Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 457 : Kamboja 19


__ADS_3

“Kau kan punya keluarga, ada pelatihmu dan anak perempuannya, sudah dua, ada Jajat dan dirimu, ada Dokter Adi, bahkan ada Ayi Mahogra di sampingmu, bukankah kau bisa minta pertolongan mereka?”


“Oh ya, benar Pak, aku akan minta tolong mereka, karena mereka itu orang terdekat dan bisa dipercaya.” Aditia merasa semangat lagi dan bersiap untuk menghubungi mereka semua, bukankah ditempat Aki Dadan itu ada banyak Kharisma Jagat juga, bisa jadi mereka mau menolong Aditia.”


Aditia akhirnya langsung ke tempat itu, tempat yang pernah menjadi tempat pelatihannya dulu.


...


“Kau datang begitu mendadak, ada apa?” Aki Dadan bertanya, karena kaget melihat Aditia ada di tempatnya malam-malam begini.


“Ki, aku butuh bantuan.” Aditia berkata tanpa basa-basi.


“Soal apa ini?” Aki terlihat bingung.


“Kami saat ini sedang menghadapi kasus terowongan maut, di dalam terowongan itu ada Ratu Gandarwi, dia mencuri ruh incarannya, memakan jiwa mereka dan membuat korbannya meningal dunia.”


“Gandarwi laknat! Dia adalah jin yang berumur ratusan tahun, aku hanya pernah mendengar tentangnya sekali saat kalian menangkapnya, itu cukup gempar, karena sebelumnya tak pernah ada satu pun Kharisma Jagat yang berhasil menyekapnya, mengingat betapa tuanya umur jin itu, ilmunya sangat tinggi dan bisa jadi, banyak Karuhun tidak sepenuhnya menentang dia walau dia adalah jin tua yang jahat.”


“Banyak Karuhun tidak menentangnya? Kok bisa? Kan jelas dia jahat, sedang Karuhun itu milik Kharisma Jagat yang memusuhi jin laknat.”


“Kau ini masih muda dan mungkin memiliki kebanggaan yang berlebihan soal Kharisma Jagat. Kau lupa kalau musuh Ayi bahkan adalah sekumpulan elit Kharisma Jagat yang memiliki keyakinan sesat tentang jodoh adat hingga melegalkan segala cara agar keyakinannya bisa dijalankan, tak peduli bahkan jika itu dilakukan secara paksa.


Maka tidak heran, kalau kasus kali ini masih soal Ratu jin tua itu, berarti, dia berhasil lolos, pasti ada salah satu Kharisma Jagat yang dibujuk oleh Karuhunnya untuk membebaskan Ratu itu. Sekarang, apa rencanamu?”


“Aku butuh 4 Kharisma Jagat yang aku percayai Ki, butuh 4 Kharisma Jagat dari segala penjuru untuk bisa membuat kekuatan dari Ratu jin itu musnah, karena dulu kami hanya menipunya, mengatakan bahwa kita sudah memiliki 4 Kharisma Jagat untuk membuatnya kehilangan kekuatan selamanya, padahal itu hanya mustika yang bapak pernah kasih.”


“Mustika 4 warna yang memiliki efek mirip dari energi 4 Kharisma Jagat yang berasal dari 4 penjuru.”


“Tidak sulit mengumpulkan para Kharisma Jagat.”


“Ya, Ki. Makanya aku meminta bantuanmu agar bisa menjadi salah satu Kharisma Jagat 4 penjuru itu.”


“Aku ingin sekali membantu, tapi kau tahu kan, usiaku tidak akan sebanding dengan kekuatannya, aku akan meminta Ami untuk menggantikanku.”


Aditia terdiam, dia ingin Ami membantu, karena dia juga Kharisma Jagat yang kompeten, dulu waktu Aditia ke sini, Ami sudah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari Aditia, sekarang pasti dia semakin kuat. Tapi ... bagaimana dengan Alka, apakah Alka akan setuju atau dia akan marah, tapi kalau soal menolong orang, Alka tidak akan pernah keberatan bukan? Aditia bertanya dalam hatinya dan akhirnya memutuskan.


“Baiklah, Ki, apakah tidak masalah jika Ami aku bawa?” Aditia bertanya.


“Tidak masalah, tapi akan ada salah satu muridku yang akan ikut, karena kalian tidak boleh berduaan di dalam angkot, selain itu, aku juga minta maaf karena tidak bisa meninggalkan tempat ini, kau tahu kan, tempat ini juga perlu dijaga.”


“Ya, Ki, Adit paham.”


Tak lama kemudian Ami datang, dia terlihat semakin dewasa. Tidak dapat dipungkiri, dia memang cantik, Aditia sebagai lelaki punya mata, dalam hati juga dia senang bertemu saudar semasa kecilnya, sudah dewasa dan tumbuh dengan anggun, tapi Ami tetap Ami, manusia yang paling terbuka, apapun yang dia rasakan, akan dia katakan.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil angkot, Ami duduk di samping kemudi, Ami memintanya, dia ingin duduk di samping Aditia katanya.


Lalu Aditia pamit, Ami dan murid Aki Dadan yang bernama Tio ikut duduk di bagian belakang angkot.


“Dit, aku kaget kau ke sini, ternyata soal kasus ya.” Ami membuka obrolan.


“Iya, Mi.”


“Kau semakin dewasa, semakin tampan.” Ami berkata dengan santai, Aditia terdiam, tak berniat membalas dengan berkata bahwa Ami juga sangat cantik. Karena itu bisa menimbulkan salah paham.


“Kau juga semakin dewasa dan tetap terbuka.” Aditia berkata dengan dingin.

__ADS_1


“Kau juga, semakin dewasa, semakin dingin.” Ami berkata lalu tertawa.


“Mi, kasus ini agak berat, apakah kau tidak apa-apa?” Aditia bertanya.


“Soal Ratu Gandarwi? Aku takut, tapi kita sama-sama pejuang kasus Dit, aku di desaku dan kau di kotamu, kita adalah pejuang, menghadapi musuh itu, hal yang biasa, kadang lebih kuat, kadang sangat kuat, jarang kita hadapi musuh yang lemah, karena jika kita yang sudah pegang kasusnya, berarti kasus ini sangat berat.”


“Jadi kau tak takut?”


“Takut, tapi kan ada kau.”


Aditia diam saja, lalu deru kendaraan menghiasai jalan malam yang hendak balik ke kota tujuan, di mana rumah berada.


Aditia sampai di markas ghaib, sudah ada Hartino, Alisha dan tentu saja Alka. Mereka sudah tahu kedatangan Ami, Aditia sudah mengabarinya.


Ami masuk dan dia duduk setelah dipersilahkan.


“Kau akan tidur di kamar belakang, aku sudah meminta dibersihkan, kau makan dulu?” Alisha mencoba bersikap ramah dan tidak paham soal hubungan segitiga antara Ami, Alka dan Aditia, atau disingkat A3.


“Baiklah, Ami lalu bersiap ke kamar, Alisha menemani Ami ke kamarnya dan Tio diantar Hartino ke kamarnya juga, Alka lalu mencoba meninggalkan ruang tamu itu hendak kembali ke gua.


“Aku antar ke gua ya.” Aditia menawarkan diri.


“Ya.” Alka mau diantar, Aditia pikir dia akan marah, karena Alka pasti tahu soal Ami.


Alka naik ke angkot Aditia dan mereka berkendara untuk ke gua Alka.


“Kau tidak marah aku membawa Ami ke markas ghaib?”


“Untuk apa aku marah? Kau membawa Kharisma Jagat untuk menyelesaikan kasus.”


“Tidak, kenapa aku harus cemburu?” Aditia bertanya.


“Karena dia adalah jodoh adatku. Kau tidak takut aku berpaling?”


“Logikanya gini Dit, kalau kau memang ingin bersamanya, kau akan bersamanya dari dulu, lalu kenapa baru sakarang kau ingin bersamanya? jadi aku tahu, dia bukan sainganku.”


“Wahhhh ... kau berarti sangat percaya diri ya.” Aditia tersenyum.


“Katakanlah begitu.”


“Gadis pintar.” Aditia mengusap kepala Alka, lalu mereka berdua sampai dan Alka kembali ke guanya.


Sementara Aditia pulang ke rumah.


...


Pagi tiba, semua kawanan yang tersisa berkumpul di markas, mereka sudah sarapan bersama, lalu mulai berdiskusi soal kasus.


“Jadi, Ami sudah di sini, sedang Jajat sudah aku minta untuk datang hari ini, penerbangannya dari Bali pagi ini. Lalu siapa lagi Dit?” Hartino bertanya. Karena harus dari berbagai penjuru.


“Jajat dari barat, Ami dari Timur, aku sedang mengusahakan agar Kak Behra datang ke sini, karena dia berasal dari selatan, lalu terakhir Dokter Adi akan jadi orang yang berasal dari selatan.”


“Kak Behra! Kau yakin dia bisa? Wah aku sangat mengidolakannya.” Hartino berkata dengan semangat.


“Siapa Behra.”

__ADS_1


“Kak Behra!” Alka mencoba untuk memperbaiki cara Alisha memanggil Behra, bahkan Ayi sangat menghormatinya sebagai saudara seperjuangan.


“Iya, siapa si Beh ... Kak Behra itu?” Alisha cemburu, jelas sekali.


“Dia adalah penghuni puncak gunung butir-butir, puncak gunung itu tersembunyi dan hanya orang yang terpilih bisa masuk puncaknya, tapi Kak Behra sekarang tinggal di AKJ, dia sudah menikah dan sekarang membantu Ayi di AKJ.” Alka mencoba menjelaskan.


“Oh, sudah menikah, sama denganmu ya, Har.” Alisha berkata dengan wajah kesal, mengingatkan suaminya.


“Oh, kau sudah menikah, padahal masih kelihatan muda.” Ami tiba-tiba mengatakan hal yang tidak pantas, karena muda ataupun tua, menikah adalah soal kemampuan.


“Memang kenapa kalau menikah muda?” Alisha sudah panas duluan.


“Bagus itu, aku saja ingin menikah muda.” Ami menyulut hal yang lebih panas lagi setelah lepas dari sulutan pertama.


“Bisa kita lanjutkan untuk membahas kasus?” Alka mengingatkan.


Yang lain setuju.


“Kak Behra bilang dia akan datang hari ini bersama suaminya dan Dokter Adi juga akan datang setelah prakteknya selesai.” Aditia mengatakannya, jadi masalah Kharisma Jagat sudah selesai.


...


“Kau supir taksi ya?” Ganding bertanya pada seorang lelaki di sampingnya yang terlihat murung.


“Ya, aku supir taksi itu.”


“Kau tahu kalau dirimu sudah ....”


“Meninggal, ya aku tahu.”


Ganding yang masih terikat terus mencari informasi, Jarni masih tertidur, dia lemas karena jiwanya diserap perlahan semalam.


“Kau tidak sedih meninggalkan keluargamu?”


“Sedih, tentu saja, tapi aku akan kembali kok.” Supir itu berkata dengan bahagia.


“Kau tidak akan kembali, kau sudah tiada.” Ganding tidak paham dengan keyakinan dan ajaran apa yang mereka pegang.


“Aku akan kembali, Ratu Gandarwi menjanjikannya, aku percaya padanya.”


“Kau seharusnya peraya Tuhan, bukan jin tua itu.”


“Hati-hati kau kalau bicara, dia bukan jin jahat, dia yang akan membuatku kembali.”


“Kau takkan kembali, kau sudah meninggal! Tubuhmu sudah dikubur!”


“Tetap saja, aku akan kembali, tubuh yang dikubur itu akan bangkit.”


“Kau gila!” Ganding kesal mendengarnya.


“Tidak, aku tidak gila, aku percaya Gandarwi.”


“Kau harusnya percaya Tuhan! Bukan Gandarwi.”


“Tuhan? Doaku sudah terlalu lama diabaikan, makanya aku sekarang percaya Ratu Jin itu, dibanding Tuhan.” Supir taksi itu lalu pergi meninggalkan Ganding.

__ADS_1


Sungguh benar bahwa, jin itu adalah makhluk penuh tipu daya.


__ADS_2