
Alka melepaskan cucu Hariyadi dari tangannya, lalu anak kecil itu berubah menjadi ular. Ular itu adalah jin sahabat Alka yang suka membantunya. Ular itu tadi berubah wujud menjadi cucunya Hariyadi dan Alka menipu penglihatan Hariyadi agar melihat darah dari leher cucunya, padahal tidak ada.
Kenapa Alka repot meminta bantuan temannya untuk berubah menjadi cucunya Hariyadi, bukankah dia juga sebenarnya telah meyandera cucu-cucunya Haryadi sebagai rencana cadangan?
“Kak, kenapa harus ular itu?” Ganding bertanya.
Mereka di hotel, semua pegawai sedang mencari Teddy dan beberapa pegawai yang disandera untuk Lembah Aru baru. Alka sudah memberitahu mereka lokasinya, hingga lima sekawan sekarang istirahat di restoran hotel, karena mereka lapar, setidaknya sekarang bisa mkaan dengan tenang karena tubuh mereka telah kembali.
“Kau pikir kekuatanku sebesar Ayi yang bisa mengelabui pandangan orang sebesar itu? ingat, aku saja selalu menyamar menjadi Pak Dirga jika dibutuhkan, karena aku memang tidak bisa mengelabui pandangan orang dengan menciptakan objek sebesar manusia.” Alka kesal pada pertanyaan Ganding.
“Lalu bagaimana kau tahu semua data tentang keluarg Hariyadi?” Aditia kali ini yang bertanya.
“Tentu saja, satu-satunya orang paling berbakat dalam mencari data, Hartino kita.” Alka dengan bangga memamerkan adik yang dia sayang.
“Oh begitu.” Aditia terlihat kesal karena Alka memuji Hartino.
“Dengar itu, dia lebih sayang padaku daripada sama kalian semua.” Hartino untuk pertama kalinya tidak mengeluh, karena sepanjang kasus ini, Hartino lebih sering mengeluh.
“Ah kau, berubah cepat sekali. Kenapa kasus selesai kau baru bersemangat? Sedang ketika kasus berjalan kau mengeluh terus,” Ganding mengejek.
Hartino terdiam, seperti ada sesuatu yang mengganggunya, mungkin sempat dia lupakan, tapi sekarang teringat lagi karena ucapan Ganding.
“Makan dulu semuanya ya.” Alka meminta mereka fokus makan, lalu istirahat di rumah dekat hotel dan mereka bisa pulang jika tenaga sudah pulih.
“Boleh saya bicara sebentar?” Seseorang berkata dari belakang Alka.
Alka menoleh, itu adalah anak sulung Hariyadi yang berumur 50 tahun, dia kemarin adalah target pertama yang Alka sekap dari rumahnya, dengan menipunya dengan menjadi Hariyadi dan akhirnya anak sulung itu percaya.
“Ada apa?” Alka bertanya.
“Boleh bicara berdua saja?”
“Tidak bisa, karena kami selalu bekerja tim, lalu semua masalah saling tahu, jadi tidak ada empat mata.” Alka menolak dan hendak melanjutkan makan.
Anak sulung itu mengambil bangku dan akhirnya mulai bicara.
“Aku berterima kasih karena kalian sudah membantu ayahku menemukan jalan yang benar.” Alka terkejut mendengarnya, dia pikir anak ini akan marah-marah.
“Hubungan kami sudah jauh sejak lama, aku juga sudah cukup tua. Hingga kemarin aku pikir benar ayahku datang untuk berkunjung setelah begitu lama kami tidak bertemu karena berselisih paham. Tapi aku tahu, melihat semua yang terjadi di ballroom itu, aku tahu, bahwa yang datang itu, bukan ayahku, tapi sosok lain yang bisa menyerupai. Aku tahu kemampuan kalian menghadapi peliharaan ayahku.
Selain mengucapkan terima kasih, aku juga mau memohon, tolong jangan penjarakan ayahku atas korban-korban itu. Aku tahu itu salah dan santunan yang telah diterima keluarga korban juga tidak sepadan. Tapi kiranya jika kalian memiliki ayah yang salah,apakah kalian tega diumurnya yang mungkin tinggal sebentar lagi, dia harus dipenjara.
Bahkan tadi diam mulai lupa siapa kami anak-anaknya. Demensia dalah penyakit yang sangat dia takutkan, aku tidak ingin memaklumi apa yang dia lakukan, tapi aku tahu, dia lakukan itu karena takut lupa akan dirinya, anak-anaknya dan semua kenangan hidupnya. Makanya dia mempertahankan peliharaannya agar bisa hidup abadi. Soal anakku yang dijadikan korban juga, aku akan mencoba memaafkan. Maka dari itu aku mohon.” Anak sulung itu turun dari bangku dan memohon dengan cara duduk di lantai, dengan kedua kaki diduduki.
“Itu bukan wewenang kami, keluarga korbanlah yang harusnya memutuskan.” Ganding menjawab, sementara Alka diam saja.
__ADS_1
“Saya mohon, saya yakin, hidup ayah saya mungkin tidak akan lama lagi.”
“Umur hanya Tuhan yang tahu, kami tetap pada keputusan kami, bahwa harus keluarga korban yang memutuskan, iya kan Kak?” Ganding meminta dukungan, semua mengangguk kecuali Alka.
“Aku pikir, mungkin kita kasih kesempatan pada Hariyadi agar dia mulai bertobat, asal kau janji mengarahkannya untuk kembali pada Tuhan, aku mungkin akan menutupi masalahi ini.”
“Kak! Tobat itu tidak mudah, apalagi dia sudah tua. Bagaimana dengan para wanita yang menjadi korban itu? ayah mereka, ibu mereka, kekasih bahkan suami dan anaknya. Mereka yang lebih berhak!” Ganding berkata keras pada kakaknya, hal yang hampir tidka pernah dia lakukan.
“Aku berjanji aku mengarahkan agar ayahku bertobat, aku akan berusaha lebih keras lagi, karena jika dia sekarang kosong tanpa peliharaan, akan lebih mudah mengaturnya.”
“Baiklah, kalau begitu kami tidak akan melaporkannya ke Polisi.” Alka mengambil keputusan sendiri.
Si sulung pergi dengan perasaan lega. Walau dia benci dengan semua sikap dan prilaku ayahnya, tapi jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat mencintai ayahnya dan mereka akan menghabiskan masa tua bersama dengan jauh lebih dekat.
“Kak! Kenapa sih, kok kakak ambil keputusan sendiri?” Ganding kesal, dia masih meninggikan suara.
“Bisa kan ngomong pelan aja!” Aditia kali ini membentak Ganding, Aditia dan Ganding juga jarang sekali berselisih. Karena yang biasanya cari masalah itu, Hartino.
“Kak, jawab dong.” Ganding kesal karena Alka masih saja diam.
Alka menatap Ganding dengan wajah sendu, dia lalu berkata, “Selesaikan makan kalian, aku pulang duluan.” Alka lalu pergi dalam sekejap, seperti kedipan mata dia menghilang.
“Loh, kok malah pergi!” Ganding berteriak.
“Nding, lu nggak bisa hubungin apa? kalian kan lebih lama sama Alka dibanding aku, tapi kenapa kau tidak mengerti apa yang Alka rasakan.” Aditia dan yang lain masih di meja makan, Jarni seperti biasa, kalau tidak terlalu penting dia takkan bicara, karena di sini, dia tahu kenapa kakaknya begitu dan Jarni memutuskan untuk netral.
“Darhayusamang! Ayahnya Alka, bukankah kalian lebih tahu ceritanya dariku! dia saat ini sedang masuk ke dalam masalah hidupnya. Begitu anak sulung tadi bicara bahwa ayahnya sudah tua dan minta dimaafkan, Alka langsung terbawa akan masa lalunya dengan ayah dan ibunya.
Jauh di lubuk hati Alka, dia sangat menginginkan orang tuanya bisa dimaafkan, walau kesalahannya besar. Karena itulah anak akan menderita jika orang tua berbuat salah, apalagi orang itu itu bahkan tidak sempat meminta maaf.” Aditia menjelaskan panjang lebar.
Ganding terdiam.
“Sorry Dit, gue sih tahu, Jarni juga pasti tahu, makanya dia diam. Tapi si Ganding jenius ini cuma punya otak tapi minim hati nurani, makanya nggak ngerti dia.” Hartino juga kesal pada Ganding yang tidak mau mengerti apa yang Alka rasakan.
“Tapi, gimana dengan keluarga mereka?” Ganding bertanya, tapi lebih tenang. Karena dia berusaha mengerti tentang hati Alka.
“Justru ini baik Nding, buat keluarganya. Karena korban yang meninggal itu bisa jadi keluarganya telah berhasil melalui masa berat itu. Telah merelakan anak, istri atau ibunya tiada, lalu kita datang memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka di hotel ini. Bukankah kita membuka sakit masa lalu yang sudah mereka berusaha kubur rapat-rapat?
Mereka sudah menjalani hidup Nding, ingat, sudah dari tahun 50an korban itu bergelimpangan, keluarganya juga mungkin sudah lupa dengan kejadian itu. Karena korban meninggal dalam keadaan koma bukan? Jadi buat mereka, itu adalah kematian wajar. Sudah cukup sampai di situ Nding. Jangan kau ungkit lagi, kasihan keluarganya. Kita yang harus lebih bekerja keras lagi karena kita harus buru-buru membasmi orang seperti Supri, Hariyadi dan jin seperti Tun. Kita harus fokus ke sana, bukan membuka luka masa lalu.” Aditia mencoba mendekati hati Ganding, walau tadi Hartino bilang Ganding tidak punya hati nurani, tapi itu hanya bercanda. Sebenarnya Ganding juga punya hati yang lembut. Makanya dia sangat ingin keluarga korban diberitahu, karena hati lembutnya berkata begitu.
“Baiklah, aku akan setuju, maafkan aku karena telah kasar pada kalian.”
“Minta maaflah pada kakakmu, dia pasti saat ini sedang sangat tertekan dengan keputusannya, dia mungkin merasa egois karena tidak mendengarmu Nding. Jadi kau harus minta maaf padanya.”
“Ya Dit, aku akan lakukan itu.”
__ADS_1
Lalu mereka akhirnya menyelesaikan makan dan pulang ke rumah dekat hotel itu.
...
“Heiii! Kapan sampai?” Seorang wanita yang terlihat berpakaian mewah padahal sedang di rumah itu menyambut kedatangan seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian yang tidak kalah mewahnya.
“Tadi pagi Tan, pulang ke rumah dulu baru mampir.” Perempuan muda yang sangat cantik itu menjawab.
“Harusnya kau bilang, jadi aku akan menyuruh anakku untuk menjemputmu.” Wanita yang lebih tua itu berkata lagi.
“Tidak perlu Tan, Hartino sibuk dengan bisnisnya kan? jadi aku bisa sendiri.”
“Alisha, kau tidak boleh terlalu mandiri. Kau harus sedikit manja agar anakku mau menemani dan membantumu.”
“Tante, jangan paksa kalau memang Har tidak suka.”
“Suka pasti, anak perempuan secantik ini mana mungkin tidak disukai Har.”
“Ah tante, hanya memuji terus, mau aku masakkan sesuatu nggak, buat makan malam.” Alisha bertanya dan dia bersiap ke dapur, rumah ini dulu juga sebagai tempat yang sering di kunjungi. Dia dan Hartino dulu sering bermain ketika mereka masih sekolah dasar. Tapi akhir-akhir ini Hartino berubah, dia tidak lagi manis seperti dulu saat mereka masih kecil.
Hartino cenderung lebih dingin, apalagi ketika pernikahan antara Alisha dan Hartino sudah dibicarakan kedua belah pihak keluarga. Hartino semakin enggan berdekatan dengan Alisha.
“Tan, itu kamarnya Har?” Alisha bertanya. Har dan ibunya telah pindah ke perumahan mewah. Firma hukum ibunya berkembang pesat dan sering menangani kasus dari mancanegara. Maka dari itu mamanya Har membeli rumah di kawasan elit agar mereka bisa menerima tamu di sana karena rumah mewah itu juga dijadikan kantor kedua.
“Iya, itu kamar Har.”
“Yaudah aku ke sana sebentar mau liat-liat, abis itu aku masakin sup iga kesukaan Har dan tante ya.”
“Kamu bisa masak?”
“Tentu saja, aku kan tinggal sendirian di Australia, jadi harus bisa masak.”
“Kau kan bisa minta orang tuamu untuk menyediakan pelayan di apartemenmu di sana.”
“Aku tidak tinggal di apartemen Tan, aku tinggal di kamar seperti kamar kost-kostan dekat kampusku.”
“Alisha, kau ini sempurna sekali, Har harusnya melihat ini, kau mandiri, sederhana dan sangat baik.” Mamanya Har lalu pamit untuk kerja lagi, sementar Alisha akan ke kamar Har dan baru setelah itu dia masak di dapur ditemani pelayan rumah ini.
“Har, kau masih saja suka hal-hal seperti ini.” Alisha mengambil buku klenik yang ada di meja kerja Har.
Alisha melihat sekeliling.
“Siapa itu!” Alisha bertanya pada sosok yang baru saja terlihat berdiri di pintu masuk.
“Hartino.” Jawan sosok itu.
__ADS_1
Alisha mendekat padanya dan berkata, “Kau bukan dia, jelas kau bukan dia.” Alisha lalu menariknya ke kamar, menutup pintu itu dan menendang sosok jin yang menyamar menjadi Har, jin yang dimintai tolong menggantikannya selama Har menyelesaikan kasus bersama lima sekawan.
Jin itu jatuh dan kesakitan, bagaimana mungkin wanita ini tahu dia bukan Har, lalu bagaimana mungkin jin ini juga bisa dianiaya oleh Alisha. Jin itu malas mencari masalah, lalu pergi dan segera memberitahu Hartino apa yang terjadi.