Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 112 : Hartino 6


__ADS_3

“Bagaimana semalam tidurnya Nak? apakah mimpi itu masih datang?”


“Tidak Ma, mimpi itu tidak akan pernah datang.” Har tahu, karena wanita lusuh itu sudah menjadi golok di dalam tubuhnya.


Tapi Har merasakan udara semalam panas sekali, Mulyana bilang tidak boleh keluar rumah walau sepanas apapun, jadi dia tidak keluar, walau udara terasa sangat panas walau AC sudah dinyalakan.


Mamanya menyiapkan sarapan bersama pelayan rumah itu, Har mandi lalu berpakaian, ini hari sabtu jadi lubur sekolah.


“Enak nggak nasi gorengnya?” tanya mama. Har terlihat bersemangat makan, melihatnya, mama lega karena Har terlihat semakin membaik.


“Assalamualaikum.”


Seseorang datang bertamu.


“Mbak bukain dulu ya.” Mama meminta Pelayan membukakan pintu, Pelayan yang sedang cuci piring itu menghentikan pekerjaannya lalu ke ruang depan untuk membuka pintu.


“Bu, ini tantenya Har datang.”


“Mau apa dia ke sini!” Mamanya Har kesal, “temenin Har makan Bi, kamu juga makan dulu, biar cucian piring dilanjut nanti.”


“Iya Bu.” Pelayan itu ikut makan dengan Har.


“Duduk, ada keperluan apa kamu ke sini?” Mamanya Har menerima dengan ketus.


“Tidak ramah sekali kau menerima tamu.” Mantan adik iparnya itu tetap saja angkuh dan menyebalkan.


“Langsung saja, kita tidak dalam keperluan untuk ramah tamah.”


“Biaklah, pertama aku datang karena aku tidak suka kau menuduhku kemarin, kita memang tidak akur tapi biar bagaimanapun Har adalah keponakanku, ada darah keluargaku mengalir di sana. Kedua, aku tahu kau mungkin akan tidak percaya, tapi dengar ini baik-baik, aku berani sumpah! atas nama anak dan suamiku, jika aku yang melakukan santet itu dan berniat mencelakai keponakanku, maka nyawa mereka jadi taruhannya.”


Mamanya Har kaget mendengar itu, adik iparnya itu bersungguh-sungguh, jadi kemungkinan dia yang melakukan itu mustahil, dia bersumpah atas nama anak dan suaminya, dua orang paling berharga dalam hidupnya, tidak mungkin mamanya Har tidak percaya lagi.


“Maafkan aku, aku kalut, aku cuma sedang mencari orang yang mungkin mencelakai anakku, bahkan sepupuku sendiripun aku sudah selidiki juga, jadi kau tidak perlu terlalu merasa tertuduh.”


“Aku mengerti, kau sedang kalut sebagai seorang ibu, aku mengerti ketakutanmu, takut anakmu celaka, maka cuma informasi ini yang ingin aku berikan, diantara kami semua yang kau curigai, kenapa bukan istri baru kakakku yang kau selidiki, bukankah, kemungkinan dia yang melakukan itu besar?”


“Tapi, dia itu tidak membenci Har, dia mungkin juga tidak membenciku, dia sudah mendapatkan suamiku.”


“Tapi mungkin dia takut kakakku kembali padamu karena masih ada Har, bukankah itu lebih masuk akal dibanding aku yang masih memiliki hubungan darah dengan Har?”


“Aku tidak tahu, aku tidak ingin bertemu dengannya, karena kemarin kami baru terlibat masalah, dia datang dan mengaca di sini, kami menggiringnya ke kantor polisi.”


“Tuh kan, aku sudah bilang, dia pasti pelakunya, kau katakana saja pada dua orang teman dukunmu itu, siapa tahu mereka bisa bantu cari menyelidikinya,” usul mantan adik ipar itu.


“Mereka bukan dukun! yang satu Polisi dan yang satu orang bijak, bukan dukun!” Mamanya Har tidak terima dua orang yang baru dia kenal sudah dihina.


“Baiklah, apapun kau menebutnya, tapi aku ke sini ingin membersihkan namaku, walau kita mungkin tidak bisa berteman, tapi percayalah, Har itu masih aku anggap keponakan, sepupu anakku, jadi aku tidak akan pernah mencelakainya.” Mantan adik ipar itu mengulanginya sekali lagi.


Setelah itu dia pamit, Har keluar untuk cium tangan tantenya, tantenya memberikan uang sekedar hanya sebagai kebiasaan saja, karena sudah lama tidak bertemu Har.


“Tante kenapa ke sini, Ma?” Har bertanya mereka masih di ruang tamu.


“Tante bilang bukan dia yang santet kamu, Nak.”


“Mama percaya?”


“Ya, dia bersumpah atas nama sepupumu dan juga ommu.”


“Kalau begitu bukan dia ya Ma?”


“Iya, sudah pasti bukan dia.”


“Lalu siapa yang begitu membenci Har sampai mau buat Har celaka, apakah Har ini anak nakal, Ma? kok ada orang yang mau buat Har celaka.” Har terlihat murung lagi.

__ADS_1


“Bukan kamu yang jahat Nak, tapi mereka yang buruk hati. Kamu itu anak baik, ramah dan selalu memikirkan kebaikan orang lain, terkadang, terlalu baik jadi dimanfaatkan oleh orang, bahkan orang sangat baik saja masih punya musuh yang tidak suka.”


“Mama nggak apa-apa kan?”


“Nggak apa-apa, cuma Mama kepikiran aja, tantemu tadi bilang, Mama harus selidiki istri papamu, tante curiga dia yang mengirim santet itu.”


“Mama mau menyelidikinya?”


“Hmmm, Mama ragu, tapi tidak ada salahnya cek saja, kita akan ke rumahnya Ya, Nak. Tapi, kita akan memantau dari jauh saja, siapa tahu kita beruntung dan bisa menemukan jawaban.”


“Har setuju Ma, Har suka menyelidiki hal seperti ini.”


“Kalau begitu, Har udah gede mau jadi Detektif? atau Agen Rahasia Negara?”


“Nggak ah, Har mau kayak Bapak.”


“Bapak?”


“Iya Bapak Mulyana yang kemarin nolongin Har.”


“Nggak! ini akan jadi peristiwa terakhir yang kita hadapi, Mama nggak setuju kamu mau menjadi seperti dia.”


Mamanya Har menentang keras, itu semua karena dia takut Har akan celaka, satu kasus seperti ini saja sudah membuat mamanya Har jantungan, apalagi Har kelak menjadi seperti Mulyana, bisa mati berdiri mamanya.


Ibu dan anak itu akhirnya mengintai di rumah papanya Har, papanya berangkat ke toko matrial seperti biasa, sedang ibu tirinya Har masih di rumah, sekitar jam sepuluh pagi dia keluar naik motor yang dikendarai sendiri.


Mamanya Har mengikuti, dia ke toko matrial ternyata. Ada sedikit perih melihat istri baru mantan suaminya begitu lengket dengan suaminya, sampai kerja saja disusul.


“Mama nggak apa-apa?” tanya Har.


“Nggak apa-apa kok Har, Mama udah nggak mau lagi inget masa lalu, saat ini yang penting kita ketemu pelakunya dulu ya Nak.”


Sekitar jam dua belas siang, ibu tiri itu pulang ke rumah bersama papanya Har, mungkin mereka makan siang, lalu setelah satu jam di rumah, mereka berdua kembali lagi ke toko matrial hingga malam.


Tiga hari pengintaian itu, setiap hari hanya seperti itu saja yang terjadi, Har sampai harus tidak masuk sekolah karena ingin menemani mamanya.


“Keluar kamu!” papanya Har berkata.


“Kita bicara di rumahmu saja.” Mamanya Har mencegah papanya Har mencari ribut di luar rumah.


Mereka bertiga masuk ke rumah, melihat itu Har jadi rindu pergi bertiga bersama ayahnya, perempuan yang merebut papany sungguh kejam


“Ngapain kamu ke sini?!” Ibu tirinya Har langsung marah begitu melihat mantan istri suaminya datang bersama anaknya.


“Aku lelah, malas cari ribut, baiklah aku akan mengaku, tapi ambilkan air dulu.” Mamanya Har memerintah.


“Enak saja, kau pikir kau nyonya!”


“Memang, dulu kau kan hanya babu di toko matrial suamimu ini, bahkan aku yang mengatur gajimu.” Mamanya Har tertawa tapi ditahan.


“Kau!!!” Perempuan itu hendak memukul mamanya Har lagi.


“Kau berhenti disitu, atau aku akan berteriak dan membawamu ke kantor polisi lagi!” Har memperingatkan ibu tirinya.


“Bagaimana kau mendidik anakmu ini, kurang ajar sekali mulutnya.”


“Dulu ibumu gimana mengajarkanmu? mencuri ya? sampai kau mengambil milik orang lain, untuk aku orangnya suka beramal, ditambah aku tidak suka jika milikku disentuh orang lain, pasti aku buang, jadi tidak ada bedanya.” Mamanya Har menatap kasar kepada perempuan penggoda itu.


“Cukup, sekarang duduk, kamu ambilkan mereka minum dulu, aku ingin tahu tujuan mereka mengintai kita.”


Terpaksa perempuan itu mengambilkan air ke belakang, tidak lama kemudian dia keluar dengan air putih saja.


Mamanya Hard an Har minum.

__ADS_1


“Kalian tidak takut aku racuni?” ibu tiri Har berkata.


“Tidak, anakku saja tahu, makanya dia minum dengan tenang, karena kalau kau mencelakai kami di rumahmu, maka kau menyerahkan dirimu sendiri dengan sukarela pada dinginnya lantai penjara, masa begitu saja kau masih tanya, tidak heran suamiku lebih suka padamu, memang seleranya rendah.”


“Sudah, kamu duduk dulu di sini, mari kita dengarkan apa tujuan mereka!” Papanya Har mulai kehilangan kesabaran.


“Har disantet! aku sedang menyelidiki satu persatu orang yang mungkin melakukannya, aku harus mengangkap orang itu karena Har bisa celaka.”


“Apa! kau gila, masa aku mau menyantet anakku sendiri!” papanya Har langsung berteriak, dia tidak terima dengan tuduhan itu.


“Kalau kau tidak, mungkin yang tidak ada hubungan darah yang melakukannya.” Mamanya Har menuduh ibu tiri Har.


“Aku! katanya kau cerdas, masa tidak tahu, aku sedang hamil saat ini, mana mungkin aku mau mencelakai anak orang lain, bisa ketula aku!” ibu tiri itu membantah.


“Tapi kau yang paling diuntungkan kalau Har kenapa-kenapa, harta papanya Har bisa menjadi milik anak-anakmu saja kelak.” Mamanya Har masih bersikeras.


“Tidak mungkin! karena aku sudah membuat wasiat.”


“Apa maksudmu?” Mamanya Har bingung dengan perkataan papanya Har.


“Aku sudah membuar wasiat, menyerahkan semua hartaku atas nama istriku kelak, tidak seperer pun untuk anak-anakku.”


Mamanya Har tertawa, ternyata memang benar, lelaki ini brengsek, Har tidak diingat sama sekali, tapi hartanya hanya receh bagi warisan keluarganya sendiri.


“Tidak masalah, hargamu hanya koin diantara uang kertas dengan nominal tinggi di Negeri ini, jadi Har tidak rugi, wajar kau membagi hartamu yang sedikit itu untuk pengemis dan anak-anaknya kelak.” Pedas sekali ucapan mantan istri ini, tapi dia berkata sesuai kenyataan.


“Bukan kami, bukan kami yang melakukannya, aku kemarin memang sempat lupa diri, tapi baru beberapa hari ini aku tahu sedang hamil, aku tidak mau cari ribut, mari kita hidup masing-masing, aku tidak akan melakukan itu, aku tidak diberi akses keuangan lebih oleh suamiku, bukankah bayar dukun itu tidak murah? lalu aku juga tidak punya waktu memikirkan hal lain selain kehamilanku, anak dari suamiku.” Ada nada pamer dalam perkataan ibu tirinya Har ini.


“Baiklah kalau begitu, semoga pernyataanmu benar, kalau aku menemukan bukti kelak, aku akan membalas hal yang sama pada anakmu, camkan itu, seorang ibu yang berhati malaikat bisa menjadi iblis saat anaknya dicelakai, mengerti kau!” Mamanya Har mengancam.


“Aku tidak punya waktu melakukan itu!” Ibu tirinya Har tidak mau kalah.


“Oh ya satu lagi, selamat atas kehamilanmu, semoga kau tidak merasakan apa yang aku rasakan nantinya, semoga anakmu tidak dipisahkan dengan paksa karena papanya mengejar perempuan penggoda.” Kalimat penutup dari mamanay Har ini cukup membuat wanita itu terdiam, mamanya Har sengaja menabur benih rasa takut, sedikit pembalasan atas rasa perih yang dia torehkan selama ini.


“Bukan dia juga ya, Ma?” Har bertanya.


“Sepertinya bukan Nak, dia berkata jujur, dia sedang hamil, dia pasti takut kalau dia celakai kamu akan berimbas pada calon adikmu itu.”


“Dia bukan adikku.”


“Na, tidak boleh begitu, biar bagaimanapun, kalian akan menjadi keluarga, mengerti ya Nak.”


“Tidak mau mengerti, kalau pun Har ada adik, itu karena Mama yang melahirkan lagi.”


“ Wah kamu tidak beruntung berarti kalau begitu, karena kamu tidak akan pernah punya adik, karena untuk melahirkan Mama harus menikah lagi, Mama nggak ada niat melakukan itu, cukup kamu saja dan mungkin hobi mama travelling, yang pastinya setelah masalah ini selesai.”


Mamanya lalu mulai berkendara lagi ke rumah, dia dan Har sangat lelah karena masalah ini, mereka harus tidur dulu, Pak Mulyana juga akan datang besok untuk melihat keadaan Har, itu disampaikan oleh Pak Dirga yang kemarin sempat mampir dan mengatakannya.


___________________________________


Catatan Penulis :


Aku sudah mengantongi nama pemenang dari kuis minggu lalu ya, dengan ini aku tutup kuisnya, makasih yang sudah partisipasi, maaf singkat sekali ya kuisnya, tapi aku senang karena kalian begitu semangat dan serius menanggapiku, Penulis yang sangat bahagia ini.


Aku memberikan hadiah dalam bentuk kuis ini karena dalam rangka, akhirnya AJP membuat aku mendapatkan pendapatan minimum, belum besar banget tapi aku mau berbagi sama penggemar AJP, makanya aku buat kuis, walau cuma akan satu orang ya pemenangnya, hadiahnya akan diberikan seminggu lagi, bukan uang, tapi barang dan pemenangnya dalam minggu ini akan kau umumkan.


Satu lagi, aku juga khusus mau mengucapkan terima kasih pada akun yang bernama BINTANG KEJORA, karena sudah konsisten memberikan tips pada AJP, aku sangat senang, bukan masalah nominal tapi karena kamu bersedia meluangkan waktu dan juga rejeki untuk AJP, maka dari itu sebagai ucapan terima kasih, aku akan memberikan hadiah extra yang sama seperti pemenangnya, tapi bukan karena jawaban ya, karena jawabannya kurang tepat (wah aku spoiler), tapi karena ini wujud terima kasihku padamu yang selalu konsisten memberikan AJP tips.


Nanti aku hubungi by DM kalau hadiahnya sudah siap ya.


Untuk yang sudah memberikan hadiah berupa bunga dan kopi, aku juga berterima kasih, maaf aku belum bisa berikan apa-apa saat ini, aku cuma bisa memberikan cerita yang selalu aku usahakan menjadi baik setiap harinya.


Terima kasih sekali lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2