Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 392 : Toko Emas 22


__ADS_3

“Kamu kenapa?” Mami bertanya, kakak di tempat tidur tidak mau makan malam setelah tadi pulang bersama papi.


Kakak hanya menggeleng karen dia tidak mau tidur dan tak mau bertemu dengan orang, dia hanya ingin menutup wajah saja. Ketakutan.


“Cici kenapa?” Kakak masih diam saja tidak mau bicara apapun.


Maminya keluar kamar dan makan malam bersama suaminya.


“Anak kita kenapa?” Mami bertanya karena papi tadi yang pulang bersama kakak.


“Sakit, dia demam tadi pulang dari kampusnya, tapi nggak mau ke klinik.”


“Kok nggak dipaksa.”


“Kurang ajar dia tadi bentak papi di depan supir, jadinya papi nggak paksa, takut jadi ribut.” Papi makan dengan kesal.


“Sudah kubilang kan, dia akhir-akhir ini selalu marah-marah, entah kenapa.”


“Mi, jangan terlalu dimajakan, jadinya begitu itu.”


“Iya Pi.”


Mereka meneruskan makan malam.


Hari berganti, kakak masih saja tidak mau keluar dari kamar, sudah tiga hari dan dia juga tak mau makan, ini dia lakukan ketika adiknya meninggal dunia, dia hanya minum itu juga dipaksa, mami mulai khawatir, urusan toko emas akhirnya diserahkan pada pegawai baru, Sum. Dia pegawai yang cekatan, pembantu senior juga disuruh ke sana, hanya memastikan satu sama lain tidak berbuat curang, kalau disuruh jaga sendiri nanti kayak pegawai toko sebelumnya, mencuri.


“Kamu kenapa sih! sudah tiga hari nggak mau makan, kamu nih putus cinta?” Mami menebak, jangan kekasih, lelaki mendekat saja tidak ada, kakak juga cenderung tertutup.


Kakak hanya menggeleng.


“Kalau nggak kenapa-kenapa, kok kamu tidak mau makan dan matanya bengkak gitu?” Mami bertanya lagi.


“Aku nggak apa-apa.”


“Kalau gitu ayo makan, Mami nggak mau kamu makan di sini, makan di luar bareng mami, papi ke pabrik, jadi nggak makan di sini.”


“Nggak mau.”


“Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit.”


“Nggak.”


“Kau nih sudah dewasa, sekarang apalagi coba? Mau apa lagi kau? belum cukup semua penderitaan kami?!” Ibunya menangis, kesal karena anak sulungnya selalu saja membuat ulah yang membuat orang tuanya khawatir.


“Kalau begitu aku diusir saja lagi.”


“Kamu nih!” Ibunya kesal lalu dia keluar dari kamar.


Walau saat ini rumah mereka sudah besar, karena sudah direnovasi menjadi 2 lantai, mobil ada beebrapa, punya supir dan beberapa pembantu, tapi keluarga ini tidak bahagia di dalamnya, selalu saling menyalahkan dan selalu saling merasa bersalah. Mereka tidak pernah berkomuniksi dengan benar.


“Saya capek sebenarnya, saya capek karena dua anak saya ... maksud saya, anak saya itu selalu membuat masalah.” Mami keceplosan saat bicara dengan pembantu seniornya, pembantu yang paling setia, tidak pernah berbisik ke tetangga tentang kamar itu, kalau sampai tetangga tahu, pasti dari para pembantu baru.


“Namanya juga anak Bu, selalu saja membuat orang tua khawatir, mungkin ada baiknya kita tidak terlalu memanjakannya.” Ini yang menjadi salah satu kelemahan pembantu senior, selalu blak-blakan kalau bicara.


“Aku memang selalu memanjakan mereka makanya hal itu bisa terjadi, andai aku lebih keras pada mereka, pasti anak-anakku akan akur saat ini.


“Nasi sudah jadi bubur, Bu. Ada baiknya sekarang memperbaiki yang bisa diperbaiki.” Pembantu itu memijat bahu majikannya agar dia bisa lebih tenang.


“Apa yang bisa aku lakukan dengan anak yang tidak mau bicara?”


Setelah berbicara dengan pembantunya, mami tertidur sore itu, sedang kakak juga sama, dia juga tertidur, dia tertidur setelah beberapa malam ini dia tidur dengan tidak benar karena masih ketakutan.


Kaka tidur dengan lelap.


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


Kakak terbangun mendengar itu, dia melihat sesosok perempuan duduk di meja riasnya, menyisir rambut, kakak bangun dengan perlahan, matanya menahan tangis dan juga suaranya dia tahan agar tidak keluar, dia sungguh sangat ketakutan. Padahal ini masih sore hari.

__ADS_1


Sosok itu mengatakan kata-kata yang tidak kakak mengerti sama sekali, bahasa apa itu.


Kakak berdiri perlahan hendak keluar, dia tetap melihat ke arah sosok di kaca meja riasnya, karena menghadap meja rias, kakak hanya melihat tubuh bagian belakangnya, lalu pada pantulan kaca, kakak melihat wajah itu, wajah yang tidak dia kenal, tapi dia yakin itu adiknya, walau wajah itu terlihat jauh lebih dewasa dari adiknya yang meninggal umur 12 tahun.


Kakak membuka pintu kamar perlahan dan begitu kamar terbuka, kakak langsung bersiap untuk berlari tapi sayang, tepat dihadapannya, ada sosok itu, dia sama tingginya, kakinya melayang dan gaun yang dia gunakan membuatnya seolah memiliki tinggi yang melewati batas wanita dewasa, padahal itu karena dia melayang dengan baju yang menjuntai sampai bawah melebihi kakinya yang melayang.


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


Sosok itu mengulang lagi kata-kata itu, kakak masih mencoba menahan tangis dan suaranya, tapi sosok itu sangat mengerikan dan berbau aneh, bukan bau busuk tapi wangi yang tidak pernah dia cium sebelumnya.


Karena sudah tidak kuat, kakak akhirnya berteriak dengan sangat kencang. Membuat seisi rumah tiba-tiba keluar, saat itu kakak ditepuk oleh ayahnya dan jatuh. Tubuhnya ditangkap ayahnya, kakak dengan tatapan kosong dan mata menangis, dia berkata ... “Maafin Cici, Dek ... maafin Cici.”


Papi dan mami mendengar itu langsung terdiam dan menarik anaknya masuk ke kamar, lalu mengunci pintu itu dari dalam, mami dan papi harus mengorek apa yang terjadi di sini.


“Kamu kenapa? cerita atau mami dan papi harus paksa kamu cerita!” Papi menekan setiap kata-katanya.


“Papi aku takut, aku takut, tolong aku, Pi!” Kakak menangis sejadinya.


“Takut apa?” Papi bertanya, mami tetap memeluk kakak.


“Aku takut ... sangat takut ... karena ... adek ... adek ... adek datang!”


Mami dan papi saling melihat, mereka terlihat sangat aneh.


“Kenapa kamu bilang begitu? kamu bermimpi?” Papi mencoba menampiknya dulu.


“Memang kau lihatnya di mana?”


“Di mana-mana!” Kakak menangis mengatakannya dan semakin erat memeluk mami.


“Baiklah, berarti kita memang harus menceritakan segalanya padamu, bukankah babah juga pernah bilang, akan ada kemungkinan koneksi antara kakak adik karena kalian satu kandungan, cepat atau lambat, kau akan merasakan kehadirannya, walau itu yang paling kami hindari.”


“Apa maksud, Mami?” Kakak bertanya dan melepas pelukan itu.


“Kamu tahu kan cerita tentang keluarga mami yang ... yang memelihat anak ambar?” Mami berkata dengan hati-hati.


“Ya ... lalu?”


“Kami melakukannya, kami memanggil adikmu kembali.” Ibunya menangis mengatakan itu.


“Apa! kalian memanggilnya? Kenapa!” Kakak berteriak mendengar itu.


“Karena aku takkan sanggup hidup lagi jika saja tidak memanggil anak ambar kami! Makanya kami panggil dia dengan ritual.”


“Mami! kau tidak memikirkan diriku, kenapa kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri!” Kakak kecewa, karena serangkaian kejadian ini karena dia penyebabnya adalah ibunya sendiri.


“Kau yang tidak memikirkan kami saat bertengkar dengan adikmu perkara kaos putih itu. Jika saja kau mengalah, kita takkan berada di situasi seperti ini.” Maminya mengingatkan bahwa kemarian adiknya adalah karena dirinya.


“Mami tetap menyalahkanku, padahal aku benci adik karena kalian tidak sayang padaku.”


“Darimana pemahaman itu? kami sayang kalian berdua!”


“Tapi kenapa aku yang pergi dari rumah? Kenapa kau yang disisihkan!”


“Kau berniat membunuh adikmu saat adikmu masih bayi! Kami takut kalau kau mencelakai adikmu makanya kami memisahkan kalian! Bukan karena tidak sayang, tapi karena kami ingin kalian berdua selamat!”


“Tapi nyatanya, kalian memilihku untuk pergi, selalu begitu kan!” Kakak protes, kelak ini adalah salah satu alasan kakak tidak mau pindah ke apartemen, karena dia tak mau lagi diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena adiknya.


“Baiklah, kita tidak perlu perdebatkan lagi semua ini ya, semua sudah terjadi dan sudah kita lewati, kami memang memanggilnya, dia ada di kamar itu, kamarnya sendiri.”


“Pantas kau tak mengizinkanku masuk, kau takut anakmu itu akan membunuhku bukan?”


“Kau!” Papi hendak menampar kakak, tapi ditahan mami, dia tak ingin anaknya menjadi semakin marah para mereka.


“Kami hanya ingin kau selamat, itu saja, karena kami tahu, dalam ingatan terakhir anak ambar kami, kau yang mendorongnya hingga dia ditabrak truk itu! maka sebaiknya kalian tidak bersinggungan, it kata Babah.”


“Tapi dia datang padaku!”

__ADS_1


“Itu pasti karena malam itu, kau mengintip, mungkin dia secara tak sengaja melihatmu dan ingin mencelakaimu, aku akan adakan ritual untuk menangkannya.”


“Mi, tapi ritual itu berat bukan?” Papi mengingatkan.


Ritual itu adalah memakai gelang yang akan membuat energi mereka dihisap, lalu gelang itu akan menjadi media bagi anak ambar untuk mendapatkan energi dari orang tuanya, energi itu terasa nikmat bagi anak ambar, semacam hadiah persembahan dari pengorbanan diri, tidak bisa dibilang tumbal karena tidak ada yang meninggal dunia.


“Kalian masih tetap ingin mempertahankan anak itu!” Kakak marah karena dia takut. Takut adiknya dan takut orang tuanya celaka.


“Kami tetap akan mempertahankan adik dan jug Cici, kami takkan pernah kehilangan kalian berdua lagi!” Mami memastikan kalau anaknya takkan pernah membantah.


“Lalu kalau dia menghantuiku lagi bagaimana?”


“Dia adikmu! Dia bukan setan yang dendam.” Papi kali ini yang berkata.


“Tapi dia ... dia ... mengerikan!”


“Kau takkan melihatnya lagi asal kau jangan ke kamar itu!”


“Kalian harusnya mengusir dia saja!” Kakak memaksa.


“Tidak akan, kalau kami mengusirnya, maka kami akan mengusirmu juga.” Mami benar-benar tidak mau mengalah kali ini.


“Mi ....”


“Kamarmu akan pindah ke lantai dua, kami akan mengasapi lantai dua dengan dupa, agar kau tenang, adik tidak akan mendekati lantai dua, karena dupa yang kami nyalakan dupa khusus, dupa dengan bau yang adik tidak suka, sedang di kamarnya dupa yang dia sukai, dupa yang sudah Babah mantrai juga.


Kami janji, adik takkan mengganggu kakak, selama kakak berjanji juga, takkan pernah masuk ke kamar itu, karena kau akan memprovokasi adik untuk membalas, ingat, dalam ingatan anak ambar kau adalah cicinya yang dia tidak suka dan jahat, sekali kau melakukan hal yang tidak dia suka, kau akan diganggu olehnya.”


“Tapi dia menggangguku sekarang!”


“Tidak akan lagi, aku janji!” Mami berkata dengan sungguh, sungguh, “tapi kau harus mau pindah ke lantai dua, kami tidak menyisihkanmu, tapi kami melindungimu, sama seperti yang kami lakukan juga saat dulu mengungsikanmu ke rumah kerabat, kami ingin kalian berdua selamat, tapi karena kau lebih besar, maka kau yang kami ungsikan. Mengerti!” Mami memaksa.


“Ya, aku akan pindah ke lantai 2, tapi kalian harus membuatnya tidak menggangguku!”


“Takkan pernah, izinkan kami melakukan ritual pengorbanan, maka kelak dia akan tenang lagi di kamarnya.” Mami berjanji, kakak akhirnya setuju.


Hari berikutnya pemindahan kamar kakak langsung dilakukan, sebelumnya lantai dua hanya dijadikan kamar kosong saja, jika ada saudara yang berkunjung bisa menginap di kamar itu.


Tapi sekarang akan menjadi kamar kakak dan kamar kakak akan menjadi kamar tamu.


Setelah kamar pindah, mami mengasapi seluruh sudut lantai dua dengan dupa yang sudah dimantrai, dupa yang baunya adik tidak suka.


Dupa itu tidak diperbolehkan habis, setiap hari harus diganti yang baru jika dupa lama habis, kelak pembantu akan ditambah karena perkara menyalakan dupa ini.


Setelah urusan kamar kakak selesai, tiba waktunya ritual pengorbanan, keluarga ini memelihara anak ambar tidak dengan tujuan mencelakai orang lain, mereka melakukan ritual pengorbanan dengan mengorbankan diri sendiri. Tidak pernah keluarga itu menggunakan orang lain untuk melakukan ritual pengorbanan, bagi mereka hanya keluarga cukup, dilakukan hanya agar adik ada di rumah itu dan mereka bisa tetap menjalani hidup dengan mempertahankan adik tetap ada di rumah, mami selalu di kamar itu setiap malam, membacakan cerita dan selalu mengorbrol dengan adik yang perlahan tetap bertumbuh, tidak seperti ruh anak lain yang tetap dengan wujud meninggalnya, karena memang itu keistimewaan anak ambar. Makanya kakak sempat tidak mengenali sosok adik yang terlihat lebih dewasa dari saat dia meninggal.


Setiap apapun yang dilakukan keluarga ini adalah hal baik yang benar, bukan hal baik yang dibuat-buat, karena mereka aslinya memang orang baik, tapi karena tidak mampu menerima rencana Tuhan, makanya mereka akhirnya memanggil anak ambar, menjadikan adik sebagai anak ambar mereka.


Hari berjalan dengan baik setelahnya, kakak tidak lagi ketakutan karena tidak diganggu adiknya lagi, adiknya hanya ingin bermain padahal, tapi tentu kakak tidak bisa memenuhinya, masih hidup saja dia enggan bermain dengan adiknya, apalagi telah meninggal dunia.


Ritual pengorbanan pertama yang dilakukan orang tua mereka berhasil adik menjadi tenang dan tidak mengganggu kakaknya lagi, lantai dua juga menjadi tempat yang tidak akan pernah adik bisa masuki karena bau dupa yang diganti berkala itu.


Hari berjalan hingga kakak lulus kuliah dan tetap di rumah karena pekerjaannya tidak selalu dilakukan di kantor.


Hingga hal itu terjadi ... adik kembali marah karenanya.


...


“Jadi benar itu anak ambar?” Aditia memastikan lagi, karena tentang anak ambar memang dijelaskan di kitab yang Ganding temukan di markas ghaib, ketika mereka menemukan foto tabung dengan patung manusia mini dan juga menemukan tabung itu di kamar yang selalu dikunci pada rumah pemilik toko emas itu, kawanan sudah tahu bahwa pemilik toko emas itu memiliki anak ambar.


“Ya, itu anak ambar.”


“Tapi berdasarkan kitab, anak ambar tidak meminta tumbal, asal dia dirawat dengan baik, orang tuanya pasti merawat anak ambar itu dengan baik bukan?”


“Ya, anak ambar tidak pernah meminta tumbal! Kematian yang kalian curigai karena anak ambar juga, bukan sepenuhnya kesalahan anak itu, tapi ada faktor lain yang membuat anak ambar menjadi marah hingga mencelakai orang lain.


“Bagaimana cara kami membawanya ‘pulang’ ke tempat para ruh anak?” Aditia bertanya lagi.


“Tidak bisa, karena anak ambar sudah bertumbuh, hingga ruhnya tidak akan dianggap sebagai ruh anak-anak, maka tempat selanjutnya adalah ....


Kawanan terlihat sangat kesal karena tahu, orang tuanya sangat salah langkah hingga membuat ruh anaknya akan ....


__________________________________


Catatan Penulis :


Seneng nggak dikasih triple update yang isinya 2000 kata per part? Komentar ya.


Makasih buat kalian yang komentar kasih tahu aku pengalaman kalian pernah makan sajen, aku senang membacanya, kalian orang-orang baik yang mau berbagi pengalaman, jadi aku tahu dari perspektif lain.


CERITA INI FIKSI ya, jadi jangan dianggap acuan untuk menjalani hidup atau memandang sesuatu ya, nanti aku yang dosa.


Lalu jangan lupa like, trus vote aku, komentar juga dong.


Trus jangan lupa juga follow/ikuti akun noveltoonku.


IG, TIKTOK, FB : MUKA KANVAS juga jangan lupa di follow.


Seperti biasa, aku izin cuti sehari ya, karena harus istirahatkan jiwaku setelah beberapa hari ini maksa untuk crazy up.

__ADS_1


Makasih buat kalian yang selalu dukung aku.


__ADS_2