Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 124 : Saba Alkamah 9


__ADS_3

Bagian 124 : Saba Alkamah 9


 


 


“Suamiku, apa kau bermaksud membunuhku?” Meutia berlinang air mata, dia tahu, kalau Darhayusamang hendak membunuhnya, dia tidak akan bisa mencegahnya.


“Salahmu, aku bisa mencari banyak wanita sepertimu, tapi aku tidak akan bisa menggapai lagi semua ilmu dan kelasku setinggi ini jika sekali saja terhempas karena anak menjijikan itu.”


Darhayusamang bersiap, dia mengepalkan tangan di kedua dada, melebarkan kakinya, membentuk kuda-kuda. Sementara Meutia hanya hanya menutup mata saja, dia sudah pasrah, tubuhnya sudah sangat kesakitan karena semua yang dia lakukan untuk menggugurkan bayi itu.


Darhayusamang memukul angin yang menghantarkan energi hentakan para Meutia, seharusnya Meutia akan terlempar hingga celaka, tapi ....


Brak!!!


Tubuh transparan Darhayusamang mental, seolah kekuatan yang dia keluarkan untuk membunuh Meutia kembali lagi padanya, dari tubuh Meutia mengeluarkan kekuatan yang sama kuatnya, itu membuat Darhayusamang mental.


“Anak kurang ajar!” Teriak Darhayusamang, dia menghina darah dagingnya sendiri, tapi dia lupa, bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tentu saja dia lupa bahwa janin itu adalah sebagian dari dirinya yang paling kotor, bisa jadi kekuatan gelapnya jauh lebih menakutkan disbanding dirinya.


“Kau sudah membiarkan hal paling menakutkan terjadi, kau mengandung benih terburuk dan terkotor dariku, wanita sepertimu memang seharusnya tidak layak dicintai, dari awal aku tahu, kau itu hanya manusia menjijikan seperti manusia lainnya.”


Darhayusamang lalu pergi, Meninggalkan Meutia yang kebingungan, dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat Darhayusamang menyerangnya, dia merasa perutnya kram dan terasa panas, setelah itu seperti keluar hentakan yang setara dengan kekuatan yang menyerangnya berasal dari Darhayusamang.


“Apa yang terjadi?” Ayahnya Meutia masuk ke kamar anaknya, dia begitu takut anaknya akan dihabisi.


“Tidak tahu Ayah, tapi sepertinya anak ini melawan ayahnya untuk mempertahankan dirinya.”


“A-apa!” Ayahnya Meutia kaget dan bingung.


“Maksudmu dia mengalahkan Darhayusamang?”


“Ya, tadi suamiku akan membunuhku agar janin ini ikut mati, tapi ... dia tidak berhasil, dia malah mental dan tubuhnya jatuh seperti diserang oleh kekuatan yang tidak terlihat.”


“Kalau dia bisa mengalahkan Darhayusamang, berarti kau mengandung anak ....”


“Anak apa Ayah?”


“Anak terkutuk! karena kutukan membuat energi jahat berkumpul, anak ini dari seorang jin yang jahat, lalu ketika dia sedang bertumbuh, ada sebuah kutukan yang membuat anak ini menerima energi jahat karena memang berasal dari pembentukan yang sama, energi jahat, setiap energi jahat yang mendekat langsung diserap oleh janin itu, karena semua yang dilakukan ibunya adalah sebuah bentuk kejahatan, maka energi itu semakin membuat Alka menjadi sangat kuat, walau dirinya hanya janin.


“Lalu apa yang harus kita lakukan lagi Yah?”


“Yang kita harus lakukan sekarang adalah menyingkirkan dua orang ini dulu, mereka harus dibawa pulang kembali ke rumah, si dukun urut ini akan menjadi gila karena sudah di dicelakai oleh Darhayusamang, sedang Bidan ini harus kita bawa ke rumah sakit, aku akan mengancamnya, kalau dia sampai berani bercerita mengenai kejadian hari ini, aku akan melaporkannya ke Polisi karena sudah mengaborsi banyak janin secara ilegal.”


“Kita bunuh saja, aku takut kalau dia nanti akan bercerita kepada banyak orang tentang kejadian hari ini, Karena dukun urut itu tadi sempat bilang bayi ini adalah bayi setan.”


“Tidak, jangan, kita butuh dia untuk membantumu melahirkan kelak, jadi kita harus memastikan dia baik-baik saja, tenang, dia terlalu kotor untuk menjadi seorang yang jujur. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana membuang bayi ini, karena kita tidka mungkin merawatnya. Satu lagi, berhenti berpikir hal buruk, karena itu membuat bayimu semakin kuat.”


“Ya, bagaimana bisa, aku selalu ingin semua orang mati rasanya.” Meutia memang berubah menjadi lebih cantik dan berkharisma, tapi pikiran jahatnya juga semakin menjadi-jadi.


“Usahakan, aku tidak mau kau celaka, tidak perduli pada janin itu, yang penting kau baik-baik saja.”


“Ayah, aku mohon, selamatkan aku.”


“Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu hidup dengan bahagia.”


Lalu ayahnya Meutia mengantar tubuh dukun itu ke rumahnya, tidak sampai rumah, hanya di dekat situ, tidak perlu menjelaskan pada siapapun, begitu dukun urut itu bangun, dia akan lupa dan menjadi linglung, setelahnya menyusul perasaan was-was, ketakutan yang entah karena apa dan akhirnya gila.


Sementara oknum Bidan itu diantar ke rumah sakit, dia diobati dengan baik dan diantar ke rumah.


“Anakmu belum tahu tentang hubungan kita?”


“Sekarang sedang repot, aku akan memberitahunya semua setelah dia melahirkan.”


“Salahmu, seharusnya kau hanya membawaku, dukun urut itu tidak berguna.”


“Tapi aku sebelumnya yakin dia bisa membantu, aku tidak tahu bahwa dia menghubungi untuk membantu aborsi itu, jika saja aku tahu dia akan menghubungimu, aku pasti tidak akan meminta tolong padanya.”


“Aku pernah membantu istrinya aborsi dulu, makanya dia meminta bantuanku. Yang aku heran, kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal soal ini, sampai aku harus tahu dari orang lain, untung sikapku tidak mencurigakan tadi.”


“Kau tahukan, Meutia tidak suka ada ibu baru, makanya aku tidak pernah membuka hubunganku padanya, bersabarlah, anakku sedang dalam kondisi terpuruk, aku tidak memberitahumu soal semua ini karena takut kau terancam bahaya. Bukankah kau lihat tadi, ketika suami jinnya datang, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

__ADS_1


“Jadi, sekarang kau akan memintaku membantu kalian?”


“Ya, anak itu tidak bisa diaborsi, tapi kelak jika Meutia melahirkan, kau harus menolongnya, aku sudah bilang kau akan menolongnya.”


“Baiklah, tapi soal tanah itu bagaimana?”


“Aku akan memberikan uangnya minggu ini, kau sabarlah.”


“Ya, aku akan sabar, tapi jangan terlalu lama, tanah itu bagus, lokasi dan juga luasnya, itu bisa menjadi simpanan kita kelak jika Meutia tidak diberikan kekayaan lagi oleh suami jinnya.”


“Iya sayang, aku akan berusaha meminta uang lagi pada Meutia secepatnya, tapi pastikan tidak ada yang tahu soal kejadian hari ini, ya.”


“Ya, tentu saja kau pikir aku gila mau membiarkan calon anak tiriku celaka?”


Lalu Bidan yang merupakan kekasih ayahnya Meutia itu diantarkan ke rumah, lalu ayahnya Meutia pulang.


Aneh, secara ajaib kakina Meutia membaik dalam hitungan jam, ditinggalkan dia sudah bisa jalan.


“Ada apa ini?” Ayahnya Meutia bingung, kok dia sudah bisa ke meja makan dan makan dengan lahap.


“Apa?” Meutia pura-pura tidak sadar.


“Kau sudah bisa turun dari kasur dan makan sendiri, makanan dari mana itu?”


“Aku membelinya keluar tadi, aku lapar ya, aku makan.” Meutia makan dengan lahap.


“Bagaimana bisa?”


“Entah, aku tidak perduli, aku mau makan sepuasnya, kemarin aku sengaja menyiksa bayi ini, ternyata dia menyiksaku balik, jadi karena dia bisa melindungiku, aku manfaatkan saja saat ini, toh dia harus menjadi sangat kuat. Suamiku saja tidak perduli dan hampir membunuhku barusan, jadi buat apa aku menyiksa diri untuk memberikan yang suamiku inginkan, membunuh janin ini. Makan Yah, aku sudah belikan untukmu juga.”


“Kalau begitu, kau tidak takut kalau kekayaan itu hilang?” Ayahnya bertanya.


“Tidak, karena aku sudah kaya raya Ayah, aku sudah menyiapkan kemungkinan terburuk, makanya aku memendam banyak peti emas untuk kita, jadi tenang saja, emasku masih sangat banyak.”


“Baiklah kalau begitu, aku hanya tidak ingin kau hidup susah lagi, aku sebagai ayah tidak bisa memberikan semua kekayaan itu padamu, maafkan aku.”


“Tidak Ayah, kau Ayah yang baik, aku tidak tahu apakah mampu bertahan jika tanpamu.” Ini yang membuat ayahnya takut memberitahu tentang wanita lain, karena Meutia sangat menghargai hubungan mereka berdua saja sebagai ayah dan anak, Meutia cenderung marah jika ada wanita lain, dia takut kalau ayahnya akan tidak mencintai dia lagi dan terpecah perhatian.


...


Meutia kembali menikmati hidup setelah menerima janin itu, dia makan dengan baik, tapi berat badannya masih sama saja, wajahnya semakin cantik, banyak lamaran datang, tapi dia tidak bisa menerima, padahal dia sekarang bisa saja menikah dengan seseorang yang tampan dan kaya, tapi anak diperutnya tidak bisa menjadi bagian dari pernikahan itu, jadi terpaksa semau lamaran yang datang dia tolak.


Meutia terkenal sebagai janda yang sulit ditaklukan, janda Haris yang tidak mau menikah lagi.


Padahal mereka tidak tahu hal sebenarnya yang terjadi.


Memasuki kehamilannya yang ke tujuh bulan, Meutia semakin terlihat cantik, tapi aneh, perutnya sama sekali tidak membesar, dia tidak melihat perubahan pada perutnya.


“Ayah, ini sudah bulan ke tujuh, tapi kenapa perutku tidak membesar, bagaimana memastikan bahwa bayi ini memang ada?” Meutia bertanya.


“Kita tidak mungkin ke rumah sakit kan, karena akan menimbulkan kecurigaan. Bagaimana jika aku memanggil Bidan Erni lagi? Bidan yang kemarin membantumu untuk aborsi, dia pasti tahu cara memastikannya.”


“Boleh Yah, tapi pastikan dia akan merahasiakan ini.”


“Tenang saja, aku akan membuat dia diam.”


Lalu ayahnya Meutia menjemput Bidan Erni untuk datang ke rumahnya.


“Baik Meutia, sekarang aku buka bajumu dulu ya, ini alat untuk mendeteksi detak jantung bayi, aku meminjamnya dari rumah sakit, kita bisa cek detak jantung bayimu, kalau terdeteksi, berarti bayimu memang ada dan baik-baik saja.” Bidan Erni memulai, dia membuka baju Meutia dan dan mulai mengusap alat pendeteksi jantung bayi itu ke perut bagian bawah.


Pada masa itu, USG sudah ada, karena USG ada di Indonesia pada tahun delapan puluhan, tapi belum begitu popular di rumah sakit-rumah sakit kecil. Sedang alat pendeteksi jantung janin sudah ada di rumah sakit desa, makanya hanya ini satu-satunya jalan memastikan bayi Meutia ada.


“Ada, ini dengar detak jantungnya.” Meutia mendengar suara yang berisik dari mesin itu, samar dia mendengar detak jantung, semakin lama, detak itu semakin terdengar lebih kencang dan sangat cepat.


“Bu, apakah memang detak jantung seperti ini berdetaknya, kenapa terasa cepat sekali?” Meutia bertanya.


“Tidak, seharusnya tidak secepat dan sejelas ini, dia memang bukan bayi biasa.” Bidan itu lalu meraba perutnya Alka, terasa sekali kalau ada bayi di sana, terasa sekali persis seperti menyentuh janin yang sudah tujuh bulan pada bayi manusia biasa, tapi memang aneh, kenapa perutnya tidak membesar sama sekali.


“Bayi itu ada, tenang saja.”


“Aku tidak terlalu memikirkan keadaan bayi itu Bu, aku hanya ingin bayi itu melindungiku, itu saja. “

__ADS_1


“Baiklah, sekarang apa yang kau butuhkan lagi Meutia?”


“Tidak ada, terima kasih ya, Bu.” Meutia memegang tangan Bidan Erni, Bidan Erni dan ayahnya Meutia tersenyum diam-diam, Meutia berhasil diambil hatinya.


“Kalau begitu saya pamit pulang ya Meutia, makan semua yang kau suka dan jangan lupa istirahat cukup.” Setelah berpamitan Bidan Erni pamit pulang diantar oleh ayahnya.


Sementar Meutia tidur, tidur siang.


Dalam tidurnya dia bermimpi, mimpi berada di sebuah ruangan yang gelap, sangat gelap.


Dia berteriak memanggil ayahnya, di titik ini dia merasa ketindihan, kejadian yang orang percaya sebagai tragedi di mana makhluk halus menindihmu saat tidur sehingga kau tidak bisa bergerak.


“Ayah!” Meutia masih memanggil ayahnya dalam mimpu, tapi tak ada orang.


Saat dia sedang berteriak, dia mendengar suara tangisan entah darimana datangnya, dia berusaha mendengar lebih jelas lagi, saat sudah menangkap suara itu dia berlari mendekati suara.


Ternyata ... suara tangis bayi yang tergeletak begitu saja.


“Bayi siapa ini?” tanyanya.


Meutia perlahan maju, dia melihat bayi itu begitu cantik, kulitnya putih sekali, menangis terus, seolah meminta Meutia menggendongnya.


Meutia berjongkok, dia berniat mengambilnya dan menggendong bayi itu, dia tidak memikirkan apapun selain ingin menggendongnya.


Saat sudah semakin dekat, wangi harum menyeruak, Meutia mulai menggendong bayi itu, sangat hangat terasa, bayi itu sangat cantik, Meutia terbuai dengan kecantikan bayi itu, sehingga dia ingin menciumnya, secara reflek dia hendak mencium bayi itu, tapi saat wajahnya mendekat, bau gosong terasa.


Meutia menjauhkan wajahnya dan kembali memperhatikan bayi itu, ketika pandangannya melihat bayi itu.


Meutia melempar bayi itu karena kaget, wajah bayi itu berubah menjadi gosong, kulitnya meleleh, tangis lucunya menjadi seringai.


Meutia gemetar karena baru melihat itu, baru melihat bayi mengerikan seperti itu.


Bayi itu hilang disusul dengan tepukan lembut dari seseorang.


“Ayah!” Meutia bangun dengan peluh begitu banyak di dahinya.


“Bangun Nak, ada tamu.” Ayahnya Meutia meminta Meutia bangun dan ikut ke ruang tamu.


Tanpa bertanya Meutia ikut saja, dia juga masih agak kaget dengan mimpi itu.


“Kedatangan kami kemari adalah untuk mengetahui tentang rumor itu.” Orang tua Haris tanpa basa-basi langsung berkata.


“Rumor apa?” Meutia bertanya.


“Rumor tentang kehamilanmu, apakah benar kau hamil anak kami?” Tanya ibunya Haris.


“Kau lihat saja, apakah aku terlihat hamil?”


“Dukun urut gila itu sering berteriak-teriak bahwa Meutia hamil anak setan, apakah Meutia yang dia maksud adalah kami?” Ibunya Haris masih terus bertanya.


“Aku sudah bilang, aku tidak hamil!” Meutia berteriak.


“Buktikan, ayo kita ke rumah sakit.”


“Untuk apa? aku tidak mau.”


“Kalau tidak hamil, kenapa kau takut ke rumah sakit?” tanya Ibu Haris lagi.


“Pergi kalian!” Meutia mengusir keluarga Haris.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2