Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 475 : Nyebrang 7)


__ADS_3

GEDEBUM!!! BRAK!!!


Tiba-tiba ada suara yang sangat besar dari ruang tamu, seperti ... atap yang jatuh, atap yang terbuat dari genteng.


“Man jangan keluar!” Mulyana berteriak, karena Eman reflek akan keluar, dengar Mulyana melarangnya, Eman tidak jadi keluar.


Mulyana memberitahu Abah Wangsa untuk siap-siap, dia mengeluarkan kerisnya.


Mulyana berjalan perlahan ke arah pintu masuk dan begitu keluar, dia melihat beberapa binatang ghaib, sudah mendarat di ruang tamu kakaknya itu.


“Masih siang ini, apa kalian tidak kepagian?” Mulyana memasang kuda-kuda memegang keris mininya, keris yang kelak akan Aditia berikan pada Balian, sebagai pertukaran.


Mereka mulai menyerang dan ....


"Kiriman siapa lagi ini!" Mulyana mulai menyerang dia menghajar kera putih yang bulunya hampir habis dan lebat hanya pada bagian wajah saja, kera ini berukuran setinggi manusia, sedang si ular dan si badak tanpa cula mencoba menyerang dari belakang, tapi Abah Wangsa keluar dari tubuh Mulyana dan menampik serangan binatang-binatang itu.


"Tutup pintunya!" Mulyana berteriak, Eman berlari dan menutup pintu kamar, saat dia menutup itu, betapa terkejut dan anehnya melihat Mulyana bertarung tanpa lawan, tentu saja, mana bisa dia lihat.


"Kakakmu bertarung dengan apa? Siapa? Dia bertarung sendirian?"


"Kau lihat barang-barang bergeser saat Mulyana bertarung itu?"


"Hmmm, iya, meja dan bangku itu bergeser padahal Mulyana berada jauh dari meja dan bangku itu."


"Maka jawabannya adalah, dia bertarung dengan banyak makhluk." Aep bangun, kakinya sudah bisa digerakkan, karena jin yang memeluk kakinya sudah tidak lagi di sana.


"Kau mau apa?" Eman bertanya karena melihat Aep hendak mendekati pintu.


"Adikku bertarung sendirian, aku harus bantu."


"Kau yakin? Kakimu sudah enakkan?"


"Kau lihat kan, aku sudah bisa jalan. Jangan buka pintunya sampai aku yang minta buka." Aep lalu keluar setelah mengatakan itu.


Aep melihat abah Wangsa dan juga Mulyana terlihat sangat sibuk dengan para hewan jejadian itu, Mulyana bahkan terlihat tersudut karena diserang dua binatang sekaligus, sementara kerisnya jatuh ke lantai.


Aep mengambil keris itu, lalu dia menusuk kera putih dengan keris Mulyana, memakai satu tangan, tangan kirinya. Tangan kanannya memegang leher kera itu dan menarik keris Mulyana dari sisi kiri ke sisi kanan lehernya, hingga sobekan dari tusukannya menjadi sangat panjang, kera itu berteriak karena sakit sekali, lalu musnah.


Melihat itu Mulyana terdiam, dia merinding, kakaknya telah kembali.


Lalu ular yang sedang mencoba menyerangnya, dia injak, kepala ular itu berusaha untuk mematuk kaki Aep, tapi Aep menangkap kepalanya dan menarik ular itu dengan kedua tangan, hingga tubuh ular putus lalu musnah.


Badak tanpa cula yang masih dihadapi oleh abah Wangsa, melihat kawan-kawannya dihajar sampai mati, dia jadi berhenti menyerang Abah, Aep mendekatinya, lalu berkata ....


“Tanya pada tuanmu, mau sampai kapan dia terus menyerangku, aku sudah cukup bersabar bukan? tuanmu harusnya tahu, kalau aku bukan tandingannya, dia harusnya berhenti, aku tidak melawan bukan takut, tapi lelah.


Jika ada anggota keluargaku yang terluka lagi, aku akan pastikan, akan mencabik-cabiknya hingga tak tersisa satu daging pun dari tubuh tuanmu, sampaikan pesanku.”


Aep memegang leher badak itu dan melemparnya ke arah luar, tentu saja tubuhnya menembus dinding, tapi akan kembali tepat pada tuannya.

__ADS_1


“Kau, akan melawan mereka?” Mulyana antara senang dan ngeri.


“Tentu saja, andai mereka mencelakaimu.”


“Untuk kau, ini untukmu, bukan aku, aku harus kembali ke kotaku, aku harus menjaga keluargaku, kau tahulah.”


“Aditia apa kabar?” Mereka kembali duduk di ruang tamu, membicarakan tentang banyak hal.


“Baik, dia semakin tajam penglihatannya.”


“Karuhunnya masih perempuan dua dunia itu?” Aep bertanya, sementara Eman masih hanya mendengarkan saja, saat dia menceritakan ini kelak, Aditia tiba-tiba meminta Alka dan Alisha untuk mencari barang-barang paman Aep kerabat Aditia ke rumahnya,mencegah Alka mendengar semuanya dengan jelas, karena Alka masih belum paham kalau Aditia sebenarnya sudah tahu segalanya, bahkan lanjo itu, makanya sebelum Eman bergulir menceritakan semuanya dengan lebih dalam, dia segera meminta Alisha dan Alka untuk ke rumah Paman Aep, mereka patuh, tidak curiga, karena bisa jadi ini efisiensi. Sisanya kawanan masih di rumah Wak Eman, kunci rumah paman Aep dipegang oleh Wak Eman, untung saja. Aditia lega, Alka tidak curiga.


“Alka namanya, Saba Alkamah.” Eman kembali menceritakan tentang hari itu di mana Mulyana mengoreksi panggilan yang Aep sematkan pada Alka, perempuan dua dunia itu, Aep harus ingat namanya, karena Alka orang yang penting bagi Mulyana.


“Tentu saja, masih perempuan itu, kau tahu kan, Abah masih bersamaku. Aditia harus segera memiliki Karuhun agar tidak disentuh karena jodoh adat yang aku langgar itu.”


“Ya, kau mengejekku karena menikahi wanita biasa, sedang kau ternyata sama saja.”


“Yah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ayah kita juga sama.”


“Tapi aku masih bingung, karena yang aku paling yakin akan menikah dengan jodoh adat adalah dirimu, karena waktu muda kau begitu bangga pada gelarmu dan berharap mendapatkan wanita-wanita yang bisa kau ajak bertarung bersama.”


“Panjang ceritanya Ep, nantilah kapan-kapan kuceritakan.” Mulyana enggan membuka kisah lama, nanti kita buka di judul Mulyana saja ya, tapi tidak tahu kapan.


“Lalu sampai kapan perempuan itu mendampingi Aditia?”


“Maksudnya, kau mau perempuan itu menjadi Karuhun selamanya? Tapi kan wujudnya setengah manusia? Tentu itu tidak bisa. Kecuali kau merubahnya menjadi jin seutuhnya, kau hanya harus menguras habis darahnya, mudah kan?”


“Ya, Abah Wangsa sudah memilih Aditia, lagipula anakku hanya satu, jadi pasti turun padanya. Aditia adalah hak Abah, tapi aku tetap ingin Alka menjadi pendamping Aditia, dengan tubuh manusia yang utuh, tapi apakah dia bisa melepas kekuatannya untuk bersama anakku kelak?”


“Memang kau tahu caranya merubah tubuhnya menjadi manusia seutuhnya? Tentu saja, jika mereka berdua sembuh, tapi tak jaminan, kalau mereka akan bersama.”


“Kau mau dia jadi menantumu?”


“Ya, aku sudah tulis wasiat, jika saja ... jika saja aku tidak bisa mendampingi keluargaku lebih lama lagi, jika saja aku tiada sebelum Aditia dewasa dan menentukan jodohnya.


“Kau menulis wasiat hanya untuk jodoh anakmu, luar biasa, kau sudah berubah Mulyana, si haus kekuasaan dan sangat ingin menjadi pemimpin, sekarang sudah menjadi kepala keluarga yang hangat, aku tidak pernah melihat adikku seperti ini.


“Waktu merubah banyak hal, Aep, kau yang tidak berubah, selalu saja pemaaf dan merasa apapun ada jalan tengahnya, padahal di tengah itu jurang.”


“Kau tak mau menambah anak?”


“Ingin, tapi aku takut tak bisa menjaganya, lagian ... aku sudah mengadopsi satu anak perempuan yang sangat cantik jelita, namanya Dita, kapan-kapan aku bawa ke sini, kalau ibunya tak keberatan tentu saja, istriku sangat sayang pada Dita, kadang aku jadi bingung, anak angkatnya Aditia atau Dita, karena istriku cenderung selalu membela Dita dan melebihkan kasih sayang padanya.”


“Istrimu ibu yang bijak, dia begitu pasti karena tidak ingin anak angkatmu merasa dibedakan, karena jika salah pada anak kandung, anak kandung tetaplah anak kandung, tapi jika buat salah pada anak angkat, maka bisa jadi salah paham yang berkepanjangan.”


“Anak itu sudah kami daftarkan secara legal, rencananya kami takkan beritahu dia, bahwa dia anak angkat, kami hanya akan membiarkan dia mengingat kami sebagai orang tua kandung.”


“Kenapa begitu?”

__ADS_1


“Wah ini juga cerita yang sangat panjang, anak itu bukan anak biasa, harus dilindungi.”


“Banyak kisahmu itu panjang-panjang ya Yan, Eman, terima kasih ya, aku akan lebih menjaga diriku lagi mulai sekarang, karena aku lelah, aku juga tak ingin kakiku dikerjai lagi, mereka sudah bermain kasar, pagar ghaib rumah ini sudah dijebol, aku harus memasangnya lagi, aku juga akan memasang pagar ghaib di rumahmu, agar memastikan bahwa kalian aman.”


“Wah terima kasih Aep.”


...


Jaka masih terus berputar di jalan persawahan itu, jalan sudah teraspal di mana sawahnya berada pada kanan dan kiri jalan beraspal itu.


Jaka sendirian di sana, entah sudah berapa hari, karena tak pernah ada pagi, temannya sudah tak terlihat lagi, tentu saja bensinnya habis duluan, tidak pernah terpikir olehnya untuk menumpang pada temannya, yang bensinnya memang tidak penuh, yang mereka berdua pikirkan hanya jalan saja.


Jaka lelah ingin istirahat, tapi tubuhnya terus memaksa untuk mencari jalan ... sendirian.


...


"Jadi, apa yang terjadi hari itu?" Temannya Jaka sudah ditemukan di daerah Subang, sungguh sangat jauh MENYEBRANGNYA!


Dia ditemukan dalam keadaan yang sangat kacau, motornya tiba-tiba muncul dari persawahan, hampir menabrak mobil yang sedang melintas karena muncul tiba-tiba.


Setelah itu motornya jatuh, sedang temannya Jaka itu hanya duduk dalam tatapan yang kosong di areal persawahan.


Ditanya sakit atau tidak tiba-tiba dia menangis dan berteriak histeris, baru sadar kalau dia sudah keluar dari lingkaran jalan itu.


Dia mencari Jaka tapi Jaka tidak diketemukan, akhirnya dia dibawa ke kantor Polisi, maka polisilah yang mengantarnya pulang. Karena jarak rumahnya itu cukup jauh.


Dan disinilah mereka semua akhirnya berkumpul, di rumah pak RT.


"Mana Jaka?"


"Masih di sana kayaknya, bensinnya belum habis." Temannya itu berteriak sambil nangis.


"Kau yang membujuknya untuk jalan lewat situ kan!" Tiba-tiba istrinya Jaka bertanya dengan menuduh.


"Bisakah kau sabar sebentar? Suamiku baru saja ketemu, dia masih linglung." Istri temannya Jaka membela suaminya.


"Apa yang terjadi malam itu?" Pak RT kali ini yang bertanya.


"Malam itu ... ka-kami bertemu di jalan, lalu kami bersiap untuk ke pos ronda, lalu ...."


"Lalu kau paksa suamiku lewat jalan persawahan itu kan?" Istrinya Jaka langsung menunjuk lagi.


"A-aku, aku, kami ... kami ... Ja-Ja-Jaka yang memintaku untuk menemaninya lewat jalan persawahan itu." Temannya Jaka itu menunduk saat mengatakannya.


"Kau bohong! Kau bohong! Suamiku lewat lain, aku melihatnya dia berjalan memutar untuk ke pos ronda, tapi istrimu bilang kau malah ke arah jalan persawahan itu! Kau pasti yang membujuk suamiku bukan!"


"Diam kau perempuan sundal, suamimu yang menyebabkan ini semua. Ayo kita pulang Kang, suamiku perlu istirahat."


Istrinya menarik tangan suaminya dan buru-buru pulang.

__ADS_1


__ADS_2