
Pernikahan itu dilakukan pada malam yang sama dengan lamaran, semua dilakukan begitu tergesa-gesa.
Tibalah malam pertama bagi dua muda-mudi berbeda dunia itu, dalam sebuah gua yang gelap, mereka memadu asmara.
Gua itu sudah dialihfungsikan menjadi laksana hotel bintang lima bagi para pecandu hasrat tak terkendali, gua yang terlihat seperti gua-gua lainnya, gelap, ketika Meutia yang masuk, gua itu berubah menjadi bak rumah mewah, ada tempat tidur mewah, sofa mewah yang dulu hanya dimiliki para petinggi negara, baju-baju indah dan mahal dari sutra, serta tentu saja alas kaki yang dulu bahkan tidak mampu dimimpikan oleh Meutia.
“Aku tidak pernah bertemu manusia secantik dirimu Meutia, tubuhmu, wajahmu dan cara bicaramu sunggung menjadikanku budak akan cinta yang dulu tidak pernah aku rasakan.” Darhayusamang telah melucuti pakaian Meutia hingga tak bersisa sehelai pun.
Meutia membiarkan suaminya menikmati setiap jengkal keindahan yang Tuhan telah anugerahkan padanya, sesuatu yang tidak bisa lelaki manusia nikmati mulai dari hari ini hingga selanjutnya, karena tubuh itu telah dikorbankan untuk keserakahan hingga melanggar perintah Tuhan.
Darhayusamang mulai menyentuh tubuh Meutia, dimulai dari kaki, semakin lama semakin naik ke areal paling pribadi, Meutia menikmati sentuhan itu, wajah tampan Darhayusamang membuat pergumulan malam itu menjadi begitu nikmat bagi mereka berdua.
Setelah selesai, mereka tertidur dengan saling memeluk, mereka merasa bahwa tidak membutuhkan apapun lagi saat ini, cukuplah cinta dan semua yang mereka miliki saat ini, padahal kehancuran mungkin saja telah menunggu mereka di depan sana.
Bukankah bagi para pelanggar peringah Tuhan, hanya tinggal menungg waktu untuk azab datang.
“Tuan, terima kasih atas emas-emas itu, aku sangat senang, gua ini juga serta isinya.”
“Ya, tapi kau harus pergi begitu pagi datang besok, kembali ke rumahmu, seperti biasa, seolah pernikahan itu tidak pernah terjadi.”
“Kenapa begitu Tuan, aku tidak diperbolehkan tinggal di sini bersamamu?”
“Tidak, karena ini bukan tempat manusia hina sepertimu.”
Meutia tersinggung, tapi dia menahannya, dia tidak ingin melawan makhluk yang membuatnya kaya raya dalam waktu semalam.
“Meutia, kau harus perlahan dalam menunjukan kekayaanmu, karena mereka akan curiga jika kau tiba-tiba kaya, pergilah sekali waktu ke kota bersama ayahmu menumpang kendaraan umum, berdaganglah, aku akan membantumu membuat seolah kau menjadi sukses karena berdagang, sehingga kekayaanmu kelak akan terlihat wajar.”
“Baik Tuan, apapun, aku akan patuh.” Meutia kembali memeluk jin yang dia panggil tuan, tuan yang mungkin saja membuatnya mengganti Tuhan.
Pagi datang, Meutia pergi dari hutan membawa daun-daun obat, Darhayusamang tidak ingin ada jin lewat yang curiga dengan keberadaan Meutia, Meutia patuh dan pulang seperti biasa sehari-hari dia mengambil tanaman obat dari hutan itu.
Begitu sampai rumah ayahnya tersenyum penuh arti.
“Bagaimana dengan kehidupanmu di gua sana?”
“Ya biasa aja Ayah, baru juga sehari, jadi tidak bisa banyak cerita,” Meutia menjawab.
“Sehari! kau sudah seminggi di sana, bukankah kau tahu, bahwa ketika masuk dunia mereka, di sana akan terasa lambat dan di sini akan terasa cepat.” Ayahnya mengingatkan Meutia yang terlihat lupa.
“Oh ya, sudah seminggu, apakah tidak ada tetangga yang menanyakan keberadaanku?”
“Ada, tapi seperti tuan perintahkan, aku bilang kau sedang berdagang tanaman obat, mereka tidak curiga, kenapa kita harus melakukan itu?” Ayahnya Meutia yang tidak tidak sekolah tidak mengerti kenapa Meutia harus merancang rencana agar tidak dicurigai memiliki harta itu tiba-tiba. Pada tahun delapan puluhan memang pendidikan bukan sesuatu yang penting sekali, apalagi tahun-tahun di mana ayahnay Meutia lahir dan beranjak dewasa.
Meutia beruntung karena ikut sekolah yang sudah mulai dicanangkan pemerintah, sekolah dasar yang tadinya bernama sekolah rakyat sampai tahun empat puluhan itu. Walau dia tidak melanjutkan sampai ke sekolah menengah pertama apalagi sekolah menengah atas, tapi sudah cukup membuatnya mampu menangkap niat Darhayusamang, membuat hidupnya yang kaya raya menjadi tidak dicurigai, pernikahan dengan jin tentu tidak akan pernah menjadi berita bahagia.
“Ayo Ayah, kita kunjungi beberapa tetangga, kau tahunya bahwa aku baru pulang dari berdagang kan, kita harus menyapa mereka dan meyakinkan kalau aku memang berdagang.”
Ayah anak itu lalu keluar dari rumahnya, membawa beberap keranjang tanaman obat yang telah diracik dan dikemas ke dalam plastik-plastik kecil.
“Meutia, sekarang dagang di kota?” Seseorang menghampiri mereka, Meutia senang, yang menghampiri adalah seorang manusia berjenis kelamin perempuan yang hobinya menyalurkan berita pada semua orang, baik atau buruk, yang penting dia bisa menjadi media penyampai berita. Kalau di jaman ini, kita menyebut dia adalah biang gosip.
__ADS_1
“Iya Bu, abis ayah kasihan, dia pasti sudah kesulitan ke kota untuk mengobati orang, Meutia selama ini kan belajar membuat obat, jadi Meutia coba dagangkan obatnya, ternyata laku, ini Meutia mau balik lagi ke kota, karena persediaan obatnya udah habis,” karang wanita ini.
“Wah Meutia hebat ya, perempuan jaman sekarang memang harusnya seperti itu ya, mulai berani mencari nafkah, tidak berharap pada suami, apalagi gadis sepertimu yang tidak memiliki bibit bebet bobot yang mumpuni, pasti sulit mencari pria mapan untuk menikahi, maka cara terbaik adalah mencari nafkah sendiri ya Meutia.” Ada hinaan dalam pujian basa-basinya itu, Meutia tahu, dia hanya menganggap anak perempuannyalah yang paling hebat, karena berhasil menikah dengan pejabat negara.
Meutia dulu iri pada anak ibu penggosip ini, tapi sekarang sudah tidak lagi, Meutia tidak harus selalu di rumah mengurus semua keperluan suaminya, suaminya tidak makan dan minum seperti manusia, tidak menggunakan pakaian seperti manusia dan tidak kalau rumah berantakan, hanya satu kali jentikkan jari, rumah akan jadi rapih.
Anak ibu penggosip ini sekarang pasti telah diperlakukan seperti pembantu di rumah mertuanya itu, bukankah nasib perempuan yang tinggal di rumah mertua kaya raya adalah dengan menjadi pembantu? Meutia tertawa.
“Kenapa, kok tertawa?” Ternyata tertawanya Meutia masih terlihat.
“Enggak apa-apa Bu, aku hanya setuju bahwa mencari nafkah bagi gadis sepertiku sekarang bisa jadi hal yang sangat menyenangkan, aku punya uang sendiri dan bisa membuat ayahku bahagia, iya kan Yah?” Meutia meminta dukungan.
“Tentu saja Bu, kau tahu, ada seorng saudagar kaya yang sudah memesan obat Meutia dalam jumlah besar, kami sekarang mau mengantarkan contoh untuk diminum olehnya dulu, nanti kalau dia suka, kita akan buatkan lagi lebih banyak, dia juga berjanji akan memberikan modal pada Meutia.” Dukun itu mulai pandai mengarang lagi seperti anaknya.
“Oh begitu, wah Meutia hebat, tapi hati-hati loh, bisa jadi itu penipuan, dia mengincar … ya kau tahulah, kau ini anak gadis, jadi harus hati-hati.”
“Tenang saja Bu, dia bukan saudagar yang mata keranjang, kami tidak berhubungan langsung, kami hanya bicara lewat ajudan-ajudannya, jadi ini semua murni karena barang dagangan, nih Bu, cobain ya tanaman obat kami, kalau ada keluarga yang tidak enak badan, didihkan saja tanaman obatnya di air panas, lalu saring, setelah dingin minum, semua penyakit akan cepat sembuh.” Meutia tahu, si penggosip ini selain suka bergosip, dia juga suka semua yang gratis.
“Wah serius nih Meutia, saya sih sebenarnya nggak terlalu suka minuman obat begini, tapi jujur kaki saya akhir-akhir ini sering sakit karena mungkin terlalu banyak jalan kaki, siapa tahu obat ini bisa bantu.” si penggosip itu berlalu setelah mengucapkan terima kasih.
Meutia dan ayahnya tahu, tidak perlu bertemu banyak tetangga, karena satu orang itu saja, bisa menjadi penyebar berita yang sangat cepat dan tepat.
“Meutia, kau tahu kalau tanaman obat kita tidak sehebat itu kan? berani sekali kau menjanjikan kesembuhan pada semua penyakit.” Ayahnya protes, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kota, tentu hanya untuk berpura-pura berdagang agar para tetangga percaya Meutia menjadi pedagang.
“Tuan telah menambahkan bubuk obat dari dunianya, dia bilang, untuk membuat tanaman obatku terasa lebih manjur, dia sudah memikirkan cara agar aku menjadi wanita yang terpandang di desa kita Yah.”
“Wah, kita tidak salah ambil keputusan.”
Begitu mereka sampai kota, mereka menyewa satu kios di pasar yang letaknya di paling belakang pasar, tidak perlu di depan, karena itu akan mencurigakan kalau di depan orang akan tahu kalau kiosmu selalu dan akan curiga darimana kekayaan itu kalau obatnya saja tidak laku.
Meutia membayar sewa kios untuk enam bulan, sebenarnya dia mampu beli dengan semua emas-emas itu, tapi dia tidak ingin membuat langkah yang salah, makanya dia memilih sewa saja dulu, perlahan dan halus, persis seperti yang Tuan katakana.
Dia dan ayahnya membersihkan kios yang sebenarnya tidak laku itu karena letaknya di belakang, bahkan kamar mandi di area kios belakang ini sangatlah kotor, Meutia tidak ambil pusing, di rumahnya juga tidak terlalu bagus, jadi tidak ingin mengeluh.
Setelah kios buka, hari-hari Meutia hanya dihabiskan di kios itu saja, tidak ada pembeli tentu saja, bahkan tanaman obat mulai layu, Meutia bosan, tapi dia bertahan, seminggu sekali dia akan pulang dan bertemu suaminya, terkadang malah bisa sampai satu bulan baru dia dipanggil lagi oleh suaminya, dia tidak ingin mengeluh, karena perlahan orang desanya mulai melihat kekayaan Meutia perlahan diperlihatkan.
Mereka tidak curiga dan percaya, bahwa Meutia menjadi kaya karena berdagang tanaman obat itu. Apalagi si penggosip itu ternyata setelah minum tanaman obat Meutia menjadi sembuh kakinya, berita ini tersebar dengan cepat, ada banyak orang datang ke rumah untuk meminta pertolongan, Meutia tidak bisa selalu menolong karena memang Tuan juga tidak memberikan tanaman dari dunianya sebanyak itu.
Maka untuk menolak mereka Meutia selalu memberi alasan bahwa tanaman obat itu habis karena sudah dibeli saudagar kaya raya di kota.
Meutia dan ayahnya berhasil, dalam waktu satu tahun rumahnya menjadi rumah yang mewah dan megah, mereka bahkan punya kendaraan yang saat itu hanya orang dengan jabatan tinggi di suatu instansi pemerintah yang punya mobil.
Nama Meutia semakin dikenal sebagai gadis kaya raya karena menjadi pebisnis tanaman obat, tapi, setelah kaya raya, omongan jelek tentangnya masih saja ada, dia yang tidak menikah juga padahal telah banyak lamaran membuat mereka menjulukinya calon perawan tua, bahkan ada yang bilang bahwa dia terlalu mandiri hingga tidak butuh lelaki.
Meutia tidak perduli, kekayaan ini dan tuannya, cukup sudah.
“Lama sekali kau tidak memanggilku ke sini Tuan.” Meutia lupa bahwa dia seharusnya tidak mengeluh, tapi ini sudah lebih dari satu bulan dan dia baru dipanggil ke gua itu. Mereka berdua bergumul dalam api asmara semalaman dan saat ini sedang beristirahat dalam peraduan tanpa busana terbalut kain saja sebagai selimut.
“Bukan urusanmu dan kau tidak diizinkan beratnya.”
“Maafkan aku Tuan.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan lamaran-lamaran itu, aku dengar kau menolak mereka dengan kasar.”
“I-iya, maaf Tuan, aku tidak menggoda mereka, aku selalu menolak.”
“Kau bodoh, seharusnya kau terima saja.” Darhayusamang membuat Meutia bingung.
“Maksud Tuan? aku seharusnya menerima lamaran mereka?”
“Tentu saja, kau bisa menjadikan mereka tumbal, untukku, untuk kekuatanku, nikahi mereka dan aku menjamin, tidak aka nada malam pertama karena sebelum itu terjadi, lelaki itu akan mati, dia akan menjadi tumbalmu, bagaimana?” Darhayu menawarkan sesuatu yang membuat Meutia ngeri, tapi dia tidak berani menolak.
“Apa itu boleh Tuan? bagaimana jika akhirnya ada yang curiga?”
“Kau tidak percaya padaku? kita akan merencanakan semuanya dengan baik, sebaik kita menjalankan semuanya selama ini.”
Sungguh dua orang makhluk ciptaan Tuhan yang tidak berhati ini telah menjadi pengikut iblis, bagaimana mereka menjadi merasa punya kendali atas kehidupan orang lain.
…
“Kau yakin akan menerima lamaran itu, Nak? dia memang lelaki tampan dan mapan, tapi dulu dia pernah menjauhimu karena kita miskin, Nak, ditambah Darhayu pasti akan murka.”
“Tenang saja, ini perintah Tuan, dia yang menentukan tumbalnya.”
“Astaga! Tuan meminta tumbal?”
“Ya, dia bilang tidak akan membiarkan lelaki itu menyentuhku, tapi aku bisa mempersembahkan jiwa suami-suamiku kelak untuk mempertinggi kekuatan Tuan, Ayah.”
“Baiklah, tapi kau tahu bukan, kalau tumbal itu sesuatu yang sangat menakutkan, dosanya ….”
“Kalau aku memikirkan dosa, tentu aku tidak akan menikah dengan Darhayusamang Ayah, aku mungkin akan menjadi gadis miskin yang nestapa dan tidak mampu menatap dunia karena rasa rendah diri.”
“Baiklah, aku akan melakukan apapun untuk membuat putriku satu-satunya bahagia, setelah ibumu meninggal, hanya kebahagianmu yang aku inginkan.”
“Terima kasih Ayah, maka suruh salah satu pelayan kita untuk menyampaikan berita tentang kita menerima lamaran dari pemuda tampan yang bodoh itu.” Meutia tertawa kecil, walau ada rasa ngeri yang ayahnya rasakan, tapi dia tetap melakukan apapun yang Meutia dan Tuan inginkan.
Setelah lamaran itu diterima, pemuda tampan bernama Haris Igasamat datang bersama keluarganya untuk melamar, kali ini Meutia memakai pakaian serba indah dan mahal, kebaya yang kainnya saja sangat mahal.
Ketika keluarga itu datang, sang pemuda melihat Meutia dalam baluatan kebaya ketat yang mewah itu semakin ingin segera menikahinya, wajah cantik dan cerdas itu ditambah kekayaannya yang sangat banyak, membuat Meutia terlihat semakin cantik.
“Ini mas kawin yang telah dibawa oleh keluarga Haris.” Salah satu keluarganya menyodorkan sekotak perhiasan, pada jaman itu perhiasan itu sungguh lebih dari cukup sebagai mas kawin, Meutia dan ayahnya tertawa.
“Aku memiliki kotak seperti ini yang memenuji peti-peti emasku, aku tidak melihat ini cukup untuk dijadikan mahar.” Meutia berkata dengan sedikit sombong, dia juga teringat dulu sempat ditolak dengan kasar ketika ayahnya datang dan menyatakan tertarik untuk berbesanan, tapi saat ini, posisi sudah sangat terbalik.
“De Meutia, apa yang Adik inginkan? aku akan berusaha mencarikannya.” Haris yang sudah kepincut dengan keindahan tubuh dan wajah Meutia mulang hilang akal, keluarganya tidak sekaya itu walau berkecukupan.
“Aku tidak butuh apa-apa, karena aku punya semuanya, aku cuma minta satu, aku tidak mau tinggal di rumah mertuaku, aku ingin kau yang tinggal di sini, bagaimana?” Meutia memberikan syarat yang cukup berat, karena pada jaman itu seorang menantu perempuan harus mengabdi pada keluarga suami dan tinggal bersama keluarga suami, apa yang Meutia minta membuat semua keluaga Haris mulai ribut, mereka tidak suka kearoganan yang ditunjukan oleh Meutia.
“Aku tidak memaksa, jika itu sungguh berat, maka kalian semua akan diantarkan oleh ayahku untuk pulang dan silahkan bawa kembali emas sedikit ini.” Meutia hendak berdiri dan masuk ke kamarnya, tapi Haris mencegah, dia mendekati Meutia.
“Aku setuju, aku akan tinggal di sini bersamamu, asal bersamamu, tidak masalah dimanapun itu, aku setuju.”
Orang tua Haris terlihat kecewa dengan keputusan anaknya, padahal dia adalah anak lelaki satu-satunya, harapan keluarga, semua adik dan kakak Haris adalah perempuan, sudah terbayang bahwa nanti masa tua mereka akan sepi karena tidak ada yang akan tinggal bersama mereka jika Haris menuruti maunya Meutia.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu, mari kita laksanakan pernikahannya, tapi aku akan tambahkan mas kawinnya, memalukan saja, masa menikahiku dengan emas sesedikit itu.” Meutia lalu masuk ke kamar tanpa pamit, hal yang tidak sopan dilakukan seorang calon menantu pada keluarga calon suaminya, tapi Haris tidak perduli, membayangkan menikmati tubuh Meutia sudah membutakan mata dan hatinya.