
“Sudah dua hari Ka, tidak ada yang aneh, semua keluarga masih di rumah orang tua Dina, dua kakaknya kerja dari rumah orang tua, walau jauh sekali,” Aditia berkata.
“Ada yang aneh.”
“Siapa? Ibunya nggak mungkinlah, masa ibunya mau bunuh dia, bapaknya apalagi, dia terlihat shock berat saat tahu anaknya meninggal.”
“Soal itu, menurutmu, apa yang terlihat dari ekspresi ayahnya Dina? Sedih … atau rasa bersalah?” Alka tiba-tiba bertanya.
“Hah? Kamu curigain ayahnya? serius ayahnya?” Aditia merasa kurang percaya.
“Jujur pada saat itu, aku merasa ada yang mengganjal, tapi aku abaikan karena fokus mencari kemana Dina pergi saat sebelum dia dikubur, setelah berdiskusi dengan Ganding, aku jadi semakin merasa yakin, ekspresinya terlalu … berat untuk seorang lelaki, ibunya histeris, tapi ayahnya lemas terduduk, seolah … sudah memprediksi, kemungkinan ini terjadi. Dia seperti sudah tahu bahwa kemungkinan ini akan terjadi dan ketika terjadi dia shock dan merasa bersalah karena ini harus terjadi.”
“Sudah dua hari dia tidak keluar loh Ka, dia di rumah terus.”
“Justru ini yang aku takutkan.”
Saat mereka berdiskusi, ibunya Dina keluar dan berteriak minta tolong, Alka dan Aditia berlari menghampiri.
“Bu, ada apa?” Aditia bertanya.
“I-itu, suami saya, suami saya, dia jatuh lalu tidak bangun lagi.”
Mendengar itu, Alka berlari dengan cepat dan menemukan ayahnya Dina ada di dapur sedang terbaring, pingsan sepertinya.
Alka mengangkat ayahnya Dina, dia mamapahnya dengan satu tangan, kalau wanita biasa, seharusnya tidak mampu melakukan itu, tapi Alka berbeda dan istimewa, dia bahkan dengan cepat membawa ayahnya Dina dan menidurkannya di sofa ruang tengah.
Saat ibunya Dina dan Aditia masuk, mereka kaget, karena ayahnya sudah dibaringkan di sofa.
“Sudah di sofa? Tadi Bapak bangun dan bisa di papah ke sofa?” ibunya bertanya.
“Iya.” Jawab Alka singkat, agar tidak dicurigai.
“Bu tolong minta minyak kayu putih, kita harus membaui bapak dengan sesuatu yang kuat agar dia siuman.” Alka meminta.
“Iya Nak, ada, sebentar ibu ambilkan dulu.”
Tidak lama ibu itu kembali dengan membawa botol minyak kayu putih kecil, Alka mengambil botol itu dan membaui minyak kayu putih itu ke hidung ayahnya Dina. Tidak butuh waktu lama dai terbangun.
“Bu, astagfirullah, tadi saya lihat Dina lagi buatkan Bapak teh manis, seperti biasa, Bapak rindu sekali dengan Dina.” Ayahnya sudah bisa bicara lagi, tidak seperti beberapa hari ini.
“Dina juga tidak bisa tenang, jika pelaku yang menguburnya tidak segera ditangkap, Pak.” Alka mencoba memancing ayahnya.
Ayahnya Dina terdiam, dia menunduk, lalu perlahan menangis, seperti seorang anak kecil, hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh pria paruh baya hanya karena sedih, ini jelas ekspresi dari rasa bersalah yang dalam.
“Apakah anda tahu, siapa pelakunya?” Alka bertanya hati-hati.
“Mana mungkin suami saya tahu Nak, dia itu tidak tahu semua soal Dina, temannya, kerjanya, bahkan dulu sekolahnya, Bapak nggak tahu hal-hal pribadi Dina, jadi tidak mungkin dia tahu pelaku itu.” ibunya mencoba membela suaminya.
“Pak, tahu rasanya jika ruh kita terombang-ambing di tengah dunia? Dingin, sedih, kecewa dan ketakutan, itu yang Dina rasakan sekarang, dia tidak bisa kembali karena pelakunya masih bebas berkeliaran, apakah Bapak tidak mau membantu Dina menjadi tenang di sisiNya?” Alka terus memaksa agar ayahnya mau berbicara.
“Ada apa ini!” kakak lelaki Dina yang merupakan anak sulung tiba-tiba datang, dia tahu kalau ayahnya sakit karena sudah ditelepon oleh kerabatnya yang tadi mendengar ibunya Dina berteriak, kebetulan kerabatnya tinggal dekat dengan keluarga Dina.
“Bapak pingsan.” Ibunya menjawab.
“Lalu kalian ngapain di sini?” Kakaknya bertanya dengan menyelidik, dia curiga kalau Alka dan Aditia membuat ayahnya sakit.
“Bu! Ayah kenapa?” Kali ini kakanya yang kedua datang, kakak perempuan.
“Bisa kalian duduk dulu, saya dan Aditia di sini tidak pernah bermaksud jahat, kalau kalian berusaha terus saja mencoba menginterupsi kami dalam menolong Dina.” Alka melihat semua orang dengan mata yang menakutkan, dia menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan mereka, sekarang dua kakak Dina sudah tenang, ibunya juga duduk tenang, lalu Alka menatap mereka dan membiarkan mereka kembali sadar.
“Dengarkan apa yang akan saya tanyakan pada ayah kalian, jangan dibantah, atau kalian akan kehilangan kesadaran, percayalah saya bisa melakukannya.” Alka mengancam, semua orang terdiam.
__ADS_1
Alka melanjutkan perkataannya.
“Bapak tahu siapa yang melakukan ini semua pada Dina, kan?” Alka kembali mengulang.
“Saya … saya ….”
“Hei! Kau memaksa ayahku untuk mengatakan apa yang tidak dia ketahui!” Kakak pertama Dina sedikit berteriak.
“Kau yang mengubur adikmu di sana?!” Alka berteriak dengan spontan.
Kakaknya Dina terdiam karena kaget melihat ekspresi Alka.
“Aku, aku tidak melakukannya, bagaimana mungkin aku mengubur adik kecilku.” Kakaknya Dina meneteskan air mata, dia berkata dengan sangat pelan.
“Kalau begitu, diam! Kau ingin adikmu tenang, kan?!” Alka mengeluarkan sisi kerasnya, Aditia melihat itu sangat keren, kalau soal menolong orang, Alka tidak pernah setengah-setengah, Bapak mendidiknya dengan baik, dia menjaga manusia, padahal dulu dia hampir dibunuh oleh para manusia itu.
Alka melanjutkan perkataannya, “Apa ini soal … uang?” Alka menebak.
Ayahnya Dina terdiam, dia terlihat berat sekali, tapi Alka tahu, hanya tunggu waktu, dia pasti akan bicara.
“Saya hanya buruh, kerja serabutan, tapi kamu lihat, kan. Semua anak saya anak-anak pintar, kalau mereka tidak sekolah tinggi, mereka akan menjadi seperti saya. Mereka semua Sarjana, termasuk Dina, Dina sekolah keperawatan, cita-citanya tinggi sekali, dia ingin menjadi Dokter, tapi karena saya tidak mampu, maka cukup Perawat saja, Dina anak yang baik dan pintar seperti semua anak saya, saya yang bodoh.”
“Ayah ….” Ratna kakak kedua Dina memeluk ayahnya.
“Seseorang memberitahu saya, bahwa ada orang yang bisa meminjamkan saya uang dengan syarat setiap panen saya harus kasih semua hasil panen padi saya padanya, hanya dijual ke dia, tidak boleh orang lain. Kami hanya punya sawah itu satu-satunya, sawah dari orang tua saya yang tidak berapa besar, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi sekolah tinggi, rasanya tidak mungkin, makanya saya meminjam uang pada tengkulak itu. Berharap hasil panen kami bisa menjadi cicilan yang membayar hutang itu.
Tapi … ternyata hasil panen tidak selalu memenuhi kebutuhan kami, kami selalu tercekik, kebutuhan sehari-hari, kebutuhan sekolah anak, walau mereka mendapat beasiswa, tapi banyak kebutuhan lain yang tetap harus kami penuhi.
Maka pinjaman itu terus bertambah, sampai akhirnya mereka lulus kuliah, belum juga hutang itu bisa lunas.”
“Ayah menukar Dina!” Kakak pertamanya terlihat gemetaran saat mengatakan itu, dia menahan marah.
“Kau fikir Ayah gila menukarnya! Dina melihat saat tengkulak itu menagih hutang, Dina bertanya pada ayah berapa hutang ayah, lalu Dina bilang akan menemuinya untuk meminta keringanan, itu dua minggu yang lalu!” Ayahnya kembali menangis, dia sadar, waktu Dina hilang, dengan waktu dia berbicara seperti itu mirip.
“Tapi, itu terlalu dini untuk menuduhnya Ka, kita harus menyelidikinya dulu, maksudku, bisa saja itu hanya asumsimu.” Aditia tidak sepaham.
“Bapak pernah bertemu dengan lelaki itu setelah Dina menghilang?” Alka bertanya.
“Tidak dan itu hal yang jarang terjadi, dia selalu datang setiap tiga hari sekali untuk menagih, tapi setelah Dina hilang, dia tidak pernah datang lagi. Lalu, saya curiga dan mendatangi tengkulak itu, tapi istrinya bilang kalau dia juga lama tidak pulang karena ada urusan di kantor, saya benar-benar bingung kemana anak saya, saya berharap tidak terjadi hal buruk padanya, tapi setelah mayatnya diketemukan, saya tahu, dia pasti pelakunya.” Ayahnya Dina menangis tapi jauh lebih terlihat sedih, tidak seperti beberapa hari ini, beban rasa bersalah membuatnya tidak mampu merasakan apapun selain ingin mati.
“Kalau memang tengkulak itu pelakunya, saya akan membuat dia masuk penjara, itu janji saya.” Alka lalu berdiri dan berjalan ke arah angkot. Aditia mengikutinya dari belakang.
“Aku tidak yakin tengkulak itu pelakunya.” Aditia membuka omongan, sementara mobil melaju ke arah rumah tengkulak itu.
“Kenapa?”
“Terlalu tragis, penyebab kematiannya tidak mungkin ayahnya sendiri.”
“Tidak semua ayah seperti Bapak Dit, Bapak orang baik, orang hebat, tapi Bapak tidak semiskin Bapaknya Dina, jangan melihat orang hanya dari kacamatamu saja.”
“Tapi Bapakku juga bukan orang kaya, kami masih sanggup sekolah dan aku kuliah, walau bapak meninggal setelahnya, tidak ada beban hutang yang harus kami bayar.”
“Kata siapa Bapakmu bukan orang kaya, setelah ini akan aku buktikan. Ibumu bilang kalian kesulitan untuk bayar kuliah Dita dan kamu? Kau tahu, uang bapakmu, bisa membeli universitas itu!”
“Tidak mungkin, omong kosong! Kalau memang begitu, kenapa ibuku tidak tahu apa-apa! Dia benar-benar kebingungan.”
“Kau fikir kenapa pesanan kue ibumu kadang banyak, yang butuh jasa catering ibumu tiba-tiba membludak? Tidak fikir kalian bahwa yang membeli kue itu dan membayar jasa catering itu bapakmu sendiri! Aku mengaturnya, supaya kebutuhan kalian terpenuhi setelah Bapak tiada, aku fikir ibumu sedang ketakutan karena bapakmu sudah tiada, sedang dia fikir dia hanya seorang pedagang kue basah kecil-kecilan, tidak akan sanggup menguliahkan kalian, aku maklum, karena Bapak membuat ibumu berfikir kalian itu miskin!”
“Tapi kenapa Bapak begitu? Itu sangat kejam.”
“Dit ….” Alka memegang bahu Aditia, “setelah ini, setelah Dina bisa kita antarkan, aku janji, kali ini, pewaris sesungguhnya yang harus mengatur kekayaan bapakmu, tapi kasih aku waktu, setelah ini, aku janji.”
__ADS_1
Aditia terdiam, dia bukan tidak sabar menerima kekayaan itu, tapi lebih kepada, dia tidak mau menerima bahwa ayahnya tidak percaya keluarganya sendiri, ayahnya membohongi mereka selama ini.
Setelah sampai rumah tengkulak itu, Aditia dan Alka langsung mengetuk rumahnya. Seseorang terdengar mendekati pintu dari dalam, lalu pintu dibuka.
“Pak Hasan ada?” Alka bertanya.
“Ada apa ya?” seorang wanita sekitar umur empat puluh tahunan bertanya, kemungkinan dia istrinya Hasan si tengkulak itu.
“Saya mau pinjam uang bu, katanya Pak Hasan bisa bantu.” Baru saja membicarakan kekayaan, Alka sekarang berlagak orang yang sedang kesulitan uang, Aditia merasa takjub.
“Oh gitu, yaudah masuk, sebentar saya telepon suami saya dulu.” Ternyata benar itu istrinya.
Alka dan Aditia duduk di sofa ruang tamu, bersebelahan dengan Aditia.
“Ini, dia sedang di pemancingan, kalian temui dia di sana ya.” Istrinya memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat pemancingan, pantas saja dia selalu tak ada jika dicari oleh Bapaknya Dina, rupanya dia sengaja bersembunyi.
Aditia dan Alka bergegas ke pemancingan tersebut, tempat yang cukup jauh dan lumayan masuk ke pelosok, begitu sudah sampai, Aditia dan Alka mencari lelaki itu, ketemu, tidak sulit mencarinya, karena istrinya sudah memperlihatkan foto suaminya tadi.
“Pak Hasan?” Alka menyapa.
“Kalian yang mau pinjam uang?” Hasan bertanya.
“Iya Pak, saya butuh untuk kuliah saya.”
“orang tuamu tidak mampu membiayaimu kuliah? Bisa bayar pakai apa kamu nantinya? Wong, masih kuliah belum kerja.” Pak Hasan merendahkan mereka, Alka mendengar itu duduk di sampingnya.
“Saya punya sawah kecil warisan ayah saya, Bapak bisa ambil dari hasil panen saya untuk cicilannya, bagaimana?”
Hasan mendengar itu merasa tercekat, dia merasa pernah mendengar hal seperti ini, kata-kata itu membawanya pada sebuah ingatan buruk, wajahnya berubah menjadi khawatir.
“Ti-tidak, sa-saya tidak menerima hasil panen lagi, kalian cari orang lain saja.” Tiba-tiba muka Hasam berubah ketakutan, dia membereskan pancingannya lalu hendak pergi, sebelum dia berhasil meninggalkan Alka dan Adita, Alka memukul bahunya, dia terkena gendam dari Alka, seketika dia terdiam mematung seperti terhipnotis.
“Ikut saya!” Alka berjalan di depan lelaki itu, lalu Hasan mengikutinya dari belakang seperti robot tanpa ekspresi, Aditia juga berjalan dibelakang Hasan.
Mereka sudah di mobil, Aditia membawa angkotnya ke tengah hutan, sepi, tidak ada manusia, Alka mengeluarkan Dina dari botol, saat sudah keluar, sosok Dina di dudukkan berhadapan dengan Hasan, Dina yang awalnya berwujud biasa, saat melihat Hasan lama kelamaan menampakan wujud menyeramkan, matanya bolong, tubuhnya penuh darah lalu dari mulutnya keluar kata-kata ila, ila, ila.
Alka melihat itu langsung mengikat Dina dengan cambuknya agar tidak mencelakai Hasan. Lalu Hasan disadarkan dari pengaruh Gendam. Alka membuka mata batin Hasan, maka terlihatlah Dina dengan wujud mengerikan itu.
“Tidak! Tidak! Pergi kau! Wanita sundal, sialan, brengsek, pergi kau!” Hasan menendang Dina, angkot bergoyang hebat, Alka dan Aditia ada di bagian belakang angkot itu juga, Aditia berusaha memegang Hasan, tapi Hasan berontak terus, dia ketakutan melihat Dina.
“Dit, iket dong, tadi bukannya di iket!” Alka kesal, karena Aditia kurang cekatan, memang berlima jauh lebih baik.
Lalu Aditia mengikat Hasan dengan sekuat tenaga, setelah berhasil, Alka lalu mendudukan mereka berdua berhadapan.
“Kau menguburnya di hutan pinggir tol kan? Untuk ke pemancingan tadi kita melewati tol itu tadi, jadi pasti kau sudah tahu lokasi itu karena sering ke pemancingan itu, kenapa kau membunuhnya?!” Alka bertanya dengan membentak.
“Brengsek! Aku tidak membunuhnya, dia wanita sundal sialan, dia pantas mati!” Hasan masih saja mengumpat.
“Kalau kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, aku akan melepaskan Dina dan tidak menutup mata batinmu, sehingga selamanya Dina akan mengikutimu, hidupmu akan selalu ketakutan, mungkin akhirnya kau akan mati mengenaskan.” Alka mengancam.
“Kalian brengsek!” Hasan masih saja memaki.
“Dina kau boleh mencekiknya.” Alka memerintah, Dina mengulurkan kedua tangannya yang berlumuran darah, wajah dengan mata bolong itu mendekat pada wajah Hasan, tangan dan kaki Hasan terikat, dia tidak bisa bergerak, dia ketakutan, bau anyir membuatnya hampir muntah.
“Baiklah, baiklah, saya akan mengatakan semuanya, saya akan mengatakan semua.” Hasan putus asa, sebelumnya dia terlihat sangat kasar dan arogan, sekarang menjadi ketakutan dan depresi melihat Dina, baru beberapa menit saja dia sudah tidak tahan, apalagi jika ancaman Alka kejadian, bisa-bisa dia mati berdiri, dihantui seumur hidupnya.
____________________________________________
Catatan Penulis :
Kesel nggak sama Author? Pasti kesel, kan?
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komentar ya, bantuin vote sama isi bucket hadiah juga boleh banget.
Makasih buat yang udah selalu dukung.