
“Karena kau harus masuk pada ingatannya pelan-pelan, kau akan celaka kalau dia sadar dalam keadaan membenci dunia, maka itu akan membuat urusan kita semakin banyak.” ayahnya Mulyana berkata dengan bijak, lalu mereka berdua akhirnya pamit dan bermaksud membuat rencana untuk esok hari.
...
Pagi tiba, semua murid sekolah seperti biasa, dua anak perempuan yang kesurupan tidak masuk, katanya sekolah sedang mencoba untuk memikirkan ulang apa yang harus mereka lakukan untuk dua anak tersebut, ini berdasarkan apa-apa yang tersebar di sekolah setelah mereka masuk lagi.
“Mulyana dan Aep belajar seperti biasanya, lalu istirahat tiba, Mulyana dan Aep membawa Rahman dan Adi ke belakang sekolah, mereka perlu berbicara dengan mereka.
“Ada apa kalian meminta kami untuk ke sini sih?” Rahman bertanya.
“Kau mungkin lupa apa yang terjadi kemarin, tapi aku harus mengkonfirmasi sesuatu.” Mulyana berkata duluan.
“Apa? soal apa? soal kau hilang kemarin?” Rahman masih bingung, karena dia benar-benar lupa yang terjadi.
“Kau! bukankah sudah kuperingatkan untuk jangan mengungkit nama itu lagi!” Rupanya Rahman ingat dengan tipis apa yang terjadi padanya kemarin.
“Aku ingin tahu cerita saat Nando pulang dalam keadaan kesurupan.”
“Aku sudah peringatkan kau kalau kami tidak suka kau ungkit nama itu, kalau kau masih bersikukuh, aku akan memastikan, kau takkan bisa mendapatkan nilai bagus karena selama ini kau selalu mendapatkan bantuan dari kami untuk belajar bukan?” Adi mengancam, dia tak tahu siapa yang dia ancam, bahkan kejeniusannya Mulyana setara dengan otak Nando, mungkin lebih.
“Aku dan adikku tidak perlu mendapatkan nilai bagus, karena sekolah ini hanyalah kamuflase untuk kami. Kami ini sebenarnya adalah Polisi yang menyamar menjadi siswa untuk kasus Nando, kasus yang dianggap bunuh dari, tapi ayahnya mengajukan gugatan pada sekolah, makanya kami harus selidiki.”Aep mengarang bebas, Mulyan tertawa mendengar itu, dia tidak bisa bayangkan, dari mana pikiran itu berasal.
“Kalau kalian memang Polisi yang menyamar, kalian pasti bohong, karena tubuh dan wajah kalian tidak terlihat seperti seorang Polisi, kalian masih kecil! Kalian sudah gila ya? terlalu banyak nonton film barat kalian!” Nando malah mencemooh.
“Umur kami memang masih muda, karena kami dididik sedari kecil, kami berda pada departemen percontohan untuk anak kecil yang istimewa, aku dan Mulyana adalah anak-anak istimewa yang menguasai bela diri dengan tingkat tertinggi, taekwondo, silat dan boxing, kami sangat ahli, kau mau coba? Untuk itu kami memang dilatih sedari dini untuk operasi yang luar biasa, conothnya kasus Nando ini, orang tuanya meminta penyelidikan sebelum kasusnya ditutup sempurna.”
Mulyana menatap kakaknya, bagaimana mungkin dia mampu membuat cerita sesempurna ini dengan tanpa persiapan, sungguh sangat menakjubkan. Mulyana bahkan kelak tak tahu, bagaimaan Aep membuat semua orang percaya kalau dia sudah meninggal dunia karena berita yang disebar oleh sahabatnya. Rupanya kehebatan Aep dalam menyusun rencana sudah ada sejak dini.
“Kalau memang benar, apa buktinya kau itu petugas Polisi, mana tanda pengenal kalian?” Rahman mulia goyah.
“Bodoh sekali kau, kalau kami pegang tanda pengenal, berarti kami bukan petugas yang menyamar, karena semua orang bisa saja mengetahui identitas kami, makanya kami menyamar!” Aep berkata sambil meraih kerah Rahmah, Aep kesal dengan kelakuan anak muda yang menyebalkan ini, selama di sekolah Aep selalu bertahan untuk tidak melawan, tapi sekarang dia sudah muak.
“I-iya, iya! Aku percaya, lepaslah.” Rahman meminta kerahnya dilepas, Aep bisa menarik kerah hingga membuat tubuh Rahman terangkat cukup tinggi, itu membuat Adi terkejut, bagaimana bisa tangan kecil Aep bisa menarik kerah Rahmang dengan tinggi dan membaut tubuh Rahman ikut terangkat.
Mulyana tertawa di belakang, dia minta bantuan jin yang sedang lewat untuk membantu kakaknya mengangkat Rahman untuk menakutinya. Jin yang sedang lewat itu juga tak punya harga diri, bagaimana dia bisa mematuhi perkataan Mulyana, mungkin karena energi yang sangat tinggi dari Mulyana.
“Sekarang ceritakan semuanya.” Mulyana berkata dengan tegas.
__ADS_1
“Saat kami mengantar pulang Nando, kami tahu kalau dia kesurupan, kami mengantar hanya sampai depan rumahnya dan memastikan dia masuk.
Sejak saat itu, aku dan Rahman curiga kalau keluarganya adalah dukun yang membuat apapun urusan keluarga itu menjadi lebih mudah, ayahnya dengan usaha sembako yang meningkat pesat, ibunya yang sangat baik dan mampu membuat semua guru di sekolah SMP kami dulu jadi sangat menyayangi Nando, lalu terakhir Nando yang sangat hebat dan pintar itu, bagaimana mungkin mereka sempurna, maka aku tahu, pasti ada sesuatu yang lain yang mampu membuat semua kesempurnaan itu terjadi pada keluarga Nando.
Kami tahu, ada dukungan jin untuk membantu keluarga itu menjadi sukses.”
“Lalu kau yang menyebar soal fitnah Nando memelihara jin untuk mencontek jawaban dari ruang guru dan membuatnya bisa mendapatkan nilai sempurna?” Mulyana bertanya pada intinya.
“Tidak! aku tidak melakukannya, aku dan Adi memang membicarakan kemungkinan ini, tapi aku dan Adi sudah sepakat untuk mencari buktinya, kami terus mengawasi Nando dari kejauhan, maka dari itu kami menjauhinya, karena kalau terlalu dekat, maka bukti yang kami butuhkan tidak akan pernah diperlihatkan oleh Nando.
Kami harus melihatnya dari kejauhan, semua kejanggalan keluarga Nando, tapi sebelum kami mendapatkan bukti, berita itu menyebar, kami tidak tahu siapa yang melakukannya dan mungkin memang ada orang ya melihat Nando juga saat kami antar pulang dan menyebar fitnah itu.” Rahman berkata dengan yakin dan menyebalkan.
“Ok, berarti benar bukan kalian, karena yang kena mantra Graksa Bajang adalah dua orang perempuan itu, yang satu yang katanya anak dukun dan yang satu adalah yang membenturkan kepalanya ke pintu kelas kita itu.”
“Mantra Graksa Bajang?” Rahman bingung.
“Mantra yang akan membuat siapapun yang memfitnah Nando, akan kena balanya, awalnya korban bala itu akan hilang akal dan mulai menyakiti dirinya sendiri hingga meninggal dunia!”
“Apa kau serius?” Adi terlihat ketakutan dan Rahman juga sama.
“Bukan anak dukun, tapi cucu dukun!” Aep kesal karena Rahman tetap mencari pembenaran.
“Dan asal kalian tahu, dia dan keluarganya lari dari praktek perdukunan kakeknya karena enggan menjadi tumbal!
“Tumbal? Apa maksudmu Yana!” Rahman terlihat terkejut.
“Kalau kalian pikir sebagai cucu dukun, Nando memiliki keistimewaan bisa menyuruh-nyuruh jin mencuri kunci jawaban, maka kalian salah besar! Keluarg Nando adalah target tumbal kakeknya, kakek dukun itu ingin sisa umur Nando untuknya, maka dari itu dai terus mengejar Nando dan keluarganya, salah satu alasan Nando kesurupan di pasar adalah karena dia mampu melihat makhluk tak kasat mata, tapi dia juga tak pernah menerima kemampuan itu, makanya dia kesurupan karena tidak bisa mengendalikannya, dia harus berjuang sedirian dari serangan kakeknya, ibu yang tiba-tiba meninggal dan ayah yang sakit, itu semua ulah kakeknya, dia sangat amat ketakutan, sendirian dan kalian malah sibuk melihatnya dari jauh! Kalian sangatlah pengecut!” Mulyana sangat kesal dan mengatakan itu dengan sangat lancar.
“Jadi, alasan dia bunuh diri, adalah karena tidak kuat dijadikan tumbal dan kematian ibunya?” Adi masih belum paham maksud Mulyana mengatakannya.
“Tidak kalian salah, dia bunuh diri untuk memutus rantai kesusahan yang dia bawa sejak lahir, dia ingin ayahnya sehat lagi dan nama baik dia dapat di perbaikin, dia tak indin dikenal sebagai anak dukun, dia ingin dikenal sebagai anak yang jenius karena rumus yang dia ciptakan sudah diserahkan ke sekolah, dia ingin namanya bersih! Tapi sayang, dia tak mendapatkannya, kasus tentang Nando terkubur bersama tubuhnya.
“Kami tidak tahu kalau hidupnya sesulit itu.”
“Maka beritahu aku, darimana dua perempuan itu bisa tahu kalau Nando kesurupan hingga menyebar fitnahnya?”
“Aku tidak tahu secara pasti, tapi ... semua pasti karena beasiswa di sekolah ini, untuk bisa masuk ke SMA di sekolah ini tidaklah mudah, pertama karena mahal dan juga sekolah ini adalah sekolah unggulan, maka ketika kau mampu masuk ke SMAnya dan juga mendapatkan beasiswa, kau akan menjadi murid yang sangat istimewa, sedang Nando adalah kandidat tertinggi untuk beasiswa itu, tidak ada yang bisa mengalahkan dia dalam soal pelajaran matematika, pelajaran paling sulit, dia bahkan menciptkan rumus sendiri untuk bisa menyelesaikan persoalan matematika agar bisa diselesaikan dengan sangat cepat.
__ADS_1
Jika Nando masih ada, kami semua takkan punya kesempatan untuk bisa mendapatkan beasiswa itu, ini tak adil.
Yang inginkan beasiswa itu pun sangat banyak, mungkin termasuk dua perempuan yang terkena bala itu, entah bagaimana caranya, mungkin dua perempuan itu mendengar saat kami membicarakan tentang bagaimana Nando pulang dari pasar dengan kesurupan.
Lalu mereka langsung menyebarkannya tanpa mencari bukti seperti kami, walau tindakan kami tidak dibenarkan, setidaknya, kami mencari bukti dulu atas asumsi yang kami buat.”
“Daripada mencari bukti, kenapa kalian tidak memili untuk percaya?! Kalian sama saja dengan dua perempuan itu, hanya menunggu waktu sampai kalian buka mulut, beruntung karena dua perempuan itu mengambil tempat duluan, hingga kalian bebas dan mantra bala itu terkena pada mereka, bukan kalian!”
“Aku tidak bermaksud begitu!”
“Seperiti yang kau bilang, jika nando hilang, maka semua orang punya kesempatan yang sama untuk dapat beasiswa itu, lalu siapa yang dapat beasiswa itu pada akhirnya?” Aep bertanya.
“Setelah Nando tiada, pemberian beasiswa dibatalkan, karena ayahnya Nando memohon agar beasiswa itu dihapus, ayahnya Nando bilang, kemungkinan anaknya dirundung karena menjadi calon terkuat atas beasiswa itu, menjadi orang yang depresi karena perundungan itu.
Lalu ayahnya Nando juga jadi bekerja di sekolah ini karena tidak punya uang untuk melanjutkan usaha, pihak sekolah juga mungkin takut kalau sampai ditolak keinginan ayahnya Nando, maka bisa saja rumor tentang sekolah akan merebak dan membuat sekolah itu akan di selidiki, nama baik sekolah dipertaruhkan.
Kami sangat takut saat melihat ayahnya Nando, karena dia tak pernah ramah pada siapapun, dia selalu menatap kami dengan tajam.
Aku hanya merasa, mungkin suatu saat dia akan menikam kami dari belakang karena curiga kamilah yang merundung anaknya lalu akhirnya bunuh diri.
Makanya saat kau menegur penjaga sekolah itu, lalu dia membalas teguranmu dengan ramah, dia tersenyum dan melambaikan tangan, kami sangat heran dan terkejut, bagaimana mungkin dia ramah sekali pada Mulyana, bahkan pada Aep saja dia tak ramah.”
“Baiklah, maka sekarang aku paham kenapa anak perempuan itu menabarakkan kepalanya ke pintu kelas, mantra Graksa Bajang telah sangat kuat merasukinya, hanya menunggu hari dua anak perempuan itu lalu akhirnya akan tewas.”
“Yan! apakah kau tidak bisa menolong mereka dan ... kami?”
“Tidak ingin tepatnya, karena mulut seseorang yang menyebabkan satu anak jenius harus mati sia-sia, aku tak ingin mulut itu selamat. Jadi kalian akan lihat, apa itu hukuman untuk melukai orang dengan fitnah, hingga kalian beruda belajar, terutama kau Rahman, belajar cara yang benar untuk menjaga mulutmu!” Mulyana lalu membiarkan Rahman dan Adi pergi dari sana, dia perlu bicara dengan Aep lagi.
“Kau tidak melihat Nando sejak pagi?” Aep bertanya.
“Tidak, Kau kan tahu, aku juga tak bsia merasakan energinya, karena energinya sama dengan manusia, aku takut kalau dia sadar dia sudah tiada dan akhirnya memilih pergi, aku ingin menjemputnya untuk ‘pulang’.”
“Kau akan ambil ini sebagai kasusmu?” Aep bertanya hal yang tidak perlu dijawab.
“Aku akan mengambil ini sebagai seorang teman yang tidak pernah dia miliki.”
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat dua kakak beradik itu berbicara lalu dia berlari dari sana untuk melaporkan temuannya.
__ADS_1