
“Apalagi ini! Jadi bukan Sak Gede musuh kami? Astaga!!!” Hartino sangat kesal mendengar itu.
“Bukan, kalian berhadapan dengan keturunan Dewi Kali, yang kekuatanya sangat besar, dia melahap energi dari musuhnya dengan sangat kuat, bahkan dia seperti nenek moyangnya, Dewi Kali, mampu menciptakan penyakit pada jiwa-jiwa manusia.”
“Penyakit pada jiwa manusia? parasit jiwa!” Kawanan lalu menemukan benang merahnya, ternyata yang mereka buru selama ini salah!
“Dia tidak dapat dikalahkan dengan mudah, kalian harus berhati-hati.” Ibunya Anggih mengatakan dengan lemah.
“Dit, kita harus apa?” Alka bertanya, Aditia hanya menggeleng.
“Kalau pemahamannya adalah tentang perempuan yang lebih tinggi dari kaum pria, maka kita berikan apa yang dia mau bukan Alka? Sekarang pertanyaannya adalah, kita tidak bisa melawannya, dia adalah keturunan Dewi Kali yang mampu menggandakan jiwa, menyerap energi, akan sangat bahaya untuk kita bertiga jika gegabah melawannya, maka yang harus kita lakukan adalah, memberikan apa yang dia mau.
Dia memasukkan kita ke sini, wujud manusia kita, bukan jiwa, pasti ada maksudnya bukan?” Aditia meminta semua orang untuk berpikir.
“Apa yang dia inginkan?” Hartino bingung.
“Dia ingin menjadi yang dipuja lagi.” Alka berkata.
“Kita harus muja dia gitu?” Hartino kesal mendengarnya, karena itu jelas mencederai keimanan mereka.
“Tidak, tentu saja tidak!” Aditia menolak.
“Bukan itu, kalian tahu kan cerita Dewi Kali, beliau bukanlah Dewi yang jahat, dia bahkan selirnya Dewa Siwa. Lalu kenapa keturunannya, yang mungkin memang sudah jauh sekali garisnya ini, bisa jahat? Apakah pemahamannya bergeser? Seperti dalam agama kita, ada banyak pemahaman yang bergeser hingga harus memiliki guru jika saja kita harus memperdalam ilmu agama.
Maka mungkin saja Dewi ini bukan Dewi yang baik meskipun dia keturunan seorang Dewi yang baik.
Maka, keinginannya dia mungkin bukan tentang membela wanita, karena dia mengambil tumbal untuk dirinya sendiri, maka keinginan dia hanya ….”
“Tumbal!” Aditia menangkap dengan segera.
“Tumbal dengan energi yang tinggi, seperti kau, aku dan Hartino … apakah dia takkan tergiur?”
“Seni peperangan, tukar sandera maksudmu? kita minta dia bebaskan seluruh jiwa, kita berikan dia jiwa kita?” Aditia bertanya dengan hati-hati.
“Kita berikan dia jiwa kita?” Hartino bertanya sekali lagi.
“Ya, kita berikan dia jiwa kita.” Alka dan Aditia berkata bersamaan.
“Kau yakin?” Hartino bertanya.
“Aku yakin.” Mereka menjawab.
Lalu Hartino akhirnya setuju, mereka membisiki sesuatu pada ibunya Anggih dan berlari setelahnya, berlari dengan harapan bisa menemukan jalan menuju Dewi keturunan itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah jembatan, jembatan yang dibawahnya adalah api.
Pura terbalik yang sangat mengesankan, ruang ghaib yang dia ciptakan sangat mengerikan.
“Kita lewati?” Alka bertanya.
“Dia pasti ada di sebrang sana.” Aditia yakin.
Mereka lalu menyebranginya, jembatan yang jika saja satu kaki melangkah, maka bergoyanglah jembatan itu, karena jembatan hanya terbuat dari utaian tali yang tebal berwarna hitam.
Hingga mereka tiba di ujung jembatan dan melihat singgasana yang sangat hitam, di sana duduk seorang wanita yang sangat cantik
Rambut tergerai lurus hingga kakinya, tubuhnya terbalut dengan kain berwarna hitam, wajah dan tangannya sangatlah putih bersih, tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.
“Kalian sudah datang.” Dewi itu berkata sambil mengelus apa yang meringkuk di sampingnya, kawanan melihat apa yang meringkuk di sampingnya, bukan hewan, tapi sulit jika dikatakan seorang manusia, jelas dia bukan manusia.
Tubuhnya kekar, tapi sangat hitam, rambutnya gimbal, pakaiannya terbuat dari jerami yang tebal. Wajahnya tidak terlihat karena dia menunduk seperti … tertidur!
“Dia adalah Sak Gede yang kalian cari selama ini, yang kalian pikir adalah sosok yang mungkin kalian anggap sebagai makhluk jahat bukan? dia yang kalian pikir telah menciptakan penyakit pada jiwa kalian dan membuat parasit atas jiwa dan tubuh kalian?
Manusia! senang sekali berasumsi, meyakini apa yang kalian tidak pahami dengan baik, hanya berputar pada apa yang kalian pelajari, padahal dunia ini luas, tidak selebar buku yang kalian baca dan sebanyak kenangan yang orang tua, guru atau leluhur kalian ceritakan.
Tak tahukah kalian, bahwa di dunia ini begitu banyak hal yang kalian bisa pelajari, tapi kalian sibuk dengan asumsi dan merasa isi kepala kalian penuh, padahal tak ada isinya.
Atau kalian tak benar-benar mengenal kami.” Dewi itu berkata, wajahnya sungguh seperti seorang Dewi, sangat amat cantik.
“Kami memang tidak mengenalmu, tapi kami tahu apa maumu, aku akan menawarkan kesepakatan.”
“Kau mau menipuku? Ayahmu saja menolak melakukan perjanjian dan masih saja merasa bahwa si bodoh yang tertidur ini adalah pelakunya, padahal tidak pernah bertemu dengannya, asumsi kalian memang benar-benar sesat, aku senang melihatnya.”
“Kami terjebak, sedang kami tidak bisa keluar, lalu apa lagi yang kami bisa tawarkan selain perjanjian?” Alka berkata.
“Apa yang kalian punya?” Dewi itu bertanya.
“Jiwa, bukankah kau sangat ingin jiwa kami, dengan membujuk Anto, menggandakan jiwa kami agar kelak kau bisa mengambil parasit jiwa kami dan dijadikan sumber energimu?” Alka berkata lagi.
“Jiwa kalian memang menggiurkan, tapi aku tidak perlu perjanjian untuk mendapatkannya, jika ingin aku bisa mengambilnya sekarang.”
“Lalu kenapa tak kau lakukan sejak awal?” Alka bertanya dengan angkuh.
“Apa tombak itu yang menahanmu? Karena elemen energi kami mirip seperti tombak itu?” Alka dan yang lain tertawa, karena rahasianya langsung ketahuan oleh kawanan.
Tombak itu tertancap seperti kutukan, mantra yang dibaca oleh Mulyana adalah mantra yang membuat apapun yang tertancap adalah mantra kutukan, sehingga yang ada di sekitar tombak itu, tidak bisa keluar dari sana, sedang energi kawanan, mirip seperti energi tombak itu, jadi selama mantra kutukan tombak itu belum dibatalkan, maka kawanan tidak bisa diambil jiwanya, karena kutukan itu membuat dia terkurung tidak bisa keluar, kalau dia sampai bersikeras mengambil jiwa kawanan di dalam pura ini, bisa jadi, dia akan terkurung selamanya, karena kutukan itu malah menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
Makanya dia merayu untuk melepas tombak itu pada Aditia, karena yang dia tahu hanya Aditia yang bisa melepas tombaknya.
Aditia menyadari bahwa tombak itu bukanlah pagar, tapi sebuah kutukan dari energinya, dia merasakan energi seluruh kawanan di situ, ayahnya seperti sudah meramal bahwa kawanan akan datang, maka yang bisa melepas tombak itu, bukan hanya Aditia tapi … kawanan.
“Kau cukup cerdas, lalu sekarang apa?” Dewi itu berdiri dari singgasananya, dia terlihat sangat tinggi.
“Jika kau ingin jiwa kami, kau harus melepas tombaknya, jika kau ingin melepas tombaknya, maka kau harus menghadirkan 6 orang di sini, karena ayahku tidak membaca mantranya dengan 1 kutukan, tapi 6 kutukan energi kami, aku dan semua kawanan. Maka kau harus membawa kami semua masuk ke dalam pura ini, jika kau ingin tombaknya lepas.
Tapi aku ingin kau melepas seluruh jiwa sekarat di sel itu, lagi pula, tak ada yang kau bisa dapatkan dari jiwa kering itu lagi, mereka hampir musnah!”
“Kau mau menipuku?”
“Siapa yang penipu di sini? Bukankah kau lihat, aku kesulitan melepas tombak itu, atas nama Tuhanku, aku tidak berbohong, aku tidak bisa melepas tombak itu sendirian, kawanan harus ikut.” Alka melihat ke arah Aditia, Aditia menatapnya lalu tersenyum, memberi jawaban bahwa rencananya mungkin akan berhasil, walau Alka agak takut dengan perkataan Aditia yang membawa nama Tuhan.
“Baiklah, toh kekuatan kalian tidak sebanding denganku, maka aku akan membawa seluruh teman kalian masuk ke sini dan mengeluarkan jiwa-jiwa kering itu, tapi kau harus tepati janji, kau harus melepas tombak itu dari tempatnya.”
“Aku akan menepati janjiku, melepas tombak itu bersama kawanan, bawa 3 orang lagi ke sini, lepas jiwa-jiwa yang kalian tahan, kau akan bebas dari kutukan ayahku.”
“Baiklah, aku akan lakukan.”
Aditia dan Alka saling melihat, Alka tampak ragu, Aditia menutup matanya, meminta Alka tetap pada rencana.
____________________________
Catatan Penulis :
Kalau kalian merasa aku belokin cerita, baiklah ini jawabanku, masa ga ada yang curiga, cluenya udh bertebaran loh!
Sak Gede hanya punya kemampuan untuk memberikan kemampuan menari pada pemujanya, trus tiba-tiba bisa punya kemampuan menggandakan jiwa? Masa ga pada curiga?
Keluarga Anggih turun temurun memuja Sak Gede, trus kenapa baru minta tumbal di generasi Anggih? Kenapa ga generasi sebelumnya? Masa Sak Gede labil kayak ABG jatuh cinta? Kan ga mungkin.
Sak Gede adalah Dewa yang diusir karena nakal, bukan jahat.
Ingat, aku bilang aku mimpi, sosok itu minta aku tulis kisahnya, masa ga ada yang curiga, kalau yg aku bawain kisahnya adalah yang disalahpahami, masa kisah sosok jahat mau aku bantu? Itu aja nggak masuk akal.
Ini bukan cerita Dewi Kali, tapi keturunannya, udah aku jawab di atas ya.
Ingat prinsip baca bovel Muka Kanvas adalah … BERPIKIR.
__ADS_1
Makanya kalau baca novelku, diresapi, pelan-pelan.