Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 515 : Mulyana 20


__ADS_3

Seperti Yang kalian sudah tebak, memang yang melihat Nando kesurupan adalah dua temannya, Rahman dan Adi. Tapi dengan melihat temannya kesurupan, apakah menjadi landasan yang kuat untuk mereka membunuh Nando? Membunuh secara tak sengaja?


“Aku hanya pernah mendengar bahwa sakit ayahnya adalah disebabkan karena … santet.” Rahman dan Adi sampai di sekolah duluan, mereka janjian untuk mengobrol masalah kemarin saat tidak sengaja bertemu dengan Nando.


Rahman dan Adi pulang sekolah, melewati pasar karena memang jalan rumah mereka ke arah sana, saat mereka melewati pasar, Nando terlihat sedang mengorek sampah di pasar itu. Rahman dan Adi terkejut lalu menegur Nando, sayang Nando hanya menatap dengan mata menyalang, lalu berkata lapar, Adi dan Rahman akhirnya memaksa Nando untuk pulang, dengan cara menyeretnya.


Begitu sampai rumah Nando, Rahman dan Adi tidak masuk, hanya mengantar sampai depan rumah saja, sedang ibunya Nando tak melihat kedua temannya Nando saat itu, karena sedang menyuapi ayahnya.


“Kalau begitu, apa mungkin Nando juga disantet?” Adi bertanya dengan polos.


“Setahuku, hanya ada beberapa kemungkinan orang disantet, pertama karena dia kaya raya, jadi teman bisnisnya mungkin sengaja ingin bisnis orang yang dia santet bangkrut. Kedua karena rebutan kekasih, ketiga karena … sama-sama dukun, jadi adu ilmu.’’ Rahman membuka ruang luas untuk Adi berasumsi.


“Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena ayahnya Nando bukan orang yang kaya raya, kemungkinan kedua juga nggak mungkin, karena mereka Sudah terlalu berumur untuk rebutan pasangan, tapi kemungkinan terakhir … bisa jadi.”


“Ya kan, gini ya coba kau pikir, warung di pasarnya itu tiba-tiba ramai sebelum dia sakit, pasti dia pakai penglaris, lalu tak lama kemudian dia sakit, jadi bisa saja kan, kalau ini perang antar dukun?”


“Ah masa sih Man? Kalau dia pakai penglaris untuk warungnya, harusnya dia jadi pasien dukunnya, bukan dukun dong.” Adi merasa ada lubang pada Analisa Rahman.


“Nah ini dia yang paling menakutkannya, kamu tahu kan, kalau warung Rahman itu posisinya di belakang, kalau di belakang kan pasti bakal sepi, karena orang lebih suka belanja di bagian depan pasar. Anehnya, sejak warung Rahman ramai, warung-warung di sekitar warung Nando jadi ramai juga. Pas bapaknya sakit aneh itu, warung juga ikut sepi, bisa jadi, karena dukunnya udah kalah dan dukun itu … ya bapaknya Nando!”


“Dia nggak sakit aneh Man, dia sakit stroke, jatuh dari kamar mandi.”


“Itu kan yang dibilang Nando, yang benernya bisa jadi bukan itu.”


“Kalau itu benar, yasudahlah, tidak perlu kita urus, toh bukan urusan kita, Man.”


“Ya, memang bukan urusan kita, tapi akan jadi urusan kita, jika … kalau benar bapaknya dukun, artinya bapaknya melihara jin dan jangan-jangan, selama ini Nando pintar karena bantuan dari bapaknya.” Rahman berbicara dengan berbisik, karena murid-murid yang lain mulai berdatangan.


“Wah! Kalau benar ini terjadi, berarti dia curang, pantas saja dia pintar. Tak heran karena bantuannya jin, bisa saja jin itu membantunya menemukan jawaban dari guru, kunci jawaban yang dicuri jin!” Adi dengan pemikiran bodohnya, wajar, namanya anak-anak. Apakah kalian juga memiliki pemikiran begini jika tahu kelak apa konsekuensi dari pernyataan WAJAR NAMANYA ANAK-ANAK, memungkinkan 1 nyawa hilang sia-sia. Kalau ya, coba pikirkan kembali, apa tindakan anak-anak yang salah tapi kalian wajarkan tanpa berusaha mengoreksi, mungkin akan membawa kita semua pada resiko mengantarkan anak-anak kita untuk menjadi kriminal karena terlindungi kata … wajar, namanya juga anak-anak.


“Kita harus membuktikan, bahwa dia memang curang, dia dibantu jin, kau harus bantu aku, karena kalau benar dia dibantu jin, maka di sekolah ini, kitalah murid paling pintar, mengerti?”

__ADS_1


Adi mendengarnya mengangguk, tanda setuju.


Semua murid mulai berdatangan, termasuk Nando yang berbeda kelas dengan dua orang sahabatnya itu.


Pelajaran dimulai, semua murid serius mendengarkan pelajaran disampaikan oleh guru-guru dengan seksama.


Hingga istirahat tiba.


Biasanya Nando, Rahman dan Adi selalu saja makan bersama saat istirahat, tapi hari ini berbeda, Rahman makan berdua tanpa mampir ke kelas Nando untuk mengajak makan. Nando heran dan begitu ke kantin melihat 2 sahabatnya, Nando langsung bertanya.


“Kenapa tak mampir? Tadi aku ke kelas kalian mencari kalian untuk ke sini, kalian malah sudah di sini duluan.”


“Tadi kami buru-buru karena Adi kelaparan, kalau mencari kami kan tinggal ke sini aja. Nggak usah marahlah.” Rahman menjawab sambal menyuap nasinya, terlihat bahwa makanan mereka sudah tinggal setengahnya.


Nando lalu berkeliling untuk makan, karena dia juga lapar.


Saat sudah sampai di meja kantin di mana Rahman dan Adi duduk, ternyata dua sahabatnya telah selesai makan.


“Tunggu dulu lah di sini, kan belum masuk juga, memang kenapa sih buru-buru?” Nando keberatan ditinggal lagi.


“Kami harus belajar Nando, kami kan tidak sepintar kau.” Ada nada mengejek dari Rahman.


“Kan kita bisa belajar bersama setelah aku makan.” Nando tetap tak ingin kedua sahabatnya pergi.


“Kau makan saja yang tenang, lagian belajar bersama juga percumalah, kau akan tetap yang paling tinggi nilainya.” Lalu setelah mengatakan itu Rahman pergi begitu saja bersama Adi tanpa menunggu Nando berkata lagi.


Nando terdiam, dia bingung sahabatnya dingin sekali padanya, Nando teringat tentang pembicaraan terakhir mereka, dia menyangka kedua temannya masih marah padanya karena kemarin menolak untuk belajar bersama.


“Oh, masih marah karena itu, nanti aku bujuk mereka. Pasti mereka nanti akan mengerti.” Nando lalu makan dengan tenang, ketenangan yang mungkin hanya akan dia dapatkan saat ini karena kelak dia akan tidak pernah tenang lagi.


__ADS_1


Hari-hari berlalu, Nando dan dua sahabatnya semakin jauh, baik Rahman dan Adi selalu menghindarinya, Nando sudah menggunakan banyak cara untuk membujuk dua temannya yang sedang ngambek itu, dia masih menyangka bahwa ini hanya karena dia menolak belajar bersama ketika itu karena harus menjaga warung ibunya.


Tapi Nando salah, di sinilah awal mulanya, neraka Nando tercipta di dunia ini.


“Kau tahu, katanya ada anak yang menggunakan jin untuk mencuri kunci jawaban dari guru, makanya dia sangat pintar dan selalu juara kelas.” Selentingan itu mulai beredar.


Dari satu kelas, lalu mulai menyebar ke kelas lain.


Nando sedang di toilet untuk buang air kecil, saat itu jam istirahat baru saja dimulai. Saat selesai, dia melihat tiga orang melihat ke arahnya.


Nando tak ingin menggubris, makanya dia hanya melewati mereka karena hendak mencuci tangan, tapi saat dia melewatinya, salah satu di antara mereka berkata.


“Kau anak dukun itu kan? Di sekolah ini kau paling pintar, jadi kau kan yang mencuri kunci jawaban guru menggunakan jin ayahmu?”


Nando diam, karena jujur sejak gosip itu menyebar, hanya satu yang dia takuti, kalau gosip itu bicara tentangnya, karena dia memang yang paling pintar di sekolah ini.


“Aku bukan anak dukun, ayahku sedang sakit, jadi nggak mungkin dia dukun.”


“Nggak usah banyak ngomong lah kau! Kau itu tidak ikut les, selalu juara kelas bahkan juara umum, nilaimu selalu sempurna, kau pasti mencuri jawaban pakai jin kan!” Salah satunya lagi berkata sambal mendorong Nando.


Nando mulai marah, karena dia dituduh atas kerja keras yang dia lakukan, ini penghinaan.


“Kau punya bukti kalau aku yang melakukan itu! Kalau aku punya jin untuk dijadikan pencuri jawaban dan membantuku mendapatkan nilai yang sempurna!”


“Ada yang melihatmu makan sampah di pasar, hanya jin yang suka kotoran, karena memang makanannya itu! Kau memberinya makan kan!” Anak itu kembali mendorong Nando.


“A-a-aku ….” Nando berkeringat, ternyata ada yang melihatnya kesurupan, tapi bukannya disangka kesurupan, dia malah disangka sedang beri makan peliharaan.


Nando tidak dapat menjawab, karena siapapun yang melihatnya, pastilah orang itu yang menyebar tentang masalah ini di sekolah, dia tak punya alasan yang logis untuk membantah ini semua.


“Benar kan? Kau itu pakai peliharaan ayahmu untuk dapat nilai bagus.” Anak itu kembali mendorong Nando, sekarang mereka bertiga mendorong Nando dan juga mulai memukul kepalanya, menonjok wajahnya dan memukulinya secara intens.

__ADS_1


Nando terdiam dan menangis, dia difitnah, dia tak melakukan apapun atas semua fitnah ini.


__ADS_2