
Wajah itu pucat sekali, pucat seperti mayat, matanya merah tanpa pupil, seluruh bagian matanya berwarna merah, lalu bibirnya ... bibir? Dia tidak punya bibir! Giginya langsung terlihat dengan sempurna, gigi itu runcing! rambutnya belah tengah, bukan rambutnya belah tengah, kepalanya memang terbelah, tapi rambutnya tertata rapih, dikuncir setengah sedang sisanya digerai, lalu pada belahan rambut itulah terlihat kalau kepalanya memang terbelah, hingga bentuk kepalanya lebih lebar dibanding orang normal.
Perempuan itu mendekat pada Amanda yang membeku dengan lampu yang hanya menyala di atas kepalanya, sedang yang lain mati, hingga Amanda melihat perempuan berwajah setan ini dengan sangat amat jelas. Setan perempuan ini sudah sangat dekat pada wajah Amanda dan dia berbisih tepat di depan wajah Amanda ....
BI TOGLOMOOR BAINA
NADTAI TOGLOOCH
NAMAIG DAGARAI
BI TOGLOMOOR BAINA
NADTAI TOGLOOCH
NAMAIG DAGARAI
Mendengar itu Amanda merasa kepalanya sangat berat, bahunya juga sangat sakit, perlahan menjadi panas, Amanda berusaha bergerak dan ingin berteriak, dia ketakutan, saat perempuan itu mendekat, ada bau yang tidak pernah dia hirup sebelumnya, bau yang aneh tapi bukan bau yang bisa membuatmu ingin muntah, hanya bau saja, bau yang tercium.
Amanda masih terus berusaha untuk menjauh dari setan perempuan yang terus saja berbisik seperti itu, bisikannya sama sekali tidak Amanda mengerti.
Saat Amanda hampir menyerah dan akhirnya mampu menutup matanya, dia mendengar suara seseorang yang berusaha menyadarkannya, itu suara teman satu kosnya.
“Manda!” dia akhirnya menampar Amanda, lalu Amanda tersadar dan melihat ke arah temannya lalu menangis.
“Elu abis solat bukannya salawatan kek, malah ketawa-ketawa nggak jelas, ngomong ngawur, trus ketawa lagi, ngomong ngawur lagi. Makanya gue tampar!” Temannya kesal tapi itu adalah wujud perhatiannya, tidak mengerti bahwa Amanda sedang kesurupan.
“Gue ketawa-ketawa? Sama ngomong ngawur? Tapi tadi gue ... gue ngeliat ada perempuan mengerikan di sini. Ada setan di sini!” Amanda berteriak.
“Kita cek CCTV deh biar lu liat sendiri kelakuan lu.” Teman toko yang lain, seorang lelaki akhirnya berkata, lalu Amanda dipapah ke tempat layar CCTV berada.
“Pegawai toko itu lalu membuka CCTV pada monitor dengan sebelumnya memilih waktu yang hendak mereka lihat dan terekam pada CCTV. Kebetulan di toko ini CCTV ada di beberapa titik termasuk gudang, karena gudang tempat stok barang dagang berada, jadi tempat yang cukup penting untuk ditaruh CCTV.
Setelah waktu ditentukan, akhirnya mereka semua melihat apa yang terjadi yang terekam CCTV.
Pada waktu yang mereka pilih di CCTV, pertama yang terekam adalah ketika Amanda solat, setelah Amanda selesai solat, belum juga mengucapkan salam, tiba-tiba Amanda mengubah posisi duduknya dia duduk sembarang masih mengenakan mukena. Tanpa melepas mukena, lalu dia tiba-tiba bergumam yang tidak jelas sembari menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, terus bergumam dan tertawa dengan sangat lantang, suaranya aneh, sangat tinggi, seperti bukan suara Amanda.
Amanda terkejut melihatnya, satu yang dia baru sadar, ternyata mukenanya memang belum dia buka, bahkan sampai sekarang, tapi seingat dia tadi, dia telah melepas mukenanya dan berhasil menyelesaikan solat, lalu kenapa ... yang terlihat di CCTV berbeda?
“Lihat Man, lu aneh tau.” Teman kosnya bingung.
__ADS_1
“Apa jangan-jangan lu kesurupan, Man? Di sini emang angker katanya, makanya sewa pertahunnya murah, trus udah dibayar 5 tahun lagi sama bos, dia mah enak nggak datang tiap hari, lah kita, masa sekarang harus menghadapi setan juga.” Teman kerja yang lain berkata, dia yang tadi mengusulkan melihat CCTV.
“Angker gimana sih?”
“Angker gitu, katanya di sini ada penunggunya, orang dulu-dulu sebelum lu pada kerja, senior gue, mereka bilang kalau di sini suka ada setan perempuan gitu.”
“Ah yang bener?” Temannya Manda itu lalu berdiri merapat, sementar Amanda membuka mukenanya dan ingin bercerita versi dia.
“Tapi tadi, gue ngerasanya udah selesai solat, trus selesai salam, gue buka mukena, tiba-tiba lampu gudang satu per satu mati, trus gue berusaha teriak, tapi nggak bisa, tubuh gue nggak bisa gerak, suara gue juga nggak bisa keluar, gue barasa diikat seluruh tubuh dan mulut gue tuh kayak dilakban.
Trus tiba-tiba lampu di atas gue nyala, abis lampu itu nyala, gue liat setan perempuan yang serem banget, dia bergumam sesuatu gitu, gue nggak tahu apa kata-katanya, gue masih berusaha untuk kabur atau teriak, tapi nggak bisa.”
“Hah? kok beda ya ama yang kita lihat di CCTV?” Temannya Amanda bertanya.
“Gue nggak tahu, tapi ... semenjak kematian ibu, gue jadi sering ngalamin hal aneh, bahkan di tempat kos kita.”
“Hah? jangan nakutin lu, gue tinggal lama di sana, tapi nggak pernah tuh ngalamin hal itu Man, lu jangan nakutin.” Temannya jadi ketakutan.
“Maaf, gue tadinya nggak mau cerita, takut kalau elu bakal ketakutan kayak gini, tapi sepertinya ini terlalu sering, jadi gue takut kalau ini memang pertanda ada yang salah dalam kematian ibu, apakah ibu dibunuh?”
“Man! Kebanyakan nonton youtube kriminal lu, makanya jadi gini, jangan ngomong yang enggak-enggak deh.”
“Heh! Gila lu! kakak sendiri lu curigain, bukannya kata lu, ibu bilang kalau kakak lu nggak lakuin itu? lu kan cerita kemarin.”
“Bisa aja ibu nutupin supaya kakak gue bisa selamat dari penjara. Kalau gue lapor, bisa aja kan dia dipenjara?”
“Manda! Lu sebenci-bencinya ama kakak lu, jangan sampe jadi buta sama kebaikan kakak lu, bukannya dia minta kalian tinggal bareng ya? tapi lu kekeh pergi dari rumah karena masih marah sama dia?”
“Oh ya, mungkin aja ini soal rumah, mungkin dia bermaksud menjual rumah itu untuk mendapatkan uang, dia itu pemalas!”
“Manda, kalau ini bener, lu bagus keluar jadi bisa selamat, tapi kalau ini fitnah, dosa lu sih besar bagnet Man.” Pegawai toko lain itu berkata, dia lelaki jadi masih bisa berpikir secara logis.
“Gue bakal kumpulin bukti kalau dia emang pelakunya, gue bakal cari bukti, pasti ada bukti kalau dia yang lakukan, bisa aja dia pukulin ibu gue trus diracun deh. Bisa jadi, sekarang dia lagi neror gue pake ilmu hitam, biar gue sengsara, sakit dan akhirnya sekarat karena ketakutan, trus dia gampang deh jual rumahnya, karena untuk jual rumah itu, dia perlu tanda tangan gue sebagai ahli waris kan? dia pasti yang nyelakain ibu dan sekarang mau gue mati.”
“Astagfirullah Manda!” Dua teman kerjanya itu menutup mulut Manda agar berhenti untuk memikirkan hal yang ngawur. Tapi percuma, Manda sudah bertekad, dia akan mendatangi rumah itu mencari buktinya.
...
Kakaknya Manda sudah datang ke kantor milik kawanan itu, dia diterima sebagai OB, di luar dugaan, dia menerima pekerjaan itu, karena gajinya sesuai, Aditia melihat ketulusan dari mata kakaknya Amanda itu, proses perekrutan itu dilakukan oleh HRD kantor mereka, tapi Aditia memperhatikan dari luar, melihat gerak-gerik kakaknya Amanda, hanya untuk memastikan, apakah ada bau dan juga energi yang tidak baik, tapi Aditia tidak dapat menangkap itu semua.
__ADS_1
Lalu Aditia meminta semua orang berkumpul di kantor mereka, karena semua sebenarnya sedang bekerja, hari ini jadwal rapat dengan para pemegang saham, sudah selesai sejak tadi, lalu Aditia meminta mereka berkumpul kembali di ruang meeting kecil, ruang yang disediakan untuk kawanan, tidak boleh dibuka atau diperuntukan untuk yang lain.
“Aku udah cek ke para tetangga Dit, sama Jarni. Kegiatan Amanda dan ibunya normal saja, tidak ada yang aneh, selama dua sampai tiga minggu terakhir, mereka seperti biasa pagi ke pasar berdua untuk belanja, lalu Manda pergi kerja, begitu juga dengan ibunya, kakaknya di rumah, kata tetangga kakaknya memang malas.
Lalu setelah sore, mereka berdua pulang dan kakaknya masih di rumah. Hanya satu kejadian yang berbeda, ibunya Manda pamer kalau dia baru saja dibelikan kalung emas oleh Amanda, dia sangat bangga, makanya selalu cerita pada semua tetangganya.
Nah karena ini muncul rumor, dia dicelakai oleh anak lelakinya, kakaknya Manda yang pemalas itu, katanya mungkin kakaknya Manda minta uang tapi ibunya belum punya, makanya dia minta kalung itu, tapi Manda nggak setuju, karena Manda tidak bisa dicelakai dengan mudah, makanya dia mencelakai ibunya untuk mendapatkan kalung dan juga mungkin sertifikat rumah. Rumor ini muncul karena Manda hiteris melempar kalung pada kakaknya saat almarhum ibunya sedang dilayat oleh para tetangga.” Ganding meringkas temuan yang dia dapat.
“Benar kan kataku, lelaki itu memang brengsek.” Hartino merasa bahwa kakaknya Amanda memang bukan orang yang patut didukung.
“Tidak, aku melihat ketulusan pada matanya, kalau dia memang berniat mencelakai ibunya, dia takkan pernah terlihat tulus seperti tadi, dia tidak melakukannya.”
“Dit! Nggak semua kakak lelaki itu bertanggung jawab sepertimu karena ditinggal ayah! Nggak semua orang kayak lu kali!” Hartino kesal kali ini.
“Har, aku tidak menyamakan posisiku dengan kakaknya Amanda, tapi aku mengunakan intuisiku, mungkin benar dia pemalas, tapi dia bukan orang jahat dan kematian ibunya pasti membuatnya sadar tentang kemalasannya, dia bilang kok menyesal tidak lulus kuliah, kalau saja dia tahu ibunya akan secepat itu meninggalkan dia, dia pasti lebih berusaha lagi untuk lulus.”
“Kau dibohongi Dit, jangan naif. Kalung dan juga rumah itulah incarannya.” Hartino masih bersikukuh.
“Baiklah, cari apapun data yang mendukung teorimu, kalau kau benar, aku akan menghukum kakaknya dengan tanganku sendiri, tapi ini berbeda Har, aku tidak melihat jiwa tersesat ibunya di kamar itu, kalau memang ini adalah jiwa tersesat ibunya, kenapa baunya berbeda? kenapa aku juga tidak melihat jiwa ibunya di rumah itu? ini kan arah omongamu? Kau mengira ibunya jadi tersesat karena marah pada anaknya yang tega mencelakai dia, itu kan asumsimu?” Aditia sudah menangkap kecurigaan Har, tapi dia tidak setuju dengan Hartino.
“Baiklah aku akan coba cari bukti untuk mengukuhkan teoriku.” Hartino meninggalkan ruang meeting itu, Alisha tidak mengikutinya.
“Kau tidak ingin menenangkan suamimu?” Ganding bertanya pada Alisha.
“Tidak, tadi kami habis bertengkar juga.”
“Kenapa” Semua orang bertanya dengan serempak.
“Aku tidak setuju dengan teorinya, aku merasa ada yang janggal di sini, entah apa.”
“Kalau begitu, aku dan Alka akan ke tempat-tempat yang tiga minggu ini ibunya Amanda dan Amanda datangi, siapa tahu aku menemukan sesuatu.
“Baiklah, aku akan menenangkan Har dulu ya.” Ganding pamit untuk menemui Hartino.
__________________________
Catatang Penulis :
Jangan lupa ikuti akun Noveltoonku ya.
__ADS_1
IG, TIKTOK, FB = Muka Kanvas --> follow juga ya.