
“Bisakah Bapak menolong kami?” Aditia dan Dirga ada di kantor Polisi, mereka hendak meminta bantuan agar bisa dipasangkan kamera tersembunyi di pintu masuk terowongan itu, harus dilakukan siang-siang pemasangannya dan juga harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, misalnya Polisi yang memasang bisa menyamar menjadi petugas kebersihan dan memasang dengan gerak-gerik yang sangat normal, sehingga tak dicurigai oleh siapapun.
Polisi itu menyanggupi, tapi dengan satu syarat, Aditia harus membantu kasus yang berhubungan dengan hal ghaib, jika kelak rekan Pak Dirga itu harus menghadapi kasus seperti kemarin lagi. Aditia menyanggupi, itu memang tidak mudah, tapi bisa dilakukan, sama saja kan, jika kasus itu soal ghaib, memang kawanan harus membantu, bahkan tanpa perlu diminta.
“Baiklah, kalau begitu, bisakah anak buah bapak mengerjakannya siang ini juga? karena kami sangat butuh cepat Pak, teman kami disekap di dalam terowongan, jadi kami harus cepat menolongnya.”
“kalau disekap, harusnya ini masuk ranah polisi dong, kenapa kalian tidak melapor.”
“Tubuhnya ada sama kami Pak, jiwanya yang disekap, kalau begini, bisa lapor ke bapak?” Aditia kesal karena Polisi ini tak belajar juga dari apa yang sudah terjadi.
“Siang ini akan kami pasang segera, kalian akan kami kabari selanjutnya ya.”
Aditia lalu pamit bersama dengan Pak Dirga, Aditia pulang ke markas dan Pak Dirga pulang ke rumah.
Di markas Aditia melihat Ami dan Alka sedang ada di dapur, mereka terlihat mencuci piring, saat ini memang seluruh pembantu sudah dipulangkan, sejak kejadian pengkhiatan, mereka sulit percaya dengan sekeliling lagi.
Aditia lalu bergabung dengan yang lain di ruang tamu, sekedar bersenda gurau, sebelum malam nanti bertarung.
Sementara itu Ami ternyata sedang mencari cara untuk berbicara secapa personal dengan Alka, maka ketika dia melihat Alka sedang mencuci piring, dia lalu berpura-pura akan membantu.
“Apa kau dan Aditia berpacaran?”
“Tidak.” Alka menjawab cepat.
“Tapi kenapa kalian terlihat mesra sekali.”
“Biasa saja.” Masih ketus.
“Tapi kau tahu kan, kalau Aditia menyukaimu?”
“Tahu.” Jawabnya dengan masih sangat singkat.
“Kau tidak menyukainya?”
“Tidak ....”
“Kalau begitu, boleh aku memilikinya?” Ami tanpa malu berkata.
Alka menghentikan kegiatan cuci piringnya, lalu berkata, “Aku tidak menyukainya, tapi aku mencintainya, Aditia tidak menyukai, tapi dia mencintaiku, sampai sini paham, gadis kecil?” Alka mentapnya dengan tajam. Ami sedikit bergidik melihat itu.
Ami terdiam untuk beberapa saat, cucian piring masih saja belum selesai.
“Tapi, kalau kalian menikah, pernikahan kalian akan sulit kan? Tidak seperti Ayi dan Malik, Malik masih mantan Kharisma Jagat, sedang kau ....”
“Sejak kapan kau diajarkan ratumu sang Ayi Mahogra, untuk memilih jodohmu karena logika? Benar ketika kau bilang Ayi menikah dengan Malik yang mantan Kharisma Jagat akan berbeda denganku dan Aditia, lalu apakah Behra dan Bohra menikah karena jodoh adat? Maka jika benar kami berjodoh, apakah kami harus menolak? Pernikahan itu bukan hanya kita yang mau, orang kita yang mau dan juga orang sekitar idealkan, tapi juga karena keinginan Tuhan, itu yang kau lupa.”
“Kalau Tuhan tak ingin kalian menikah?”
“Kau Tuhan?” Alka kali ini menatap tajam lagi.
Ami terdiam, karena setiap kemungkinan yang dia sebutkan, bisa jadi juga memiliki kemungkinan yang sama dengan keyakinan yang Alka pegang, maka sulit beragumen jika seperti ini.
“Ami, aku tidak ingin marah denganmu, cemburu atau apapun, karena jelas, jika saja Aditia ingin bersamamu, akan dia lakukan sejak dulu, aku tahu siapa lawanku yang seimbang. Ini bukan karena aku merendahkanmu, karena bagiku, semua Kharisma Jagat yang mendukung Aditia, adalah keluarga, maka aku memang tidak pernah menganggapmu saingan sejak awal, aku hanya menganggapmu sebagai gadis kecil saja, sama seperti gadis kecil yang saat ini sedang berbaring di dalam kamar sana, dia adalah adikku yang sangat aku sayang, kalau dia celaka, maka aku sulit hidup dengan baik lagi.
Makanya, aku mohon padamu, bantu kami dengan segenap hati, aku tidak bisa fokus pada hal lain, karena saat ini yang terpenting adalah, Jarni dan Ganding bisa cepat bangun. Aku juga berharap kamu bisa fokus untuk menolong kami.”
“Apa kau tidak pernah cemburu dengan wanita lain?” Ami hanya ingin tahu.
“Pernah.”
“Dengan siapa?” Ami masih mencoba bertanya.
__ADS_1
“Kemala.”
“Siapa itu?”
“Bukan siapa-siapa dan tidak penting, fokuslah.”
Alka sudah selesai dengan cucian piringnya, dia lalu bergegas ke ruang tamu untuk menemui Aditia dan mendapatkan informasi soal pemasangan kamera tersembunyi itu.
“Pantas saja Aditia tergila-gila padanya, dia memang wanita yang keren, sulit aku tampik, aku saja terpukau sesaat tadi mendengat perkatannya, dia sungguh sangat tegas dan anggun.” Ami bergumam sendiri.
“Bagaimana dengan kamera itu?” Alka bertanya, yang lain masih sibuk dengan urusan masing-masing.
“Akan dipasang siang ini.”
“Dit, temani aku ke kamar Jarni dan Ganding, aku ingin melihat keadaan mereka di sana.” Alka meminta ditemani, karena butuh energi yang tinggi untuk melihat adiknya di terowongan itu.
Alka dan Aditia lalu pergi ke kamar itu dan Alka melihat adiknya dengan wajah sedih, dia lalu memegang tangan Jarni, dia akan melihat keadaan Jarni dari ingatannya, bukan dengan melihat secara langsung ke terowongan itu, karena spesialisasi Alka adalah melihat masa lalu, bisa jadi waktu yang terdekat adalah sedetik yang lalu.
“Jarni ....” Alka duduk berjongkok di hadapan Jarni yang sedang diikat kaki dan tangannya, keadaannya tak jauh berbeda saat kemarin Alka melihat mereka di sini juga, melalui ingatan mereka, ini adalah waktu malam tadi.
Aditia memegang bahu Alka untuk memberikan energinya. Agar Alka bisa lebih lama melihat ingata Jarni melalui sentuhan tangan, ini juga dilakukan Alka dulu, ketika dia ayah Bening meminta tolong, dia melihat ingatan ayah Bening untuk menilai kasus. Yang ternyata Bening adalah pemilik Karuhun Ratu Amanasih.
“Mereka diikat dan disiksa Dit, aku melihat di terowongan ini begitu banyak jiwa yang sudah sekarat, termasuk si tukang ojek itu Dit, Dino! Dia juga sekarat.
Sungguh jin tua ini benar-benar suka sekali mencuri ruh, dia mirip dengan dewi iblis di Bali itu bukan?” Alka berkata dengan kesal.
“Oh ya, benar! Mirip sekali, mereka sama-sama suka mengoleksi jiwa, apakah mereka saudara?” Aditia mendengar Alka berbicara dengan mata yang memutih semua, karena dia sedang masuk pada ingatan Jarni dan tetap bisa berkomunikasi dengan Alka.
“Kau tau kan Dik, kalau kami takkan pernah meninggalkan kalian, kau harus bertahan ya, kita akan hidup dan mati bersama, ingat itu ya.” Alka mengusap kepala Jarni, walau tentu saja, itu tak masuk bagian dari ingatan Jarni, jadi Jarni tak merasakannya.
Sedang di malam itu, Jarni yang ingatannya sedang dilihat Alka tiba-tiba berkata dengan lantang.
“Apa tawaranmu? Bukankah kau bilang bisa membangkitkan jiwa yang mati? aku ingin kau menawarkannya juga padaku!” Jarni berteriak, Alka kaget, karena sepertinya Jarni merasakan atau tahu kalau ingatannya sedang disentuh oleh Alka, dia sepertinya ingin Alka tahu sesuatu.
“Aku lelah diikat dan disiksa, aku ingin seperti semua ruh di sini, mereka terlihat sukarela berada di sini untuk dihabisi, aku ingin tawaran itu. Kau tidak tergiur dengan tawaran itu Nding? Siapa tahu akan lebih membahagiakan?” Jarni berkata dengan wajah berbinar.
“Kau ingin kubunuh? Berani kau mengkhianati kami, aku sungguh akan menebas lehermu.” Ganding berteriak di hadapan Jarni, hal itu membuat Ratu Gandarwi terusik, padahal dia sedang menikmati santap malamnya. Beberapa ruh sedang dia serap energinya sekaligus, dia memang serakah.
“Kau ingin tawaranku? Rasa sakit memang selalu bisa membuat orang berpikir jernih, baiklah, tawaranku sederhana, kau akan lebih bahagia hidup di dalamku, maka kau hanya harus menerima perjanjiannya, tubuhmu akan mati dengan cepat, lalu kau akan menjadi pengikutku, kau mau?”
“Aku mau!”
“Jarni! brengsek kau!” Ganding kesal karena Jarni mau dengan tawaran itu.
“Kalau mau tersiksa, silahkan saja, aku tidak, kawanan hanya sekumpulan orang bodoh bagiku, lihat, tak ada yang datang satu pun bukan? berarti mereka tak peduli, kenapa kita harus peduli?” Jarni berkata dengan marah.
“Mereka sedang mencari cara, kau tahu kan, banyak kasus kita selesaikan bersama.”
“Dan aku lelah!” Jarni berkata dengan suara yang begitu kencang dan berat, dia benar-benar terlihat depresi, apakah rasa sakit membuatnya jadi lupa diri.
“Kalau begitu, buktikan jika kau benar ingin membelot, siksa lelaki itu, kekasihmu bukan?”
“Sudah tidak lagi.” Jarni lalu mengambil sebuah batu dan memukul kepala Ganding, tentu jiwa itu akhirnya tertidur karena rasa sakit dari batu yang ditumbukkan padanya.
Alka yang masih melihat ingatan Jarni terkejut, kenapa adiknya bersikap begitu, apakah dia benar marah karena mereka lama datang, Alka berpikir lalu dia akhirnya mencoba untuk kembali ke tubunya lagi, meninggalkan ingatan Jarni.
“Ada yang salah dengan Jarni, dia ....”
“Kenapa dia!” Aditia bertanya, dia penasaran.
“Dia berkhianat!” Alka berkata dengan keras dan yang lain dengar.
__ADS_1
“Jarni berkhianat? Tapi bukan tipenya seperti itu.” Dokter Adi berkata dengan bingung.
“Apa yang dia coba sampaikan, itu yang harus kau tangkap Alka.” Alisha kali ini berkata.
“Dia memukul kepala Ganding dengan bebatuan ghaib di terowongan itu.”
“Apa!” Yang lain mirip mendengarnya.
“Apa rasa sakit bisa mengubah seseorang?” Ami ikut berpendapat.
“Rasa sakit, rasa marah dan kekayaan, bisa mengubah orang.” Alka kesal mengatakan itu, tapi itu kenyataannya.
“Kalau begitu, kita jalankan rencananya malam ini, agar jiwa Jarni segera bisa diselamatkan.” Behra berkata dengan dingin.
...
Malam tiba, semua orang sudah bersiap di mobil van besar yang Hartino siapkan, mobilnya mirip dengan mobil siaran televisi secara langsung, cukup lengkap dengan semua peralatan yang dibutuhkan, untuk menangkap siaran yang akan dikirim oleh kamera tersembunyi itu, semua orang ada di mobil besar itu.
“Bagaimana Har, apakah kau bisa melihat apa yang terekam di dekat terowongan itu?” Aditia bertanya, Har masih saja melihat pada laptop yang dia bawa.
“Ya, mereka memasangnya dengan benar, jadinya aku bisa melihat jelas.”
“Wah kameranay jerni sekali ya, padahal jarak kita jauh.” Bohra terpukau.
“Ini karena jaringannya Kak, kita tidak memakai jaringan milik provider, kita memakai jaringan satelit, hal ini sama aku pakai di AKJ, dulu aku dan banyak tim tekhnisi lain membuat setiap sudut AKJ terlindungi kamera yang bisa dilihat secara langsung tanpa jeda dari PC yang di ruang kendali CCTV, karena aku membuat jaringan di AKJ juga langsung berasal dari satelit.”
“Oh, jadi kau yang membuat internet kami lancar di AKJ, aku tidak pernah tahu, karena itu bukan urusanku. Tapi kau hebat, Har.”
“Siapa dulu ... kawanan!” Hartino, Alka, Alisha dan Aditia berkata secara serempak. Mereka bangga, walau masih dalam keadaan yang sedih karena Jarni dan Ganding masih di dalam, sedang Jarni juga berkhianat.
“Ada seseorang yang sedang masuk!” Hartino tiba-tiba tersadar.
“Apakah mereka dekat?” Yang lain bertanya.
“Sebentar lagi kak, sebentar.” Hartino menahannya.
Semua orang menunggu, sedang Alka sudah bersiap memegang tangan 4 Kharisma Jagat dan yang lain saling berpegangan agar bisa ikut berpindah tempat dalam sekejap, orang menganalnya dengan nama teleportasi.
“Sekarang Kak!” Hartino memberi aba-aba.
Alka memindahkan mereka semua dalam waktu yang sangat singkat, bisa dibilang sekejap, lalu mereka sudah berpindah ke tempat, tepat di pintu masuk terowongan itu, membuat ratu jin berkerudung hitam itu akhirnya tidak bisa masuk ke dalam terowongan, dia sedang menaiki sebuah sepeda motor, sedang lelaki yang mengendarai sepeda motor itu tampak sedang dirasuki, hingga tatapannya kosong.
“Sudah sampai di sini kau Ratu jahat.” Hartino berteriak, 4 Kharisma Jagat bersiap untuk membaca mantra.
Saat sedang membaca mantra, Alka memperhatikan dengan seksama wanita itu, wanita berkerudung itu sudah turun dari motor dan si pengemudi akhirnya jatuh dari motor, lalu diselamatkan oleh Aditia dengan cara menjauh dari terowongan, hanya untuk jaga-jaga, jika saja dia masuk ke terowongan, maka akan sulit keluar lagi, jiwanya. Alka lalu berteriak.
“Berhenti!”
Yang lain terkejut dan berhenti membaca mantra.
“Ada apa?” Ami bertanya pada Alka.
“Kau bukan Ratu Gandarwi kan!” Alka berteriak.
Wanita itu lalu membuka kerudung dan memperlihatkan wajahnya yang babak belur.
“Jarni!” Yang lain berteriak, lalu tiba-tiba bumi bergetar, semua orang jatuh, termasuk Jarni, tapi dia buru-buru bangkit dan berlari dan berusaha masuk kembali ke dalam terowongan, Alka yang masih tidak mampu bangkit, berusaha menangkap kaki Jarni, agar dia tak kembali ke terowongan itu, karena sekarang menyelamatkan satu tentu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Tapi Jarni menendang tangan Alka, Alka tetap tak melepaskan pegangannya pada kaki Jarni walau telah ditendang berkali-kali.
Hingga akhirnya tangan Alka terluka dan terlepas dari kakinya Jarni, bumi masih bergetar membuat semua orang pusing dan sulit bangkit lagi.
__ADS_1
Alka melihat Jarni berlari masuk ke dalma terowongan dengan sangat cepat, dari kejauhan, samar Alka meliha seorang wanita berdiri di jalan masuk terowongan, dia Ratu Gandarwi, dia terlihat komat-kamit dan menghentakkan kakinya ke tanah, rupanya dia yang membuat bumi bergetar dengan kekuatannya.
Begitu Jarni sudah di dekat Ratu Gandarwi, Ratu memeluk tubuh Jarni, pamer pada Alka bahwa dia sudah membuat seorang kepercayaan kawanan membelot, Jarni seperti sapi dicucuk hidungnya, mengikuti saja, setelah dipeluk oleh Ratu Gandarwi seperti anaknya, Jarni dibawa masuk ke dalam terowongan, Alka berteriak dengan sangat kalut, “JARNIIII!!!” Alka bahkan menangis, Aditia dengan susah payah mendekati Alka dan memeluknya, Aditia tahu, betapa sakitnya apa yang Alka rasakan.