Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 22 : Tim)


__ADS_3

“Dit, kita akan mengembalikan penglihatanmu dalam waktu dekat ya, bahaya kalau matamu masih saja tertutup, kita akan mengusahakan segala cara, ok.” Alka terlihat seperti seorang kakak, Aditia mengangguk dan tersenyum, hatinya terasa hangat saat melihat Alka, seorang wanita yang tulus.


“Tapi bagaimana caranya Ka?” Aditia bertanya.


“Gimana ya, De?” Alka meledek.


“Maksudku Ka itu, dari kata Alka, bukan Kakak!” Aditia kesal.


“Iya, iya, lagian kenapa sih nggak suka banget manggil Kakak?” Alka bertanya.


“Karena orang akan heran saat mendengarnya, wajahmu terlihat dibawah umurku,”Aditia memberi alasan.


“Tidak akan ada orang yang mendengarmu memanggilku.” Alka tersenyum.


“Kok gitu?” Aditia bertanya.


“Aku tidak suka terlihat, makanya aku akan menghilang kalau ada orang selain kita.”


“Oh, pantas kau menghilang saat ada Pak Dirga, tapi bukannya kau kenal dia?” Aditia bertanya.


“Aku hanya bertemu sekali dengannya, Pak Mulyana menyembunyikanku, dia sangat melindungi keberadaanku Dit.”


“Oh pantas kau pergi saat melihatnya, lalu bagaimana dengan Ibu warung ini? dia melihatmu dan tau keberadaanmu.”


“Oh, kalau Ibu Warung mah kenal, aku dari kecil suka main ke kuburan, aku tidak punya teman seumuran yang hidup, jadinya aku berteman dengan mereka, anak-anak jin, di kuburan ini.” Alka tersenyum.


“Oh, pantas.”


“Besok ketemuan di sini lagi ya, aku mau kamu ketemu seseorang, dia akan bantu kita untuk bisa membuat kamu bisa melihat lagi,” Alka berkata.


“Ok, besok ketemu di sini lagi, jam berapa?” Aditia bertanya.


“Jam 10.”


“Pagi?” Aditia bertanya.


“Ya, malem lah, emang ‘kerjaan’ kamu itu bisa dilakukan pagi hari?” Alka tertawa.


“Ok, walau aku agak takut kalau malam ke sini, tapi kan ada kamu.” Aditia tiba-tiba menggombal, Alka yang tidak mengenal apa itu perasaan hanya tersenyum, tidak mengerti maksud Aditia yang menggombalinya.


Lalu mereka saling pamitan, Alka kembali pada kehidupan hutannya dan Aditia pada kehidupan nyatanya.


...


Sudah jam 10 malam, Alka dan Aditia bertemu di warung kopi itu, lalu Aditia dan Alka berkendara ke suatu tempat, mereka akan menemui beberapa orang, mereka ke daerah di Puncak, ada penginapan dimana kamarnya tidak boleh di tempati, banyak rumor beredar, tapi mereka semua salah.


“Kita akan menemui siapa Alka?” Aditia bertanya, penginapan itu megah sekali, mereka hanya berjalan, tidak ada satu pun pegawai hotel yang bertanya mereka mau ke mana, mereka seolah tak terlihat.


Aditia dan Alka naik ke atas, lalu lift terbuka di lantai 9, Alka jalan duluan, Aditia mengikutinya dari belakang, saat sedang berjalan Aditia terselandung.


“Jangan iseng!” Alka memarahi sesuatu di bawah kaki Aditia.


“Siapa?” Aditia bertanya, karena dia tidak bisa melihatnya, tapi merasakan saat kakinya dijegal.


“Cinume.”


“Apa tuh?” Aditia bingung.


“Anak Jin yang ukuran tubuhnya tidak bisa membesar.”


“Oh, tuyul.”


“Kalian membahasainya begitu.”


“Tuyul itu memang pencuri ya?”


“Bisa jadi, soalnya mereka itu begitu karena tidak mau menyusui pada Ibu Jinnya, tapi mereka lebih suka menyusui dari Ibu manusia, makanya tubuhnya begitu, tidak tumbuh sempurna, karena meminum susu yang salah. Dulu sekali ada dukun jahat yang memergoki Jin kecil itu sedang menyusu pada Istrinya secara diam-diam ketika istrinya tidur, akhirnya orang itu, menyuruh Cinume untuk mencuri uang dari orang-orang di desanya sebagai imbalan, karena dia masih kecil jadi nurut aja, asal bisa menyusui ke Ibu manusia, setelah dapat uang banyak, dukun Jahat itu memperbolehkan tuyulnya menyusui ke istri dia, tapi dia tidak tahu, bahwa Jin memiliki nafsu menyusui yang besar, hanya dalam waktu seminggu, istrinya sekarat dan dalam waktu satu bulan dia meninggal, Cinume tidak hanya menyusui dan meminum susunya, dia juga menyerap seluruh nutrisi yang dimiliki oleh Istri dukun jahat itu, setelah Istrinya meninggal, bukannya tobat, dia malah menikah lagi untuk tetap bisa memberi Cinume air susu, kalau tidak salah akhirnya Dukun itu ketahuan dan dibakar oleh warga kampung.”


“Oh itu cikal bakal dunia pertuyulan.” Aditia terlihat paham.


“Jadi yang jahat siapa? Cinume atau Dukunnya?” Alka bertanya.


“Seharusnya dia bisa saja mengusir tuyul itu ketika melihat sedang menyusu pada Istrinya, ini malah disuruh maling, tentu aja yang jahat manusianya.”


“Begitulah Dit, manusia lebih menakutkan ketimbang jin.”


Alka berhenti pada satu pintu yang bertuliskan nomor 919, lantai 9 nomor kamar 19.

__ADS_1


“Lah ini kan kamar yang .... “


“Nggak boleh dibuka,” Alka menjawab.


“Iya bener, kok kita ke sini?” Aditia terlihat khawatir.


“Yuk masuk.” Alka mengeluarkan kunci dan membuka pintunya, seketika wangi melati menyeruak, Aditia ikut masuk ke dalam.


“Dit, kenalin, ini Jarni.” Alka memperkenalkan pada seorang perempuan yang terlihat sangat anggun, tapi Aditia takut, ada aura menakutkan, karena tangannya memegang seekor ular kecil berwarna hitam, Aditia mengulurkan tangannya.


“Ini Hartino, panggil aja Har.” Alka kembali memperkenalkan seorang lelaki, wajahnya tampan dan terlihat kaya. Aditia kembali mengulurkan tangan.


“Ini Ganding.” Orang terakhir yang Alka kenalkan, dia lebih keliatan kasual dan pintar, mereka semua seumuran dengan Aditia.


“Ok, duduk semuanya,” Alka berkata, Bak diperintah oleh gurunya, mereka semua duduk di sofa yang memang hotel itu sediakan.


“Aditia, kamu merasa pernah melihat mereka?” Alka bertanya.


“Sepertinya aku pernah melihat Har, di pemakaman Ayah,” Aditia menjawab.


“Mereka semua ada kok di pemakaman Ayahmu, kami semua hadir, kau hanya tidak melihat kami.”


“Mereka sama sepertimu?”


“Enak aja! Kami sempurna, kakak mah setengah-setengah,” Har menjawab.


“Har .... “ Alka memperingati.


“Sorry Kak Al, sorry.” Har memanggil Alka dengan sebutan kakak.


“Mereka manusia, sama sepertimu, mereka bukan keturunan Jin sepertiku dan mereka adalah anak-anak yang sudah diselamatkan juga oleh Ayahmu, sama sepertiku,” Alka menjelaskan.


“Mereka semua diselamatkan Ayah?” Aditia bertanya.


“Kalau bapak tidak menyelamatkanku, mungkin aku akan mendewasa di Rumah Sakit Jiwa,” Har menjawab, "orang tuaku menganggapku sakit jiwa saat mengatakan bahwa di rumah kami ada pembunuh yang tidak memiliki kepala. Pak Mulyana waktu itu datang padaku dan mengatakan bahwa dia juga melihatnya, tapi aku tidak boleh kasih tahu ke orang-orang yang tidak bisa melihat pembunuh tanpa kepala itu, bapak akhirnya mengusir pembunuh itu dengan memasukannya ke angkot, lalu setelahnya dia rutin berkunjung untuk melatihku, orang tuaku tidak tahu, keadaanku membaik, aku dan bapak menyembunyikan keistimewaan mata ini untuk hal-hal baik.”


“Kalau Pak Mulyana tidak datang tepat waktu, mungkin aku akan terlindas kereta api, karena ada Jin kecil yang suka main denganku, Jin itu ingin aku mati dan menemani dia selamanya, tapi Pak Mulyana datang tepat waktu dan menarik tubuhku. Sejak itu kemampuanku melihat ‘mereka’ diasah oleh ayahmu, dulu mereka mencelakaiku, tapi sekarang aku justru melindungi banyak orang dari tindakan jahat ‘mereka’,” Ganding yang kali ini bicara.


Aditia mendengar dengan seksama, ada ketakjuban dalam wajahnya, dia merasa Ayahnya begitu hebat dan tulus.


“Lalu kau? Ayahku menolongmu juga?” Aditia bertanya pada Jarni.


“Oh, Maaf.” Aditia merasa bersalah.


“Nggak apa-apa, dia nggak masalah kok, beberapa orang memusuhinya dulu karena dia tidak mau bergaul, itu yang orang fikir, padahal dia tidak bisa, karena dia melihat ... malapetaka yang akan menimpa mereka, Jarni takut pada mereka, makanya dia menjauh, sampai akhirnya dia bertemu dengan Pak Mulyana dan seperti yang kau tahu, berkat pelatihan Pak Mulyana, Jarni menjadi anak yang normal, walau dia masih tidak mau berbicara pada siapa pun.”


“Jadi, dia bisa bicara tapi tidak mau bicara?” Aditia bertanya.


“Kurang lebih begitu Dit,” Har menjawab.


“Oh, ok.”


“Jadi kita semua bertemu di sini, untuk membahas bagaimana caranya membuat matamu kembali bisa melihat, karena akan sangat bahaya kalau kau tidak bisa melihat ‘mereka’, sedang mereka kenal baik denganmu.” Alka membuka percakapan yang di tunggu Aditia dari tadi.


“Bagaimana caranya?”


“Tidak tau.” Mereka semua menjawab dengan serempak, kecuali Alka.


“Loh, mereka nggak tau Ka?”


“Aku juga sebenarnya tidak tahu, Tapi aku rasa, ada beberapa kemungkinan, salah satunya, tetap menjalankan pekerjaanmu, mata kami yang akan membantu, kami akan bergiliran pergi ‘dinas’ bersamamu, kita akan lihat selama sebulan ini, jika memang tidak ada hasil, kita akan memikirkan cara lain Dit.” Alka berbicara.


“Tapi Kak, sebulan kelamaan, saat dia nggak sama kita, dia bisa diabisin sama kerabatmu, kita juga nggak bisa sama dia seharian.” Kali ini Ganding yang bicara, dia terlihat lebih pintar diantara 3 orang pemuda seumuran Aditia itu.


“Ok, dua minggu?” Alka memberi penawaran.


“Menurut aku sih seminggu deh Kak, dua minggu juga terlalu riskan.” Har masih keberatan.


“Ok, seminggu, seminggu, tapi targetnya 5 jiwa yang kita antar pulang, gimana?”


“Kak! Kebanyakan!” Har dan Ganding protes.


“Aku dulu biasa mengantar dalam jumlah segitu,” Aditia menyelak.


“Beda Dit, kamu kan emang itu tugasnya, kita kan enggak, mana mau ‘mereka’ nurut sama kita, apalagi tau kalau kamu udah nggak bisa lihat mereka, bakal ada banyak drama, dulu aja pas ikut bapak, aku babak belur, Ganding juga kan?” Har berkata.


“Dah gini aja, seminggu tapi 3 aja ya, Kak Al?” Har memelas pada Alka.

__ADS_1


“Tuhan! Kalian niat nggak sih bantu Aditia!” Alka kesal.


“Iya, iya.” Mereka akhirnya setuju, walau sepertinya terpaksa.


“Ok, hari ini hari pertama, kita anter yang deket sini aja dulu, gedung miring itu ya? Gimana?” Alka bertanya.


“Wah! kamu keterlaluan Kak Al, masa hari pertama udah langsung berat.” Har protes lagi.


“Ya bagusnya gitu, yang berat dulu, biar yang lain terasa enteng, ya nggak Jar?” Alka meminta dukungan pada Jarni, Sementara Jarni hanya tersenyum dan bersiap berdiri.


“Anak muda kayak gini nih yang buat bangsa maju, nggak banyak omong,” Alka mengikuti Jarni dari belakang, mereka semua akhirnya mau tidak mau ikut.


...


Di dekat hotel itu memang ada cerita tentang seorang wanita yang sering bergentayangan, katanya dia sering menampakan dirinya sedang memakai baju berwarna merah, biasanya Aditia akan observasi dulu sebelum pengantaran, tapi kali ini Alka minta kita langsung aja, karena tidak punya banyak waktu.


“Bang, mundur deh mening, ntar dicegat Mbak gaun merah loh.” Har menahan tukang sate yang hendak lewat, Alka memang menyuruhnya untuk menjaga bagian depan, karena takut akan ada keributan, sehingga harus meminimalisir orang yang lewat.


Aditia, Alka, Jarni dan Ganding masuk ke Gedung miring itu, gedung lama yang sudah usang, katanya terakhir gedung ini dipakai pada tahun 90an, lalu ditinggalkan karena banyak yang celaka, karena kontruksi gedungnya yang miring, banyak kecelakaan terjadi, setelah itu rumor tentang gedung ini yang didirikan di tanah kuburan mulai menyeruak, yang paling terkenal adalah, sering munculnya wanita bergaun merah, Aditia tidak tahu tentang itu, tapi dia percaya Alka.


Kesan awal dari gedung itu sungguh suram, tangganya penuh lumur, pintu sudah tidak ada, setiap ruangan dipenuhi barang-barang yang berselimut sarang laba-laba, Alka terdengat berbisik, dia seperti memanggil seseorang tapi berbisik.


“Saharinahuyaaa .... “ Alka menyebutnya dengan lirih dan berbisik, Aditia merinding melihatnya.


“Jar?” Jarni menggeleng, Aditia tidak mengerti bahwa Alka sedang memanggil wanita bergaun merah itu.


“Saharinahuyaaa .... “ Sekali lagi Alka memanggil, tidak lama pintu dari lantai dua di banting, entah pintu yang mana, tapi suaranya begitu mengagetkan, Aditia bahkan lompat.


“Nggak bisa lihat ‘mereka justru menakutkan ya Dit?” Ganding meledek.


“Iya.” Aditia menjawab dengan singkat, dia lebih sering kaget setelah ‘buta’.


“Lantai dua Jar?”


Jarni hanya menggeleng lalu menunjuk ke depan.


“Pulang yuk.” Tiba-tiba Alka menyapa seorang wanita yang mendekati mereka, wanita dengan merah itu terlihat melayang saat mendekat, hanya Aditia yang tidak melihatnya.


“Kaseppp .... “ Wanita bergaun merah itu menegur Aditia, sementara Aditia hanya merasakan dinginnya saja.


“Dia menjemputmu ke sini.” Alka berbicara lagi padanya, wanita bergaun merah itu lalu mendekati Aditia, dia mendekatkan wajahnya pada Aditia lalu tertawa cekikikan.


“Dia buta, dia buta.” Wanita itu berbicara sambil tertawa.


“Ayo kita pulang, di sini bukan tempatmu.” Aditia memberankan diri, dia melihat tepat kearah wanita bergaun merah itu.


Setan itu ketakutan, karena rumor bahwa Aditia menjadi ‘buta’ itu salah, padahal Aditia hanya mengikuti hawa dingin yang dia rasakan, lalu berpura-pura melihatnya.


“Apapun atau siapapun yang kau tunggu dia tidak akan datang, dia mungkin sudah melupakanmu dan bersama wanita lain, atau jangan-jangan dia sudah sepertimu, tapi kalian tidak bisa bertemu, karena dia sudah berpulang.” Aditia masih mencoba menebak dimana wanita itu.


“Diam kau!” Wanita itu berusaha menyerang Aditia, tapi Alka menahan serangannya dengan berada di depan Aditia, Alka terlempar, lalu Jarni melempar ularnya ke arah setan merah itu, dalam hitungan detik dia akhirnya terikat oleh ular Jarni.


Aditia mendekati Alka dan membantunya bangun, saat memegang Alka, Aditia merasakan sesuatu yang berbeda, hawa tubuhnya tidak hangat dan tidak dingin, ada darah yang mengalir di pelipis Alka, tapi darahnya berwarna hitam, saat memegang darah itu, Aditia merasa panas, kulitnya seperti terbakar.


“Awww.” Aditia mengibas tangannya.


“Loh kok?” Ganding bingung, kenapa Dit?”


“Darah Alka panas banget,” Aditia berkata.


“Aneh.” Lalu Ganding mendekati Alka dan memegang darahnya. “nggak kok Dit, ini nggak apa-apa gue, Jarni, coba deh pegang.” Jarni lalu mendekat dan memegang darah Alka, ekspresinya datar lalu dia mengiyakan omongan Ganding.


“Ok, selesaiin dulu si Mbak gaun merah ini, baru abis itu kita cari tahu kenapa darah Alka bisa panas ke tangan Adit, gue curiga sesuatu nih, gimana?” Ganding bertanya, semua mengangguk, lalu membawa wanita bergaun merah itu ke angkot Aditia.


“Udah ketangkep?” Har yang menunggu di luar terlihat terkejut.


“Udah,” Ganding menjawab.


“Wah keren, cuma 45 menit, kalian tim yang hebat.”


“Bawel lu, cepet masuk.” Ganding lalu menarik Har ke angkot Aditia, sementara Alka dan Aditia sudah ada di bagian depan mobil, Jarni bersama dengan Ganding dan Har.


“Kita harusnya nggak boleh maksa dia Ka.” Aditia terlihat keberatan dengan membawa paksa wanita bergaun merah itu.


“Ini urgent Dit, jangan terlalu idealis lah,” Alka protes.


“Tapi .... “

__ADS_1


BUMMM!!! Sesuatu jatuh dari atas dan membuat Aditia kehilangan kendali, mobil oleng ke arah kiri lalu menabrak pohon.


__ADS_2