Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 256 : Pabrik Seragam 5


__ADS_3

“Katanya pabrik itu tidak boleh beroperasi saat tengah malam, kalaupun ada karyawan yang mengejar lemburan, kalau lagi kena apes, ya … pasti mereka dihantui, kesurupan atau segala macem tentang dunia ghaib. Sampai ada yang sakit.


Sampai kemarin belum lama ini kejadian bahwa seorang wanita mati mendadak, saat menemani temannya lembur, saat ini kasus masih ditangani Polisi, bahkan temannya yang ditemani itu, sekarang masuk daftar tersangka, dia sementara ini dipenjara sampai ditemukannya bukti bahwa dia pelakunya atau bukan, kasus akan segera masuk ke Pengadilan.” Ganding menjelaskan.


“Loh, cepat sekali prosesnya, sudah berapa lama memang kejadiannya?”


“Saat kalian pertama kali datang ke sini.”


“Seminggu, baru seminggu kan?” Alka heran, karena kasus bergulir cepat sekali.


“Makanya mungkin kita diharuskan ke sini untuk menolong wanita itu, mencegah kejadian Pak Dirga muda kejadian … lagi.” Ganding melihat mimik wajah Aditia yang berbeda saat mendengar nama ayah angkatnya disebut.


“Baiklah, kita kerjakan dengan benar sekarang, agar Polisi yang menangani kasusnya tidak seperti Pak Dirga, terperangkap dengan dosa masa lalu.”


“Dit, Pak Dirga telepon beberapa hari yang lalu, dia menanyakan kabarmu, kau tidak mengangkat teleponnya, kasihan sekali dia sepertinya merasa bersalah padamu.”


“Aku Nding yang harusnya merasa bersalah padanya, karena aku yang menyebabkan dia pensiun dini, padahal dia masih suka bekerja.” Aditia ingat lagi apa yang telah dia lakukan pada orang yang paling dia hormati setelah ayahnya.


“Sudah, kita fokus pada kasus ini saja.” Lais memotong perkataan, lalu yang lain bersiap untuk mala mini ke pabrik itu secara ilegal.


JAM 01.00 DINI HARI


“Bantuin dong!” Hatino kesal karena dia menggotong tubuh pingsan securitynya sendirian, Aditia dan ganding sudah jalan duluan masuk ke pabrik.


“Lah nggak kuat sendirian?” Ganding datang dan juga disusul Aditia.


“Punya pegangan nih security makanya berat.” Hartino mengeluh, biasanya security memang perlu punya pegangan, begal dan pencuri jaman sekarang sadis, kalau tidak punya pegangan pasti sudah habis babak belur.


Mereka menyembunyikan tubuh security itu di dalam pos penjaga, masih ada satu lagi yang sedang berkeliling, tapi bukan di dalam areal pabrik, dia berkeliling sepanjang halaman depan hingga belakang.


Tidak ada yang berani masuk ke pabrik, dari sebelum kejadian mati mendadaknya salah satu buruh dan tentu saja setelah kematiannya, pabrik semakin mencekam.


“Aku kejar securitynya dulu sama Lais ya.” Hartino dan Lais mengejar Security yang sedang berkeliling memeriksa keadaan luar pabrik.


Sementara yang lain masuk.


Saat masuk, mereka langsung dihadapkan ruangan gelap seksi stok. Aditia membaca mantra dengan telapak tangan saling merapat, membuat kuda-kuda dan memukul lantai dengan tangan kanan.


Seketika ruangan terasa pengap, walau lebih terang dibanding ruangan yang mereka masuki tadi, tapi ruangan ini terasa lebih abu-abu dan panas.


Mereka memasuk alam ghaib yang ada di pabrik ini. Banyak sekali orang, penuh sesak, mereka terlihat sedang berjalan tak tentu arah.

__ADS_1


Ada yang kakinya diseret, ada yang kepalanya hilang, ada yang badannya tidak utuh, ada yang wajahny tidak utuh, ada yang bahkan hanya sisa setengah badan saja.


Semua bentuk rupa benar-benar ada, sangat menakutkan. Alka dan kawan-kawan, bersiap, mereka tahu bahwa jiwa-jiwa ini takkan menyerang sampai ada yang memerintah, mereka juga bukan lawan sepadan.


Aditia masuk ke seksi packing, berjalan merapat karena penuh sesak di pabrik ini.


Keadaannya sama seperti ruang sebelumnya, semua sibuk berkeliling, penuh sesak.


“Setelah ini kita akan masuk ke ruang jahir, target kita adalah Arin, fotonya sudah kalian lihat kan, kita cari dia dan setelah menemukannya, kita harus menanyakan informasi padanya.” Ganding mengingatkan semua orang.


Saat ini mereka telah masuk seksi jahit, tempat di mana Erin meninggal adalah dapur, mereka bergegas ke dapur, tidak ada makhluk itu di dapur termasuk Arin.


“Kita berpencar, di sini semakin penuh orang, ayo kita cari Arin.” Ganding meminta empat orang itu berpencar.


Setelah berpencar, mereka mulai mencari wajah Erin satu-persatu dari foto yang sebelumnya Ganding perlihatkan, foto yang dia ambil dari sosial media Arin, pasti sulit mencari Erin saat ini karena foto itu Erin masih terlihat cantik, di alam ini, Erin pasti terlihat berbeda.


Alka mencari Erin dengan membalik tubuh semua makhluk yang sedang sibuk bolak-balik. Lalu Aditia hanya menggeser tubuh-tubuh itu dengan kakinya, Kharisma Jagat memang paling jijik jika memegang jiwa yang kotor. Ganding dan Jarni hanya melihat wajah-wajah hancur itu.


Mereka melakukannya cukup lama, hingga Aditia melihat seorang perempuan sedang jongkok di pojok ruangan jahit, perempuan itu menutup matanya sembari menangis, entah kenapa dia merasa itu adalah Erin.


“Erin!” Aditia memanggilnya, yang dipanggil makin histeris, dia sangat ketakutan hingga tubuh ruhnya gemetar.


“Erin saya Aditia, buka matamu! Saya manusia!” Erin mendengar itu berhenti menangis dan membuka matanya, dia percaya karena Aditia berbeda, dia tidak terlihat menakutkan seperti yang lain, Aditia terlihat sangat tampan.


Alka melihat itu langsung menghampiri Aditia dan menarik tubuh ruh Erin yang sedang memeluk itu, dia membuat Erin tergantung karena Alka menarik tubuh ruhnya sampai tinggi.


“Ka, lepas, itu yang kita cari.” Alka menatap Aditia dengan kesal lalu melepas Erin, kalau Lanjonya tidak diikat, pasti satu gedung ini sudah musnah saat melihat Aditia dipeluk, karena Lanjonya telah diikat oleh Aditia, makanya reaksinya masih terkendali.


“Tolong aku!” Erin kembali meminta tolong pada Alka, sementara Ganding dan Jarni melihat kalau Erin sudah ketemu mereka mendekati.


“Kita cari tempat yang sepi.” Aditia lalu berjalan ke dapur dan keluar dari dapur, semua orang mengikutinya termasuk Erin.


“Erin, apa yang terjadi sampai kau terjebak di sini?” Ganding bertanya. Di luar dapur ini lebih sepi, mereka bisa bicara lebih tenang.


“Aku terjebak? Ke mana Dinda? Di mana aku?” Erin terlihat ketakutan lagi setelah tadi sempat tenang sebentar.


“Dinda? Maksudmu teman perempuan yang kau temani lembur?” Ganding bertanya.


“Iya benar, di mana dia, kenapa aku tidak bisa menemukan jalan keluar dari sini?”


Ganding dan Aditia saling menatap, Erin tidak sadar, kalau dia telah tiada.

__ADS_1


“Erin ceritakan dulu apa yang terjadi malam itu?”


Erin mengernyitkan dahi, dia lalu mulai mengingat apa yang terjadi malam itu.


“Malam itu, karena haus, aku ke dapur, Dinda masih menjahit, saat ke dapur, aku melihat Security sedang membuat kopi, aku menegurnya, tapi … security itu malah melarang Dinda lembur, aku kaget, saat aku hendak bertanya lagi, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang, aku menengok, ternyata security yang sebelumnya ada di depanku, dia malah tiba-tiba ada di belakangku, aneh, aku ketakutan, saat aku menatap ke depan, security yang sama masih ada di hadapanku, bagaimana mungkin security yang sama ada di dua tempat yang berbeda, karena takut aku berlari ke luar dapur, tapi aneh, seksi jahit jadi gelap, tidak ada orang satupun, aku berlari tanpa tersandung apapun, padahal ruang jahit itu penuh dengan mesin jahit, tapi aku tidak perduli, aku hanya takut dan ingin lari.


Sampai … aku mendengar ruangan ini mulai ramai, mereka tertawa dan berbicara sesuatu yang aneh, mereka tidak mengejarku tapi mengawasiku, aku akhirnya jongkok di sana dan menutup mata, aku takut, sangat takut.” Erin menceritakan dengan wajah yang sangat ketakutan.


“Erin kau ini sebenarnya ….” Alka menahan Aditia mengatakan bahwa Erin sudah tiada, Alka menahannya karena tidak ingin Erin histeris, mereka masih butuh Erin yang tenang saat ini.


“Erin, kau terjebak di dunia ghaib, kau tidak bisa keluar sampai yang menjebakmu kami temukan, kau bisa bantu kami?” Alka bertanya, Aditia memelototi Alka, karena dia memanfaatkan Erin untuk kepentingan mereka, Alka tidak perduli, karena ini cara tercepat.


“Aku harus apa?” Erin bertanya.


“Kau harus tahu apa yang mereka semua lakukan di sini, kenapa mereka bisa ada di sini dan siapa yang memerintah mereka, kami harus tahu Erin, agar kami bisa menolong semua yang ada di sini, mereka ruh penasaran.” Alka menjelaskan dengan sederhana.


“Ruh penasaran, mereka semua sudah mati?” Erin gadis yang cerdas.


“Mungkin, mungkin juga tidak.”


“Oh, mungkin ada yang seperti aku hanya terjebak di sini ya.” Semua orang bungkam dengan perkataan Erin. Karena Erin dan yang lain, adalah jiwa tersesat yang masih penasaran, tidak bisa pulang kepada Tuhan karena tertahan di sini.


Lima sekawan harus tahu, kenapa mereka di sini, banyak sekali makhluk ini, bisa dibilang jumlahnya puluhan bahkan ratusan, dari mana mereka semua ini, karena kalau dari pabrik, pasti media akan gempar, karena membuat orang mati sebanyak ini tidak mudah tanpa tercium media.


“Tidak bisakah kalian hanya membawaku pergi dari sini? Karena di sini menakutkan.” Erin memohon.


“Tidak bisa, karena kau dikunci di sini, kami tidak bisa membawamu keluar, kecuali kami tahu siapa yang menjadi dalangnya, kita harus membuat dalang itu menghancurkan alam ghaib ini.” Alka berbohong, karena sebenarnya bisa saja mereka membawa Erin keluar dan melupakan kasus pabrik ini, tapi mereka butuh membebaskan semua makhluk ini.


“Baiklah, tapi kalian takkan meninggalkanku bukan?” Erin bertanya dan memegang tangan Alka.


“Tidak akan Erin, aku takkan meninggalkanmu, kau akan kami jemput, tapi sebelum itu, kau harus cari tahu dulu semua yang kami butuhkan untuk meringkus pelakunya.”


Erin mengangguk, setelah itu lima sekawan pamit keluar, Erin menangis melihat dia ditinggalkan, dia takut tapi Alka membekalinya dengan sebuah gelang, gelang yang membuatnya bisa diketemukan segera, gelang yang juga menjaganya jika ada makhluk yang jahat atau hendak menyiksanya, gelang persaudaraan jin, Alka memang mempersiapkan itu jika saja dibutuhkan, ternyata benat dibutuhkan.


Lalu lima sekawan pergi dari alam itu, keluar ke alam nyata lalu berkumpul di luar gerbang pabrik, masuk ke angkot Aditia.


“Alka kau seharusnya tidak membohongi dia!” Aditia untuk pertama kalinya marah pada keputusan Alka.


“Dit, kita tidak hanya harus menyelamatkan Erin, kita harus menyelamatkan semuanya, kau tidak lihat mereka membusuk di sana!” Alka membela diri.


“Kau membohonginya Alka, kau tidak seperti biasanya, kenapa kau dingin sekali!” Aditia heran Alka jadi dingin.

__ADS_1


“Ini memang aku, kau saja yang tidak kenal!” Alka mulai menabuh genderang perang dingin, Lanjonya terikat, perlahan sifat asli Alka keluar, dingin dan tidak perduli sampai tujuannya terlaksana.


__ADS_2