Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 293 : Tukang Bubur 4


__ADS_3

“Kondisiku sudah cukup pulih Har, aku butuh untuk menyendiri dulu.” Alisha bicara setelah beberapa lama diam dan mengacuhkan Har.


“Kau janji padaku untuk tidak meninggalkanku, Cha, aku mohon, aku takkan mampu tanpamu.”


“Aku tidak pergi meninggalkanmu, aku istrimu, aku tidak meminta cerai, aku hanya butuh waktu untuk menyendiri, janjiku untuk tidak pergi adalah pada kenyataan tentang Rania, tapi kali ini, aku benar-benar butuh waktu Har.”


“Cha, aku yang tak mampu tanpamu.”


“Kau harus mampu, izinkan kali ini saja aku egois, bukankah kau tahu, selama ini aku hanya mengambil langkah untukmu, aku mohon, sekali ini saja izinkan.”


“Berapa lama?”


“Tidak tahu.”


“Cha!”


“Aku tidak tahu kapan akan pulih dan untuk alasan apa aku pulih? Aku butuh waktu Har, aku butuh sendiri dan memikirkan ulang tujuan hidupku, aku merasa tidak memiliki apapun untuk menjalani hidup saat ini.”


“Baiklah, tapi kau tidak aku izinkan ke luar negeri, tidak aku izinkan ke luar pulau, kau hanya harus tetap di pulau yang sama denganku.”


“Kau licik! Tapi baiklah.”


“Kau akan kemana?” Har akhirnya bertanya.


“Aku akan pergi ke panti asuhan milik keluarga kita, yang ada di luar kota, kau tahu kan, panti asuhan itu selalu tidak memiliki cukup pegawai, aku ingin merawat anak-anak kecil Har, aku ingin tahu rasanya jadi ibu, karena kau sekarang tidak punya kesempatan untuk menjadi ibu.”


“Cha, untuk menjadi ibu, kau tidak selalu harus melahirkan, kita bisa angkat anak, kita bisa adopsi anak sebanyak yang kau mau.”


“Har, jangan menggampangkan pengasuhan, aku sudah bertekad ingin mendekatkan diri pada Tuhan, bertobat karena berani menduakan-NYA, lalu aku ingin mengabdi pada anak-anak yang bisa aku jangkau, izinkan aku suamiku. Aku tahu kau akan baik-baik saja, karena aku percaya, kawanan tidak akan pernah membiarkanmu cealka.”


Dengan berat hati Hartino mengizinkan Alisha untuk pergi, ke luar kota, tidak ke luar pulau, walau berat, tapi ini lebih baik, Har akan pastikan Alisha benar tidak pergi terlalu jauh, Har akan tetap mengirim penjaga, baik nyata maupun ghaib, Alisha sudah tidak mampu lagi merasakan kehadiran yang tak kasat mata karena sudah tidak punya khodam.


Hari ini Aditia siuman, dia menceritakan semua yang dialaminya, sedang Abah tak kunjung pulang, sudah sebulan dari abah pergi, seperti yang Ayi Mahogra Sarika katakan, tunggu saja, karena abah sedang menjalani hukuman, mengenai waktunya, tidak selalu sama, bisa jadi lebih cepat dari sebelumnya atau jauh lebih lama, bukankah Ayi bilang, tunggu saja.


Lima sekawan sudah di markas yang tidak bisa terlihat oleh mata awam, Aditia telah pulih, hanya butuh waktu tiga hari saja untuknya agar cepat pulih.


Hartino juga sudah memberitahu semua orang, bahwa Alisha sudah tidak bersamanya lagi, Alisha butuh waktu, Hartino memberikannya, walau dengan pengawasan penuh dan ketat, baik dari jalur bodguard yang terlihat maupun tak terlihat, dia hanya memastikan Alisha selalu aman dan tidak tergiur untuk salah jalan lagi.


“Jadi ada kasus apalagi nih?” Aditia bertanya, karena terakhir mereka membicarakan kasus di rumah sakit, tapi tidak disebutkan apa kasusnya. Hingga Aditia pulih dan sekarang mereka berkumpul di markas.


“Tukang Bubur Setan, dia membuat siapa saja yang bertemu dengannya, kehilangan suaranya.” Ganding membacakan catatan Bapak.


“Hah, tukang bubur setan? Nding serius nih?” Hartino seperti tidak percaya, Hartino juga sudah pulih dari rasa sedih, dia memang memilih untuk bekerja bersama kawanan, karena dia ingin lupa masalahnya dan lupa karena rindu pada Alisha.


“Iya lah Har, emang ada aku bercanda jika soal kasus.”


“Sorry Nding, aku tidak sedang menyepelekan, tapi aku sedang terkejut.”

__ADS_1


“Kalian tahu, wajah dari tukang bubur ini, tidak pernah mampu di deskripsikan oleh korban-korbannya, mereka semua cenderung lupa bagaimana mengerikannya wajah itu, karena ketika melihat wajahnya, mereka pingsan dan keesokan harinya, begitu siuman ditemukan oleh security, para korban hanya bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi tidak bisa mendeskripsikan wajah dari setan itu.”


“Nding, dia jin atau jiwa yang tersesat?” Alka bertanya pada intinya.


“Aku rasa jiwa tersesat Kak, ini asumsi, karena mungkin setan ini masih bingung dengan jati dirinya, jadi dia akhirnya mengganggu, jangan-jangan dia butuh pertolongan, makanya kita harus menemukan dulu setan ini.”


“Yasudah kalau begitu, kita mulai tanya-tanya ke warga, siapa saja korbannya dan kita tanya lebih dalam, karena untuk menemukannya, kita harus tahu garis waktu ketika dia akhirnya menunjukan dirinya pada manusia.”


Alka akhirnya seperti biasa membagi kelompok untuk bertanya, Hartino akan bersama Ganding dan Jarni, sedang Alka akan bersama Aditia.


Alka dan Aditia ke tempat siswa yang beberapa waktu lalu bertemu tukang bubur setan itu dan akhirnya kehilangan suara.


“Kami ini adalah cucu dari Kiai yang biasa menyembuhkan orang yang kebetulan bertemu dengan tukang bubur setan itu Bu, Pak.” Alka dan Aditia duduk di tikar, bersama dengan orang tua dari anak remaja yang akhirnya kehilangan suara, anak itu terlihat sangat lemas dan tidak bergairah, mungkin depresi karena tidak bisa bicara seperti biasanya.


“Oh ya, saya pernah dengar memang tentang Kiai itu, jadi kalian ke sini untuk membantu?” Ayahnya Ezy bertanya.


“Betul Pak.” Aditia menjawab.


“Tapi kami ... bukan orang yang bisa membayar dengan imbalan yang besar, ya kalian bisa lihat sendiri bagaimana kehidupan kami, saya hanya bekerja sebagai buruh buruk pabrik, sedang istri saya ibunya Ezy, juga hanya ibu rumah tangga, maka dari itu, saya bicarakan dulu di awal, mohon maaf sekali ya.”


“Pak, kami ini membantu tanpa tarif, tidak sepeserpun, kami membantu karena amanah Kiai, kakek kami, dia mewanti-wanti agar kami menjaga orang-orang yang membutuhkan atau dikerjai oleh mereka yang tak kasat mata, maka dari itu, kami sangat berharap kronologi kejadian agar bisa segera menyelesaikannya.” Ini jelas, Alka berbohong, kenal saja dengan Kiai itu tidak.


Tapi agar mempersingkat waktu dan tidak ditanya-tanya oleh orang-orang yang mereka butuhkan memberikan kesaksian, akhirnya kawanan memutuskan berbohong tentang jati diri mereka. Ke dalam identitas yang bisa diterima dengan cepat oleh para korban.


“Baiklah, jadi begini, kami sudha bertanya pada anak kami tentang kejadian malam itu, jadi biar kami yang ceritakan, karena anak kami mungkin sudah lelah, karena selalu kami tanyai detail kejadian dan dia hanya bisa menulis.


Kata Ezy tidak lama setelah jalan, dia mendengar suara kentungan mangkok tukang bubur, dia senang karena akhirnay punya teman barengan ke pos, tapi yang aneh, tukang bubur ini ketika papasan dengannya tidak mau berbicara, hanya Ezy yang mengajak ngobrol, tanpa disadari Ezy, entah kenapa tiba-tiba dia nyasar, tidak sampai-sampai ke pos keluar komplek, dia tiba-tiba sudah berada di tanah kosong ujung komplek itu.


Ezy terus mencoba untuk berbicara dengan tukang bubur itu, tapi tukang bubur itu malah tiba-tiba berhenti dan melayani bubur, Ezy pikir itu untuknya, dia lalu bicara tidak punya uang untuk beli, tapi tukang bubur itu memaksa.


Hingga akhirnya saat buburnya sudah selesai diisi di mangkuk, Ezy sadar, bahwa mangkuk itu isi air kotoran, bukan bubur, lalu wajah tukang bubur itu, sangat mengerikan, waktu itu adalah apa yang Ezy rasakan. Walau sekarang kalau ditanya, apakah dia ingat wajahnya, Ezy bilang tidak, yang dia ingat hanya, wajah itu sangat mengerikan.


Dia lalu pingsan setelah menyadari tukan bubur itu bukan manusia, keesokan harinya dia dibangunkan oleh Security, karena dia ditemukan di tanah kosong itu, dini hari, jadi cukup lama dia tertidur di aspal jalanan komplek, kasihan sekali anak saya ini.


Security juga mengantar anak saya pulang ke rumah, kami sebagai orang tuanya, ketika Ezy tidak pulang malam harinya, berusaha menghubungi teman-temannya dna akhirnya bisa menghubungi anak komplek itu, kata anak komplek itu, Ezy sudah pulang sejak semalam dan dia terkejut Ezy ternyata belum sampai rumah.


Kami semua mencarinya, hingga akhirnya Ezy diantar oleh salah satu Security komplek itu, mereka meminta maaf karena tidak bisa menemukan Ezy lebih cepat dan membuat keadaan Ezy jadi tidak bisa berbicara lagi.”


“Pak boleh saya lihat Ezy?” Alka meminta izin, Ezy memang ada di kamar.


“Tapi Neng, dia itu agar trauma ketemu orang baru.” Ayahnya memperingatkan dulu, takut kalau Ezy jadi mengamuk lagi kalau meliaht orang asing.


“Saya cuma mau pastikan kalau Ezy tidak sawan, maksudnya bisa jadi dia tidak bisa bicara karena sawan.” Alasan saja, Alka butuh lihat, apakah ada yang menempel di tubuhnya.


“Yasudah, kalau begitu ayo kita ke kamar Ezy, sejak kejadian itu, dia selalu murung dan tidak mau ke luar rumah, padahal dia murid berprestasi, kalau nggak sembuh juga, takutnya dia akan kehilangan beasiswa SMAnya, karena tidak foksu belajar.” Ayahnya Ezy mengeluh, karena kalau sampai Ezy tak dapat beasiswa, mungkin Ezy akan sekolah di tempat biasa, bukan sekolah unggulan lagi.


Alka lalu berjalan ke kamar Ezy bersama ibu dan juga Aditia, saat masuk, Alka mencium bau busuk, Aditia juga, sementara ibu dan ayahnya tidak.

__ADS_1


“Ezy, halo, aku Alka.”Alka duduk di samping Ezy dan berusaha untuk membuat Ezy tenang.


Ezy melihat Alka dan enggan untuk tersenyum.


“Ezy ini Kakak Alka dan Kakak Aditia, jangan takut ya.” Ayahnya mencoba membujuk.


Ezy duduk dan akhirnya cium tangan Alka dan Aditia.


“Ezy tenggorokannya sakit?” Alka bertanya lagi.


Ezy mengangguk.


Alka minta izin untuk memegang lehernya Ezy, diizinkan oleh Ezy dan juga orang tuanya.


Saat Alka memegang leher itu, dia merasakan leher itu dingin sekali, sangat dingin.


Lalu Alka naik memegang kening Ezy, keningnya juga dingin, seharusnya kening dan juga lehernya tidak sedingin ini.


“Ezy makan yang bener ya, Kak Adit sama Kak Alka, janji bakal bantuin supaya suara Ezy balik lagi. Sekarang anggap aja suara Ezy lagi dipinjam dulu, Ezy tetep fokus belajar, pergi ke sekolah kayak biasa, bedanya cuma Ezy nggak bisa bicara dulu, karena suaranya lagi dipinjam, nanti kalau udah selesai, Kakak bakal balikin suaranya Ezy ya, trus pas suara Ezy udah balik lagi, Ezy tetep bisa sekolah di tempat yang Ezy suka. Ezy jangan putus asa, kami pernah nolong orang yang sakitnya jauh lebih berat dan orang itu sembuh, Ezy doa ke Tuhan ya, supaya Tuhan kasih jalan ke Kakak, nemuin jalan balikin suara Ezy.” Alka tidak banya bertanya seperti dukun-dukun yang sudah datang, Alka hanya ingin menguatkan Ezy, karena baginya cukup melihat keadaan Ezy, sisanya dia tetap harus selidiki dulu. Karena ini kasus yang berbeda, tidak ada yang menempel pada tubuh Ezy, tapi sepertinya ada sesuatu dalam tubuhnya, menancap di tenggorkan. Alka belum bisa pastikan apa itu, bukan santet yang pasti, karena santet pasti membawa energi jin hitam di dalamnya, kalau ini, Alka tidak bisa merasakan energi apapun.


Setelah itu mereka pamit dan juga tak lupa memberikan santunan kepada Ezy, agar Ezy tetap bisa belajar dengan baik, Alka meminta orang tua Ezy memberikan asupan yang cukup dan juga mungkin buku-buku yang Ezy suka dengan uang itu, supaya Ezy bisa lupa sebentar tentang rasa sakitnya.


Alka dan Aditia kembali ke angkot, mereka menuju komplek perumahan itu untuk bertemu dengan kawanan, diperjalanan mereka mendiskusikan tentang apa yang mereka dapatkan dari berbicara dengan Ezy.


“Ada apa di tenggorokannya? Kau bisa lihat?”


“Tidak terlihat, tapi ada sesuatu. Aku pikir awalnya si setan itu menempelkan energi hitam pada korbannya, hingga membuat korban percaya dia tidak bisa bicara pada alam bawah sadar, tapi sepertinya ini lebih dari sekedar energi hitam. Jangan lama-lama Dit, aku takut kalau suara pada korban rusak permanen.


Oh ya, soal Kiai, kita harus temui kerabatnya, aku butuh tau, teknik pengobatan apa yang dia gunakan  untuk menyembuhkan korban tukang bubur setan itu.”


“Nanti setelah bertemu yang lain kita akan menemui kerabat Kiai.”


“Ya, begitu saja.”


“Oh ya Ka, tadi kenapa keningnya kau pegang juga? bukankah leher yang menjadi penyebab utama?”


“Aku merasa, tujuan tukang bubur setan ini, bukan hanya suara dan juga rasa depresi dari korbannya, tapi lebih dari itu, sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding sekedar energi gelap dari korban.”


“Apa itu?” Aditia sudah menduga apa yang Alka takutkan, tapi dia ingin Alka sendiri yang beritahu apa yang menjadi asumsinya.


“Kau tahu kan, kalau kepala kita itu yang mengontrol seluruh tubuh? Aku takut kalau tujuannya adalah ....”


“Isi kepala?”


“Ya, aku takut setan itu memang mengincar isi kepala setiap korbannya.”


“Kalau begitu, kita memang harus bergegas.”

__ADS_1


__ADS_2