Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 504 : Mulyana 9


__ADS_3

Makhluk itu dengan gagah beraninya menarik dengan kencang lagi kepala dan kaki kambing, dia berhasil memisahkan kepala kambing dari tubuhnya melalui tarikan itu.


Melihat itu, Drabya melirik ke arah Mulyana, dia lalu memelototinya, karena membuat kambing peliharaan ayahnya mati sia-sia dengan cara yang mengenaskan.


“Maaf ayah.” Mulyana berkata dan ayahnya sudah bersiap kembali untuk bertarung dengan iblis ini, dia mengambi ancang-ancang dan ....


Iblis itu masuk kembali ke dalam tanah, dia menghilang dalam sekejap.


Mulyana sempat melontarkan anak panah tapi sayang terlambat, panah itu menancap pada tanah di mana tuh itu masuk.


“Yah, kok dilepasin?” Mulyana berlari mendekati ayahnya.


“Dia kabur bukan kulepas, jangan berbicara sembarangan.” Ayahnya kesal, karena Mulyana bicara seenaknya.


“Yah, ayo kita pancing lagi keluar, bawa kambing atau sapi lagi.”


“Kau sudah membuat satu kambingku menjadi sia-sia, kau tahu kan, kalau kambing itu tidak bisa kita makan, menjadi haram karena proses kematiannya! Sekarang kau mau aku mengorbankan sapi atau kambingku lagi? bagaimana kalau kau saja yang aku tumbalkan?”


“Ayah! Kau ini tega sekali, masa anakmu mau dijadikan tumbal!” Mulyana kesal mendengar perkataan itu.


“Kau yang lebih tega, kambing itu padahal masih bisa berkembang biak, kenapa kau malah membawa yang ini! kenapa tak bawa yang sudah tua!”


“Mana aku tahu yang mana yang sudah tua, memang bagaimana cara membedakannya?”


“Ah sudahlah! Kau bikin kesal saja!” Drabya kesal karena sudah habis satu kambing, tapi sekarang malah tetap tidak bisa menangkap setan itu.


“Ayah, aku penasaran, kenapa kita tak menggali saja tanahnya?” Saat Drabya hendak pergi dari tempat itu, tiba-tiba Mulyana memberi ide.


“Ini yang aku tunggu-tunggu sejak kemarin, kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Dasar lamban.”


“Ayah!” Mulyana kesal karena ayahnya malah menghina.”


“Kau tahu, daripada menyuruhnya keluar, bagaimana kalau kita yang masuk ke dalam sana?”


“Digali?”


“Kau pikir, kalau semudah itu kau pikir aku akan biarkanmu untuk membunuh kambing itu?”


“Aku tidak membunuhnya ayah, yang membunuhnya makhluk itu!” Mulyana protes.


“Tetap saja, kau memberikan kambing itu secara sukarela untuk dibunuh, dasar tukang jagal!” Drabya masih sangat kesal dengan kematian kambingnya.


“Yah, lalu aku masuknya bagaimana?”


“Aku dan Abah akan mengadakan ritual, Tapi aku butuh kamu untuk berani.”


Drabya mengatakannya hati-hati, karena dia tahu, kalau sampai Mulyana salah langkah, ini akan bahaya.


“Aku sudah berani kan? sudah berani lawan singa dan mereka yang kemarin hendak masuk ke dalam gerbang itu.” Mulyana tidak benar-benar paham, apa gerbang itu sesungguhnya, dia tak tahu bahwa tubuhnya dijadikan terowongan untuk mereka yang tidak terlihat masuk dan keluar dari dunia ghaib yang terasingkan, dapat keluar dengan bebas melalui tubuh anak kecil itu.


Maka hal yang harus dilakukan Drabya dengan segera adalah menutup gerbannya, gerban yang Mulyana tutup dengan cara bertarung dan berlari dengan kencang, dia berhasil menutup gerbangnya dan sekarang dia bebas dari mimpi buruk.


Sekarang? Apakah mimpi buruk itu akan kembali lagi?


“Baiklah, Mulyana, hanya kau yang bisa melakukan ini, aku tidak bisa, kakakmu apalagi, ibumu hanya orang biasa. Jadi kau harus mengemban tanggung jawab ini.”

__ADS_1


Drabya sudah mempersiapkan tempat ritual, mereka menyiapkan di dekat jalan itu, tapi agak jauh dan sepi. Walau jalan itu terkenal angker, tapi tetap saja, mereka harus berjaga, agar jangan ada yang lihat mereka dan menimbulkan rumor.


Mulyana ditidurkan di atas tikar, Abah sudah keluar, mereka bersiap untuk ritual tanpa lilin, karena butuh melakukan ritual dengan cepat.


Mulyana sudah tertidur, Drabya menggendamnya agar tidur dengan cepat.


“Kau yakin dia bisa? Musuh ini berbeda dengan sesi latihan dan juga kita tak tahu, siapa di dalam tanah itu, walau kita sudah memegang beberapa nama atas iblis di dalam tanah itu, tapi ini terlalu menakutkan.” Abah hanya memastikan, bahwa Drabya memang telah memberikan wejangan yang cukup agar Mulyana bisa kembali ke dunia manusia setelah menjelajah. Karena bagia abah, sungguh sangat penting sekali Mulyana kembali ke dunia manusia, dia tak ingin Mulyana celaka.


Seperti yang kalian tahu, bahwa Mulyana adalah orang yang mampu ke alam ghaib dengan mudah, dia bahkan bisa melepas raga, maka tidak ada jalan lain selain mengutusnya sendirian, sedang Drabya tidak mampu lepas raga seperti anaknya.


“Aku sudah memberinay wejangan, di sana pasti akan sangat gelap dan dia mungkin akan takut, karena pasti, bisa dipastikan bahwa tempat itu jauh lebih menyeramkan dari gudang ghaib di rumah, itu kan yang mereka bilang tentang tempat itu? Tapi aku yakin dia mampu, karena dia anak yang sangat hebat.” Drabya meyakinkan Abah yang terlihat ragu. Dalam keadaan seperti ini, kenapa abah terlihat seperti ayahnya dibanding calon Karuhun.


Ritual dimulai, Drabya mulai membaca mantra, Mulyana mulai menjelajah.


“Ayah ... aku sudah masuk ke dalam sini ya?” Mulyana terbangun dan semua terasa gelap, sangat gelap. Dia sudah lepas raga dan ditempatkan di dalam tanah itu.


Gelap dan terasa sangat pengap, Mulyana tak bisa melihat apapun, dia teringat perkataan ayahnya, tentang sebuah cahaya, dia lalu mengeluarkan sebuah lilin, lilin itu ditaruh ayahnya di kantung celana Mulyana, ayahnya bilang, dia harus menyalakan lilin berwarna hitam itu saat sudah masuk ke dalam dunia bawah, dunia di mana ruh itu menyembunyikan diri


Kata ayah, lilin itu akan membantu menerangi jalan dan juga sebagai penanda waktu Mulyana untuk berada di sana, Mulyana tidak diperbolehkan di tempat ini lebih dari badan lilin yang dinyalakan, lilinnya masih sangat panjang, Mulyana berjalan dengan hati-hati.


Ada rasa was-was, tapi dia mulai terbiasa dengan makhluk menakutkan, walau saat ini belum ada yang terlihat.


Mulyana terus berjalan, dia mencari makhluk bayangan hitam itu. Bejalan ke depan sesuatu arahan ayahnya, bahwa dunia ghaib itu tidak punya persimpangan, hanya jalan saja ke depan, maka kau akan menemukan apa yang kau cari ... kalau beruntung.


Saat berjalan, dari kejauhan Mulyana melihat sebuah rumah yang terbuat dari bilik bambu, walau agak bingung, tapi Mulyana akan ke sana untuk bertanya. Karena dia melihat seorang lelaki sedang berdiri membelakanginya, menghadap rumah itu, tapi dia duduk di luar rumah, entah apa yang dia tunggu di sana.


Rumah ini tiba-tiba muncul dari kegelapan yang pekat, aneh, kenapa tempat ini sekarang seperti sebuah hutan yang gelap, berubah secara tiba-tiba.


“Assalammualaikum.” Mulyana memberi salam pada seseorang yang duduk di halaman rumah itu.


“Kau cari apa, Nak?” Lelaki paruh baya itu bertanya dengan suara paraunya. Lelaki itu masih membelakanginya.


“Pak maaf mau tanya, apa bapak tahu ada sesosok bayangan hitam yang suka menyerang binatang?” Mulyana bertanya saja apa tujuannya, semakin cepat dia menemukan sosok itu, semakin baik.


“Kau berani sekali, apa kau memang seberani itu?” Lelaki paruh baya berbalik, seketika dia berbali, maka terlihatlah keseluruhan wajahnya.


Matanya bolong, rupanya setan ini tak punya mata, dari lubang tempat bola mata biasanya terletak itu, keluar darah yang mengucur, Mulyana mundur melihat wajah yang mengerikan itu.


“Maaf mengganggu Pak, silahkan teruskan kegiatan, Bapak. Saya permisi.” Mulyana paham, kalau yang ada di hadapannya, mungkin jin lain seperti yang ada di dalam rumahnya. Dia tak ingin bertarung karena tak tahu apakah lawannya seimbang atau tidak.


Mulyana berjalan lagi terus ke arah depan.


Tak lama kemudian, Mulyana tiba-tiba melihat sebuah sungai yang sangat derasa aliran airnya, setelah hutan yang gelap, sekarang Mulyana melihat sebuah sungai yang dingin, dari kejauhan dia melihat seorang wanita berambut panjang, sedang mencuci rambutnya, Mulyana yakin wanita ini pasti salah satu jin yang hendak mengelabuinya.


Tapi Mulyaan eprlu tahu di mana sosok peneror binatang itu, maka dengan mengumpulkan keberanian, Mulyana mendekati perempuan itu dan memberi salam.


“Assalamualaikum, saya ....” Baru saja Mulyana akan memperkenalkan diri, tapi urung karena dia takut kalau setan itu malah akan menempel padanya, karena haram bagi anak manusia memberitahu nama pada jin, karena jin itu bermaksud jahat. Drabya sudah memberi wejangan itu, Mulyana menjadi lega karena teringat itu di saat yang tepat.


“Hampir saja.” Mulyana mengelus dada karena dia merasa telah melewati waktu kritis yang hampir saja membuatnya bisa terjebak di sini selamanya.


Lilin dan nama adalah wejangan yang ayahnya katakan, jangan pernah biarkan nama Mulyana disebut dan jangan sampai liilnnya habis tapi dia tak keluar dari tempat itu.


“Nak ... siapa namamu?” Mulyana yang tadi hendak bertanya, tiba-tiba tersadar kalau wanita yang dia lihat sedang mencuci rambut itu tiba-tiba sudah melayang di hadapannya, rambut itu ternyata sangat panjang, ketika wanita itu melayang, rambutnya ikut melayang namun Mulyana kesulitan melihat ujung rambut itu.


“Tidak, maaf aku tak bisa beritahu.”

__ADS_1


Wanita itu yang tadinya terlihat biasa saja, tiba-tiba berubah, wajah pucatnya berubah menjadi perlahan menghitam, Mulyana hendak lari, tapi sayang sekali, kakinya ditahan oleh rambut panjang itu.


Wajah perempuan itu semakin dekat, karena jarak yang dekat itulah Mulyana baru sadar kalau wajah itu menghitam dan sekarang kulit wajahnya hampir lepas, Mulyana jijik melihatnya hingga dia akhirnya menutup mata.


“Jangan tutup matamu, karena kau akan terlihat ketakutan.” Mulyana ingat lagi wejangan ayahnya, dia lalu membuka mata, tepat ketika dia membuka mata, kulit wajah wanita itu terlepas sempurna dan menyisakan tulang yang terlihat di wajah perempuan itu.


“Apa aku cantik?” Perempuan itu bertanya dengan tulang rahang yang terlihat begitu jelas di wajahnya, tulang wajah itu terlihat lusuh.


“Tidak tahu, aku tidak melihat wajahmu.” Mulyana menjawab dengan mencoba tenang, padahal dalam hatinya dia sudah sangat ketakutan.


Jangan pernah memuji mereka yang tinggal di sana, karena sekali kau memujinya, maka dia akan ikut terus bersamamu dan kau belum siap memelihata mereka yang tak terlihat. Itu juga wejangan Drabya, sungguh memang banyak sekali wejangannya.


“LIHAT AKU BAIK-BAIK!” Suara wanita itu menjadi lebih berat dan bergema, khas suara iblis yang merasuki manusia.


“Aku sudah lihat dan aku tidak bisa lihat wajahmu, karena sekarang yang aku lihat adalah tengkorak wajahmu.” Mulyana terus menjawab dengan jawaban yang membuat sosok wanita itu menjadi sangat kesal.


Wanita itu melepas Mulyana dari jeratan rambutnya, tidak melayang lagi dan mengambil kulit wajah yang terjatuh di tanah, lalu memakai lagi kulit wajahnya dan wajah itu kembali seperti semula, wajah pucat yang sedih.


“Kak, apakah kau melihat sosok hitam yang tidak suka binatang di dunia atas?” Mulyana memberanikan diri bertanya.


“Ada, dia seseorang yang sangat jahat, jangan dekati.”


“Tapi memang kalian semua ada yang baik di sini?” Mulyana setelah mengatakannya lalu pergi meninggalkan wanita berwajah tengkorak itu yang menangis mendengar Mulyan mengatainya tak baik, tapi kan itu kenyataan, sosok baik seperti apa yang memperlihatkan tengkorak wajahnya pada seorang anak kecil? Itulah yang Mulyana pikirkan.


Dia terus berjalan, walau tempat itu berganti-ganti, tapi semua tempat terasa gelap, Mulyana melihat lilinnya, lilin itu sudah terbakar hampir setengahnya, Mulyana mulai panik karena belum menemukan juga makhluk itu.


“Di mana dia? kenapa dia tak terlihat?” Mulyana menjadi sangat gusar.


“Assalamualaikum?” Suara lelaki menyapa dengan salam dari belakangnya.


“Waalaiaukum salam,” Mulyana menjawab, betapa senangnya dia, karena kata ayah, jika di sini ada yang mengucap salam, artinya dia jin yang baik.


“Kau bukan jin, kau ruh manusia, apa kau sudah meninggal dunia hingga ruhmu tersesat di sini?” Pria itu muncul, wajahnya sangat bercahaya, Mulyana lega melihatnya, siapa tahu orang ini bisa dimintai tolong.


“Tidak kak, aku masih hidup, aku disuruh ayah mencari sosok yang suka membuat celaka di jalan atas itu, apa kau melihat sosok hitam itu di sini? kalau iya, aku perlu menjemputnya untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.


“Oh, kau mencari bayangan hitam itu ya? dia memang selalu meresahkan kami juga, kami takut kalau akhirnya akan banyak dukun yang berlomba menangkapnya di dunia sini. Kalau kau mau menjemputnya, itu hal yang baik.”


Mulyana senang mendengarnya, dia tak perlu sendirian lagi mencari bayangan hitam itu.


“Kau ikut aku ya, tapi jangan terlalu jauh, apapun yang kau lihat nanti, janganlah kau takut, tetap saja berjalan di belakangaku.” Lelaki baik itu berkata dengan lembuat dan akhirnya berjalan ke depan, Mulyana mengikutinya.


“Kak, ini tempat apa sih?” Mulyana bertanya saat mereka masih berjalan lurus.


“Ini adalah dunia kami, kau punya dunia yang Tuhan berikan, kami pun sama, kami punya tempat untuk kami tinggali yang Tuhan ciptakan, kita itu berdampingan, makanya harusnya rukun, jangan ada yang membuat keributan, aku mendukungmu untuk menangkapnya.


Tapi kau harus hati-hati, apakah ayahmu memberikan benda pusaka untuk menghabisinya?” Lelaki itu bertanya.


“Tidak, aku hanya diberi lilin ini saja, aku tidak dapat senjata.”


“Hah! kalau kau dihajar oleh sosok gelap itu bagaimana?” Lelaki yang baru ditemui Mulyana itu sungguh sangat baik dan perhatian.


“Aku tidak tahu, pokoknya ajak aja dulu.” Mulyana memang hanya anak kecil yang polos.


“Kalau begitu, kau pegang ini, ini adalah jimat yang bisa kau jadikan senjata, ketika kau melihatnay nanti, kau harus melempat jimat ini ya, agar dia bisa lemah, saat lemah itulah kau harus membawanya kelur dari dunia ini.” Lelaki itu adalah penolong yang nyata.

__ADS_1


“Terima kasih ya, Kak. Kau sangat baik, untung ada kau.” Mulyana menerima jimat itu dan mereka berdua melanjutkan perjalanan, ke tempat di mana bayangan hitam itu berada.


__ADS_2