
“Ayah ....”
“Ya, aku Mulyana.”
“Kalau begitu, pegang kerisnya.” Aditia memaksa, dia menarik tangan lelaki itu agar memegang kerisnya. Ketika keris itu menyentuh tangannya, seperti yang diharapkan, tanganya terbakar hingga akhirnya dai melempar keris itu.
Yang lain tertawa, Alisha kesal karena telah dikelabui kawanan.
Dukun itu mengambil kuda-kuda hendak menyerang, ruangan itu terasa mulai sangat dingin, kawanan berkumpul untuk mengeroyok dukun ini, tidak heran, tadi kawanan juga dikeroyok, anak-anak kecil lagi.
Semua mengeluarkan senjata, dukun itu ternyata memiliki senjata ... cambuk!
“Cambuk Dit, dia ....”
Dukun itu berubah menjadi Saba Alkamah, tubuh itu, gerak-gerik itu dan juga suaranya sangat amat mirip.
“Adit, aku mohon, lepaskan aku Adit.” Dukun itu dengan suara Alka memohon.
“Kali ini kalian nggak akan pura-pura tertipu lagi kan?” Alisha memastikan dia takkan ditipu lagi.
“Alka lebih cantik dari itu, walau mirip.”
Aditia maju setelah mengatakannya, dia mencoba untuk menusuk dukun itu yang entah siapa atau apa, Aditia mengincar dadanya, dia hanya akan menusuknya dengan dangkal, karena kalau dalam, dia pasti mati, sementara yang lain juga ikut menyerang, Hartino menonjok wajahnya, Ganding memukul perutnya, sementar Alisha menenadangnya, dukun itu terpental karena tendangan manusia biasa tanpa khodam itu, tidak heran, dia memang jago bela diri.
“Alisha, jangan dibuat mental, males ngejarnya!” Aditia kesal.
“Ya, maaf! Kan kesel mana bisa dikendalikan.”
Aditia menarik kaki dukun itu, walau tubuhnya masih menyerupai Saba Alkamah, tapi ini jelas bukan Alka, karena dia sedang pingsan di depan.
Dukun itu berteriak kesakitan.
“Sakit? apa kau pikir anak-anak itu tidak kesakitan!” Ganding menarik tangannya, karena tubuh itu masih dalam kondisi terlentang, setelah membantunya berdiri, Ganding masih memegang tangan dukun itu, sedang yang lain mulai memukulinya lagi, Ganding memakai tenaga yang cukup menguras energi agar dukun itu tidak bisa bergerak, dia dihajar habis-habisan oleh kawanan, Alisah tetap menendangnya berkali-kali, tapi kali ini tidak terpental karena tubuh dukun itu dipegang Ganding, sementara yang lain ikut memukulnya hingga puas, dukun ini punya kekebalan yang bagus, hingga membuat kawanan lelah, dukun ini masih sadar walau tubuhnya babak belur.
“Aku ingin membunuhnya!”Aditia kesal karena ulah dukun ini begitu banyak anak yang meninggal dunia.
“Jangan, ingat pengadilan Ayi, kau tidak akan selamat walau dia orang jahat, Ayi paling tidak suka main hakim sendiri, ingat, dia ratumu, kau mencelakakan kawanan kalau sampai membunuhnya.”
“Kau memang tidak ingin membuhnya Nding? Apa kau masih tertipu dengan dukun ini?” Aditia menyinggung hal yang Ganding takuti sebelumnya.
“Dit, bisa nggak bahas itu dulu nggak?” Ganding sedih.
“Ironis, cerdas tapi juga bodoh, masih bisa ditipu daya.” Aditia tahu Ganding melakukan untuk kawanan, tapi langkahnya bisa dihitung sebagai pengkhianatan.
“Dit, udah dulu, kita lagi mau apain nih dukun? Di matiin ajalah, kubur diem-diem di sini.” Hartino punya ide lebih gila lagi, dia juga kesal anak kecil dijadikan pasukan pembunuh.
“Har! Kalian denger aku nggak sih, terserahlah, aku cuma ingin kawanan ini selamat dan aman.”
“Nding, nggak ada yang namanya aman kalau kita masih tergabung dalam kawanan yang menangani kasus. Aku tahu kau itu cerdas, perhitunganmu sangatlah akurat, tapi ... terkadang di hidup ini tidak semua hal bisa diperhitungkan.
Jadi, ada kalanya kita nekat saja, tidak usah banyak perhitungan.”
__ADS_1
“Kita potong saja tangannya, telapak tangan kanannya, biar nggak bisa makan pakai tangan itu, atau kita potong saja tangan kirinya.” Aditia memotong perkataan Hartino yang sedang menasehati Ganding, tumben sekali, biasanya Ganding dan Hartino selalu sepemahaman, tapi kali ini Hartino berada di sisi Aditia.
“Kalian tidak perlu sombong, kalian mau bunuh aku pun, aku ada banyak, perkumpulan kami sudah menguasai negeri ini, kau pikir kenapa negeri ini masih bisa hidup makmur, kalau bukan bantuan dari perkumpulan kami, uang kami diterima dengan baik oleh negara ini, mereka para petinggi itu bahkan tidak bertanya, darimana uang kami berasal, padahal bisa saja uang itu berasal dari darah sanak saudaranya yang kami hisap!” Dukun itu tertawa masih dalam tubuh Alka.
“Percaya diri sekali kamu, mana orang-orang yang mendukungmu? Kau sendirian di sini.”
“Aku memang sendirian dan mungkin mereka takkan menolongku, tapi ini adalah pengorbanan untuk perkumpulan, kami rela mati demi perkembangan perkumpulan kami!”
“Berhenti kau! berhenti sampai di sini!” Saba Alkamah tiba-tiba masuk ke rumah itu, kondisinya masih saja lemah.
“Alka, kamu harusnya di depan saja, biarkan kami yang bereskan manusia laknat ini!” Aditia berusaha untuk meminta Alka istirahat saja.
“Dia bukan manusia!” Alka berkata dengan nada yang ditekan.
“Dia bukan manusia? Tapi ini tubuhnya?” Aditia dan yang lain bingung.
“Namanya Zerata, dia ....”
“Kalau kau menikah dengan adikku kelak, hanya aku yang bisa menjadi walinya, karena aku keluarga Saba Alkamah yang masih hidup.” Dukun itu merubah tubuhnya, dari yang sangat mirip Alka yang seorang perempuan, berubah menjadi laki-laki yang sangat amat tampan, sekilas mirip Alka tapi dalam tubuh yang berbeda.
“Diam kau!” Alka meninjunya, lelaki itu yang kata Alka bukan manusia akhirnay pingsan.
“Kok langsung pingsan, padahal kami daritadi sudah susah payah menghajarnya tapi dia masih sadar saja.
“Tentu saja beda, pukulanku adalah pukulan manusia dan jin, makanya dia pingsan.”
“Kak, jadi benar ini kakakmu? Kandung?” Hartino bertanya, yang lain juga sebenarnya penasaran.
Tapi kemarin saat ke sini dan aku akhirnya terhempas dari ingatan ruh anak itu, aku sama sekali tidak sadar kalau dia yang ada di sini, andai aku tahu dari awal, pasti kita takkan babak belur gini.” Alka menyesal.
“Tidak ada yang perlu disalahin, ini semua sudah takdir.”
“Tadi kau salahkan aku Dit, karena percaya tipu muslihat dukun!” Ganding protes.
“Berbeda, kalau Alka lebih bijak menilai sesuatu, kau hanya pintar saja, tapi kurang cerdas.” Aditia mengeluarkan lidahnya tanda mengolok, Ganding mendekatinya dan memukul kepala Aditia, mereka lalu saling puluk pada bagian kepala. Bahkan di saat seperti ini saja mereka masih bisa bercanda.
“Kalian mau dengar ceritaku atau nggak?” Alka bertanya dengan kesal.
“Ya, maaf Kak, lanjut.”
“Dia itu setengah jin dan setenga manusia, sama sepertiku, ibunya manusia, meninggal saat melahirkannya, Darhayusamang beruntung ibunya mati, makanya dia tidak bisa diadili karena melakukan pernikahan terlarang, pernikahan itu benar-benar disembunyikan dengan baik olehnya Darhayusamang.” Alka menyebut nama ayahnya dengan ringat, bagi dia, Darhayusamang sema sekali bukan seorang ayah.
“Jadi dengan ibumu bukan pertama kalinya?” Hartino bertanya.
“Tidak mungkin ibuku pertama kalinya, entah ada berapa anak yang sepertiku di luar sana, kau tahu kan kalau umur jin itu panjang, maka entah sudah berapa wanita tertipu oleh bujuk rayu Darhayusamang.” Alka kesal kalau mengingat itu.
“Pantas saja senjatanya sama sepertimu.”
“Bukan berarti semua saudaraku bersenjata cambuk, yang ini kebetulan sama saja.”
“Kau sudah bertemu dengannya sejak kapan?”
__ADS_1
“Terakhir hanya saat peperangan dengan Ayi, sisanya belum pernah sama sekali, dia menghilang, ketakutan sampai tertangkap Ayi.” Alka menjelaskan.
“Kalau begitu, aku tahu harus diapakan orang ini, eh jin ini, eh jinorang ini.” Ganding hendak melakukan lelucon yang kurang lucu.
“Apa?” Yang lain bertanya.
“Kasih ke Ratunya Kharisma Jagat lah, dia kan diadili.”
“Jangan.” Alka menahan kawanan.
“Kau memihak pada kakakmu yang biadab ini!” Aditia hendak membentak Alka karena berani-beraninya membela kakaknya yang sangat amat jahat ini.
“Tidak! aku malah ingin membunuhnya, tapi kalau kau serahkan ke Ayi, kita akan celaka di jalan, perkumpulannya takkan diam saja mereka pasti menunggu waktu yang tepat untuk menyelamatkannya. Selain itu, kita juga membahayakan Ayi, karena Zerata ini pasti orang yang cukup dipercaya makanya dia bisa mengelola tempat ini bertahun-tahun, bahkan sebelum bapak meninggal dunia.
Maka mereka pasti tidak akan melepaskan Zerata begitu saja, kita harus menyekapnya dia markah ghaib.” Alka memberi solusi.
“Apa itu tidak terlalu membahayakn bagi kita? membawanya ke tempat kita, kemungkinan dia masih dipantau, bisa saja mereka menyerang bukan?” Ganding bertanya.
“Ya, itu kemungkinan yang bisa saja terjadi.” Aditia terlihat gusar karena tidak tahu harus berbuat apa.
“Idemu apa? untuk menyekap kakakmu ini?” Alisha bertanya pada Alka.
“Kita kubur dia di sini, dengan peti yang akan aku mantrai, kita tidurkan dengan jangka waktu yang panjang, aku ingin dia bertobat, berhenti untuk mengganggu manusia.”
“Kau yakin? Cari peti semalam ini, di aman?”
“Kau tidak lihat rumah ini terbuat dari apa Dit, kita potong-potong saja kayu-kayu di sini buat dijadikan petinya, kita pasti bisa kalau dikerjakan gotong royong.” Alka terlihat yakin.
“Oh ya, benar juga, tapi bagaimana jika nanti mereka menemukannya dan menyelamatkannya?” Ganding kali ini yang bertanya.
“Jarni pagari dengan pagar ghaib, agar Zerata tidak bisa ditemukan, aroma tubuh dan energinya akan akan aku mantrai hingga tersamarkan dengan kondisi sekitar.”
“Baiklah, ayo kita mulai buat peti.”
“Tapi Dit, anak-anak itu masih di luar sedang mendengar musik, kalau kita ....”
“Keluarkan ruh anak yang kita tawan.” Adita memerintahkan.
Ruh anak itu keluar dan Aditia meminta ruh anak itu membujuk semua anak untuk ikut angkot jemputan, mereka harus dipulangkan. Alka telah menambahkan ingatan akan surga yang indah bagi anak-anak yang meninggal dunia sebelum mereka dewasa, dia ingin ruh anak bisa melihat hal yang sama seperti apa yang dilihat oleh ruh anak tawanan ini, Alka memberikan visual itu melalui mantra yang membuat ruh anak akan tenang dan tertarik untuk pulang, Alka juga mengingatkan bahwa betapa mereka telah disiksa dengan sangat keji selama bertahun-tahun.
“Angkot kita akan penuh malam ini Dit.” Ganding bicara karena melihat ruh anak itu sangat banyak dan kemungkinan mereka akan mau dijemput, karena bujukan temannya yang telah dipengaruji Alka.
“Ya kembali lagi ke fungsi angkot itu empat enam Nding.” Semua orang tertawa, mereka terlihat lega karena punya solusi, sedang mereka tidak bisa membunuh Zerata ataupun mengantarkannya pada Ayi, maka menyegelnya di peti di bawah tanah lahan kosong ini, sesuai mata awam, adalah hal yang disepakati.
Kawanan mulai bekerja, mereka bersiap untuk membuat peti.
______________________________________
Catatan Penulis :
Belum tamat ya, belum. Bersabarlah.
__ADS_1