Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 55 : Janggit Benthangan 10


__ADS_3

Kisah Dina ternyata lebih rumit dari yang mereka kira, sekarang mau tidak mau Alka dan Aditia harus macak kekasihnya Dina ada di mana saat kejadian.


"Cari dia gimana? tempat kerjanya aja nggak tau, cuma modal nama mah, susah." Aditia mengeluh pada Alka.


"Namanya aja cukup kok," Alka berkata.


Lalu Alka menelpon Hartino, si jagoan IT.


[Har, cariin alamat smaa nomor handphone Budiman, dia pacar Dina, udah punya istri, kerja dia tengah laut penambangan minyak."


[Siap kapten, dua jam,] jawab Hartino.


"Dua jam kata Hartino."


"Gila, hebat amat, gampang banget dia nyarin data orang."


"Tapi bener kata lu, ini susah."


"Lah, susah giman? Dua jam loh dia janjinya."


"Biasanya dia bisa nemuin dalam waktu 20 menit." Alka menjawab dengan santai, itu membuat Aditia tercengang.


Akhirnya Aditia dan Alka mampir ke warung pinggir kuburan untuk menunggu informasi dari Hartino.


"Wah udah lama nih nggak pada ke sini, sibuk kerja ya?" Si teteh penjaga warung bertanya.


"Iya, biasalah."


"Yaudah gorengan tuh, masih anget baru aja goreng soalnya yang pagi abis."


"Iya Teh, nuhun." Aditia menjawab, Alka duduk lamgsung makan.


Tidak berapa lama Hartino menelpon, katanya sudah menemukan informasi soal Budiman.


"Katanya saat kejadian dia memang benar ada lokasi kerjanya, soal istrinya ada yang mencurigakan Dit."


"Apa?" Aditia bertanya.


"Istrinya punya perusahaan penyalur tenaga kerja luar negeri."


"Wah, kita harus segera menemui istrinya, tapi menghadapi Pengusaha kita tidak bisa seenaknya masuk lalu bertemu, kita butuh Pak Dirga, tapi dia ada di luar daerah, sedang ada kasus besar di sana, makanya dia dipanggil. Kamu bisa nggak, jadi ...."


"Pak Dirga? Astaga Aditia, bisa sih bisa tapi aku agak jijik kalau jadi lelaki."


"Trus gimana?"


"Kita nyamar aja, jadi calon TKI, gimana?" Alka bertanya.


"Bisa juga tuh. ganti baju dong, yang sedikit rapih?"


Mereka berdua lalu pergi ke pasar Senen, cari baju yang cukup formal dengan harga murah, karena melamar pekerjaan jadi TKI tidak bisa terlihat mewah, kan.


Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di kantor yang sudah ditunjukan oleh hartino, Hartino memang berbakat dalam mengumpulkan serta memanipulasi data, Aditia dan Alka sudah terdaftar sebagai salah satu pelamar kerja pada database perusahaan itu.


“Aditia dan Alka, silahkan masuk ke ruangan.” Mereka berdua sudah ada di Perusahaan tenaga kerja penyalur TKI ke luar negeri itu, sudah berpakaian resmi dan sedang dipanggil untuk interview bersama dengan bos dari perusahaan tersebut.


Setiap pelamar kerja, dipanggil berdua-berdua, untuk sesi pertanyaan bersama, Alka sudah memebri tanda pada Aditia, begitu mereka berdua masuk ke ruangan, Alka melihat ada tiga orang yang akan interview, staff memperkelnalkan mereka siapa saja, dua diantaranya adalah pegawai, sedang yang di tengah adalah istrinya Pak Budiman, lelaki kekasih Dina.


Setelah mengetahui itu, Aditia berjalan ke arah pintu, itu membuat staf panitia atau bisa dibilang moderator terkejut, dia bertanya dari meja dekat para staf dan pemilik perusahaan.


Setalah pintu dikunci Alka membacakan tembang penidur.


Babayang jinem wangsuluhur


Mungurin handipan jabar


Mukun pakering jahar


Sanjang mungri jahinar


 


 


Setelah mengatakan itu, semua orang di ruangan tertidur, kecuali Aditia dan Alka.


 

__ADS_1


 


Alka mendekati staf yang menjadi moderator dalam interview ini, dia menepuk bahunya lalu membisikkan, “Katakan pada semua Pelamar untuk kembali lagi ke sini besok, lalu setelah itu kembali ke sini dan tidur seperti yang lain, bangun kalau aku suruh.


Seperti robot, staf itu keluar dengan tatapan mata yang kosong, karena dia sebenarya masih tidur dan hanya melakukan apa yang Alka suruh saja.


Setelah sudah tenang, Alka duduk tepat di hadapan istri Budiman, dia lalu menjetikkan tangannya, itu membuat ibu budiman akhirnay terbangun, dia kaget saat bangun, semua stafnya tidur, sementara dia sudah bangun dan lansung berhadapan dengan Alka.


“Kau! Si-siapa kau.” Katanya, dia takut dan kaget.


Dia ingin mundur tapi tubuhnya tidak bisa bergerak, Alka memang memberinya gendam sebagian, sadar tapi tidak bisa bergerak.


“Tenang saya tidak bermaksud jahat, hanya jawab pertanyaan saya dengan jujur, itu saja.” Alka duduk di depan ibu Budiman.


“Kau siapa?”


“Bukan Anda yang bertanya, tapi saya.” Alka memandangnya dengan tatapan tajam.


Ibu Budiman akhirnya mengangguk.


“Anda kenal dengan Dina?”


Wajah Ibu Budiman berubah, dia terlihat marah.


“Kalian keluarganya?” Dia tahu Dina sudah tidak ada, karena Ibu Budiman, bertanya seolah tahu Dina sudah tidak akan mengganggunya lagi dan menebak keluarganya sedang mencari Dina saat ini.


“Apakah kau yang mengubur Dina di pinggir tol itu?” Alka langsung pada intinya.


“Dia sudah mati? baguslah.”


“Kau menguburnya di sana?”


“Perempuan murahan tidak perlu waktu lama dicelakai orang, tanpa perlu kusentuh.”


“Kau yang menyebabkan dia celaka?” Alka mengubah pertanyaannya.


“Bukan, tapi aku senang kalau dia celaka atau mati, tidak ada yang mengganggu pernikahanku lagi.”


“Kau menyalahkan Dina saja, padahal suamimu juga tidak lebih baik.” Alka mencoba memancingnya.


“Suamiku orang yang baik! Dia hanya sedang khilaf, sedang perempuan itu, sudah tahu beristri, tapi masih saja menggoda.”


“Bukan aku ataupun suamiku, kami tidak pernah ingin menyentuhnya.” Bu Budiman berteriak pada Alka.


“Dina ke sini, kan, untuk interview, lalu setelahnya dia hilang dan ditemukan terkubur, di pinggir tol. Kalau bukan kau, siapa lagi?” Alka menuduh.


“Dia memang datang,” Bu Budiman tertawa sinis, “aku mempermalukannya di depan semua orang, kau tahu apa yang dia lakukan, dia malah katakan bahwa, dia adalah istri dari suamiku, dia berteriak-teriak dan mengatakan bahwa suamiku akan meninggalkanku dan anak-anak kami untuk dia, wanita sialan itu, ingin rasanya kurobek saja mulutnya mengeluarkan jantungnya dengan tanganku mungkin akan lebih baik.”


“Atau kau congkel matanya hingga bolong? Menusuknya berkali-kali hingga seluruh darahnya menutupi tubuh wanita itu karena begitu banyaknya tusukan yang kau ciptakan.”


“Kau menuduhku?!” Kali ini Alka sudah keterlaluan, dia melewati batas menuduhnya, benar atau salah, dia tidak boleh asal bicara.


“Ka.” Aditia memegang bahu Alka dan meminta Alka mundur, Alka jadi sadar dia sudah keterlaluan.


“Baik begini Ibu Budiman, kami butuh bantuan Anda, jika memang bukan Anda yang melakukannya, berarti Pak budimanlah, tersangkanya, karena hanya kalian yang memiliki motif, cinta segitiga.” Aditia yang gantian bertanya.


“Tidak! suamiku masih di lokasi tambang, tidak bisa pulang dalam setahun ini, jadi sudah pasti bukan kami pelakunya.”


“Darimana kau tau dia tidak pulang diam-diam, buktinya kau tidak tahu dia selingkuh, sampai setelah sekian lama.” Aditia bertanya lagi.


“Aku tahu, karena aku sudah cek ke perusahaannya, aku sudah lihat daftar absensi, kau tahu, absensi di sana menggunakan kornea mata, jadi tidak ada yang bisa memanipulasi, aku secara berkala mengecek suamiku sejak tahu dia selingkuh, kau tahu, Dina juga sengaja ke sini bukan untuk interview, tapi untuk memerasku, karena suamiku sudah tidak menginginkannya lagi. Jadi dia mulai memerasku.


“Dina masih terlalu muda dan polos untuk menjadi sosok yang seperti kau ceritakan, kau sedang menulis novel?” Aditia menyindir.


“Terserah kau percaya atau tidak, kalau kau ingin mengambil pernyataanku, kau harus membawa surat perintah dari kepolisian, bukan melakukan trik seperti ini, kau tahu, ini adalah tindakan buruk.” Kali ini Ibu Budiman mengancam.


“Tenang saja, setelah ini kau akan lupa, karena aku akan memberi efek gendam pada kalian semua.” Alka tertawa.


“Kau wanita licik.” Bu Budiman setelah mengatakannya tertidur lagi.


“Gimana Ka?”


“Bukan dia, aku lihat matanya, benar-benar bukan dia. Sepertinya bukan Pak budiman juga, karena istrinya cek absen suaminya berkala.”


“Kau yakin, Ka?”


“Yakin, karena aku melihat tidak ada rasa takut saat berhadapan denganku, sudah kuserang terus, dia masih terus menghina Dina, kalau orang yang salah, dia cenderung akan tidak lagi benci, karena kebendiannya sudah dilampiaskan dengan cara membunuhnya, tapi saat kita tanya dari tadi, dia masih saja melampiaskan amarahnya. Artinya, dendam itu belum tuntas. Tapi dia tahu, Dina kemungkinan sudah tiada, entah dari mana, mungkin saja dia selama ini mengawasi Dina dan keluarganya, jadi tahu pemakaman Dina yang dilakukan kemarin.” Alka berasumsi yang masuk akal.

__ADS_1


Penyelidikan mereka menemui jalan buntu lagi.


“Kita harus apa Ka?”


“Aku nggak tahu, kalau aku tahu, Dina tidak akan di sini lagi.” Alka kesal, Aditia mendesak sekali.


“Ketemu Jarni dulu, sudah beberapa hari ini dia tidur, kita punya tugas tertunda juga.”


“Oh iya, Jarni masih kena Ajian busuk itu.” Aditia baru ingat.



Mereka berdua sudah di gua Alka, Jarni masih tertidur, wajahnya jadi kurus sekali, Hartino menemaninya, sementara Ganding, masih proses penyembuhan, sudah keluar rumah sakit.


“Jadi gimana, Kak? “ Hartino bertanya.


“Buntu, bukan mereka pelakunya.”


“Kau yakin, Kak?”


“Yakin.”


“Trus siapa pelakunya?” Hartino masih bertanya.


“Kau fikir aku cenayang?” Alka kesal, karena Aditia dan Hartino terlalu memaksa.


“Kak, bukannya kemampuanmu lebih tinggi dari cenayang?” Hartino meledek.


“itu, kan hanya sebuah kiasan Har! Aku tidak tahu!”


“Trus aku harus apa, Kak?” Hartino masih terus bertanya.


“Bagaimana, apakah kau sudah menemukan cara supaya kita bisa menghapus Ajian Wahita yang menimpa Jarni?”


“Sudah, pakai sapu ijuk, pakai kelapa hijau dan daun kelor.”


“Itu mah, udah semua gue sama Alka lakuin Har, yang lain?” Aditia protes.


“Ada sih, tapi agak gila.”


“Apa?” Alka tertarik.


“Ganding,” Jawab Hartino.


“Hah? Kok bisa?” Aditia bingung, Alka seperti sadar sesuatu.


“Kau yakin? Bukankah itu hanya sebuah lelucon?”


“Aku yakin, tapi kau tahu, kalau itu berbahaya.”


“Berbaya kenapa?” Aditia satu-satunya yang tidak paham.


“Berbahaya karena, kalau kita salah, kita seperti menjebak Jarni, lepas dari mulut buaya, masuk ke kandang harimau.”


“Kok bisa gitu?” Aditia bingung.


“Nggak ada salahnya dicoba.” Alka mengambil keputusan.


“Coba apa?”


“Dit! Bisa diem nggak!” Alka dan Hartino kesal, Aditia bertanya terus.


“Makanya, baca banyak literature ghaib, supaya lu ngerti.” Hartino meledek.


“Apa sih lu! jelasin sekarang.” Aditia kesal.


______________________________


Catatan Penulis :


Ada yang tahu, kenapa aku kasih dua kasus pending ke kalian? Soal Jarni dan Dina.


Karena aku belum yakin jawaban dua kasus itu cukup ajeg atau nggak, aku masih cari sumbernya dulu agar masuk akal, entah kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa masih saja ada yang kurang, makanya aku belum kasih kalian penyelesaian dua kasus ini, sorry banget ya.


Aku ngerasa kurang puas terus sama penyelesaiannya, kayak ada yang nggak bener gitu, jadi menggalau deh, sabar ya, kita tunggu dua part lagi, semoga aku udah yakin, nggak bosen, kan?


Buat yang bosen, baca karyaku yang udah tamat aja dulu ya, Karuhun dan juga Lelaki di Jembatan Busway, banyak efek plot twistnya juga kok, kayak di sini.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2