
“Apa yang kau lakukan pada orang tua Dirga?” Mulyana masuk ke Gudang ghaib ayahnya.
“Entahlah, aku tidak paham maksudmu.”
Dasiman memang belum takluk, dia masih dalam masa penjinakkan oleh Drabya, makanya masih sulit diajak kerja sama.
“Mereka masih saja tidak mampu bersama dan harmonis, apa yang kau lakukan pada mereka?” Mulyana masih saja memaksa.
“Aku tidak tahu, aku kan di sini kau sekap, aku bisa apa?”
“Kau mau main-main denganku?”
“Aku pikir, aku terlalu tua untuk main-main dengan anak kecil sepertimu.”
“Mak beritahu aku atau aku akan minta ayah untuk menjadikanmu khodamku, artinya … kau tahu kan, kau akan dijinakkan sampai menunduk padaku, bagaimana? Aku atau ayahku yang terkenal lebih sakti mandraguna itu?” Mulyana paham bahwa, ini akan melukai harga diri jin tua yang keras kepala dan jahat.
“Kau anak brandal yang jahat, maka kau perlu cari tahu dulu cara kerja kami, mana mungkin manusia bisa kami tempeli tanpa ….”
“Perjanjian, kau melakukan perjanjian dengan orang tua Dirga? Mereka melihatmu saja tidak mampu, lalu bagaimana mereka bisa melakukan perjanjian denganmu?!” Mulyana sudah semakin kesal.
“Begini bocah ingusan, kami ini makhlulk cerdas lebih cerdas dari manusia, maka kami selalu menemukan cara untuk menorehkan perjanjian, bahkan tanpa si pemberi janji itu sadar, telah melakukannya.” Dasim tertawa dengan sangat kencang merasa menang mungkin.
“Kuralat, bukan cerdas, tapi penuh tipu muslihat! Alias tukang tipu. Di dunia kami, kau hanya penjahat kacangan yang harusnya masuk penjata kena pasal pidana karena menipu.”
“Terserah kau mau bilang apa, tapi perjanjian sudah tertoreh, kalau tidak percaya, kau datangi mereka dan lihat didekat nadi pada pergelangan tangannya, kau akan melihat garis neraka di sana, garis yang cukup dalam, akan bisa hilang jika saja, kau adakan ritual lepas janji dengan … menjawab pertanyaanku tentu saja jika kau mampu.”
“Benar kata ayahku, kau ini bukan jin hebat yang harus ditaklukan melalui pertarungan, tapi kau lebih licin dari jin yang bahkan kuat karena ilmu beladirinya yang tinggi.”
“Kau yang putuskan, aku hanya menunggu saja.”
Mulyana lalu keluar dari gudang itu dan kesal.
…
“Jadi kau harus melihat garis di pergelangan dekat nadi ibuku? Bagaimana caranya?”
Aku mampir ke rumahmu, lalu kondisikan bagaimanapun caranya agar bagian garis di dekat nadi pada tangan ibumu bisa aku lihat, lalu ayahmu, aku mau memastikan ada garis neraka di sana.”
“Kasihan sekali mereka, terikat bahkan tanpa mereka ketahui.”
__ADS_1
“Sudah jangan marah dan kesal, sekarang kita harus segera membuktikan omongan jin tua itu, lalu mengadakan ritual lepas perjanjian segera, semakin lama, aku takut kalau salah saru dari mereka melakukan kesalahan pada pernikahan.”
“Hah? Maksudnya?” Dirga tak paham.
“Dasiman menggunakan kecemburuan dan tipu muslihat, pertama dia membuat orang tuamu menjadi tidak saling mencintai, lalu menumbuhkan cinta pada tempat yang salah, itu bisa menjadi jalan bercabang yang membuat orang tuamu bercerai, maka Dasiman menjadi jin yang diakui statusnya.
Maka kita perlu melakukan ini dengan cepat.” Mulyana khawatir salah satu dari orang tua Dirga sudah melakukan kesalahan, semoga saja tidak. Mulyana tak tahu, ada seorang janda yang menunggu di warteg itu.
…
“Makan siang di sini lagi Pak? Duh kasihannya, ini makan deh, telur balado sama sayur sop kesukaan bapak.” Janda itu tahu, kalau lelaki ini pasti sedang bermasalah dengan rumah tangganya, karena jika punya istri di rumah, dia takkan makan sendirian di warteg yang dekat dari rumahnya, itu terlalu aneh.
“Terima kasih, saya memang sangat lapar.”
Ayahnya Dirga lalu memulai suapan pertama dan ….
“Kau mau membunuhku!” Ayahnya Dirga memuntahkan kembali makanannya.
“Loh kenapa!” Janda itu bertanya dengan bingung, padahal dia masih di sisi ayahnya Dirga, menemani makan suami orang layaknya pasangan sendiri.
“Ini apa!” Ayahnya Dirga mengambil sesuatu dengan sendoknya dan menunjukkan itu pada janda warteg, dia berteriak, karena ada belatung yang masih hidup di sana, semua orang berteriak dan mulai muntah.
“Warteg ini pasti pake penglaris, kau lupa kasih makan peliharaanmu ya!” Ayahnya Dirga lalu berteriak hingga di dengar semua orang.
Keributan muncul, janda yang terkenal genit dan pengganggu rumah tangga orang itu lalu menangis dan terpaksa meminta maaf.
Bersamaan dengan itu, keluar seorang kakek yang sedari tadi, begitu ayahnya Dirga masuk sudah ada di sana, dia sedang makan dengan tenang, pakaiannya serba putih, dia keluar dari warteg setelah menaruh uang di bawah piring bekas dia makan yang tidak dia sentuh sama sekali makanannya, kakek tua yang terlihat sangat bijak itu keluar dari keributan.
Kalian bisa tebak siapa kakek itu?
“Ma, ini si Mulyana mau kasih kado kejutan buat ulang tahun ibunya, mau kasih gelang, kata Mulyana, tangan ibunya kayak tangan mama, sini Dirga ukur tangan mama, biar Mulyana belinya nggak kekecilan dan kegedean.” Dirga dan Mulyana sepakat menggunakan cara lembut ini untuk melihat garis di dekat nadi pada pergelangan tangan ibunya Dirga.
“Ih kamu manis banget Mulyana, gitu tuh kayak Mulyana dong, mama nggak pernah dikasih kado sama kamu.”
“Kan Dirga belum kerja, kalau Mulyana mah kerja paruh waktu Ma, dia itu bantu-bantu ayahnya.”
“Oh ya, kerja apa kamu?” Mamanya Dirga bertanya, sementara Dirga mulai melancarkan aksinya, dia mengambil tangan ibunya dan pura-pura mengukur, membalik tangan itu, hingga Mulyana bisa melihat garis di dekat nadi pada pergelangan tangannya dan … benar saja.
Garis neraka itu terlihat, garis yang berwarna api terlihat jelas, bagaimana mungkin Mulyana melewatkan hal seperti itu. Dia bahkan tak sadar sudah ada perjanjian antara orang tuanya Dirga dengan Dasiman.
__ADS_1
Saat Mulyana memberi kode pada Dirga bahwa dia sudah selesai memastikannya, ayahnya Dirga datang dengan wajah kesal.
“Kenapa Pa?” Dirga bertanya dan memberikan air putih pada ayahnya, jarang sekali terjadi, dia dan Mulyana pindah ke ruang tamu di mana ayahnya duduk dengan wajah marah.
“Itu warteg depan, masa makanannya ada belatung. Jijik banget.” Ayahnya Dirga bergidik mengingat bagaimana nasi dan kuah sop berisi belatung itu hampir saja masuk ke dalam mulutnya.
“Ya ampun kasian, coba sini Dirga cek, papa sehatkan?” Dirga buru-buru menarik tangan papanya dan memberi kode pada Mulyana agar bersiap untuk melihat garis di dekat nadi pada pergelangan tangan ayahnya.
Dirga pura-pura memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan itu, dengan alasan itu, Mulyana bisa melihat garis di dekat nadi itu, garis neraka yang tegas, bahkan jauh lebih merah dari milik ibunya, Mulyana mengangguk pada Dirga, tanda bahwa dia sudah selesai memastikan.
“Sehat kok Pa, makanya makan di rumah aja, lagian ngapain makan di warteg.”
“Mau makan apa, mamamu tidur terus!”
“Heh, aku bangun kamunya udah lari, padahal aku sudah belikan kamu makanan supaya kita bisa makan bersama!” Ibunya kesal karena dipojokkan.
“Udah, sana makan bareng.” Dirga menarik ayahnya untuk ke meja makan dan mereka berdua akhirnya makan bersama dengan makanan yang ibunya Dirga belikan.
Lalu Dirga dan Mulyana masuk ke kamar dengan alasan akan belajar.
“Gimana?” Dirga tak sabar dan bertanya.
“Benar, ada garis neraka di dekat nadi ibu dan ayahmu, mereka udah melakukan perjanjian, mau tidak mau kita harus membaut ritual batal perjanjian, kita akan lakukan tapi mungkin Dasiman akan tetap melakukan tipu muslihat, maka kita harus bersiap, jika saja dia tak melepas kedua orang tuamu, maka kita harus memiliki rencana lain.”
“Iya, lakukanlah yang menurutmu baik, tapi aku bersyukur, karena ayahku akan berhenti makan di warteg itu, karena pemilik warteg terkenal suka genit ke suami orang yang punya uang.”
“Aku juga heran, belatung bukan binatang yang umum ada di makanan, kecuali wartegnya membeli bahan busuk, tapi warteg itu pasti tidak akan melakukannya. Kecuali ….”
“Apa?”
“Ada yang mengirim binatang itu pada semua makanannya, pasti ini kerjaan abah, dia suka sekali mengirim belatung pada tempat makan yang memiliki penglaris, kemarin dia sempat bilang akan membantuku menangani masalah keluargamu, bukan hanya masalah perempuan di persimpangan itu saja, dia pasti sudah ke sana dan merasakan energi Dasiman yang tertinggal, dia pasti sudah membuat warteg itu kapok menjadi sekutu Dasiman tanpa sadar melalui penglaris.
Penglaris! Sebentar, apakah keluarga kalian punya usaha?” Mulyana baru tersadar sesuatu.
“Ya, kami punya beberapa cabang foto copyan di dekat kantor dan kampus sana, kenapa memang?”
“Sekarang aku tahu dari mana perjanjian itu dilakukan oleh orang tuamu, pasti Dasiman sudah menipu mereka dan melakukan perjanjian, ah! Dasim brengsek!”
Mulyana kesal karena tahu, betapa rapuhnya manusia pada uang.
__ADS_1