Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 464 : Kamboja 26


__ADS_3

Ratu itu terdiam, dia menatap Kharisma Jagat yang membaca mantra dengan terdiam.


Setelah mantra itu selesai dibaca, Ratu itu tertawa.


“Apakah kalian dungu, tak kah kau lihat, mantra kalian sudah tak lagi mempan padaku!”


Semua orang terkejut, mereka tak pernah tahu akan ada kejadian semacam ini, mantra dan kekuatan Kharisma Jagat tak mempan lagi!


"Aditia melihat ke arah yang lain, sepertinya tidak bisa secara lembut, kita harus melawannya."


Aditia mengeluarkan senjata barunya, tombak, Alisha meminta Rangda menguasai dirinya, sedang yang lain turut mengeluarkan senjata.


Ratu Gandarwi bersiap, matanya berubah memutih semua, wujud Nita telah tidak terlihat lagi, seluruh busananya berubah menjadi gaun yang tergerai keseluruh tanah pada terowongan itu.


Tubuhnya melayang, dia membuka tangannya lebar dengan tangan gaun itu menjuntai di seluruh bagian lengannya, terowongan menghitam, menandai begitu banyaknya dosa yang dia lakukan.


Aditia menyernag duluan, dia melempar tombaknya lalu berlari bermaksud menghatam jin tua itu, tapi sayang, baik baik tombak maupun pukulannya tidak ada yang kena, Ratu menghilang, dia lalu muncul di belakang Aditia secara tiba-tiba lalu menyabet punggung Aditia yang menyebabkan bajunya robek dan punggungnya luka seperti luka robekan yang tidak terlalu dalam namun cukup panjang, Aditia jatuh.


Alka melihat itu langsung mengeluarkan cambuknya dan mulai melawan, seperti yang lain, mereka semua mulai menyerang, tapi sayang, setiap helai gaun yang terbentang di tanah, mampu menangkap pergerakan para kawanan dan juga Kharisma Jagat, helaian gaun hitam yang terbentang di tanah itu menangkap setiap orang yang hendak menyerang Gandarwi, orang-orang itu lalu terlilit gaun tanpa bisa bergerak.


Jarni melepas semua ular mininya, ular itu berusaha menolong mereka yang terlilit helaian gaun hitam Gandarwi, ulat-ular mini itu memakan gaun yang melilit agar Kharisma Jagat dan kawanan dapat terlepas, Jarni juga bagian dari yang terlilit, tapi sayang, ular itu walau jumlahnya banyak tapi terlalu kecil untuk bisa menghabiskan kain ukuran bermeter-meter itu dengan taring mininya, sehingga pengusiran secara terhina harus dihadapi kawanan dan para Kharisma Jagat, mereka dilempar ke luar dari terowongan oleh Gandarwi, semua orang termasuk Jarni dan Ganding.


Lalu terowongan terlihat semakin menghitam hingga tak bisa dimasuki lagi, ada rasa lemas yang dirasakan oleh mereka semua karena terlalu dekat dengan pintu masuk terowongan, ada yang terlempar pada sisi terowongan satu dan sisi terowongan lainnya, setiap terowongan memang selalu memiliki dua jalan masuk untuk jalan yang dua arah bukan?


Mereka semua dengan rasa sakit dan terhina lalu menjauh dari terowongan, Alka dengan sisa kekuatannya mengumpulkan semua orang agar berada di satu sisi hingga bisa berkumpul untuk memulihkan diri.


Tak lama kemudian mereka sampa di markas ghaib. Behra kembali melihat wajah kecewa setiap orang, dia sebenarnya sangat kuat, tapi karena kehamilan, dia tidak bisa sembarangan melawan musuh. Terlalu bahaya untuk bayinya.


“Jadi mantranya tidak berjalan dengan baik? tidak mempan? tapi bagaimana bisa? tidak ada jin tua yang sanggup melawan itu? mantra kuno dengan kekuatan besar tidak mempan? kenapa? Kau tahu sesuatu Jarni?” Behra bertanya.

__ADS_1


“Aku curiga sesuatu, tapi aku harus memastikan dengan membaca kitab dulu, memastikan ssuatu.”


”Tidak! kau harus istirahat dulu, masuk ke tubuhmu dan istirahat, aku tidak ingin kau nanti jadi sakit parah karena ini, kau sudah cukup lama meninggalkan tubuhmu.” Alka kesal melihat Jarni tetap saja inign segera menyelesaikan kasus, padahal dia juga sudah sangat lelah.


Jarni dan Ganding kembali ke dalma tubuh mereka dan akhirnya istirahat, sedang Aditia yang terluka diobati oleh Alka, yang lain semua istirahat karena harus memulihkan keadaan.


Pertarungan tadi memang tidaklah berat, tapi rasa malu yang ditimbulkan jin tua itu sungguh membekas bagi semua.


“Menurutmu, kenapa mantra itu tidak mempan?” Aditia bingung dan masih terus memikirkannya.


“Pasti karena ada kesalahan dari kita, karena ilmunya takkan meningkat sebanyak itu dalam waktu yang secepat ini, belum sampai bertahun-tahun dari kita terakhir menangkapnya, dia memang mengubah metode memagari terowongan itu, tapi itu hanya soal ilmu berbeda, bukan ilmu yang lebih tinggi, Dit. Maka dugaanku adalah, kita yang gegabah menggunakan mantra itu tanpa memastikan akan mampu menggunakannya dengan baik, mungkin salah metode, mungkin salah orang, mungkin juga salah sasaran.


“Kau kenapa kasar sekali tadi ke Alka, kau langsung melarangnya untuk melanjutkan lagi mencari cara?”


“Kalau bisa, aku bahkan tak ingin lagi dia keluar dari markas ghaib ini Dit, aku tidak mau dia terjebak lagi, aku sungguh takut kehilangan dia. Mengingat kemarin dia dengan dingin meninggalkanku, sungguh sakit yang sangat berbekas, aku mencintainya bukan hanya seperti adikku, aku sudah mencintainya seperti anakku sendiri.


Aku bersamanya saat dia masih sangat kecil, aku bersamanya saat dia tak mau bicara dan akhirnya mampu menjadi pura-pura normal, melihatnya mampu bersikap dingin begitu, membuatku ingin mengurungnya, Dit, aku sangat marah karena beraninya dia bersikap begitu padaku, walau kita tahu, dia sedang menipu jin tua itu, tapi tetap saja aku takut.”


“Dit, kau mau kuhajar!” Alka yang sedang mengolesi salep di luka aditia kesal dan menekan jarinya ke luka Aditia dengan kasar, Aditia kesakitan dan akhirnya minta maaf karena bercanda.


“Baiklah, aku setuju kalau itu menyakitkan, tapi aku rasa kau tidak percaya bahwa adik-adik kecil yang telah kau besarkan itu, sudah semakin dewasa dan sudah mampu membuat keputusan sendiri.”


“Tapi tidak termasuk mengambil resiko ke kandang macan sendirian tanpa tahu bisa selamat atau tidak, itu terlalu bodoh dan nekat.”


“Baiklah, kau itu seperti ibu kucing yang baru melahirkan, sangat galak dan posesif pada anak-anaknya, aku sebagai bapak kucing hanya bisa memaklumi.”


“Luka ini sepertinya kurang sakit ya Dit? mau kutambah!” Alka kesal dan akhirnya meninggalkan Aditia untuk istirahat.


Saat berjalan hendak istirahat juga, dia melihat kamar Jarni terbuka, Alka lalu mengintip pada kamar itu, kosong, dia kesal dan tahu di mana gadis kecil keras kepala itu.

__ADS_1


Alka berjalan ke suatu ruangan dan benar saja, pasangan kekasih itu sedang sibuk membuka kitab.


“Bukankah aku mengatakan pada kalian untuk istirahat?” Alka kesal dan berteriak mengatakannya.


“Kak … aku mohon, kita tak boleh terlalu lama bergeraknya, pasti ada yang kita lewatkan.” Jarni tetap melawan.


Alka berjalan mendekati Jarni dan menarik kupingnya, “Kau ingin aku paksa istirahat dengan memukul tengkukmu, atau kau mau istirahat senditi?”


“Kak … aku mohon, aku harus membacanya dengan Ganding.”


“Kau tidak malu pada kekasihmu itu? setelah memukul kepalanya, lalu kau sekarang meminta bantuannya?”


“Kak, dia hanya pura-pura memukulku.”


“Pura-pura tapi dahimu memar kehijauan gitu, itu namanya niat!”


“Kak, kalau aku setengah-setengah, Gandarwi takkan percaya dan takkan lengah saat aku menciptakan terowongan di dalam terowongan, untuk jalan masuk kalian itu melalui sisi kanan terowongan, di mana aku membangun terowongan pagarku dan aku tutupi dengan energi dari jiwa-jiwa yang sudah sekarat itu, jadi jin tua tak menyadarinya karena energi itu menutupi luban yang aku buat agar kalian masuk.


“Jadi kau yang membuat pintu belakangnya?” Ganding kaget karena dia bahkan tidak tahu itu, kapan dia membuatnya.


“Ya kau tahu kan, dua sisi jalan masuk terowongan itu dijaga dengan ketat oleh Gandarwi, dia juga tak luput mengelilingi terowongan itu dengan penjagaan, apa namanya kak? Ajian penarik jiwa? prinsipnya mirip dengan pagarku.


Kalau pagarku untuk luput dari pandangan baik mata awam maupun mata ghaib dan juga bisa menghalau semua makhluk yang hendak masuk dengan menyerang balik, tapi kalau untuk ajian penarik jiwa, semua jiwa yang mendekat dibuat lemah, karena jiwanya coba ditarik dari tubuhnya, tentu kita manusia, perlahan jiwanya ditarik akan semakin lemah bukan?


Itu kenapa kalian tidak bisa masuk, lalu aku melihat sudut yang paling tipis dari ajian itu, yaitu bagian kanan terowongan, di mana aku membuat terowongan baru dengan pagar buatanku untuk kalian masuk pada bagian itu saat kalian semua tengah tertidur, menciptakan terowongan atau jalan belakang untuk kakak, karena aku tahu, kakak pasti mengintip pada ingatanku setiap saat, makanya kakak melihatku membuat terowongan itu untuk mereka masuk, aku menyebutnya sebagai pintu belakang, atau pintu yang dibuat ekstra untuk keadaan darurat saja, bukan pintu utama.


Lalu aku menarik seluruh jiwa yang sekarat, mengumpulkannya di terowongan yang aku buat, terowongan itu seperti ajian pembalik bagi ajian penarik jiwa, aku tidak melubanginya aku menyandarkan terowongan yang aku buat itu pada sisi kanan terowongan ini hingga akhirnya aku membuat tempat yang aman bagi kawanan dan Kharisma Jagat untuk masuk, kalian harus menahan lemas saat memaksa masuk dari sisi kanan itu bukan? lalu ketika berhasil masuk kalian langsung mendarat di terowongan buatanku agar energi kalian kembali dan akhirnya bisa masuk.”


“Ya, itu bagus Jarni, tapi tetap saja ….”

__ADS_1


“Kak! aku tahu sekarang, aku tahu sekarang kenapa kita tak berhasil!” Ganding tiba-tiba berkata dengan bersemangat.


__ADS_2