Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 518 : Mulyana 24


__ADS_3

“Kau ... kaulah alasannya.” Ayahnya Nando menunjuk Mulyana.


“Aku! aku? kok bisa?” Mulyana bertanya, Aep juga jadi bingung dan tak sabar ingin mendengar penjelasannya.


“Kau datang ketika itu, kau datang ke sekolah, segera setelah kau melewatiku, aku tahu, bahwa kalian dua orang yang istimewa, tapi aku tak pernah menyangka bahwa ....”


“Kau akan menjadi pelepas rantai mantra itu.”


Seperti yang kau tahu, bahwa ruh-ruh yang dijadikan tumbal akan menjadi budak dari iblis yang mengambil nyawanya, maka bagi Nando, dia adalah budak dari iblis yang disembah kakeknya, tapi sayang, kakeknya tak berhasil membuat Nando menjadi tumbal.” Ayahnya melanjutkan lagi cerita.


“Tidak berhasil? Maksud bapak apa? Bukankah Nando sudah melakukan ritual dan bahkan menyebutkan perjanjian di depan kakeknya?” Mulyana bingung.


“Syarat agar sisa umur Nando diserahkan kepada kakeknya adalah dia harus rela untuk menjadi tumbal dengan menyebutkan perjanjian. Nando memang menyebutkan perjanjian itu di depan kakeknya, lalu setelah itu dia lompat dari atap gedung sekolahnya. Lalu kakeknya mengucap mantra Graksa Bajang untuk memenuhi permintaan dari Nando sebagai ganti atas kerelaannya menjadi tumbal.


Maka dari sini seharusnya kau melihat lubangnya?”


Mulyana terdiam sesaat dia mencoba mencari benang merahnya, lalu dia tersadar, “SYARATNYA! Itu secara tidak langsung membatalkan perjanjian, karena untuk bisa memenuhi syarat tumbal, Nando harus rela menyerahkan sisa umurnya, tapi dengan memberikan syarat yang terpenuhi setelah dia jatuh dan meninggal dunia, maka itu jelas membatalkan perjanjian tumbal, karena kerelaan itu, tidak boleh disertai dengan syarat, yang artinya secara tak rela dan akhirnya perjanjian batal dengan sendirinya.


Aku tahu bahwa ini adalah langkah terakhir anakku untuk menyelamatkanku, menghukum orang yang memfitnahnya dan terakhir … membebaskan dirinya dari semua rasa sakit karena kehilangan ibu, teman dan cita-citanya.”


“Jadi maksud Bapak, dia merencanakan semuanya secara sengaja? Maksudku Nando sengaja melakukannya karena … tahu celah ini?” Mulyana kagum pada kecerdasan Nando.


“Ya, dia tahu, aku sudah menyelidikinya, dia sudah mempersiapkan semua dengan sangat terperinci, rupanya ide ini mungkin sudah dia pikirkan saat dia menyadari bahwa lari, takkan pernah mampu lagi kami lakukan.” Ayahnya Nando terlihat sangat amat kecewa, bukan pada ayahnya saja, tapi juga pada dirinya, bagaimana anak umur belasan tahun bahkan menemukan cara untuk menyelamatkan ayahnya, tapi ayah dan kakeknya tidak bisa melindungi Nando.


“Bagaimana Bapak tahu kalau memang Nando merencanakan semuanya dan sudah tahu hasil akhirnya adalah dia akan tetap tewas, bagaimana anak sekecil itu sudah memiliki kemampuan pemikiran yang sangat jauh?” Aep juga sedih dan bingung, makanya dia bertanya.


“Aku menemukan buku-buku yang dia baca, rupanya tanpa sepengetahuan kami, dia banyak membaca buku klenik di perpustakaan umum itu, ada buku terakhir yang dia belum kembalikan karena dia meninggal dunia. Buku itu membahas klenik pasundan, buku yang cukup berat untuk anak seumuran Nando.”


“Pantas saja dia mengajakku ke perpustakaan itu, pasti karena dalam ingatannya, di sana banyak memuat buku-buku. Aku tidak tahu, sejauh mana yang dia ingat, dia bahkan bilang padaku bahwa, dia takut gelap dan mendengar suara-suara itu.”


“Ka-kau bisa melihat anakku?” Ayahnya Nando terhenyak, dia tak paham kenapa Mulyana berkata seperti itu.


“Kau bilang bisa merasakan energi anakmu saat berdekatan denganku bukan? Ya, dia memang bersamaku, dia juga mungkin tak ingat kalau … kalau dia sudah tiada. Aku juga tidak sadar kalau dia adalah ruh, bukan manusia biasa, karena aku hanya melihatnya sebagai manusia biasa, bukan ruh yang memiliki energi berbeda.”


“Maka kecurigaanku benar tentangmu, kaulah yang memutus rantai itu. Maka aku akan lanjutkan lagi, setelah anakku meninggal dunia, mantra Graksa Bajang dibacakan, lalu anak perempuan itu terkena kutukan, aku sembuh karena ayahku melepas mantra Graksa Bajang dariku juga, sekaligus membuat batal perjanjian antara iblis itu dengan anakku batal, maka anakku menjadi ruh yang tidak memiliki status.


Pertama karena kematiannya dengan sebab tumbal, yaitu permintaan iblis, maka ruhnya tak diterima bumi maupun langit, tapi karena perjanjiannya batal, dia juga menjadi ruh yang bebas, bukan budak dari iblis manapun.

__ADS_1


Menyadari itu, ayahku buru-buru merantai ruh Nando dan menidurkannya, dia mengunci ruh Nando di gedung sekolah itu agar aman, karena di tempat kematianlah tubuh kita diciptakan, maka di tempat itulah kemurnian tetap bisa dijaga.


Sampai saat ini ayahku masih mencari cara untuk mendapatkan sisa umur Nando, tapi masih belum berhasil, karena rencana yang Nando susun sangat sempurna, tak ada jalan bagi ayahku untuk menautkan kembali perjanjian itu, dia gegabah karena tidak sadar menerima persyaratan itu, hal yang hampir tidak pernah dia lakukan sebelumnya pada anggota keluarga lain.


Dia masuk jebakan Nando dengan sempurna. Anakku memang anak yang jenius.”


“Lalu apa hubungannya aku dengan Nando yang akhirnya bangkit lagi?” Mulyana masih belum dapat jawaban itu.


“Kau datang dengan kekuatan yang sangat besar, itu membuat rantai yang ayahku buat untuk Nando akhirnya terlepas, karena mungkin … ini hanya asumsiku saja, secara tak sengaja kau merusak mantranya dengan ilmu yang kau miliki, hingga akhirnya Nando lepas dari rantai dan … bangun kembali.”


“Jadi dengan ilmuku, aku melepas ruh Nando? Lalu kenapa dia tak ingat tentang kematiannya?”


“Ruh Nando yang ditidurkan lalu bangun, layaknya seperti manusia yang koma, lalu terbangun, kemungkinan dia lupa tentang hidupnya sangat tinggi, jadi mungkin itu juga yang menimpa Nando. Dia lupa tentang kematiannya, karena ingatan dia selalu berputar pada sekolah. Tapi soal kenapa kau tidak bisa mengenalinya sebagai ruh, aku tidak tahu, pengetahuanku hanya sebatas tentang anakku saja, soal bagaimana matamu bisa tertipu, aku tak paham.”


“Berarti kau hanya perlu tanya ayah saja.” Aep berkata dengan yakin, karena soal ini, ayah pasti punya jawaban.


“Baiklah Pak, kalau begitu, kami pamit, terima kasih karena sudah mau terbuka padaku.” Mulyana berterima kasih.


“Ya, tapi Mulyana, bisakah kau menyampaikan permintaan maafku pada anakku, karena aku masih hidup sampai saat ini, menghargai pengorbanannya, jika saja bukan karena itu, aku pasti sudah menyusul istri dan anakku.”


“Jika bertemu lagi, aku akan menyampaikannya, walau aku ragu apakah kami masih bisa bertemu.” Mulyana ragu mereka masih mungkin bertemu karena kejadian terakhir itu.


Begitu sampai rumah Mulyana disambut ibunya dengan biasa saja, tanpa tangis atau risau. Mulyana hanya disuruh mandi, berwudhu lalu mereka akan bersiap untuk makan malam.


DI meja makan Mulyana dan Aep memilih untuk tidak bercerita, ibu pun tidak menanyakan sama sekali soal hilangnya Aep, besok sudah mulai masuk sekolah dan kesempatan Mulyana bertanya pada ayahnya hanya hari ini saja, karena ayahnya harus ke luar kota untuk mengurus bisnis.


Makanya begitu malam malam selesai, ibunya membereskan semua peralatan makan dibantu Aep dan Mulyana, setelah itu ibunya memilih untuk di kamar saja, sedang Mulyana, Aep dan Drabya duduk di ruang tamu.


“Udah tanya gih, biar cepet selesai masalahmu.” Aep meminta Mulyana bertanya pada ayahnya, mereka duduk berhadapan.


“Iya, hmmm, Yah.” Mulyana menyapa ayahnya.


“Ya?” Drabya bertanya balik.


“Kalau aku tidak menyadari ruh itu adalah ruh, apakah karena kekuatanku sudah semakin rendah?” Mulyana membuka dengan kalimat yang kurang tepat.


“Maksudmu? Apakah ini masalah Nando?”

__ADS_1


Aep dan Mulyana terhenyak, kenapa ayahnya tahu nama itu?


“Kok ayah tahu?” Mulyana bertanya.


“Aku tahu karena setiap pulang kau membawa energi yang cukup besar tapi tidak aku kenali, maka aku menyelidiki, ternyata itu Nando. Aku melihat kalian jalan selalu pulang bertiga dan sadar kalau anakku, tidak sadar, satu orang itu bukan manusia.”


“Kok ayah nggak kasih tahu?” Mulyana protes.


“Memang ada Kharisma Jagat mendapatkan jalan yang mudah? aku sedang membiarkanmu mengambil keputusan sendiri.”


“Baiklah, lalu bagaimana dengan pertanyaanku? Apakah aku memang mulai menurun kemampuannya?”


“Kalau kemampuanmu menurun, maka seharusnya kau sama sekali tidak bisa melihat Nando, tapi jika kau melihat Nando, maka itu adalah sebaliknya. Ilmumu semakin tinggi berkat banyak latihan, baik di rumah ini maupun di luar sana dengan kasus.


Hal itu membuatmu melihat ruh sama seperti melihat manusia, berwujud solid, tapi belum pada tahap identifikasi energi, makanya kau tidak bisa merasakan energinya Nando, karena energinya memang tipis sekali. Pada akhirnya kau menganggap Nando sebagai manusia biasa.”


“Jadi hanya karena kemampuanku yang naik, makanya aku tidak bisa mengenali Nando sebagai ruh?” Mulyana merasa janggal dengan jawaban itu.


“Apa yang ayahnya Nando katakan? Kau sudah ke sana kan?”


“Ayah juga tahu soal itu?”


“Iya, tentu saja.”


“Katanya aku membuat hancur mantra pengikat Nando, yang dibuat kakeknya untuk menyekap dan menidurkan Nando, mantra itu seketika hancur saat aku injak, setelahnya Nando bebas dan terbangun, lupa kalau dia sudah meninggal dunia, melanjutkan kehidupan seolah dia masih hidup.”


“Itu masuk akal, karena kau Kharisma Jagat tapi belum punya Karuhun, kau mampu menghancurkan ikatan mantra.”


“Lalu soal Nando, apakah benar hanya karena aku memiliki ilmu yang semakin tinggi? Kok aku merasa tidak begitu?” Mulyana bertanya lagi.


“Tidak ada jawaban pasti, Nak. Soal seperti ini, kau harus menyelidikinya dulu dan mencari solusi, aku ingin Aep membantu kali ini, karena mungkin ruh ini jika sudah sadar dia telah meninggal dunia, dia akan menjadi agresif.”


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Datanglah besok ke sekolah, jika bertemu dengannya, kau harus tetap bersiap baik, jangan beritahu kalau kau tahu dia itu bukan manusia.”


“Kok gitu?”

__ADS_1


“Karena kau harus masuk pada ingatannya pelan-pelan, kau akan celaka kalau dia sadar dalam keadaan membenci dunia, maka itu akan membuat urusan kita semakin banyak.” ayahnya Mulyana berkata dengan bijak, lalu mereka berdua akhirnya pamit dan bermaksud membuat rencana untuk esok hari.


__ADS_2