Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 441 : Kamboja 3)


__ADS_3

Gelap ....


Aditia mencoba berjalan dan mencari arah, ini pertama kalinya dia menggunakan energi kawanan untuk menerawang, walau spesialisasi menerawang sudah ada, ilmu turun temurun. Apalagi Alka juga bisa melakukannya, energi ini menjadi begitu kuat.


Aditia terus berjalan, gelap sekali, saat dia berjalan, tiba-tiba ada cahaya yang begitu terang, Aditia mengamati cahaya itu, dan segera menghindar, hampir saja.


Ternyata cahaya dari sebuah mobil, Aditia melihat mobil itu melintasi begitu saja, seolah tak melihat, sekilas dia melihat supirnya.


Tak lama taksi itu melewatinya, bahkan hampir menabraknya, Aditia kembali berjalan, dia masih belum bisa tahu dengan pasti ini jalan apa, gelap sekali.


Saat dia berjalan, Aditia kembali melihat cahaya, takut kalau ini masih cahaya mobil, tapi ternyata bukan, cahaya memang lebih kecil, Aditia melihat sesorang sedang mengendarai motornya, dia membelakangi Aditia, begitu juga motornya, motor itu perlahan menjauh, motor itu melaju dengan sangat kencang.


Saat itu Aditia terdiam, lalu jiwanya tiba-tiba kembali pada tubuh dengan cara yang kasar, hingga membuat kawanan juga terdorong ke belakang, namun tangan mereka masih berada di bahu kawanan lain, formasi tidak terpecah.


“Apa yang kau lihat?” Alka bertanya, mereka semua sempat terdorong oleh energi yang membuat Aditia kembali ke tubuhnya.


“Entahlah, gelap, aku melihat cahaya yang ternyata dari mobil, taksi sih tepatnya, karena akrilik di atas mobilnya yang bertuliskan taksi, lalu ada cahaya lagi, itu dari motor yang melaju kencang.


Tapi selebihnya gelap. Sangat gelap.”


“Kau lihat plat nomornya?” Alisha kali ini yang bertanya.


Semua orang sudah berkumpul dengan santai di ruang tamu, termasuk Alisha. Dia sibuk makan buaj sedang kawanan disediakan makanan yang nyaman, gorengan, apalagi memang?


“Tidak terlihat karena kejadiannya sangat cepat, baik taksi itu maupun motornya,” Aditia menjawab.


“Gelap? Ada tanda jalan?” Ganding bertanya sekarang.


“Tidak ada, kan aku bilang aku hanya melihat cahaya dari mobil dan motor.”


“Dua kendaraan itu hanya melewatimu saja?” Ganding mulai berpikir dengan banyak bertanya, dia mengumpulkan kemungkinan.


“Melewatiku dengan kecepatan tinggi.”


“Kau lihat pengemudinya?”


“Sekilas Nding, karena mereka melaju dengan cepat, bahkan taksi itu saja hampir menabrakku.”


“Kalau itu gelap, jalanan di kota kita ini mana yang memiliki kemungkinan memiliki jalan yang gelap?” Ganding bertanya.


“Banyak, kau pikir jalan-jalan di pinggiran kota kita sudah memiliki lampu yang terang pada setiap jalannya?” Hartino memberikan fakta yang miris.


“Yang pasti itu bukan jalan tol, karena aku juga melihat motor.”


“Wah ini membantu sekali, berarti kita sekarang bisa menyortir datanya ....” Ganding sinis, karena penglihatan Aditia sama sekali tidak membantu tentang rasa nggak enak hatinya sejak mereka pulang ke kota sendiri.


“Dit, ada ratusan, bahkan ribuan nama jalan di kota kita, lalu bagaimana caranya kita menyortir jalan yang gelap itu?” Hartino ikut mengeluh seperti Ganding.


“Kita persempit dengan mencari kira-kira jalan mana yang baru-baru terjadi kecelakaan, dengan korban supir taksi dan juga pengendara motor.” Alka mencoba mempersempit lokasi.


“Itu bisa saja dicari, sebentar.” Hartino mengambil laptopnya dan mencari apa yang Alka katakan.


Setelah menunggu beberapa saat, dia akhirnya memberikan data dengan memperlihatkan laptopnya yang bisa dilipat dua sisi, baik ke dalam maupun ke luar, dia baru saja mengganti laptopnya dengan seri terbaik yang mudah digunakan.


“Ada 85 kecelakaan yang dengan tipe yang Aditia lihat, ada kecelakaan mobil dan juga motor, lalu aku coba untuk menyortir lagi, mobilnya adalah taksi, lalu data mengecil menjadi lima puluhan kasus.


Setelah data mengecil, aku kembali menyotir data, yang korbannya taksi dan ojek, maka data menyempit menjadi tiga puluhan kasus.


Jadi sekarang, jumlah mana yang ingin kita selidiki, karena jujur, angka segitu tetap saja masih banyak.”


“Bagus Har, itu lebih baik dibanding mencari informasi dari ribuan jalan, sekarang kau sudah menyortirnya menjadi puluhan saja, kalau menurutku, ada baiknya kita cari informasi dari data yang paling sempit, yaitu di angka tiga puluhan, lalu kalau masih belum dapat, kita baru naikin angkanya ke lima puluhan kalau masih belum dapat juga, baru kita selidiki seluruh jalan itu, di angka 85 kan Har?” Ganding memberikan pandangan dan bertanya.


“Ya, aku pikir itu ide bagus.” Aditia berkata.


“Kita jadinya ambil kasus lagi nih?” Alisha bertanya.


“Iyalah!” Hartino yang menjawab.


“Baru juga sampai, kita bahkan belum pulang ke rumah masing-masing. Tidak bisakah kita istirahat satu atau dua hari.”

__ADS_1


“Aku tidak bisa Alisha, maaf. Karena perasaanku tidak enak sejak kakiku menginjak kota ini, aku takut ini pertanda, karena kita meninggalkan kota kita cukup lama, aku takut kalau memang ada korban, sehingga kalau kita tunda, korban akan bertambah, kau mengerti kan?” Aditia meminta pendapatnya.


“Ya, aku mengerti, tentu saja.”


Alisha lelah tapi perintah pemimpin sulit untuk diabaikan, lagian apa yang Aditia katakan itu benar.


...


“Suaminya masih koma, Dah?” Seorang tetangga bertanya pada Zubaedah, suaminya yang seorang ojek online itu masih dirawat di rumah sakit, motornya ditabrak oleh truk.


“Iya masih.” Zubaedah menjawab dengan lesu.


“Kasihan sekali, terus anak gimana, Dah?” Tetangga yang lain bertanya, mereka semua sedang belanja di tukang sayur keliling.


“Ya gini-gini ajalah Bu, untung perusahaan ojeknya kasih sumbangan, temen-temen sesama ojek juga kasih sumbangan, dari tetangga juga sama, trus dari perusahaan supir truknya juga ngasih sumbangan, jadi saat ini kami bertahan hidup dari uang sumbangan, saya nanti juga rencananya mau kerja.”


“Loh, Dah, kalau kamu kerja, gimana anakmu? Kan baru lahir?”


“Paling aku titip ke mertua atau ibuku, nanti setelah aku kuat Bu, kalau suamiku terus koma dan nggak bangun, aku bisa apa lagi selain kerja?” Zubaedah tidak punya jalan keluar selain berusaha dengan kakinya sendiri.


“Ya Dah, doain aja suaminya cepet bangun, nanti bisa jadi tulang punggung keluarga aja.”


“Iya, Bu. Tapi kalau bangun juga, saya takut.”


“Takut apa Dah?”


“Takut kalau suami saya ... cacat, kemarin ketabraknya, motor sampai hancur Bu.” Zubaedah menahan air mata agar tak jatuh.


“Udah Dah, jangan pikirin yang itu, yang penting suamimu sekarang didoain, supaya cepet bangun, setelah itu kan bisa tahu, gimana kondisi tubuhnya.”


“Iya Bu, untung biaya perawatan juga dari asuransi pemerintah, walau ada banyak obat yang nggak ditanggung, tapi nggak apa-apalah, yang penting biaya perawatan masih ditanggung.”


“Iya Dah, yaudah yang sabar ya.” Lalu mereka semua bubar, termasuk Zubaedah.


Zubaedah sudah di rumah, dia hendak memasak untuk dirinya sendiri, karena anaknya belum bisa makan.


Kenapa sekarang kepalanya berputar.


Zubaedah mencoba mengingat, apakah memang benar dia tadi menempatkan posisi anaknya seprti sekarang ini? karena kalau anaknya berputar posisi tidak mungkin, pun jika keajaiban anaknya bisa berputar, kenapa bedongnya masih rapi?


Saat Zubaedah berpikir keras, dia terkejut, ada suara gelas pecah dari dapurnya.


Lupa dengan masalah posisi tidur anaknya, Zubaedah berlari ke dapur, untuk memastikan apa yang membuat gelas jatuh.


Zubaedah sudah di dapur, tidak ada apa-apa, dapur masih dalam keadaan bersih, tidak ada yang jatuh, padahal tadi suara gelas atau piring beling jatuh itu sangat kencang terdengar. Arah suaranya juga Zubaedah yakin, itu dari arah dapur.


Belum juga masalah posisi tidur bayinya yang berubah, sekarang masalah suara makin membuat Zubaedah bingung.


Suara tangis bayi terdengar, Zubaedah kembali tak fokus dan berlari ke kamar, dia ingin segera menennagkan bayinya.


Begitu sampai di kamarnya ....


Anak bayinya masih tertidur dengan sangat tenang, posisinya sudah kembali seperti yang Zubaedah tinggal saat dia akan membeli sayur.


Zubaedah merinding, karena tadi saat dia pulang, jelas posisi bayinya berputar, tidak seperti saat dia tinggal beli sayur, lalu saat dia ke belakang akan melihat barang yang pecah dan kembali lagi melihat bayinya, bayi itu sudah kembali pada posisi yang semestinya.


Karena takut, Edah memutuskan untuk menggendong bayinya, dia takut bayinya kenapa-kenapa, tapi saat dia menggendong bayinya, dia mendengar suara yang cukup familiar.


“Edaaaahhhh.” Suara itu lirih, suara ... suaminya.


...


Kawanan mulai pencarian, semua lokasi coba mereka datangi, semua daftar korban iba ditanyai, mereka memulai dari 30 lokasi kecelakaan.


Setelah beberapa hari tidak saling bertemu, akhirnya hari ini kawanan akan membicarakan apa saja temuan mereka.


Mereka ada di markas ghaib, berbicara di ruangan yang memang khusus untuk rapat, ada meja panjang dengan bangku yang cukup banyak, lalu ada proyektor dan tentu, Hartino bertindak sebagai moderator.


“Ganding mau mulai duluan?” Hartino bertanya.

__ADS_1


“Ya, aku akan mulai duluan. Ganding maju dan Hartino menunjukkan informasi yang Ganding dapatkan. Ada beberapa gambar kecelakaan yang dia dapat.


“Kecelakaan yang aku dan Jarni selidiki, total ada 10 lokasi, kami merasa pola kecelakaan sama, semua karena lampu yang gelap, makanya banyak pengendara yang akhirnya tidak melihat kendaraan di depannya, akhirnya saling menabrak, jadi aku pikir dari 10 lokasi itu, tak ada satupun yang mencurigakan, kecelakaan di tempat-tempat itu hanya hal yang lumrah, makanya aku dan Jarni sekalian meminta pemerintah daerah untuk segera membetulkan dan menambah lampu pada jalan-jalan itu melalui pengaduan online.”


“Serius informasi yang kau dapatkan itu?” Aditia bertanya dengan wajah bingung.


“Iya, memang kenapa?” Ganding ikut bingung.


“Sama dengan data yang Alka dan aku kumpulkan, semua kecelakaan itu karena lampu jalan yang gelap, sangat gelap, sehingga banyak pengendara saling tabrak, umumnya kecelakaan itu terjadi malam hari, saat memang tak ada sinar matahari.


Kecuali memang lokasi lampu matinya di terowongan, karena mau malam atau siang, terowongan jadi gelap.” Aditia menjelaskan kebingungannya.


“Ya, di jalan yang aku teliti juga ada terowongan, sama seperti yang kau katakan Dit, gelap,” Ganding menimpali.


“Kalau di jalan yang Alisha dan aku selidiki, tak ada terowongan, tapi informasinya persis seperti yang kau dan Aditia katakan Nding, semua kecelakaan itu sangat wajar, disebabkan lampu yang sangat gelap.” Hartino ikut memberikan laporan.


“Kalau begitu, artinya akan semakin sulit melacak daerahnya Dit, haruskah kita naikkan jumlah kasus ke anga lokasi sebanyak 50 jalan?” Ganding bertanya.


“Kita akan naikkan, itu kemungkinannya.”


“Tapi apakah kau tidak pernah merasakan energi yang aneh saat menyelidiki jalan itu, Dit?” Ganding bertanya lagi.


“Tidak, aku melewati jalan itu biasa saja, banyak mereka yang tak terlihat di sana, dianggap sebagai ruh yang penasaran karena kejadian kecelakaan, tapi kalian kan tahu, mereka hanya menipu, aku dan Alka juga mencoba untuk menginterogasi mereka yang tak terlihat itu, tapi hasilnya nihil, mereka kabur saat melihat kita mendekat.”


“Jadi kita harus menyelidiki beberapa tempat lagi?” Hartino memastikan.


“Ya, harus kita lakukan.”


“Ini pekerjaan yang nggak efektif sih Dit, kita akan kehilangan waktu dan juga moment.”


“Ada usul lain?” Aditia bertanya kepada kawanan.


“Aku ada!” Alisha yang memilik Rangda dalam tubuhnya tiba-tiba berdiri dan menunjuk tangannya ke atas, dia ingin memberikan ide.


“Apa idemu?” Aditia bertanya.


“Kita akan kelelahan jika bersikukuh untuk memeriksa jalan-jalan itu, kenapa kita tidak kembali menyempitkan lokasi, misalnya dengan jumlah korban yang mati.”


“Kalau pun jumlah lokasinya jadi ramping ,tapi apakah kau yakin kalau korban yang mati merupakan masalah yang harus kita selesaikan?


Bagaimana jika korban yang mati bukan masalah kita dan kita jadi mengabaikan korban yang masih hidup?” Aditia mencoba memberikan pandangan lain.


“Kalau begitu kita cari korban yang selamat?” Alisha kali ini bertanya.


“Itu juga berat, Alisha, karena bisa jadi korban yang selamat trauma dan enggan membicarakan kecelakaan itu, atau kalaupun mereka selamat, bisa jadi mereka sudah menjalani hidup dan tidak mau lagi turut campur.”


“Trus gimana Nding? Kita harus apa?” Alisha jadi bingung.


“Sebentar, dari 85 jumlah jalan yang kau sortir, bisakah kau mencari informasi lagi Har, soal di mana saja lokasi yang angker.”


“Nah!” Kawanan berteriak, karena ini ide yang briliant, bagaimana sekumpulan manusia yang menghadapi masalah ghaib bisa melewatkan hal ini, biasanya masalah ghaib datang dari tempat yang angker bukan?


“Baiklah, akan aku coba sortir beberapa tempat yang angker dari 85 lokasi yang sudah kita sortir sebelumnya, termasuk lokasi yang sudah kita selidiki, karena tidak menutup kemungkinan saat kita sedang menyelidiki lokasi sebelumnya, ada salah satu lokasi yang Aditia maksud tapi tidak kita curigai karena tidak cukup informasi.”


Kawanan sepakat, Hartino akan mulai mencari informasinya di internet, tentu bukan internet biasa.


Sedang Aditia dan Alka melanjutkan untuk mencari lagi informasi dari para saksi mata atas jalan yang sudah mereka selidiki sebelumnya.


...


Hartino asik mencari data lalu tiba-tiba dia mendapatkan informasi yang sangat membuatnya ngeri.


“Ada apa? kenapa kau sampai lompat begitu?” istrinya bertanya, karena kaget Hartino sampai loncat dari posisinya saat melihat layar laptop.


“LIhat ini.” Hartino meminta istrinya mendekat, mereka masih di markas ghaib, mereka bahkan belum pulang ke apartemen, karena repot dengan kasus baru ini.


“Ada apa?” Alisha bertanya samil mendekat, begitu layar terlihat oleh matanya.


“Astaga!!!” Alisha kaget dengan apa yang dia lihat, reaksinya mirip dengan reaksi Hartino, suaminya.

__ADS_1


__ADS_2