga tersedak, tapi dia baru terpikir sesuatu.
“Adit, kumpul sini!” Ganding berteriak meminta semua kembali fokus dan berkumpul di meja maakan lagi.
“Ada apa?” Aditia bertanya setelah mereka semua sudah berkumpul di meja makan, termasuk Hartino yang duduk jauh di dari istrinya.
“Teori amuba itu apakah kalian tidak sadari? Maksudku, mungkin saja bahwa memang tidak menyerupai, tapi membelah diri, teori amoeba!”
“Nggak ngerti.” Semua orang setuju dengan Aditia, mereka tidak paham dengan yang dikatakan Ganding, si jenius memang kadang pemikirannya berbeda.
“Ada penyakit bernama Amebiasis, penyakit ini disebabkan oleh parasit bernama amoeba Entamoeba histolytica. Larva parasit penyebab amebiasis akan tidak aktif apabila berada di pupuk, tanah, air, maupun feses pengidap. Meski begitu, saat memasuki tubuh manusia, larva akan bersifat aktif atau trofozoit. Larva aktif ini akan mudah berkembang biak di saluran pencernaan, lalu bergerak dan akhirnya menetap di dinding organ usus besar, lalu ....”
“Nding, bisa langsung ke inti nggak? itu penjelasanmu terlalu tekhnis, kita tidak sedang sidang tesis atau sejenisnya!” Aditia protes, karena Ganding tidak pada intinya.
“Sorry, maksudku bagaimana jika ....”
Ganding menjelaskan semuanya dengan hati-hati dan pelan-pelan agar kawanan mengerti, karena skema ini mungkin gila, tapi kalau benar, mereka sudah tahu akarnya tinggal cari alat yang pas untuk mencabut akar masalah itu.
“Kalau memang benar seperti yang kau katakan Nding, ini gila, berarti siapapun itu, benar-benar gila! dia harus segera kita tangkap, entah jin atau ruh yang tersesat, kalau bisa sekalian kita musnahkan!” Hartino masih kesal karena istrinya dibuat jadi ketakutan begitu.
“Kita harus mengujinya Har, menemukan tempat yang memang dia jadikan lubang, hingga dia bisa keluar dari sana.” Ganding berkata dengan khawatir.
“Pasti di vila ini Nding.” Aditia dan yang lain setuju, pasti lubang itu ada di sekitar vila, karena vila itulah tempat musibah itu terjadi.
“Mari kita mulai pencarian.” Mereka semua sepakat untuk mencari lubang yang Ganding Maksud.
Apakah kalian tahu apa yang dimaksud Ganding? Apa kalian ingin tahu? Kuberitahu atau tidak ya?
__ADS_1