Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 208 : Tinung 12


__ADS_3

Butuh waktu beberapa jam untuk bisa sampai ke rumah sakit tempat Dokter Adi Praktek, begitu sampai, Dokter Adi membawa sendiri kursi roda dan meminta Aditia mendudukkan Alka yang masih saja dengan tatapan kosong itu.


Mereka semua diam, tidak ada yang berbicara sampai mereka sudah di ruang Dokter Adi, Karuhunny Dokter Adi sudah mengamati begitu mereka sampai.


Dokter Adi memeriksa Alka, nadi hampir tidak ada, tapi masih terasa di beberapa bagian. Lalu Dokter Adi bermaksudm mengambil sample darah, saat dia menusukkan jarum pada tangan Alka dan menarik kembali jarumnya, dia terkejut.


“Kenapa Dok?” Aditia bertanya karena Dokter Adi terlihat sangat terkejut, Karuhunnya Dokter Adi terlihat khawatir.


Semua orang ada di sana, karena ruangan Dokter Adi memang cukup besar.


“Duduk semua, biarkan Alka bebaring saa dulu.” Dokter Adi menutup tirai yang menjadi penyekat ranjang di ruangan itu.


“Ada apa Dok?” Aditia bertanya.


“Dit, dia itu ....”


“Ya, dia itu manusia setengah jin.” Aditia memang belum menjelaskan siapa yang akan dia bawa, karena dia tadi begitu panik. Dokter Adi tidak tahu karena dia memang tidak terlalu berkecimpung di dunia perghaiban, dia hanya akan membantu jika Malik dalam masalah dan dia tidak terlalu suka ikut campur dengan urusan orang, walau dia memiliki Karuhun tapi dia tidak terlalu aktif dalam Akademi Kharisma Jagat yang dipimpin Ayi Mahogra. Makanya dia tidak kenal Saba Alkamah.


“Baiklah, sekarang aku akan jelaskan, deyut nadi sudah samar, detak jantung, sama samarnya seperti denyut nadi, tidak ada tekanan darah dan tidak ada bahkan setetes pun darah dalam tubuhnya. Kalau dalam penjelasan medis, Saba Alkamah kritis dan mungkin tidak bisa ditolong lagi.”


Aditia lemas, tubuhnya lunglai.


“Dit, tenang dulu ya. Biar Karuhunku jelaskan dari segi perghaiban.” Dokter Adi meminta semua fokus pada penjelasan Karuhun Dokter Adi.


“Ini adalah masalah setiap anak jin yang ibu atau ayahnya manusia, anak setengah manusia dan setengah jin. Saba Alkamah memasuki fase dimana dia harus memilih.”


“Memilih apa?” Aditia bingung.


“Untuk menjadi seutuhnya manusia, atau seutuhnya jin. Karena saat ini entah karena apa dia terpaksa harus masuk ke fase di mana harus menjadi wujud jin seutuhnya, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia dalam tubuhnya.”


“Apa!” Aditia marah. Karena kalau Alka seutuhnya menjadi jin, maka ... terlalu jauh takdir mereka untuk bersama.


“Kami harus apa?” Aditia bertanya lagi.


“Kenapa dia bisa begitu?” Karuhunnya Dokter Adi bertanya.


“Kami sedang menangani kasus di suatu desa. Kasusnya adalah Tinung, jiwa yang tidak tenang hingga tidak mau ‘pulang’ dia mengambil energi bayi untuk bisa hidup lagi. Hingga bayi yang dia ambil energinya akhirnya meninggal dunia.

__ADS_1


Dalam waktu itu kami juga berhasil menyelamatkan seorang bayi dari Tinung, dalam misi tersebut, kami terjebak, dukun yang membantu Tinung membuat Alka masuk ke dalam gubuk mereka sendirian dan sementara kami tidak bisa masuk gubuk itu karena ditahan oleh pagar ghaib yang sangat kuat.


Kami akhirnya berhasil menerobos masuk, tapi terlambat, Alka telah dalam kondisi seperti ini.” Aditia menyesal karena tidak bisa menjaga orang yang sangat dia cintai.


“Pantas saja darahnya habis, kalian tidak tahu kalau anak keturunan jin dan manusia, mereka memiliki darah yang sangat menggiurkan bagi dukun yang hendak membangunkan iblis? Darah mereka bisa membuat iblis kekal dalam wujud manusia yang dia incar sebagai tempat baru untuk hidupnya.” Karuhun Dokter Adi menjelaskan.


“Jadi maksudmu, darah Alka telah diambil oleh dukun itu untuk membuat anaknya bangkit lagi?”


“Ya, dia menghabiskan darahnya, seharusnya tidak dilakukan karena darah itu tidak akan berguna jika dihabiskan dalam satu waktu, pasti ada kejadian yang membuat mereka terpaksa mengambil semua darah Alka bukannya menyekap dia dan mengambil darah itu perlahan agar darahnya bisa digunakan terus kelak.”


“Mungkin kakak berkelahi dengan mereka, karena kakak bukan tipikal orang yang mudah menyerah.” Aditia berkata dengan yakin.


“Dit, kakak melakukan perjanjian, jangan lupa itu, jadi bisa saja dia dikendalikan oleh perjanjian itu, lalu dia mencoba menolak, tapi kalau perjanjian jin dan manusia dilanggar, jin tersebut akan langsung di hukum oleh kitab yang menjadi pengikat perjanjian itu, perjanjian antara manusia dan jin.


“Jadi maksudmu, Alka melawan hingga akhirnya dia diserang oleh dua arah, dukun dan hukuman dari kitab itu, hingga akhirnya darah Alka menjadi tidak layak lagi untuk dijadikan ladang energi?”


“Ya, makanya mereka memutuskan mengambil darah itu semua, yang masih bisa mereka selamatkan.” Ganding menjadi sangat sedih, membayangkan betapa menderitanya Alka di dalam gubug beberapa waktu lalu sendirian.


“Kami harus apa?” Aditia kembali bertanya pada Karuhun Dokter Adi.


“Tidak!” Semua orang berteriak, mereka tidak rela membiarkan kakaknya menjadi jin seutuhnya, karena mereka tahu, betapa Alka ingin menjadi manusia biasa karena Lanjonya.


“Kalau kalian keberatan dia menjadi jin seutuhnya, kaliana hanya punya waktu tiga hari hingga Alka berubah menjadi jin seutuhnya, kalian harus mengusahakan Alka memenuhi janjinya pada manusia yang melakukan perjanjian dengannya.


Setelah janjinya terpenuhi Alka menjadi jin yang memenuhi perjanjian, setelah itu, dia tidak akan dihukum kitab perjanjian. Darahnya menjadi bersih kembali.”


“Tapi kan, dia tidak punya darah lagi.” Aditia bingung.


“Maksudku, darahnya yang berada di tubuh manusia tumpangan itu, darah Alka terlah bercampur di tubuh itu, begitu darahnya kembali bersih, kita harus mengambil kembali darahnya dan mengembalikan apda tubuh Alka.”


“Tapi, kalau kita ambil darah dari manusia tumpangan itu, maka ... dia akan mati, karena darahnya harus diambil untuk dikembalikan pada Alka.


“Jadi, itu pilihannya, kalian pilih Alka yang jadi jin, atau manusia tumpangan itu yang mati. Keputusan ada di tangan kalian.” Karuhun Dokter Adi memang tidak pernah basa-basi, dia meminta mereka memilih, hidup orang lain atau hidup Alka, ini pilihan berat karena tidak seharusnya manusia lain dikorbankan.


“Aku tidak akan memilih hal lain jika itu antar Alka dan hal lain, bahkan jika pilihan itu adalah diriku sendiri, aku akan selalu memilih Alka.”


“Dit!”

__ADS_1


“Kenapa? Kalian tidak ingin kakak kalian selamat?”


“Kakak tidak akan suka kalau dia mendengar ini.”


“Aku akan menanggung jika memang dia akan membenciku, seumur hidup pun tak masalah, agar dia masih hidup sesuai maunya, bukan terpaksa menjadi jin.” Aditia berkata dengan keras, khas wataknya yang mudah terpancing emosi.


“Kita bisa cari cara lain, kita cari di markas bapak, siapa tahu ada literatur atau kitab yang bisa membantu kita.”


“Waktu kita hanya 3 hari, aku lebih baik memanfaatkan waktu untuk mencari jejak dukun itu. Aku akan membawa wanita yang menjadi tumpangan itu menolong Alka, aku tidak perduli, begitu dia aku dapatkan dan darah Alka sudah sembuh kembali, aku akan menguras habis darahnya!” Aditia terlihat sangat marah.


Hartino maju dan menampar Aditia yang terlihat kesetanan, hingga dia tidak memperhatikan kata-katanya.


“Wanita itu yang menjadi tumpangan itu adalah anak dari seorang ayah, putri dari seorang ibu. Mbah Nur sudah gugur dalam misinya menyelamatkan bayi dan anaknya sendiri, lalu kita bukannya menolong anaknya, malah hendak menghabisinya. Dit, ingat, kakak selalu ragu jika itu menyangkut nyawa manusia. Dia tidak akan pernah gegabah mengambil keputusan yang membuat kerugian pada manusia lain. Ingat, kalau dia bisa selamat dan menjadi seperti semula, maka dia tidak akan membencimu, karena dia tidak akan mampu, justru dia akan membenci dirinya sendiri karena telah membuatmu mengambil keputusan yang fatal, ini menyangkut nyawa manusia Dit!” Hartino benar-benar marah pada sikap Aditia yang gegabah.


“Lalu aku harus apa!” Aditia berteriak lagi, dia tidak bermaksud membalas tamparan Hartino, dia tidak bisa berpikir jernih karena keadaan Alka yang sangat parah.


“Kasih aku waktu satu hari, aku akan mencari cara lain, kau tahu, semua masalah ghaib itu terlalu fleksibel, semua orang mendapatkan cara menghadapi masalah ghaib, karena hanya itu yang diajarkan leluhurnya, jadi tidak ada salahnya mencari cara Dit. Kasih aku waktu satu hari saja, setelahnya, kalau aku tidak punya jalan lain, aku akan mengikuti jalan yang kau pilih.” Hartino mengajukan gagasan.


“Aku bisa mengambil jalanku sendiri, terserah kalian mau melakukan apa, tapi aku hanya akan mencari dukun itu.”


“Baiklah, cari dukun itu, tapi kalau ketemu, jangan melakukan apapun, aku akan membantumu, aku setuju padamu.” Ganding mendekati Aditia, Hartino tahu, Ganding hanya sedang melakukan pendampingan agar Aditia bisa diawasi tanpa disadari, karena Hartino tahu, Ganding selalu tahu apa yang mesti dilakukan yang sesuai keinginan Alka, kalau sekarang di melakukan hal yang Alka tidak sukai, itu pasti karena dia punya niat lain.


“Terserah, pokoknya aku akan memburu dukun itu.” Aditia lalu keluar dari ruangan Dokter Adi, Ganding dan Jarni mengejarnya, tim terbagi dua secara alami.


“Dok, tolong jaga kakaku dulu, aku akan mencari cara lain, semoga aku mendapatkannya, sehingga Alka bisa selamat dan manusia tumpangan itu juga selamat.” Hartino pamit, Alisha mengikutinya dan berkata akan membantunya.


“Kau yakin tidak ada cara lain?” Dokter Adi bertanya pada Karuhunnya.


“Tidak ada, aku hanya diajarkan cara itu, mereka akan kecewa karena cuma itu cara terakhir yang bisa mereka lakukan.”


Dokter Adi menghela nafas.


“Aku mengingat semangat Malik dan Seira ketika melihat Aditia dan wanita ini. Aneh bukan? dulu mereka berdua juga selalu berusaha keras mendapatkan jawaban lain. Seperti ketika akhirnya Parmudya Aksara jodoh adat Ayi Mahogra itu datang dan merebut Ayi, Malik selalu punya cara untuk tetap bertahan dengan cintanya.


Ketika itu aku salah kan? aku pernah mengatakan padamu, bahwa saudaramu itu takkan pernah bisa bersama Ayi, karena dia tidak akan punya kesempatan, Ayi milik Kharisma Jagat Agung. Tapi lihat, mereka sekarang bahkan bersama.” Karuhun Dokter Adi mengingat kisah itu.


“Ya, tapi setelah melewati begitu banyak hampir mati. Pertarungan gila itu, betapa Malik selalu dalam keadaan babak belur, betapa Seira selalu dalam keadaan lusuh. Sungguh cinta itu sangat melelahkan.” Dokter Adi memang tidak terlalu suka memaksakan kehendak. Baginya cinta itu hanya pilihan, boleh tidak, boleh iya. Dan dia memilih tidak mau merasakannya. Dia tidak ingin sakit dan bodoh karena cinta.

__ADS_1


__ADS_2