
"Aku akan coba menariknya, kita akan segera keluar dari sini, bersiap-siap ya." Aditia mendekati tombak itu, satu langkah demi satu langkah, laku dia semakin dekat dengan tombaknya.
Aditia memegang tombak itu dengan kedua tangan hendak mencabutnya dari entah apa yang ada di bawahnya.
Aditia mengumpulkan kekuatan lagi dan berusaha menarik tombaknya, saat tombak itu terangkat sedikit, bumi terasa bergoncang.
Aditia terdiam, dia lalu tersadar ....
“Bukankah apa yang kita alami adalah sama seperti yang ibunya Anggih alami, ditarik ke suatu dimensi, pura terbalik ini, apakah ini tempat Sak Gede mengumpulkan para tumbalnya? Kalau benar, berarti memang semua orang yang ditumbalkan, jiwanya ada di sini?” Aditia bertanya pada Alka dan Hartino.
“Ya, harusnya seperti itu,” Alka menjawab.
“Lalu, pasti ada alasan ayahku akhirnya mengunci Sak Gede, sial! Aku tidak bisa merasakan Karuhunku sama sekali, aku harus bertanya pada Abah Wangsa, apakah jiwa yang ditumbalkan itu telah dijemput ayahku atau dikunci di sini bersama Sak Gede.”
“Kenapa tidak kau lepas saja dulu tombaknya?” Alka bertanya karena dia bingung, Aditia tiba-tiba berubah haluan.
“Karena kalau tombak ini ayahku tancapkan dengan sangat dalam, dimantrai hingga sulit dilepas, artinya, ada yang dia jaga agar tidak keluar.”
“Logikanya memang seperti itu Dit.” Hartino juga setuju dengan apa yang Aditia yakini.
“Kalau begitu, kita cari saja, Sak Gede.”
“Bukankah tempat ini terasa luas, kemana kita harus pergi?” Aditia bertanya.
“Berjalan saja.” Alka dan Hartino memberi ide gila.
Aditia setuju dengan ide itu dan mereka berdua akhirnya berjalan.
Menurut teori alam kuantum, yang diawali oleh Max Plank berjudul Teori Hukum Distribusi Energi Dalam Spektrum Normal, yang ditambahi lagi oleh penemuan efek fotolistrik pada 1905 oleh Einstein lalu Selanjutnya dikembangkan oleh De Broglie, Heisenberg, Schrodinger, Dirac, Born, dan lain – lain. Bahwa, ditemukan tiga fenomena menarik di alam kuantum.
Pertama, partikel bisa menerobos tembok tanpa merusak temboknya. Kedua, partikel yang sama bisa berada di dua tempat dalam waktu yang sama. Ketiga, tidak ada nilai yang pasti, yang ada hanyalah nilai harap atau harapan.
Maka Alka dan Hartino ketika mengatakan berjalan saja, menggunakan salah satu teori alam kuantum ini, yaitu tidak ada nilai yang pasti, mereka hanya berharap saja, katanya harapan akan menciptakan jalannya sendiri.
Karena teori alam kuantum memiliki sifat yang sama dengan alam ghaib, maka ketika mereka berharap dapat menemukan Sak Gede, berjalan dengan harapan, langkah mereka akan membuat mereka menemukan apa yang mereka harapkan.
Mereka bertiga terus berjalan, tanpa khodam, karena terputus dari dunia atas, Aditia dan yang lain hanya mengandalkan insting.
Setelah berjalan cukup lama, mereka mulai melihat sesuatu yang samar, seperti ….
“Kau lihat?” Aditia bertanya.
“Aku melihatnya.”
“Aku juga.”
Mereka bertiga melihat hal yang sangat aneh dan membuat ngeri.
…
“Apa yang harus kita lakukan Bah?” Ganding bertanya, dia tak ingin lagi menunggu, karena ini sungguh tidak bisa membuat siapapun tenang.
Sementara semua Balian sudah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans, Jajat datang dengan buru-buru ketika dikabari bahwa di sini sungguh berantakan.
__ADS_1
Ganding tidak suka Jajat datang, tapi tak dapat dipungkiri dia butuh Jajat untuk mengurus semua korban yang datang dari Balian, termasuk para operator alat berat yang turut menjadi korban, sedang pemimpin Balian mohon undur diri untuk mengurus Balian yang harus dirawat, dia tidak bisa lagi turut campur untuk membantu.
“Bah, ada satu yang agak mengganjal ingin aku tanyakan, ini soal Sak Gede dan Bapak, kalau Abah bilang bapak menguncinya, bagaimana dengan para korban yang ditumbalkan, apakah bapak berhasil memulangkan mereka?” Ganding bertanya, yang lain baru sadar soal itu.
“Tidak, yang aku ingat, Sak Gede dikubur bersama dengan jiwa-jiwa itu, karena Mulyana tak berhasil untuk mengeluarkan mereka dari pura itu.”
“Lalu, apakah bapak masuk ke pura terbalik itu? bukankah bapak juga tak mampu menghancurkan vila ini?”
“Tidak, Mulyana tidak masuk ke vila ini, tapi dia menancapkan tombaknya dengan cara ghaib, masuk ke dalam pura terbalik itu, perlu waktu untuk Mulyana menentukan titik yang pas untuk melempar tombaknya, masuk ke dalam pura itu dengan tepat, dia benar-benar mengubur jiwa itu dengan Sak Gede, karena tidak ada yang bisa dia lakukan, bagaimana caranya melepas jiwa itu, jika vilanya saja masih berdiri kokoh setelah coba dihancurkan?”
“Itu artinya Aditia, Alka dan suamiku terkubur bersama jiwa-jiwa itu?” Alisha mulai paham dengan alur ini, maksudnya apakah Tuhan memang menggiring kawanan masuk dulu, agar melihat jiwa-jiwa itu yang yang masih terkurung.
…
Mereka bertiga melihat hal yang sangat aneh dan membuat ngeri.
Ada begitu banyak jiwa yang terkurung, ada sel yang begitu besar yang mereka lihat, di dalam sel besar itu ada jiwa-jiwa yang terlihat mengenaskan, tubuh mereka menghitam, semua jiwa itu berpenampilan sangat buruk, mereka terlihat seperti kelaparan, kering tak memiliki daging sedikit pun, mereka terlihat mengerikan, dengan tubuh-tubuh tak utuh dan wajah yang tak bisa disebut wajah manusia lagi.
“Adakah di sini ibunya Anggih?” Aditia tiba-tiba berteriak, semua jiwa itu yang tadinya tidak sadar dengan keberadaan Aditia, akhirnya melihat Aditia seperti harapan, mereka berteriak dengan suara serak yang hampir tak terdengar. Suara itu jelas meminta tolong tapi sangat parau dan pelan, seperti berbisik.
“Adakah di sini ibunya Anggih?” Aditia mengulang panggilan.
“Dit! Anggih juga kan, jadi korban!” Alka mengingatkan.
“Oh ya, Anggih! Anggih! Ini kakak!” Aditia berteriak mendekati sel, sel masih dipenuhi jiwa yang meminta keluar dari sel itu, mereka terlalu berisik.
“Diam!” Aditia memerintahkan mereka untuk diam, semua jiwa itu terkejut dan diam lalu menunduk.
“Anggih! Ini kakak, Anggih!” Aditia terus memanggil, lalu keluarlah seorang anak perempuan yang memiliki penampilan sama mengerikannya seperti yang lain, wajahnya menghitam, tubuh ruhnya sangat kurus dan tentu saja dia tak dapat berjalan dengan normal seperti yang lain, rupanya kakinya telah dirantai dengan rantai yang sangat besar, semua jiwa itu ternyata dirantai, dengan bola besi yang begitu besar sebagai penahan.
“Anggih di sini sama Ibu?” Aditia bertanya.
“Ya, aku di sini bersama ibu, itu Ibu, tidak bisa jalan lagi, ibu sudah tidak tahan, kami semua juga sudah disiksa.” Anggih menjelaskan sambil menangis.
“Disiksa seperti apa?” Alka mendekat, dia dan Aditia berjongkok.
“Energi kami diambil setiap hari, dari sejak kami ditahan di sini, energi kami terus dihisap, kami sangat kesakitan, Kak.” Anggih menjelaskan, masih dengan menangis.
“Dia memakan energi jiwa yang ditumbalkan, dia mengulang siksaan ini setiap hari, selama beberapa ahun terakhir, sungguh kejam.” Aditia menjelaskan pada Hartino.
“Kita lepaskan mereka? Bisa?”
“Har, kita lepas juga percuma, kita saja terkurung di sini, tidak tahu jalan keluar. Lagian lihat ini, rantainya dimantrai, energinya sangat kuat di pura pemujaannya, kita tak akan bisa membukanya. Apalagi hanya bertiga.” Alka terlihat sangat pesimis.
“Lalu kita harus apa, Kak?”
“Cari Sak Gede, kita harus membujuknya untuk melepas semua jiwa dan melepas kita.”
“Kau pikir akan semudah itu dia melepasnya?” Aditia sangsi dengan rencana Alka.
“Kalau dia tidak mau, kita akan bertarung, seperti yang kita lakukan sebelumnya, aku yakin, kawanan di atas takkan diam saja, mereka pasti cari cara masuk ke pura ini.” Alka berkata dengan yakin.
“Kita tinggalkan mereka?” Hartino bertanya lagi.
__ADS_1
“Iya, untuk saat ini, Anggih … kakak-kakak akan pergi mencari Sak Gede, setelah itu, kita akan ke sini, doakan kita menang ya, supaya kalian semua bisa lepas.” Alka menjawab dengan mengelus wajah Anggih diantara sela sel penjara itu.
“Sebentar, sebentar.” Seorang wanita datang terseok dari belakang sel.
“Ibu!” Anggih terkejut ibunya berusaha untuk mendekat, Anggih membantu ibunya untuk mendekat pada kawanan.
“Kalian mengejar sosok yang salah.” Ibunya Anggih berkata setelah mendekati sel.
“Apa maksudmu?” Alka bertanya.
“Sak Gede adalah dewa kami, dia adalah dewa yang menganugerahkan kemampuan menari pada nenek moyang keluarga kami, dia kami puja dan buatkan pura di dalam rumah maupun luar rumah, kami menghormati dan memujanya karena telah mengizinkan kami menari dengan sangat hebat.
Tak ada satu pun Penari yang lebih hebat dari keturunan kami, sayang, tarian kami harus terhenti karena … Keturunan Dewi Kali.
Kalian tahu Dewi Kali?” Ibunya Anggih bertanya.
“Dewi Kali? Aku tidak tahu.” Aditia menjawab dengan jujur, karena Dewa dan Dewi Hindu, Aditia tidak kuasai, dia sangat butuh Ganding, karena Ganding banyak belajar agama. Tidak hanya agamanya saja, hanya jika mereka harus menghadapi hal seperti ini.
“Dewi Kali adalah Dewi Parvati, dia adalah Dewi pelindung alam semesta. Dewi Kali berkalung tengkorak sebagai lambang kematian. Wajahnya mengerikan simbol bahwa kematian ditakuti manusia.
Lidahnya menjulur keluar sebagai simbol bahwa tiada hari tanpa kematian, kematian selalu lapar, setiap orang akan ditelan maut. Bersama Siwa, Dewi Kali bertugas melebur segala makhluk yang sudah tak layak hidup di dunia. Awalnya Dewi Kali tidak berwujud mengerikan seperti itu.
Dewi Kali selalu diasosiasikan sebagai penyebar penyakit, kematian dan kerusakan. Disebut pula dengan nama Pravati sebagai permaisuri Mahadewa Shiwa. Dalam kisah diceritakan bahwa, Dewi Kali yang membunuh semua iblis untuk membantu Dewa yang hendak dicelakai para iblis dengan ilmu tinggi atas perizinan suaminya Dewa Siwa.
Karena pembantaian besar-besaran ini amarah Dewi Kali semakin besar lalu membuatnya berubah menjadi Dewi Kali yang sangat menakutkan dengan rupa yang sangat mengerikan.
Lalu, kenapa keturunan Dewi Kali ini menahan kalian, apa hubungannya dengan Sak Gede?”
“Kau tahu apa yang memicu kemarahan Dewi Kali hingga dia membantai iblis tanpa ampun dalam jumlah yang sangat banyak?”
“Apa?”
“Karena dalam pemahaman Dewi Kali serta keturunannya kelak, seorang wanita itu berada di atas lelaki, maka saat kami memuja Sak Gede, seorang Dewa yang diusir itu, keturunan Dewi Kali marah besar, kami tidak seharusnya memuja Sak Gede dan berpaling darinya, dia memburu Sak Gede dari waktu ke waktu, hingga akhirnya menemukanku, ketika aku sedang melakukan pemujaan dengan tarian, energiku tertangkap olehnya, padahal energiku selama ini tersembunyi oleh kekuatan Sak Gede, karena dia adalah Dewa tanpa tumbal, maka kekuatannya dari waktu ke waktu semakin berkurang.”
“Lalu kenapa suamimu menumbalkan pegawai hotel jika saja memang dewa yang kau puja adalah Sak Gede, Dewa tanpa tumbal itu?” Aditia bertanya dengan bingung.
“Kami tidak tahu, kami pikir Sak Gede yang tiba-tiba meminta tumbal, kami ditipu. Keturunan Dewi Kali itu, setelah bertemu denganku, akhirnya mampu meringkus Sak Gede dan meminta kami menumbalkan banyak orang, aku tidak mau, apalagi dia meminta anakku, lalu aku akhirnya mengorbankan diri, aku pikir akan berhenti di diriku, ternyata salah, dia menahanku sebagai salah satu jiwa yang akan dia kuras energinya, lalu setelahnya suamiku terus tertipu memberikan tumbal bagi Dewi Kali yang dia pikir adalah Sak Gede.
Hingga akhirnya anakku juga jadi korban ….” Ibunya Anggih menangis.
“Apalagi ini! Jadi bukan Sak Gede musuh kami? Astaga!!!” Hartino sangat kesal mendengar itu.
“Bukan, kalian berhadapan dengan keturunan Dewi Kali, yang kekuatanya sangat besar, dia melahap energi dari musuhnya dengan sangat kuat, bahkan dia seperti nenek moyangnya, Dewi Kali, mampu menciptakan penyakit pada jiwa-jiwa manusia.”
“Penyakit pada jiwa manusia? parasit jiwa!” Kawanan lalu menemukan benang merahnya, ternyata yang mereka buru selama ini salah!
“Dia tidak dapat dikalahkan dengan mudah, kalian harus berhati-hati.” Ibunya Anggih mengatakan dengan lemah.
“Dit, kita harus apa?” Alka bertanya, Aditia hanya menggeleng.
_______________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Ada yang punya saran mereka harus apa?