
[Jad, bisakah kita minta tolong para Balian untuk membantu? Karena kami kesulitan untuk menghancurkan pertahanan Sak Gede, kami butuh mereka untuk menambah kekuatan.] Hartino menelpon Jajat meminta bantuan, kesepakatannya adalah mereka akan meminta bantuan para Balian sekutu.
[Jadi aku harus mengumpulkan Balian? Kau kan tahu kan, mengumpulkan alat berat jauh lebih mudah, karena orientasi penjual adalah uang, sedang kalau Balian sekutu itu orientasinya adalah loyalitas, apa yang mampu kalian janjikan untuk mereka?] Jajat mengingatkan, kalau meminta bantuan ghaib harus dengan pertaruhan yang sesuai.
[Kami akan melakukan apa yang mereka minta asal tidak melanggar perintah agama kami dan norma hukum serta etika yang mungkin kami anut.] Hartino mengatakannya dengan pasti.
[Kalau begitu aku akan hubungi mereka, sebanyak yang aku mampu, kalian tahu kan, terkadang ini bukan soal uang, tapi soal loyalitas.]
[Ya, aku paham!] Hartino berkata dengan apa yang dimaksud oleh Jajat.
"Apa katanya?" Kawanan sudah di dalam vila lati, mereka istirahat, baru beberapa kali mengumpulkan kekuatan sudah selemah ini dan hanya membuat satu kotak energi pertahanan Sak Gede hancur, sungguh memilukan.
"Bisa, tapi kalian tahu kan, dukun di manapun sama, mereka akan minta imbalan dan ini pasti bukan soal uang, tapi jika itu tidak melanggar semua hal, baik dari segi agama, norma dan hukum, mungkin kita bisa berikan."
"Baiklah, kita tunggu saja apa mau mereka." Aditia berkata.
Setelah 3 jam menunggu, akhirnya Jajat menelpon kembali.
[Ada 20 Balian yang bersedia, kita bisa taruh kalian di pintu depan vila, 5 Balian di samping kanan, lima Balian di samping kiri dan lima Balian di belakang, sisanya cadangn jika ada yang tumbang. Tapi mungkin caranya akan berbeda, mereka minta dijalankan dengan cara mereka penaklukannya, lalu sebagai imbalan, mereka minta benda pusaka.]
[Benda pusaka?] Hartino tidak paham.
[Mereka minta keris milik Aditia, hanya itu.]
[Brengsek kau Jat, kerisnya kau bilang HANYA! Kau menghina keris Kharisma Jagat dengan level tertinggi, dengan bilang hanya.]
[Bukan Har! Kau jangan marah dulu, aku lebih tahu soal tingginya nilai keris itu dibanding dirimu, kau lupa aku ini Kharisma Jagat juga?
Tapi ini soal apa yang mereka minta, mengingat 20 Balian yang aku minta datang, mereka tidak meminta 20 permintaan aneh, mereka minta hanya 2 keris. Itu msksudku.]
[Satu keris itu bahkan sepadan dengan 100 permintaan benda pusaka lain, Jat!]
[Aku tahu, tapi itu permintaan mereka, aku hanya menyampaikan, bukan sedang sedang menjadi calo, jangan memintaku menawar, karena menurutku harganya sebanding dengan apa yang akan mereka lakukan untuk kalian, bantuan mereka harus kalian hargai, mereka meminta keris itu bahkan bukan dari awal kalian ada di sini.] Jajat mengingatkan betapa baiknya Balian saat mereka berenam datang ke sini.
[Aku bingung mengatakannya pada Adit, dia pasti akan menghajarku kalau sampai aku sampaikan permintaanmu, kau tahu kan, benda itu dari Bapak, mana mungkin aku minta Adit untuk ....]
"Mereka minta apa?" Aditia yang mendengar namanya disebut, akhirnay mendekati Har dan bertanya.
"Hmm gini Dit, mmm ... mereka ... hmmm ...," Hartino ragu, [kau saja yang minta, Jat.] Hartino memberrikan telepon genggamnya pada Aditia.
[Mereka minta apa?] Aditia bertanya, tapi telepon genggam mati, Jajat menyelematkan diri, karena di kelasnya, dia adalah kelas yang rendah, akan bahaya kalau sampai membuat Aditia marah.
"Mati Har!"
"Jajat?"
"Teleponnya, bodoh!" Aditia kesal.
__ADS_1
Hartino gugup.
"Ada apa sih?" Alka datang, yang lain juga, mereka sekarang berkumpul di ruang tamu, setelah sebelumnya berkumpul di meja makan.
"Kak, sini aku bisiki." Hartino masih belum berani untuk mengatakannya.
Alka mendekati Hartino dan mendengar bisikan dari adiknya itu, setelah dia mendengarnya, muka Alka pucat pasi.
"Kau gila!" Alka pun agak ragu mengatakannya pada Aditia.
"Jajat yang gila, katanya dia tak mampu bernegosiasi."
"Kau saja yang sampaikan."
"Kak, aku mohon, aku takut."
"Kau ini apa sih Har, kau ini kepala rumah tangga, masa kayak gini takut, apa sih yang dia minta?" Aditia tidak sabar.
"Masalah rumah tanggaku jangan kau bawa-bawa, setelah aku katakan, kau pasti akan murka dan lupa kalau aku punya istri lalu menghajarku."
"Dia minta Alka menjadi calon istri!"
"Bukan!" Alka dan Hartino menyangkal dengan cepat.
"Lalu?"
"Hmmm ...."
"Bukan!!! Ini kenapa jadi aku yang dikeroyok sih, Jajat brengsek ah, harusnya dia yang sampaikan. Sha, kau ini malah sibuk menari, ayo bantu aku bicara di sii."
"Sebentar aku sedang berlatih tarian baru, kata Rangda, tarian ini bisa untuk membuat pinggangku lebih kecil lagi."
"Alisha!!!" Semua orang kesal dengan sikap Alisha yang jadi receh begini, setelah punya Khodam Rangda, dia tidak semenakutkan saat memiliki khodam Esash. Mereka jadi ragu, apa benar Rangda yang masuk adalah Ratunya para leak? Atau jangan-jangan pelatih nari, bukan Rangda!
"Ayo katakan Har, jangan menunda waktu, kau pikir waktu kita seluang itu?" Ganding mengingatkan.
"Baiklah, kalian lindungi aku, karena Aditia pasti mengamuk setelah aku katakan." Kawanan akhirnya berjalan dan mengatur posisi di hadapan Hartino termasuk Alisha yang menunda sesi latihan tarinya.
"Ayo katakan." Aditia masih tenang.
"Gini Dit, sebenarnya ... yang diminta para Balian adalah ... adalah ... itu loh Dit, itu ... hmmm, mereka minta itu ... minta ....."
"Kau mau kami hajar?" Kawanan kesal karena Hartino sangat lamban, membuat yang lain penasaran.
"Iya, sabarlah! Aku sedang berusaha mengumpulkan kekuatan." Hartino menarik nafas.
"Kalau kau masih terus bermain-main, aku berjanji benar-benar akan menghajarmu, seperti yang kau takutkan itu." Aditia sudah mulai kesal.
__ADS_1
"Baiklah, aku tarik nafas sebentar, mereka ... mereka minta KERISMU!"
Mendengar itu kawanan langsung berlarian menjauh dari Aditia kecuali Alka, bahkan Alisha istrinya saja tidak mau ikut campur.
"Kok kalian malah pada kabur!" Hartino panik, Aditia menunduk menahan marah.
"Dit, aku minta Jajat engo, tapi dia menolak, yang minta kan Balian, lalu disampaikan Jajat, kau harusnya marah ke dia loh, bukan ke ...."
Aditia dengan gerakan cepat langsung mendekati har, dia akan meninju wajah Hartino, tapi beruntung Hartino keburu kabur, dia lalu dikejar oleh Aditia, mereka seperti Tom and Jerry, kejar-kejaran tanpa henti.
Yang lain tak mua ikut campur. Karena apa yang Hartino katakan itu fatal.
"Ok guys, sudah 1 jam kalian berlarian berputar, bisa ke sini sebentar?" Alka akhirnya melerai, karena sudah satu jam mereka kejar-kejaran, Hartino mulai kelelahan.
"Aku mau pukul wajah Har sekali saja, aku harus pukul wajahnya, bagaimana mungkin dia melontarkan hal sekejam itu, kerisku akan diminta Balian!" Aditia geram.
"Kak, aku nggak punya pilihan lain, Jajat bilang tidak mau nego."
"Kalau kau jadi aku gimana!" Aditia seperti anak 5 tahun yang mainannya diminta oleh anak lain.
"Kan senjataku tidak segila senjatamu yang hidup di dua alam, walau senjataku kejam dan selalu meminta darah, tapi tidak sehebat kerismu, jangan bandingkan lah." Hartino mencoba untuk menenangkan Aditia dan memujik kerisnya.
"Sudah tahu begitu, kenapa kau tidak menolaknya, malah berani menyampaikan hal itu?"
"Jajat blilang tak mampu nego, makanya dia matikan tadi teleponnya, aku tidak tahu." Karena lelah Hartino bahkan mengeluarkan air mata.
"Akan kubunuh Jajat!" Aditia yang kali ini menangis, kerisnya adalah pemberian ayahnya, bagaimana mungkin dia memberikan keris itu pada orang lain, harusnya nanti diberikan pada anaknya, sebagai penerus benda pusaka keluarga, bukan malah dihibahkan pada orang lain.
"Dit cukup! Kalau kau memang keberatan, kita tinggalkan vila ini, biarkan Sak Gede di sini, kita pasang pagar ghaib yang tebal seperti Bapak dulu, mungkin ini kejadiannya sama dengan yang bapak alami dulu, ketika dia tak mampu merubuhkan vilanya, pertaruhannya adalah keris itu.
Kita tidak harus menemukan Sak Gede, kita hanya harus menemukan adiknya Gea, kita bisa pantau dari kota kita, tidak perlu memaksakan diri, kita pulang malam ini setelah pagar ghaib itu kau buat bersama Jarni." Alka mengambil keputusan.
"Iya, aku setuju." Ganding setuju, yang lain mengangguk.
"Aku juga setuju, tapi artinya kita gagal mengemban tugas dari Ayi, maksudku, ini tugas dari Ayi, kita gagal menyelesaikannya." Aditia dilema, seperti buah simalakama.
"Tidak, cukup Dit, pertaruhannya terlalu bersar."
"Tapi Bali bahkan memberikan Rangdanya untuk kita, bagiku, wajar jika ...."
"Jarni!" Yang lain kaget Jarni berkata begitu. Dia itu biasanya yang paling peka, mengapa kali ini dia berkata hal yang menyakitkan, walau itu kenyatannya.
"Jarni, aku minta kita semua paham, bahwa keris itu dan Rangda berbeda, Rangda memutuskan untuk masuk sendiri ke tubuh Alisha, sedang keris itu dimina paksa, ini namanya pemerasan."
"Kak maaf, terkadang memang harus berkorban, bukankah kita selalu begitu? Kau lupa kita ini siapa? Kita melakukan semua ini untuk apa? Kalau pagar yang kita buat nanti rusak lagi seperti pagar yang bapak buat? Kau tahu kan, apa teruhannya bagi manusia?" Jarni memang kalau bicara hanya hal penting saja dan kadang kenyataan yang menyakitkan.
"Kalau kau jadi aku gimana?" Aditia bertanya.
__ADS_1
"Kalau aku jadi kau, dia meminta ular bahkan ilmuku, akan aku kasih, seperti dulu Rania memberikan hidupnya pada Alisha, karena dia tahu, pertaruhan besar untuk hal besar, bahkan jika aku harus kehilangan ilmu, aku akan tetap menyelesaikan kasus ini. Semua terserah kau, kau pemimpinnya." Jarni lalu masuk ke kamar setelah mengatakan hal itu.
Aditia terdiam, dia adalah ketuanya dan bersikap amat lemah, dia mulai goyah.