Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 131 : Saba Alkamah 16


__ADS_3

Dalam mitologi Sunda kuno, ada seorang Dewi bernama Nyi Pohaci Sanghyang Sri, dia adalah seorang Dewi yang lahir dari air liur Dewa Ular yang bernama Anta Boga, air liur Dewa Ular itu berubah menjadi mustika berbentuk telur dengan cangkang yang indah, telur itu akhirnya dihadiahkan kepada Batara Guru sebagai permohonan maaf tidak bisa membantu membangun istana baru di kahyangan. Anta ular Dewa itu tidak bisa membantu karena dia tidak memiliki tangan dan kaki untuk turut serta melakukan pembangungan, makanya dia memberikan hadiah mustika telur dengan cangkang sawit indah itu.


Ketika mustikanya diberikan, sang Batara Guru meminta ular itu mengerami mustika itu setelah mengatahuinya itu adalah mustika ajaib.


Anta ular Dewa itu setuju, dia mengeraminya dengan waktu yang cukup lama, sampai akhirnya menetas, begitu menetas, ular itu ternyata menelurkan seorang bayi yang sangat cantik, lalu bayi cantik itu akhirnya diangkat anak oleh Batara Guru.


Bayi itu diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri, bayi itu tumbuh menjadi bayi yang sangat cantik, cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi.


Karena itu, Batara Guru perlahan pun ikut terpikat karena kecantikannya tersebut, bahkan mulai berhasrat untuk mempersuntingnya.


Hal ini tentu membuat gempar kahyangan, ini bisa menjadi skandal yang bisa menghancurkan keharmonisan dan keselarasan hukum di sana.


Maka beberapa Dewa dan Dewi akhirnya membuat rencana, dalam rangka mempertahankan kesucian Nyi Pohaci Sanghyang Sri, akhirnya dibuatlah kesepakatan diantara semua Dewa dan Dewi kecuali Batara Guru, kesepakatan itu adalah untuk membunuh sang Dewi cantik itu.


Para dewa mengumpulkan segala macam racun berbisa paling mematikan dan segera membubuhkannya pada minuman sang putri. Nyi Pohaci segera mati keracunan, para dewa pun panik dan ketakutan karena telah melakukan dosa besar membunuh gadis suci tak berdosa. Segera jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi.


Lenyapnya Nyi Pohaci Sanghyang Sri dari kahyangan membuat Batara Guru, Anta, dan segenap dewata pun berduka. Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi sang dewi, maka dari dalam kuburannya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia.


Dewi tersebut lalu dikenal dengan anama Dewi Sri, Dewi padi, mitologi Sunda mengenalnya sebagai Nyi Pohaci.


(Sumber Wikipedia)



Selama beberapa hari, begitu banyak yang diperhatikan oleh ibu angkatnya Saba Alkamah, awalnya mereka yakin kalau penyebab tanah mereka mulai subur adalah, karena kasih sayang yang mereka berikan, tapi ini tentu menjadi sulit jika benar, orang-orang akan merasa iri dan bisa saja ingin juga mengasuh Alka.


“Pak, ini mungkin nggak masuk akal, tapi kemarin aku ke pasar, lalu lagi ada bazar buku dari pemerintah, itu loh, mereka ingin anak-anak kita mulai sekolah rakyat, jadi mereka adain bazar buku di sana, nggak sengaja, aku dengar seseorang membacakan dongeng anak-anak tentang Dewi Sri, Dewi Padi, dia itu berasal dari air liur ular.”


“Ya, terus kok tumben pagi-pagi gini bahas dongen, Alka juga belum ngerti kan soal itu, dongeng-dongeng gitu. Bapak juga nggak suka dongeng gitu.”


“Pak, aku kok ngerasa dongeng itu kayak memberi aku sebuah pentunjuk.”


“Maksudnya?”


“Gini Loh, selama ini yang nanam tanaman itu kan aku, kamu nggak pernah tanam, karena masih ahanya sebatas sayuran dan selalu berhasil, maksudku, gimana kalau kita coba kamu yang tanam sayurannya, apakah bisa berhasil?”


“Hah? masa gitu?”


“Dicoba aja Pak, kalau nggak berhasil, berarti benar, hanya aku yang bisa membuat tanah itu subur.”


“Kalau begitu, ayo kita coba.” Suaminya lalu meminta benih kangkung untuk ditanam.


Mereka lalu menunggu satu minggu setalah menanamnya, seperti yang istrinya katakan, tidak ada yang terjadi, tidak ada yang tumbuh, seharusnya sudah mulai tumbuh kangkung muda, tapi tidak ada yang terjadi, ketika diperiksa, benih itu menjadi kering, seperti sebelumnya.


“Benar kan kataku Pak, berarti memang hanya aku yang bisa menanam dan berhasil.”


“Tapi Bu, apa yang menjadi penyebabnya, aku tidak mau memberi tahu Juragan bahwa kau yang hanya bisa menanamnya, nanti dia memaksamu untuk bekerja di ladangnya, aku tidak rela.”


“Ini satu lagi hal yang mungkin akan membautmu menganggap aku gila.”


“Apa lagi ini Bu?”


“Sini, kau coba dulu, sekarang waktu makan siang Alka, kau suapi dulu dia makan.”


“Kok aku, kan, biasanya kau yang menyuapi Alka.”


“Sudah cepat, kau harus coba cara ini.”


“Yasudah, ayo.” Seperti seminggu sebelumnya, dia mengikuti apa yang istrinya suruh.


Dia menyuapi Alka yang makannya lahap sekali, tidak sulit menyuapi anak cantik itu, pada jaman itu, makan selalu disuapi dengan tangan, hanay orang-orang kaya saja yang makan sudah dengan sendok.


Setelah selesai menyuapinya, lalu istrinya membersihkan Alka lalu mengajak lagi suaminya untuk menanam kembali.


“Aku lapar, aku makan dulu.”


“Jangan! jangan kau cuci juga tanganmu.”


“Kok gitu?”


“Coba dulu, baru aku jelaskan.”


Suaminya kembali menuruti dan dia lalu menanam kangkung di pekarangan belakang rumah mereka.


“Kenapa kau suruh aku menanam lagi? aku belum makan dan kelaparan.”


“Kau tahu, aku pikir ini alasannya tanah kita subur lagi.”


“Apa itu?” Suaminya bersemangat, padahal tadi dia lemas karena lapar.


“Air liur.”


“Air liur? Maksudnya?”


“Dari dongeng tersebut, ular Anta itu mengeluarkan air liur lalu menjadi mustika, mustika itulah terlahir Dewi Sri, Dewi padi, dewi kesuburan, jadi air liur bisa saja menjadi mustika juga pada bayi ini, apalagi dia anak ajaib.”


“Kau yakin?”


“Ya, aku yakin.”


“Masuk akal sih, tapi kita buktikan satu minggu nanti, kalau sudah tumbuh kangkung muda, baru terbukti.”


“Ternyata benar kata orang-orang di pasar ya Pak, buku bisa membuat kita jadi lebih pintar.”


“Tidak juga, kau tidak perlu belajar membaca ya, itu tidak terlalu bagus, yang penting saat ini menemukan cara supaya kita tahu apa yang membuat tanah kita subur.”


“Iya Pak.”


Tiga hari kemudian, suaminya sangat terkejut begitu melihat pekarangan, kangkung yang dia tanam sudah tumbuh, walau baru seperti kecambah, tapi benar-benar tumbuh, tidak kering seperti sebelumnya.


“Bu, Bu! Bu! Kemari!” Suaminya kegirangan, dia berteriak memanggil istrinya yang sedang mengayun Alka.


“Kenapa Pak?” Istrinya berlari menghampiri suaminya dengan khawatir.


“Itu lihat kangkungnya, sudah mulai tumbuh! kau benar Bu, itu karena air liur Alka.”


“Wah, benar ya Pak, berarti kita harus beritahu juragan, lalu kita bisa meminjam benih padi dan menanam di pekarangan kita.”


“Tidak, jangan! aku tidak mau dia tahu soal air liur Alka, kita tidak boleh memberitahu mereka tentang air liur itu, karena Alka bisa dimanfaatkan atau bahkan terluka.”


“Lalu bagaimana Pak?”


“Kita ke rumah Pak Kepala desa saja dulu, kita suruh dia suapi Alka, lalu setelahnya kita suruh dia bertanam di pekarangannya, kita harus dekati pemimpin desa ini dulu, tapi jangan pernah ada yang boleh tahu bahwa air liur adalah alasannya. Aku tidak ingin Alka terluka dan dipaksa mengeluarkan air liur.”


“Iya Pak, maaf aku tidak berpikir panjang.”


“Ya, ayo kita ke rumak Pak Kepala Desa.”


Ayah dan ibu angkat Alka datang ke rumah Pak Kepala Desa di sore hari dan kebetulan ada. Begitu disuruh masuk, mereka langsung menceritakan semua yang terjadi.


“Anak ini membawa keberuntungan bagi kami Pak Kades,” suaminya berkata.


“Jadi benar, tanah kalian subur lagi?”


“Benar, ini buktinya, ini wortel dari pekarangan rumah kami, wortel ini rasanya manis dan sangat segar, karena baru saja dipetik.”


“Kalian yakin dengan apa yang kalian ceritakan?”


“Ya Pak.”

__ADS_1


“Jadi ini semua karena kalian menyuapi Alka makan, makanya tanah kalian menjadi subur?”


“Iya Pak, apakah Bapak mau membuktikannya?”


“Tapi, saya pikir ini kurang masuk akal ya, Pak, Bu, maksudnya ini terlalu mengada-ngada.”


“Tapi Bapak tahu kan, bahwa tanah kita itu tandus dan kering, lalu ini apa?” Suaminya itu menunjuk pada wortel yang mereka bawa.


“Apa kalian sedang tidak berkhayal?”


“Tidak Pak, makanya, buktikan. Tidak akan ada ruginya ”


“Baiklah, tapi saya tidak mau ada yang tahu soal ini, saya tidak mau disangka gila.”


“Ya Pak Kades, ini, kami bawa kue dari warung, coba suapi Alka dengan tangan Bapak.”


Lalu Pak Kades menyuapi Alka kue yang dibawa ayah dan ibu angkatnya itu.


“Pak, setelah ini jangan cuci tangan dulu ya, Bapak harus langsung menanam, coba yang cepat tumbuh saja, coba benih kangkung ini, hanya butuh waktu seminggu untuk melihat dia tumbuh atau tidak.”


“Ya, mari kita tanam di halaman depan, di sana tanah yang memagn sengaja belum aku apa-apakan, itu rencananya untuk kolam ikan, tapi belum sempat aku buat karena sibuk.”


“Iya Pak,” ayah angkat Alka berkata.


Pak Kades mulai menanam kangkung di tanah kecil yang dia sisakan untuk kolam ikan itu, masih ada sedikit tanah di sana.


Setelah selesai Pak Kades lalu menitipkan uang untuk membeli keperluan Alka, itu hanya wujud simpatinya pada anak itu saja.


Mereka pulang dan sedikit berdebar, karena ini adalah pertarungan yang cukup menakutkan, karena begitu Pak Kades bisa membuktikannya, maka Alka akan semakin dikenal, dengan begitu mereka akan mendapatkan banyak untung, tapi bukan itu yang mereka mau, mereka hanya ingin hidup layak bersama anak angkatnya, itu saja.


Langkah ini mereka lakukan agar Alka bisa selamat dari fitnah yang mungkin dilakukan oleh juragan.


Seminggu berlalu, tapi tidak ada kabar dari Pak Kades, suaminya sedikit bingung, apakah kangkung itu tidak tumbuh, sementara kangkung di rumahnya semakin tinggi, dia dan istrinya takut, karena di pasar mulai terdengar gosip.


“Jadi aku mendengar bahwa juragan bilang kalau Alka membuat tanah kita subur, hanya kita yang tanahnya subur, juragan bilang, seharusnya berkah itu juga untuk semua warga desa yang membantu menolong semua kebutuhan Alka, bukan hanya kita.”


“Orang-orang di pasar bagaimana? percaya?”


“Kebanyakan menganggap itu lelucon, beberapa ada yang percaya.”


“Tapi Pak Kades belum juga memanggil kita Bu.”


“Apa kita datangi saja rumah Pak Kades?”


“Jangan, nanti disangkanya kita terlalu ngotot, justru itu akan membuat Pak Kades curiga.”


“Assalamualaikum!” seseorang memanggil dari luar.


“Waalaikum salam.” Ibu angkatnya Alka membukakan pintu.


“Ada apa ya?”


“ Saya pelayan di rumah Pak Kades, Bapak sama Ibu disuruh ke rumah sama anaknya ya.”


Suami istri itu terlihat sumringah, mereka lalu ikut pelayan itu untuk ke rumah Pak Kades.


“Lihat itu, benar kata kalian, sudah mulai tumbuh kangkung, hal yang tidak pernah aku lihat sama sekali selama bertahun-tahun di desa ini.


“Kan, aku tidak bohong Pak.”


“Ya, kita harus mengusahan semua tanah di desa ini kembali subur.”


“Maaf Pak, tapi saya punya syarat untuk itu.”


“Pak Kades tersenyum.”


“Ini soal uang?”


“Apa itu?”


“Kami ingin semua yang ingin tanahnya di buat subur, harus meminta persetujuan kami untuk menyuapi Alka, kalau sampai ada keributan karena tidak sabar, saya berhak menolak untuk membuat tanahnya menjadi subur.”


“Baik itu mudah.”


“Saya juga butuh dikawal oleh beberapa centeng untuk melindungi Alka, karena kalau Alka celaka bisa-bisa impian kita membuat tanah subur kembali itu tidak mungkin.” Tambah ayahnya Alka.


“Baik itu juga bisa diusahakan.”


“Terakhir, setiap kali orang yang ingin tanahnya subur dengan cara menyuapi Alka, maka harus membagi kami hasil panennya sebanyak 1 karung setiap bulannya.”


“Tadi  katanya tidak mau dijual, ternyata Bapak masih minta balasan juga.” Pak Kades meledek.


“Untuk Alka dan kami makan Pak.” Ayahnya Alka membuat alasan, padahal dia juga berharap bisa mendapatkan manfaat tapi tidak berarti membuat anaknya kesakitan.


“Yasudah, tiga permintaan itu cukup?”


“Cukup Pak, minta bantuan ya Pak Kades, untuk menjaga kami kedepannya.”


“Ya, selama Alka memang mampu membuat tanah di desa ini subur.”


“Baiklah Pak Kades, kami pamit pulang.”


Setelah itu semua Pak Kades membuat wacana untuk mengembangkan desa agar menjadi desa subur, dia membagi setiap rumah jadwal menyuapi Alka, tidak diperbolehkan siapapun menyelak antrian, semua diperbolehkan untuk menyuapi Alka tapi harus tenang dan menunggu antrian.


Juragan yang mendengar itu marah bukan main, dia merasa seharusnya dia yang menguasai Alka dan juga orang tua angkatnya itu, lalu dia bergegas ke rumah orang tua angkat Alka.


“Apa-apan kalian, kenapa kalian mendatangi Pak Kades bukannya padaku? kalian mau menjadi musuhku?”


Juragan itu langsung marah-marah begitu sampai rumah orang tua angkat Alka.


“Juragan, anda tidak berhak marah! anda yang memutuskan untuk melepaskan Alka, anda juga menyebar rumor di pasar tentan kami dan berusaha membuat semua orang benci kami, karena kami miskin anda pikir bisa menindas kami?” ayah angkatnya Alka balik marah.


“Kau! kau berani ya berteriak padaku?” Juragan itu berkata.


“Ya, tentu saja, kalau kau mencelakai kami, maka musuh anda adalah semua warga kampung, coba saja!” Ayahnya Alka masih terus melawan.


Saat juragan hendak memaksa masuk ke rumah untuk mengambil paksa Alka, tiba-tiba beberapa orang berperawakan tinggi besar menahannya dari luar, tepat waktu, centeng yagn diutus Pak Kades datang, beruntung, juragan adalah saingan Pak Kades dulu saat akan memimpin, sayang juragan kalah dalam pemilihan kepala desa, makanya sampai sekarang mereka masih bermusuhan, orang kaya memang suka bermusuhan jika bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.


“Lepaskan saya!” juragan itu berteriak.


“Lepaskan dia.” Ternyata Pak Kades ikut bersama centeng-centeng itu.


“Kau jangan ikut campur, ini urusan kami, kau tidak ada sangkut pautnya.”


“Perhatikan cara bicaramu, aku adalah pemimpin desa ini, jika aku ingin, kau bisa saja aku usir, selama ini aku diam saat kau membicarakan aku dan juga semua musuh-musuhmu di pasar karena kau hanya berbicara, cuma bermulut besar saja, tapi jika kau sudah berniat jahat pada seorang anak kecil, maka aku bisa saja memanggil Polisi untuk menanganimu.” Pak Kades yang katanya sekolah tinggi itu berkata dengan sangat berwibawa.


Juragan merasa telah kalah, dia terpaksa mundur, walau dalam hati dia sulit untuk menyerah, beruntung keluarga Alka akhirnya mendatangi Pak Kades, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Alka jika jugaran yang menguasainya, bisa jadi Alka akan diambil secara paksa atau lebih jahat dari itu.


Makanya jangan menyerah ketika ada ujian, bisa jadi itu cara Tuhan menyelamatkanmu dari bencana, seperti orang tua angkat Alka ini, mereka akhirnya terlepas dari belenggu juragan karena tidak mampu menemukan apa alasan tanah itu menjadi subur, lalu kemudian dikasih jalan keluar yang jauh lebih baik.


Hari pertama mulai prosesi menyuapi, prosesi ini dibuat Kades sangat terprogram, semua warga sangat amat senang karena dapat giliran secara adil, nama Kades jadi popular karena kearifannya ini, tidak heran, semua orang berpikir, bahwa pendidikan tinggi sungguh membuat orang jadi bijak dan mampu mengatur desa ini dengan baik.


Alka bahagia, karena dia diperbolehkan makan banyak dan bertemu banyak orang, pesan dari orang tua angkat Alka adalah, jangna cuci tangan kalian saat pulang nanti dan mulai menanam, jangan cuci sampai kalian selesai menanam, jika bidangnya terlalu besar, diperbolehkan untuk datang kembali tapi mengulang jadwal.


Semua berjalan lancer, kecuali juragan, dia tidak sudi datang untuk meminta menyuapi Alka, tapi dia masih punya cara lain, dia menyuruh pelayannya datang, pelayan yang rumahnya di desa itu juga, karena beberapa pelayannya datang dari desa lain.


Pelayan itu menyuapi Alka lalu menanam di lahan juragan yang berhektar-hektar itu, tentu menyiksa sekali, sampai akhirnya beberapa pelayan memilih mengundurkan diri karena kelelahan, tidak dibiarkan istirahat sapai selesai target menanam dalam hari itu dan besoknya lagi menanam kembali karena tangannya tetap tidak dicuci berhari-hari, dia makan disuapi oleh pelayan lain.


Kepala Desa tidak bisa menolong karena dia masih pegawai juragan, tapi begitu satu-persatu pelayan itu keluar kerja Pak Kades, kembali menjadwalkan mereka untuk menyuapi Alka dan menjadi mandiri dengan bercocok tanam sendiri.

__ADS_1


Orang tua Alka juga sangat berkelimpahan bahan pangan, beberapa orang bahkan member hasil panen mereka bukan hanya satu karung sebulan, tapi beberapa karung saking panennya berlimpah.


Desa yang dulunya terkenal miskin itu, perlahan bangkit, hanya karena air liur seorang anak bayi.


Pasar yng tadinya begitu sepi menjadi ramai, ramai karena bahan pangan yang dijual berlimpah dengan kualitas terbaik dan harga murah.


Bahkan bukan hanya desa sebelah saja yang mencari bahan pangan di pasar itu, tapi dari kota-kota lain.


Pasar menjadi primadona akan begitu banyaknya bahan pangan yang tersedia dan juga beragam, bahkan ada jenis-jenis tanaman yang belum pernah mereka temui di pasar lain, karena banyak hasil panen yang merupakan perkawinan silang yang dikreatifkan oleh penduduk desa.


Kepala Desa sangat puas dengan perkembangan desa, dia bahkan di undang ke kota oleh pemerintah pusat untuk dijadikan pembicara karena berhasil membuat desanya menjadi primadona.


Tentu dia tidak akan menceritakan apa dibalik menggeliatnya perdagangan bahan pangan di desanya, karena itu akan menjadi polemik, dia juga harus menepati janji pada orang tua angkat Alka untuk menjaga Alka dari niat jahat orang, sudah terkenal orang kota lebih licik.


Alka bisa dibilang berada di tangan orang tepat, tidak terasa telah dua tahun Alka dirawat oleh keluarga angkatnya dan telah dua tahun desa itu menjadi desa yang subur dan makmur.


“Ngapain kita ke pasar sejauh ini sih Bu?” Meutia dan ibu angkatnya yang seorang oknum Bidan ternyata mendengar juga tentang betapa pasar ini lengkap dan menjadi pasar yang paling sering dibicarakan.


“Kan Meutia tahu, kalau di sini itu banyak bahan pangan yang segar, Ibu mau coba belanja.”


“Yaudah, tapi jangan lama-lama ya, aku tidak suka ke pasar, kan, Ibu tahu.”


“Iya.”


Mereka berdua mulai berjalan mengitari pasar.


“Wah wortelnya besar sekali, ini juga kangkung daunnya terlihat lebar-lebar.” Bidan itu berkata kepada penjual, Meutia tidak terlalu perduli.


“Ya Bu, pilih-pilih aja, semua nya segar-segar kok, beruntung ibu datang pagi, siang sedikit ibu tidak akan kebagian.”


“Ah masa sih, ini sebanyak ini masa abis.”


“Ibu baru ya ke sini?” tanya penjual itu.


“Iya, ini pertama kali ke sini Pak.”


“Pantas belum tahu, semua sayuran di sini tidak pernah menginap, semua pasti habis setiap hari, ada tengkulak yang beli, ada desa-desa lain, bahkan warga kota yang sengaja datang untuk sekedar berbelanja sayuran yang unik.”


“Oh gitu, wah pasar ini luar biasa ya, lebih bersih dari pasar-pasar lain juga, jadi enak belanjanya.”


“Ya, begitulah, sejak anak itu hadir, desa kami jadi begitu beruntung.”


“Maaf Pak, anak apa?”


“Ya, jadi ada anak yang waktu itu dibuang orang tuanya di hutan, lalu ditemukan oleh orang di desa kami yang miskin, tidak punya anak, lalu mereka mengambila anak itu, dijadikan anak angkat, disayang dengan tulus, sehingga anak itu membawa keberuntungan bagi desa kami.” Penjual itu tidak memberitahu bagaimana Alka menolong tanah di desa itu, karena sudah diwanti-wanti oleh kepala desa dan tentu saja bisa kena sangsi jika berani melanggar.


Kepala desa memastikan rahasia Alka yang mampu menyuburkan tangan mereka dengan hanay menyuapinya, harus tetap dijaga, semua warga desa sepakat, tetap menutupi rahasia itu, jadi semua hanay cerita bahwa anak itu membawa keberuntungan, itu saja. Jadi, Alka akan aman dari orang-orang dengan jahat.


Rencana ayah angkat Alka untuk melindungi anaknya berhasil, sekarang bukan hanya kepala desa, tapi semua warga desa menjaganya, memastikan Alka sehat dan tidak di serang oleh siapapun.


Meutia mendengar itu langsung terperanjat, dia curiga sesuatu, bayi yang dia kubur secara palsu dulu, bayi yang hilang di hutan, apakah itu anaknya. Tapi kemudian Meutia tersenyum, tidak mungkin, anak itu adalah pembawa sial dan penuh dengan energi hitam, jadi tidak mungkin dia mmebawa keberuntungan di desa ini.


“Kenapa kau tertawa tadi saat membeli wortel gemuk ini?” Bidan Erni bertanya.


“Aku sempat berpikir bahwa anak itu adalah anakku, tapi aku jadi ingat, itu tidak mungkin, karena anakku adalah anak pembawa sial.”


“Kau tidak mau menyelidiknya dulu?”


“Tidak perlu, aku yakin itu bukan anakku, bisa saja ada orang lain yang membuang anaknya di hutan itu, kita juga tidak tahu kapan pastinya anak itu dibuang kan?”


“Ya, kau benar, ayo kita beli apa lagi?”


“Terserah saja, uangmu masih cukup?” Meutia bertanya.


“Kurang, kau bawa uang lagi?”


“Tentu saja, aku tahu kalau belanja bersamamu pasti saja kurang uang yang aku kasih tadi pagi.” Meutia lalu memberikan lagi uang pada ibu angkatnya itu.


Meutia hidup bersama mantan calon ibu tirinya tanpa tahu hubungan dia dengan ayahnya dulu, Bidan Erni pandai sekali mengambil hati Meutia, dia bahkan bebas meminta uang pada anka angkatnya itu dengan dalih keperluan rumah dan dapur, Meutia tidak masalah menghabiskan banyak uang pada orang yang telah merawatnya, sebuah hubungan yang saling memanfaatkan.


Meutia dan Bidan Erni lalu pulang dan tidak lagi memikirkan tentang anak pembawa keberuntungan itu, Meutia menikmati hidupnya sampai kelak dia tenyata akan kembali pada Darhayusamang dan membantunya pada peperangan melawan Ayi Mahogra perang dasyat yang bahkan membuat Darhayusamang mendatangi anaknya yang buta kasih sayang dari orang tua kandung dan gelap mata membantu peperangan. Tapi, ini masih jauh, masih bicara puluhan tahun kemudian, jadi mari kita kembali ke saat Alka masih berumur dua tahun.


Alka tumbuh menjadi anak yang menggemaskan, gemuk, kulit putih bersih dan sangat bening gigi tumbuh sehat sempurna, rambut tebal hitam, rumahnya sudah bukan gubuk lagi, tapi rumah gedong, tanah milik ayah angkatnya juga sudah sangat luas, itu semua karena hasil panen padi yang dia usahakan tumbuh subur dan menjadi ladang nafkah untuk mereka sekeluarga.


Alka benar-benar mendapatkan kasih sayang yang luar biasa.


Waktu terus berjalan, tahun-tahun mendatang menjadi semakin luar biasa bagi desa tersebut, desa yang sangat kaya raya dan berkelimpahan bahan pangan.


Alka tumbuh menjadi anak yang pintar jauh diatas umurnya, umur dua tahun dia sudah bisa membaca padahal tidak ada yang mengajari, sudah bisa menyebutkan semua nama sayuran, menceritakan tentang banyak hal, seperti apa itu petir, darimana datang petir, apa itu hujan, kenapa bisa hujan, Alka menjadi gadis yang sangat pintar dan bijaksana di umurnya yang masih belia.


Sementara semua orang di desa mulai bisa membeli mobil karena punya banyak uang dari hasil panen, desa tersebut bahkan dijuluki desa ningrat, karena semua orang kaya ada di sana.


Pasar menjadi pasar yang sangat besar, sudah bukan orang-orang kota lagi yang datang, bahkan dari berbagai provinsi mendatangi pasar itu dan membeli semua bahan pangan yang ada.


Pasar itu menjadi pasar pertama yang dibangun dua tingkat karena saking banyaknya permintaan bahan pangan dari berbagai pelosok negeri.


Hingga tiba saatnya, waktu di mana mantera itu akan pudar, waktu di mana penjagaan mantra pembalik akan musnah karena usia yang telah diperkirakan mampu mengendalikan semua kemampuan tersebut, telah tiba.


Alka telah berumur 5 tahun, dia anak yang disayang seluruh warga desa, dia anak primadona, orang tua angkat Alka menjaganya kemanapun gadis itu pergi dia selalu dijaga beberapa centeng. Jadi, sangat aman baginya bermain kemanapun dan dimanapun.


Maka layaknya keberuntungan yang datang tiba-tiba, maka nasib buruk juga bisa datang tiba-tiba. Air liurnya yang tadinya membawa keberuntungan, maka sekarang terbalik, menjadi ....


________________________________


Catatan Penulis,


Ok, sekarang aku mau temen-temen pembaca mengerti ya, kalau novel AJP ini genrenya HOROR dan FANTASI, artinya akan begitu banyak muatan yang tidak masuk akal, karena memang genrenya begitu, disetting dari awal begitu, kalau liat part 1 Aditia bertemu Rosa, memang itu masuk akal dan nggak ngawur?


Mana ada orang yang sudah meninggal arwahnya gentayangan, pasti langsung kembali ke Allah SWT kan, kita semua paham itu ya.


Tapi balik lagi, sekali lagi aku tekankan, ini novel Horor Fantasi, bukan novel religi yang semua harus masuk akal, nggak ngawur, sesuai tatanan keharmonisan etika dan juga asusila, jadi kalau mau baca novel yang NGGAK NGAWUR dan masuk akal, silahkan cari di daftar novel rekomendasi dari Platform ini, banyak kok, novel religi, novel science atau kisah nyata.


Trus yang mau ringkas, mau minta yang singkat, baca dulu KARUHUN, ringkas banget karna cuma 84 chapter.


Kalau AJP akan sangat PPPPPAAAAANNNNNJJJJJAAAAANNNNGGGG karena memang dia set seperti itu, makanya judulnya Angkot Jemputan (AJP) bukannya ADITIA, ALKA, JARNI, GANDING apalagi HARTINO.


Kenapa begitu Thor? apa karena duit ya Thor?


Yaelah, ntar aku publish juga nih berapa pendapatanku dari platform ini, nggak sampe 10% gajiku kerja regular sayang.


Pembaca lama pasti tahu, betapa dulu aku sangat malas update, pembaca lama bahkan sampai harus komentar meminta aku lebih rajin lagi update, di sini kalau ada pembaca lama coment ya, yang dulu minta aku rajin update pasti tahu penyakitku, AJP adalah novel yang aku update suka-suka.


Tapi lalu aku berubah, sejak bukan hanya satu dua orang yang membantuku bertumbuh, selalu pantang menyerah komentar minta aku rajin update, selalu like dan kasih vote atau hadiah, bahkan tanpa itu kalian masih tetap baca dan berharap dalam hati aku berubah jadi lebih rajin.


Karena itu aku memaksa diriku rajin menulis, bener-bener update tiap hari diantara kerja regular (jam 9 – jam 5) pulang kantor ngurus anak dulu, baru jam 9 malam nulis, biar update sebelum jam 11, lalu nulis lagi lanjut untuk hari berikutnya.


Jadi kerjaanku yang menurutnya nulis ngawur ini adalah, pegawai, sebagai ibu dan istri. Jadi aku bukan perempuan single yang iseng nulis dalam kesepian, aku nulis diantara keriwehan, kadang banyak typo karena yang aku kejar itu bukan hanya kerapihan dan PUEBI tapi yang penting bisa update dulu deh.


Kalau mau yang rapih, bisa beli buku berISBN ya, udah ada editor yang bantu menulis lebih rapih, ini hanya platform dan gratisan, apa aku mengeluh? apa aku mengemis vote? memaksa kalian memberi hadiah? apa aku ngambek saat tidak ada hadiah atau vote yang diberikan minggu itu?


Nggak kan?


Jadi, mari sama-sama ikhlas ya, biar kita bisa berkembang bersama dan novel kesayangan kalian tetap bisa aku teruskan.


Menulis adalah hobiku, bukan ladang nafkahku, aku punya pekerjaan tetap dan suami untuk nafkah, jadi kalau kalian nggak senang di lapak ini, tidak ada yang paksa untuk bertahan, aku mau kamu, aku dan mereka senang berada di sini, bukan jadi tempat mencaci, complain tanpa memberi alasan, seenaknya dalam berkomentar, maaf aku memang penulis ambegan, sudah beberapa orang aku tegur langsung di komentar, aku juga kick out langsung agar tidak merusak hari dan moodku untuk menulis.


Maaf jika ini terdengar sangat sombong, tapi aku manusia biasa yang bisa kecewa.


Panjang lagi kan curhatnya, maaf sekali lagi, selamat membaca, AJP akan tamat dalam waktu LLLLLAAAAAMMMMMAAA sekali.

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang selalu komentar yang buat aku happy, percayalah, setiap hari aku membaca komentar kalian walau tidak membalas, tapi balasanku adalah AJP yang selalu update, itu karena kalian para Bunda tersayang.


Love you, from Author Pundungan.


__ADS_2