Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 360 : Kemala 9


__ADS_3

“Jadi apa ritualnya?” Aditia bertanya.


“Kau tahu bunyi kutukannya adalah … bahwa ‘Tak akan ada satupun lelaki yang akan bisa menikahimu, tak akan ada satupun lelaki yang mampu menyentuh tubuhmu, tak akan ada satupun lelaki di dunia ini yang mampu! Tidak raja maupun di bawahnya! Seluruh lelaki itu akan merasakan apa yang aku rasakan, sakit yang tak terperi!’


Maka tidak heran suami-suaminya Kemala meninggal dengan cara yang  ‘terlihat’ alami, suami pertama meninggal karena sakit, suami kedua diracun, apakah racun yang sederhana bisa membunuh seseorang? Padahal tujuan anaknya hanya ingin ayahnysa sakit, hingga bisa membuat ibu tirinya ditendang keluar karena ayahnya tidak mampu membela, lalu kenapa dia bisa meninggal dunia dengan begitu mudah?


Sedang suami terakhir, meninggal karena bunuh diri? Lelaki mana yang mau bunuh diri sedang memiliki istri yang cantik luar biasa, kekayaan yang sangat banyak baik dari dirinya sendiri maupun istrinya, tidak memiliki hutang sama sekali dan sedang menunggu waktu untuk melakukan resepsi bersama istri yang sangat dia cintai. Salahnya, resepsi pernikahan akan dilakukan berbulan-bulan setelah akad, hingga dia bahkan belum pernah mencicipi tubu istrinya.


Lalu apakah kalian tidak merasa, bahwa gusar adalah penyebab kematian suami terakhirnya? Bukankah orang-orang yang akhirnya melakukan bunuh diri adalah orang-orang yang mengalami depresi? Hati orang siapa yang tahu, tapi jika dirimu dalam keadaan yang begitu sempurna, maka apa tujuan bunuh diri itu, selain terlepas dari rasa gusar?


Lalu apa yang membuat lelaki itu gusar? Coba tebak?” Alka meminta kawanan menjawab.


“Raja bilang, seluruh lelaki itu, akan merasakan apa yang aku rasakan, sakit yang tak terperi, apakah ini yang dialami suami terakhir, Kak?”


“Betul, kemungkinan karena kata-kata dari kutukan itu, dia mengalami sakit yang sama.”


Alka mendekati Rajima dan duduk di lantai sedang Rajima duduk di sofa, derajat Rajima di mata jin memang berbeda.


“Punten Nyai, apakah Kemala tidak bisa dibebaskan saja?”


“Apa aku terlihat mudah bagimu? Apa kau mampu memastikan bahwa cucuku akan bahagia? Bahwa menikah adalah apa yang dia butuhkan?”


“Tidak ada yang pasti di dunia ini Nyai, maka aku bisa apa? selain menuntut kebebasan bagi cucumu yang mungkin tersiksa dengan semua kematian suaminya.”


“Maka ada satu yang pasti, bahwa kebebasan seorang wanita, adalah bahagia yang akan digenggam. Aku takkan melepaskannya hanya untuk diikat.”


“Nyai punten … apakah ….”


“Saba Alkamah, bagaimana kalau tuanmu yang aku jadikan suaminya? Bukankah dia Kharisma Jagat yang keturunan Ayi Mahogra sebelum Seira Adam Hanida? Aku pernah bertemu dengan nenek moyangnya dulu sekali, sayang kami kurang akur, dia tidak sefleksibel Seira dalam berkawan dengan jin. Apa boleh? Kalau boleh mungkin aku akan dengan senang hati memberi kebebasan pada Kemala, kalau setidak dia tidak bahagia, paling tidak anak-anaknya akan menjadi keturunan Kharisma Jagat, masa depannya akan baik dan bisa bersinggungan denganku. Karena Kharisma Jagat, tahu arti kebebasan, keterbiasaan menghadapi dunia ghaib membuat para lelaki di Kharisma Jagat mampu memberi kelapangan pada wanita untuk hidup dengan bermanfaat.


Seperti Seira yang diizinkan Malik suaminya untuk hidup bermanfaat, walau Malik hanya mantan Kharisma Jagat.


Jadi, bagaimana? Apakah boleh?”


Alka terdiam mendengar itu. Lututnya lemas, hal yang paling ditakutinya sudah ada dihadapan.


“Apa boleh?” Rajima bertanya lagi.


Alka masih terdiam dan tidak menjawab, semua orang mendengar pertanyaan itu, heninga melihat Alka hanya bisa menatap kosong.


“Kenapa kau bertanya padanya? Kenapa tak kau tanyakan pada tuannya sendiri?” Aditia tiba-tiba mendekati Alka dan menariknya untuk berdiri sembari berkata seperti itu pada Rajima yang masih duduk di sofa.


Untuk seorang Kharisma Jagat, statusnya tentu jauh lebih tinggi dari Rajima, makanya Aditia melewati protokol kesopanan pada Rajima.


Alka masih belum paham kalau Aditia dan kawanan sudah tahu, dirinya terkena Lanjo dan bertuankan Aditia meski telah dilepas sebagai Karuhun, makanya Aditia tidak terang-terangan mengatakan bahwa dia tuannya Alka, hanya Alka yang belum tahu, bahwa selama ini Aditia berpura-pura tidak tahu tentang asal-usul Lanjo yang menjangkiti Alka dan tentu saja dirinya sendiri.


“Kalau begitu akan kutanyakan lain waktu saja, aku lelah menghadapi anak muda sok tahu macam kalian, kalau begitu aku pamit, jangan sentuh Kemala.”


Lalu tubuh Kemala terjatuh seperti pingsan.


“Kak, kau baik-baik saja?” Ganding bertanya.


“Ya, tentu saja.” Alka menjawab dengan perasaan yang sangat sedih, menyembunyikan cemburu yang sangat dalam, sedang dia tak tahu, kalau kawanan sudah tahu soal sakitnya. Pun dia sembunyikan.


“Jadi ritualnya apa?” Aditia bertanya lagi.


“Kau tidak dengar tadi? Apa yang diinginkan Rajima? Dia ingin Kharisma Jagat yang menikahi Kemala.”


“Kau ingin aku menikahinya?” Aditia bertanya.


“Kau ingin menikahinya?” Alka menatap Aditia dengan wajah yang sangat sedih.


“Ingin ….” Alka mendengar itu terasa tersambar petir, lututnya semakin lemas, Ganding harus memegang kakaknya yang hampir terjatuh karena terkejut dan sakit sekali hatinya mendengar itu.


“Maka menikahlah.” Air mata Alka terjatuh.


“Andai itu bisa.” Aditia Menjawab singkat lalu pergi dari tempat itu sambil menggendong Kemala.


Hancur hati Alka melihat itu, tapi dia bisa apa?


...


Aditia mengantar Kemala ke rumah dalam keadaan pingsan, para pembantunya terlihat panik melihat itu dan mencurigai Aditia, beruntung Kemala bangun begitu mereka hendak memangil Polisi.


“Kalian ke luar dulu, saya butuh bicara dengan Aditia.” Kemala meminta para pembantunya ke luar dari kamarnya, pintu kamar tetap terbuka untuk menjaga hal yang tidak baik terjadi atau gunjingan antar pembantu.


“Apa yang terjadi?” Kemala bertanya.


“Kemala, apakah kau tahu bahwa kau memiliki khodam bernama Rajima?”


“Khodam? Tidak, aku tidak tahu.”


“Khodam itu yang membuatmu kehilangan suami, karean khodam yang kau miliki telah dikutuk seorang taja, hingga membuat dia menjadi perawan suci, itu alasannya kenapa suamimu terus saja meninggal setelah menikahimu, karena khodam di dalam tubuhmu, tidak mengizinkan tubuhmu disentuh.”


“Tapi para suamiku meninggal secara alami saja, tidak ada yang aneh-aneh.”


“Bagaimana dengan suami yang terakhir? Apakah dia mengeluhkan sesuatu saat sebelum bunuh diri?”

__ADS_1


“Mengeluhkan sesuatu? apa? pekerjaan?”


“Bukan, sesuatu yang salah pada tubuhnya. Misalnya merasakan sakit di daerah wajahnya?”


“Oh ya, bukan wajah, tapi matanya, katanya dia merasakan sakit di matanya. Bahkan rasa sakit itu membuatnya kesal, tapi saat kami coba periksa ke rumah sakit, tidak ada apa-apa. Kadang pada malam-malam tertentu, dia merasa matanya panas seperti di tusuk-tusuk, kadang terasa perih yang tak terkira dan kadang dia merasa tidak bisa melihat sejenak.”


“Kalau begitu memang suami terakhirmu telah menjadi korban kutukan yang diberikan raja pada Rajima. Karena raja itu, dicelakai oleh Rajima dengan tusuk konde, dia menusuk mata raja dengan tusuk konde itu, dua mata raja ditusuk dengan brutal, sehingga dia akhirnya kutukan itu menjadi pembalasan pada suami terakhirmu.


Kau benar, mungkin suamimu tidak pernah bermaksud bunuh diri, tapi suamimu merasa sakit yang tak terkira pada matanya, lalu dia akhirnya secara tidak sengaja melompat dari jembatan itu.”


“Jadi aku penyebab para suamiku meninggal dunia?” Kemala terlihat sedih.


“Jangan bersedih Kemala, itu bukan salahmu, itu salah khodam yang bersemayam dalam tubuhmu.”


“Lalu apakah kita bisa mengusirnya dari tubuhku?”


“Tidak bisa Kemala, dia jin yang sangat kuat, kami kesulitan mengusirnya dan tak pandai membujuk.”


“Lalu aku harus bagaimana? apakah aku harus menjadi perawan tua hingga mati? aku hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik, itu saja.” Kemala menangis, Aditia memegang tangannya, hanya memberi dukungan, tidak bermasud apa-apa.


“Kemala, Rajima yang ada di tubuhmu, kemungkinan juga telah bersemayam dalam tubuh ibumu, nenek dan juga moyangmu yang lain, karena khodam biasanya akan turun tidak jauh dari tuan sebelumnya. Karena tidak mudah menemukan tubuh yang cocok untuk ditinggali dalam jangka waktu yang panjang. Makanya kebanyakan khodam akan memilih untuk tetap bersemayam di tubuh keturunan tuannya, karena mereka memiliki genetik yang mirip.


Maka sekarang yang kita perlu tanyakan pada ibumu adalah, bagaimana dia mendapatkanmu? Bagaimana dia bisa melahirkanmu, tapi pada kenyataannya dia juga disemayami Rajima.”


“Untuk itu, aku tidak bisa membantu, karena aku anak yatim piatu, sebelum lulus kuliah, aku tinggal di panti asuhan dan tidak tahu asal-usulku.”


“Apakah kau sudah bertanya tentang orang tuamu?” Aditia bertanya lagi.


“Tidak pernah bertanya, karena aku benci mereka, mereka membuangku, lalu untuk apa aku ingat mereka?”


“Maka sekarang kau harus tahu tentang mereka, merekalah yang akan menjadi jalan keluarmu untuk melepas Rajima dari tubuh ini.”


“Aku ... aku tidak ingin mencari ibuku, aku takut, kalau dia akan tidak menerimaku, seperti dia membuangku, tidak bisakah kita menemukan cara lain?” Rajima menolak gagasan menemukan oang tuanya.


“Tidak bisa Rajima, itu satu-satunya jalan, kami tak punya cara lain.”


“Kami?”


“Ya, Alka, aku, Ganding, Hartino, Jarni dan Alisha.Kami semua akan membantumu.”


“Lalu apakah gadis pertama yang menjemput kita di restoran itu adalah gadis yang telah memenuhi hatimu?” Kemala tiba-tiba bertanya di luar topik.


“Ya dia orangnya.”


“Gadis yang cantik.”


“Kau beruntung.”


“Dia juga beruntung aku cintai dengan hebat.”


“Aku iri.”


“Tidak perlu, karena kisah orang berbeda-beda. Bisakah kita kembali ke topik sebelumnya tentang orang tuamu?”


“Oh ya, aku tidak bisa, aku tidak ingin mencari mereka.”


“Maka kau mau menerima kutukan itu?”


“Kenapa harus aku?”


“Entahlah, Tuhan yang atur.”


“Baiklah, kita bisa bertemu dengan ketua yayasan panti asuhanku dulu, dia yang katanya menerimaku dari orang tuaku dulu.”


“Baiklah, kau istirahat dulu, besok kita bertemu dengan ketua yayasan panti asuhanmu. Aku pamit pulang ya, tidak enak terlalu lama di kamarmu ini, karena dinding itu bisa mendengar dan bicara.”


“Ya, Dit ... terima kasih ya.” Kemala tersenyum, bahkan seorang Kharisma Jagat saja cukup tersentak melihat senyum yang sangat manis itu.


...


Aditia dan Kemala sudah berada di angkot jemputan milik Aditia, Kemala sudah menawarkan pergi dengan mobilnya, Aditia menolak, karan angkotnya jauh lebih aman, bukan dari serangan begal atau maling saja, tapi juga dari serangan makhluk ghaib, itu yang tidak Aditia jelaskan, karena merasa untuk apa, Kemala baginya hanya salah satu orang yang butuh pertolongan.


“Di sini tempatnya, ayo kita temui ketua yayasan itu.”


Mereka berdua lalu turun, langsung disambut oleh ketua yayasan panti asuhan tempat di mana Kemala dulu dirawat.


“Kemala apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir itu saat kau menikah ya? suaminya mana?” Kemala memang jarang datang ke panti asuhan, tapi dana bantuan untuk panti asuhan darinya tidak pernah alpa.


“Suami saya ... sudah meninggal dunia.”


“Maaf Kemala, ibu tidak tahu.”


“Tidak apa-apa bu.”


“Baiklah, jadi tujuan Kemala kemarin menelpon dan bilang mau datang ke sini itu apa? apakah ada hal yang mendesak?”


“Ini soal ... orang tua Kemala, Bu.”

__ADS_1


“Oh ... kok kamu tiba-tiba ingin tahu? Bukankah dari dulu kamu sangat tidak ingin tahu?” Ibu ketua yayasan itu bertanya.


“Ini ... karena ... begini ....”


Aditia mengambil alih menjawab, “Kemala merasa bahwa mungkin apapun yang terjadi padanya selama ini karena dia tidak meminta restu dari orang tuanya. Seperti yang ibu ketahui, kalau Kemala sudah menikah 3 kali dan semua suaminya meninggal dunia, makanya Kemala ingin segera bertemu orang tuanya agar pernikahannya kelak jauh lebih baik.”


“Oh begitu, jadi kalian mau menikah?”


“Bu-bukan Bu.” Aditia panik mendengar itu.


“Bukan Bu, ini Aditia, dia kerabat yang hendak menemani saja.” Kemala memberi penjelasan agar tak ada omongan miring tentang mereka.


“Kerabat?” Tentu saja ibu ketua yayasan bingung, kan Kemala anak panti asuhan, tidak kenal kerabat.


“Kerabat dari suami saya Bu, dia mau membantu.” Kemala berbohong lagi.


“Baiklah, begini Kemala, waktu itu pagi hari, seorang wanita datang, dia sangat cantik sepertimu, dia hendak menitipkan anaknya yang baru satu bulan dilahirkan, dia hanya memberikan satu tas cukup besar keperluanmu kepadaku dan sejumlah uang untuk kupakai memenuhi kebutuhanmu.


Katanya ... dia tidak bisa membesarkanmu, karena ... karena ....”


“Kenapa bu?” Kemala jadi ingin tahu, padahal sebelumnya dia sangat kesal dan tidak ingin tahu tentang orang tuanya.


“Kau itu anak yang dilahirkan di luar pernikahan.”


“Astagfirullah!” Kemala kaget, dia tidak menyangka bahwa dia adalah anak di luar pernikahan, anak  haram kebanyakan orang anggap,


“Jadi ... Kemala anak haram, Bu?” Kemala menangis.


“Kemala, tidak ada anak haram, semua anak terlahir suci, hanya kelakuan orang tuanya yang haram.”


“Bu, apakah ibunya Kemala pernah menghubungi panti asuhan untuk menanyakan soal Kemala?” Aditia bertanya.


“Semenjak mengantarkan Kemala pada kami, dia tidak pernah datang ataupun menghubungi kami sekalipun. Dia menghilang tanpa jejak.”


“Lalu apakah ada hal yang bisa membuat kami dapat menemukannya, Bu? Misalnya nama ibunya Kemala?”


“Namanya? Sebentar, aku akan melihat buku penyerahan wali yang kami paksa setiap orang tua untuk mengisinya, hanya agar kami tidak benar-benar putus hubungan, semoga dia mengisinya dengna benar.”


Ibu Ketua yayasan mengambil buku di sebuah lemari yang cukup besar, setelah itu dai memberikan buku itu pada Aditia dengan halaman yang sudah dibuka.


“Ini, namanya Suryani, umurnya ketika memberikanmu adalah ... 27 tahun.”


“Berati sudah tidak terlalu muda saat melahirkanmu Mala. Bu, berarti ibunya Kemala, hamil dan melahirkan di tahun yang sama ya. Karena, Kemala lahir di bulan November kalau lihat dari buku ini.”


“Iya betul, memang ada apa?”


“Tidak ada apa-apa Bu, hanya ingin tahu saja.” Aditia tidak menyampaikan apa yang ada dalam pemikirannya saat ini.


“Baiklah, saya foto dulu ya bu datanya, biar kami bisa cari kelak.”


“Ya boleh, oh ya, soal foto, saya jadi ingat, sebentar ya.” Ibu ketua yayasan itu lagi akhirnya kembali ke lemari besar itu, mengambil sebuah album foto yang cukup besar dan memberikannya pada Kemala, “ini foto ibumu, aku memotretnya secara diam-diam saat dia keluar dari tempat ini, hanya jika kau menanyakan ibumu, aku bisa memberitahu wajahnya, kelak padamu. Tapi kualitas fotonya tidak terlalu bagus, kau tahulah, saat itu bahkan kameranya masih pakai kamera lama dengan roll film di dalamnya.”


“Ya, tak masalah bu, ini sudah sangat membantu.” Aditia lalu memotret foto yang ada di album foto yang ditunjukan oleh ibu ketua yayasan.


Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, lalu pamit dan hendak pergi ke markas ghaib, di titik ini, Aditia tidak bisa bekerja sendirian, dia butuh kawanan.


Sementara Kemala hanya diam saja sepanjang jalan, Aditia menyadarinya.


“Kau terusik dengan apa?” Aditia bertanya.


“Tidak ada.”


“Lalu kenapa termenung?”


“Hanya memperhatikan jalan.”


“Kau pikir aku akan tersesat?”


“Tentu saja tidak.” Kemala menjawab seadanya, pikirannya berkecamuk.


“Apa ini soal ... ayahmu?”


“Dit, aku tidak ingin bahas ya.”


“Maaf, tapi aku pikir, kau sudah terlalu besar untuk tidak bijak menanggapi hal ini, kau sudah cukup dewasa menganggp bahwa hal ini urusan orang tuamu, kelahiranmu tetap saja suci.”


“Ya ... kau benar, bahkan saking sucinya, aku dikutuk jadi perawan suci.” Kemala berkata dengan ironi untuk dirinya sendiri.


“Kalau begitu, kau kuantar ke rumahmu saja ya, setelah aku mendapatkan informasi, aku akan menghubungimu lagi, bagaimana?”


“Tidak! aku ingin ikut prosesnya, aku ingin tahu. Meskipun, dalam perjalanan ini, aku akan terus merasakan sakit.”


“Tenang saja, kami akan terus mendampingimu.”


“Beruntung sekali kalian, bisa terus bersama dalam hal yang sulit dan senang.”


Kemala iri mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2