
Ritual gagal, Aditia masih sama seperti sebelumnya, dia masih bejat dan tidak berkeprimanusiaan.
“Yan, apa yang harus kita lakukan?” Dirga bertanya, sementara Aditia masih di bangkunya terikat pada tangan dan kaki.
“Kau bertanya pada orang yang juga tidak memiliki jawabannya, Ga.”
“Hah! trus lu mau ikat dia begini terus?”
“Gue rasanya pengen penggal kepalanya kalau dengar dia berkata buruk seperti itu tentang manusai Ga. Jujur gue ngerasa sangat marah dan jijik dengna semua ocehannya.”
“Yan, lu harus tenang. Mungkin karena ini anak lu, makanya lu kesulitan menemukan jalan.”
“Bisa, tapi setiap perkataan buruknya membuatku merasa sangat ingin membunuhnya juga. Aku takut dia menjadi pembunuh seperti yang dia ocehkan.”
“Yan, karena ocehannya, elu perlahan percaya dia begitu?”
“Entahlah, tapi yang gue lihat, nggak ada makhluk lain di dalam tubuhnya, murni hanya ada dia.”
“Jadi, elu percaya kalau anak lu ini seorang pembunuh dan sakit jiwa?”
Mulyana keluar dari gedung itu, dia mencari udara segar dulu, karena jujur, dia tidak punya jawaban apapun, dia bingung dan tidak mengerti harus berbuat apa.
Semua terasa mudah jika jawaban ada di depan mata. Karena Mulyana bisa melihat mereka, maka bagi Mulyana mudah membedakan antara orang yang sakit jiwa dan memang sedang mengalami gangguan ghaib.
Tapi sekarang, tidak ada yang terlihat sama sekali, semua buntu, Aditia adalah Aditia, tidak ada bayangan hitam, tidak ada penyusup yang mengendalikan dari jauh, lalu apa lagi selain itu?
Mulyana bergegas ke gua, dia menitipkan Aditia pada Dirga, ada yang harus dia pastikan di sana.
Begitu sampai, dia melihat Alka dan tiga orang lain sedang berlatih.
“Alka, bisa kita bicara sebentar?” Mulyana langsung meminta Alka ikut ke angkotnya.
Begitu sudah sampai angkot mereka duduk di depan bagian kemudi.
“Ada apa Pak? kok Bapak terlihat terburu-buru?”
“Alka bisa beritahu Bapak, apakah Alka merasa ada yang berbeda akhir-akhir ini?”
“Berbeda apanya ya Pak?”
“Coba lihat ini.” Mulana menunjukan foto Aditia yang terbaru.
Alka langsung menunduk menahan sakit di dadanya.
“Pak! kenapa kau melakukan ini?”
Bagi seorang Karuhun yang terserang Lanjo, melihat tuannya itu membuat penyakitnya kambuh. Padahal sudah bertahun-tahun Alka berlatih mengendalikan dirinya.
“Kau masih merasakan Lanjonya?”
“’Tentu saja, sakit! singkirkan foto itu.”
“Kalau begitu bukan berarti ada yang menawarkan diri menjadi Karuhunnya Aditia, aku takut ada yang melakukannya dan bersembunyi selama ini.”
“Kenapa kau curiga ada yang menjadi Karuhun Aditia? Aku masih karuhunnya sebelum Abah turun kepadanya.”
“Ya, aku memastikan saja Nak.”
__ADS_1
“Ada apa dengan Aditia?” Alka menebak, pasti ada yang salah dengan tuannya.
“Aditia kambuh, tapi ... ini berbeda. Tidak ada yang merasukinya, tidak ada yang mengenalikan dari jauh dan terakhir, kau masih Karuhunnya, menurutmu apa lagi yang membuat Aditia berubah seperti orang kerasukan?”
“Aditia melakukan apa?”
“Dia membunuh binatang, kasar pada Dita dan ibu.”
“Sudah pasti itu bukan dia.”
“Kau yakin?”
“Lah, Pak! kau ini ayahnya, masa kau ragu sama anakmu? Aku tidak akan terkena Lanjo jika tuanku biasa saja bahkan jahat. Kau tahu kan, Lanjo menjangkit pada Karuhun yang memiliki tuan yang sangat istimewa budi pekertinya. Beruntung kelak Abah tidak akan terkena Lanjo karena dia sudah terkena Lanjo pada saat bersama kakekmu Pak. Keturunan kalian itu, keturunan dengan kebaikan yang luar biasa. Jadi kau tidak boleh meragukan anakmu! Mengerti Pak?” Alka kesal karena Mulyana terlihat goyah.
“Lalu apa lagi yang mungkin?” Mulyana bingung.
“Aditia itu orang baik, tapi kenapa semua hal buruk sekarang dia lakukan? dia berubah 180 derajat, seharusnya setiap orang berubah ke arah kebaikan, tapi kenapa Aditia malah berubah menjadi jahat dan buruk, seperti seolah semua hal buruk dilimpahkan padanya ....”
“Alka sebentar, tadi kau bilang apa?” Mulyana bertanya.
“Yang mana? Tadi perkataanku kan panjang, yang mana ya? kok aku lupa sendiri dengan kata-kataku tadi? Pokoknya intinya harusnya Aditia menjadi baik, tapi sekarang kenapa dia menjadi berubah sangat buruk? Seperti semua hal buruk dilimpahkan padanya.”
“Itu dia! kenapa aku tidak kepikiran!” Mulyana lalu bergegas hendak pergi pulang ke rumah. Alka kembali ke gua. Dia yakin, Mulyana pasti sudah dapat jawaban.
Begitu sudah sampai rumah dia langsung menemui istrinya.
“Bu, kau ingat ada orang asing yang datang ke sini beberapa waktu lalu, mencariku mungkin?”
Istrinya bingung tapi berusaha mengingat, “Ada, beberapa hari lalu seolah lelaki yang sudah berumur, lebih tua dari kita, dia datang dan bertanya tentangmu, katanya ada hal mendesak, makanya aku suruh dia menunggu.”
“Lalu dia menunggu, aku buatkan dia air minum dulu tapi setelah aku kembali ke ruang tamu dia lalu bercerita tentang cucunya yang baru lahir, dia bilang cucunya nakal sekali, sekarang cucunya sedang dalam pengobatan alternatif biar nggak nakal lagi. Trus katanya cucunya itu sudah menjadi anak yang baik karena pengobatan itu.”
“Pengobatan alternatif apa?”
“Ari-ari Pak, katanya dari tanah di mana ari-arinya dikubur itu diadain ritual, dari sana sifat buruknya ditarik dan digantikan jadi sifat baik. Kayak gitu deh, Ibu juga kurang paham begituan.”
“Trus apakah ibu cerita ari-ari Aditia dikubur di mana?”
“Ya, dia bilang kalau ari-ari anak itu harus dijaga tanah sekitarannya, untuk keadaan mendesak seperti cucunya. Lalu Ibu bilang, kita tidak mengubur ari-ari Aditia, karena kata Ayah biarkan menyatu dengan alam, kita menggantung ari-ari itu di pekarangan belakang, orang pikir itu pot tanaman padahal ari-arinya Aditia.” Ibunya tertawa karena mengingat betapa dulu tidak setuju bahwa ari-ari Aditia hanya digantung saja di pot, bukan dikubur lalu di beri lampu seperti kebanyakan orang lakukan.
“Jadi dia tahu, kalau Aditia ari-arinya digantung?”
“Iya, memang kenapa Yah?”
“Hmm, nggak apa-apa Bu, lain kali kalau ada tamu, jangan ikut terbawa suasana dan menceritakan rumah tangga kita ya Bu, ingat, belum tentu itu orang baik.”
“Tapi Yah, dia itu teman Ayah loh.”
“Bukan, ayah tidak kenal.” Mulyana lalu pergi dari rumah, dia menahan marah ke istrinya.
Susah payah Mulyana tidak mengubur ari-ari Aditia di tanah, mengangtungnya di pot agar orang mengira itu adalah tanaman, agar tidak ada yang bisa melakukan ritial Gugah Alam.
Ritual itu adalah dimana kau yang seorang kharisma jagat di hasut dengan menggunakan tanah ari-arinya untuk berlaku sesuai keinginan perintah dari yang memiliki kepentingan.
Dulu ritual ini diciptakan untuk mengendalikan para Kharisma Jagat yang tidak mampu mengendalikan sikap buruknya. Tanah dimana ari-arinya dikubur akan diambil, lalu dilakukan ritual Gugah Alam, dengan mengusir semua sifat jahat anaknya, memanggil sifat baik dari alam untuk menggantikan semua sifat buruk yang sudah diusir.
Celakanya Ritual Gugah Alam ini, bisa dilakukan untuk hal sebaliknya, yaitu menggantikan sifat baik menjadi buruk. Celakanya kalau yang diambil sebagian kecil saja dari ari-arinya, maka sifat terburuk yang dihasutkan akan menjadi identitas yang sulit dikembalikan.
__ADS_1
Kelak Gugah Alam ini juga menjangkiti Malik dan harus disembuhkan oleh Ayi Mahogra.
Mulyana sudah mendapatkan jawaban atas penyakit Aditia, dia juga sudah tahu cara menyuembuhkan penyakit itu, yaitu dengan melakukan ritual Gugah Alam Balikan, tapi ... di sini masalahnya, dia harus lepas raga dan menghadapi orang yang melakukan ini pada anaknya. Satu-satunya orang dan kumpulan yang menentang status Aditia menjadi Kharisma Jagat hanya orang itu, Mudha Praya.
Mulyana memang hebat, tapi ilmunya masih di bawah Mudha Praya, pasti lelaki itu yang melakukannya, karena kalau ritual Gugah Alam hanya bisa dilakukan oleh orang tua Kharisma Jagat, atau orang dengan ilmu yang sangat tinggi sebagai seorang Kharisma Jagat, tidak ada orang lain selain Mudha Praya yang bisa melakukannya.
“Jadi benar Yan, lu udah punya jawabannya?” Mulyana sudah kembali ke rumah dimana Aditia disekap dan dijaga Dirga.
“Udah, tapi masalahnya, gue harus hadapin orang itu secara langsung.”
“Yaudha ayok! Kita bawa senjata aja sekalian, kesel gue.”
“Nggak gitu Ga, maksud gue secara langsung itu, bukan fisik ketemu fisik. Tapi, sukma ketemua sukmat.”
“Hah? jangan bilang lepas raga lagi?”
“Iya, lepas raga lagi aku harus mengambil balik sifat baik Aditia yang di tahan itu, dengan membawa sedikit bagian ari-arinya. Pantas aku tidak melihat bayangan, tidak melihat pengendalian, karena dia memang tidak dikendalikan dari jauh, sebaliknya dia bergerak sendiri karena hati nuraninya diambil, semua sifat baiknya diambil lalu ditukar dengan semua sifat buruk yang ada, sifat serakah, sifat iri dan dengki serta sifat jahat ingin membunuh. Semua ditinggalkan ke dalam tubuh Aditia. Sementara sifat baiknya diambil dan ditahan di suatu tempat.
Aku harus mengambil balik sifat baik Aditia, dengan menjadikan ari-arinya sebagai penunjuk jalan. Ini namanya ritual Gugah Alam Balikan.”
“Yaudah, kalau begitu, ayo kita lakukan.”
“Ga, lawan gue ... Mudha Praya.”
“Wah, itu kan orang yang paling elu takutin dia turut campur dalam masalah pernikahan lu dan anak lu dari kandungan dijaga dari orang itu. Bahkan sudah sebesar ini aja anak lu, dia asih ngincer kalian! Brengsek banget itu orang.”
“Ya, gue pikir dia udah terima pernikahan gue dan dengan Aditia menjadi Kharisma Jagat, dia akan melepaskan kami, tapi gue salah Ga, dia hanya menunggu saat yang tepat aja. Gue lupa betapa dia benci pernikahan di luar jodoh adat, dia benci kalau Kharisma Jagat menikah tidak dengan jodoh adatnya.”
“Jadi, gimana Yan?”
“Mau nggak mau, gue harus tetap ke sana, lepas raga dan mengambil semua sifat baik Aditia dan mengusir sifat buruknya. Andai gue bisa minta tolong ratu kami, tapi kau kan tahu, ratu itu belum diketahui keberadaannya, mungkin juga tentang dia hanya dongeng belaka.”
“Ratu Kharisma Jagat ya, andai dia ada, dia pasti bisa menghabisi klen Mudha Praya.”
“Iya, tapi itu mah masih jauh lah, iya kalau memang ada, entah kapan dia muncul, jangan-jangan pas gue udah nggak ada.”
“Apa sih lu ngomongnya. Fokus aja dulu buat sembuhin anak lu. Coba cari dulu Yan, mungkin Mudha Praya punya kelemahan.”
“Dia orang yang terkenal sangat tertutup dan tidak terlihat kelemahannya, dia tahu, sebagai pucuk tertinggi pada perkumpulan ketua, dia harus melindungi klennya dengan baik, makanya dia terkenal orang yang tanpa kelemahan.”
Dirga kecewa dan kesal mendengar itu. Dia sebagai sahabat tidak bisa membantu banyak.
“Tapi, gua akan coba lakukan, setidaknya, apapun yang terjadi, gue harus tetap ambil sifat baik anak gue kan Ga, gue nggak mau selamanya Aditia tumbuh menjadi orang paling buruk sifat dan prilaku di dunia ini.”
“Tapi Yan, itu berbahaya bukan?”
“Ya, makanya gue bakal bersiap melakukan itu, bantu gue lakukan persiapan ya.”
“Iya Yan, gua pasti bantuin lu.”
“Termasuk surat wasiat Ga ....”
“Yan!”
“Ini memang menakutkan, tapi percayalah, itu harus dilakukan! Untuuk kemungkinan terburuk, janji sama gue, elu nggak bakal tinggalin keluarga gue ya Ga, tolong bantu gue lindungin mereka ya.”
“Yan! sumpah gue benci setiap kali elu ngomong begini!”
__ADS_1