
“Katanya aku tak perlu sekolah di sekolahan? Kenapa sekaran kami dipaksa?!” Mulyana dan Aep protes, karena ibunya memaksa untuk sekolah lagi.
“Karena syarat masuk perguruan tinggi sekarang, kau harus punya ijazah sekolah menengah atas, maka sekarang kalian harus sekolah.”
“Tapi … memang tak masalah Bu, kalau kita masuk langsung SMA kayak begini? lagian, kok aku dan Mulyana harus ditingkat yang sama, kenapa! aku kan lebih tua! tidak adil!” Aep kali ini yang protes.
“Mungkin supaya kau menjaga adikmu yang sangat tampan ini.” Mulyana berkata dengan penuh percaya diri.
“Ya, kau benar Yan, ibu sengaja menaruh kalian di kelas yang sama, tapi bukan agar Aep menjagamu, tapi sebaliknya!”
“Bu!” Aep protes karena justru adik yang jaga kakak.
“Kamu tidak ingat kejadian terakhir saat kalian sekolah! Kamu kerasukan, ibu tidak mau kalau kejadian itu terulang lagi! Mengerti.”
“Bu, itu hanya karena sekolah itu angker, ini tidak adil, kenapa harus aku yang turun kelas, kenapa tidak Mulyana yang naik ke tingkatku!”
“Tidak bisa, aku sudah usahakan, kalian masuk sekolah itu nyogok, ini hanya untuk kalian bisa masuk kuliah, jadi tidak usah protes, kalau masih protes, sekalian aku masukkan kalian sekolah SMP saja, gimana?” Bagi kedua anak ini, pendidikan tidak terlalu penting karena tujuan hidup keluarga mereka adalah menyeimbangkan dunia nyata dan dunia ghaib. Sekolah adalah hal yang Aep sukai, dia merasa beruntung ketika akhirnya ayahnya tidak memaksa dia untuk mengikuti jejaknya dan beralih ke Mulyana.
“Tidak!!!!” Adik kakak beda ibu itu berteriak, walau bagi Aep, ibunya Mulyana adalah ibunya, cara merawat ibunya tidak ada berat sebelah sama sekali, saat salah dimarahi, saat benar dipuji. Ibunya lalu pergi ke dapur setelah bicara dengan kedua anaknya itu.
“Sudahlah Kak, ibu itu memang sangat otoriter, kau tahukan pemimpin Uni Soviet, siapa namanya?” Mulyana berusaha mengingat.
“Joseph Stalin.” Kakak dan adik itu memang pintar.
“Iya benar!”
“Mulutmu itu, ibu tidak melenyapkan pembelot, kalau dia seperti Stalin, sudah lepas lehermu dari kepala! Kau mau kuadukan ke ibu!”
“Dasar pengaduan!” Mulyana kesal karena kakaknya tidak mau jadi sekutu mengatai ibu mereka sebagari pemimpin yang otoriter.
Hari itu bergulir seperti biasanya, kakak beradik asik bermain dan belajar bersama, hingga waktu sekolah dimulai.
…
“Yuk, masuk.” Aep dan Mulyana masuk ke kelas mereka sudah masuk sekolah, kelas 1 SMA.
Mereka duduk di bangku paling belakang, ibu dan ayah mereka berkata untuk tidak menonjol dan sebisa mungkin tak terlalu terlihat. Maksudnya mereka tak boleh terlihat memiliki kemampuan.
"Kita harus mengaku anak kembar?" Aep kesal mendengar itu, padahal tubuh mereka sangat terlihat, kalau mereka itu tidak seperti anak kembar, tapi adik kakak. Ibu mereka bilang harus mengaku anak kembar agar tidak ketahuan sekolahnya nyogok.
"Tak apa lah, kita ini kan memang anak kembar dari ayah yang sama kan?"
"Kamu mau aku tampar?" Aep kesal karena Mulyana terlihat senang saja, tapi Aep tidak, dia ingin segera selesai sekolah dan berkuliah, tapi karena harus bersama Mulyana, makanya dia kesal harus lambat. Ibu mereka memang tidak ingin Aep dikeramaian tanpa Mulyana, dia lebih over protectif setelah Aep dan Mulyana celaka dulu itu.
Makanya keputusan diambil, bahwa mereka harus bersama terus.
Pelajaran dimulai, ini adalah jam pelajaran pertama, lalu masuk ke jam pelajaran kedua, setelah itu istirahat untuk makan siang.
Saat istirahat mereka berdua makan bersama seperti yang lain dan mulai berbaur, ada banyak orang yang berasal dari SMP yang sama, sehingga mereka menjadi terlihat lebih akrab. Sedang Mulyana dan Aep yang tidak diperbolehkan terlalu menonjol atau dekat dengan siapapun, mereka berdua harus tetap menjaga sikap, tidak terlalu menanggapi keakraban orang lain.
Tapi berbeda dengan tiga anak yang saat ini makan bersama mereka. Namanya Adi, Rahman dan Nando, mereka bertiga meja di kelasnya berdekatan dengan Aep dan Mulyana. Sehingga sering berinteraksi.
Keakraban sulit dihindari karena mereka bertiga sangat ramah dan tidak berlebihan.
__ADS_1
Hari berganti, waktu terus bergulir hingga tak terasa sudah tiga bulan mereka sekolah, Aep dan Mulyana bercerita pada orang tuanya, mereka menjaga diri agar tak menonjol, bahkan ketika mereka bisa memecahkan soal yang diberikan guru, Aep dan Mulyana menahan diri untuk tidak tunjuk tangan dan mengerjakan soal yang bagi mereka sangat mudah, sudah dipelajadi jauh sebelum masuk sekolah.
Rumus-rumu matematikan adalah apa yang Mulyana sukai, sedang Aep menyukai Biologi dan Fisika. Mereka berdua bahjan sengaja mengerjakan PR dengan asal-asalan saja, agar tidak mendapat nilai tertinggi.
Kata ayah, cara paling mudah untuk tidak terlihat atau tidak menonjol adalah, menjadi bodoh, kalau bodoh, sudah tentu tak ada orang yang sudi untuk melihat mereka, jangankan mengakrabkan diri, melihat saja tidak suka.
Tapi berbeda dengan tiga orang teman itu, mereka sangat membantu Aep dan Mulyana, mereka tak mengecilkan Mulyana ataupun Aep yang terlihat bodoh dan kekurangan atau terlihat miskin, mereka memakai seragam yang dibeli bekas dari orang dan sepatu yang tidak lusuh pula.
Apakah kalian tidak bertanya, masa tidak ada yang kenal anak Drabya yang terkenal kaya dan dermawan itu?
Pertama, Drabya dan istrinya sebisa mungkin tidak membiarkan orang banyak tahu wajah anak mereka, bahkan ketika sekolah SD ketika Aep kerasukanlah orang-orang baru tahu kalau Drabya dan istrinya memiliki dua anak yang bersekolah di SD itu, tapi begitu sudah dikenali, mereka langsung disekolahkan di rumah, alasannya pertama tentu saja karena fokus mereka bukan akademik, tapi kemampuan spiritual yang tinggi, maka belajar di rumah menjadi hal yang cukup.
Lalu alasan kedua adalah, Drabya tidak ingin wajah anaknya terpublikasi secara dini, dia punya banyak musuh dukun, dukun yang dia perangi. Mereka tentu akan mengincar anak dan istri Drabya, makanya Drabya dan istrinya sangat hati-hati saat akan memperkenalkan anak-anaknya pada publik.
Maka dari itu, ketika usulan sekolah digagas lagi oleh ibunya, Drabya meminta istrinya untuk mencari sekolah yang cukup jauh, untuk menghindari anak-anaknya menjadi target para dukun dan tentu saja, tak ada yang mengenali Drabya, si orang kaya raya yang dermawan itu.
Aep dan Mulyana harus memiliki kemampuan perlindungan diri yang mumpuni agar mereka berdua bisa melindungi diri sendiri setelah banyak orang yang tahu, siapa jati diri mereka. Aep dan Mulyana tak protes karena sudah sedari kecil dididik untuk selalu patuh pada Drabya dan istrinya, mereka berdua mendidik Mulyana dan Aep dengan kehangatan dan ketegasan yang baik dan tepat, sehingga dua anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan penurut.
“Ngerti nggak?” Adi bertanya pada Mulyana, dia sedang menjelaskan rumus matematika yang sulit diselesaikan oleh hampir setengah kelas ini.
“Iya ngerti kok, makasih ya Di.” Mulyana berpura-pura baru mengerti sekarang.
“Adikku ini orangnya memang agak lama ya, dia tuh waktu lahir aja telah lima menit, jadinya gitu, otaknya lebih kecil.” Aep menghina adik kembar bohongannya.
“Oh, jadi beda umur kita hanya 5 menit ya?” Mulyana melirik Aep dengan tajam.
“Kalian tuh ya, udah sih jangan bercanda mulu, belajar, jangan sampai nggak naik kelas ya.” Rahman terlihat kesal karena dua orang yang mereka sudah upayakan untuk bisa mengerjakan soal malah terlihat santai seolah tak takut untuk tinggal kelas.
“Memang syarat naik kelas itu apa?” Mulyana bertanya, sementara Nando hanya memperhatikan mereka saja sambil tersenyum sesekali, dia yang paling pintar, Mulyana kadang merasa kewalahan ketika menyembunyikan kecerdasannya di hadapan Nando yang sepertinya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia sepertinya terkadang sangsi dengan kepura-puraan Aep dan Mulyana dalam hal mengerjakan soal.
“Ke toilet dulu ya.” Mulyana izin ke toilet, sekarang sebenarnya jam sekolah sudah selesai, tapi mereka masih berkumpul dalam rangka mengajari Mulyana dan Aep soal matematika yang sulit.
“Aku ikut.” Nando menyusul Mulyana dan mereka berdua sudah berjalan ke arah kamar mandi.
“Kau kebelet pipis juga?” Mulyana bertanya pada Nando.
“Iya, sepertimu.” Nando menjawab dengan tenang tangannya merangkul bahu Mulyana, mereka berlima memang terbiasa untuk saling merangkul, mereka sangat akrab.
“Begitu sampai kamar mandi, Mulyana buang air kecil di kloset lelaki yang tidak berada di bilik, tapi begitu masuk, kita bisa melihat closet yang gunanya adalah untuk menampung buang air kecil lelaki.
Si sampingnya ada Nando yang juga mengerjakan hajat seperti temannya itu.
“Kau dan kakakmu benar-benar berbeda hanya 5 menit?” Nando bertanya.
“Hmm, menurutmu?” Mulyana bertanya balik.
“Menurutku, tidak begitu, dari ukuran tubuh kalian saja sudah bis terlihat, lalu bagaimana Aep memperlakukanmu seperti adik kecilnya, kalian seperti beda 5 atau bahakn 8 tahun.”
“Nggak lah Nando! Kami itu beda hanya lima menit. Kata ibuku, dulu itu aku memang sulit makan, jadi pertumbuhanku sangat lambat dibanding kakakku yang sangat suka makan dan makan apapun tanpa pilih-pilih, kalau aku sebaliknya, makanya pertumbuhan kami berbeda dan terlihat signifikan.”
“Ya, mungkin begitu, tapi Yan, kenapa kau memanggilnya Kak? Anak kembar biarpun punya status kakak atau adik karena perbedaan umur beberapa menit, biasanya tidak memanggil sapa kakak atau adik pada saudara kembarnya. Tapi kamu, kenapa kamu malah sebaliknya?”
“Oh itu, iya, soalnya di keluarga kami, menjunjung tinggi tata krama, makanya kami tetap menggunakan sapaan kakak dan adik pada saudara yang lahirnya lebih dulu atau lebih lambat, tak peduli perbedaan umur. Belum lagi jika saja aku punya sepupu yang merupakan adiknya mama atau ayahku, walau sepupuku itu lebih tua karena kelahiran, dia tetap harus memanggilku kakak, karena status ibu atau ayahku yang merupakan kakak mama atau papanya.
__ADS_1
Kau tahulah, tatakrama keluarga itu kadang di luar nalar.” Mulyana mencoba menjelaskan yang masuk akal, alasan dia memangil Aep dengan sebutan kakak.
“Yan, kau bisa percaya padaku, kalau kau pikir mau berbagi masalah, aku akan sebisa mungkin menjaga kepercayaanmu padaku, termasuk tidak bercerita pada yang lain.”
“Maksudmu?” Yana tidak mengerti.
“Ya, kelak, jika kau merasa ada masalah, kau bisa cerita padaku.” Nando selesai dengan hajatnya dan menepuk bahu Mulyana, tanda dia sangat empati pada Mulyana.
Mulyana terkesan dengan apa yang Nando katakan, dia merasa tersentuh, selama hidup dia memang sangat tertutup dan lumayan terkucil, walau merasa kaya, cerdas dan tampan, tapi dia tak boleh sembarangan bersahabat dengan orang, ayahnya selalu bilang, kalau banyak orang yang sulit dipercaya.
Orang banyak mengambil manfaat saja dibanding bermanfaat untuk sesama, maka Drabya mendidik Aep dan Mulyana untuk bermanfaat bagi sesama.
Selesai dari buang air kecil, mereka bersiap pulang.
“Udah mau pulang?” Mulyana bertanya pada yang lain.
“Iya, ayo bereskan tasmu.” Adi meminta Mulyana untuk membereskan tasnya, mulyana menurut, mereka semua keluar duluan, dia dan Nando masih bersiap dengan membereskan tas mereka, lalu menyusul keluar.
“Ayo cepet.” Aep terlihat kesal karena adiknya lama sekali.
“Sabarlah, yuk.” Mulyana menoleh ke belakang untuk meminta Nando juga buru-buru, karena dia juga sangat lelet bebers tasnya.
Setelah semua orang keluar kelas, mereka lalu menuju gerbang sekolah.
Penjaga sekolah menyapa, “Kok telat pulangnya?” Penjaga sekolah bertanya.
“Iya, ini ajarin temen kami, dia suka susah ngerjain PR, makanya tadi di kelas dulu.”
“Wah, anak-anak baik kalian ini, sangat setia kawan ya.” Penjaga sekolah tersenyum membukakan gerbang yang sudah ditutup tadi, karena ini hampir sore.
Setelah semua keluar, pak penjaga sekolah menutup gerbang lagi.
“Ayok.” Mulyana melihat Nandi jalan dengan lambat.”
“Iyaaa sabar, buru-buru banget sih, mau ngantri sembako?” Nando kesal karena selalu diburu-buru.
“Yan, besok jangan lupa ulang lagi pelajarannya ya.” Adi mengingatkan Yana agar giat belajar.
“Iyaaaa.” Mulyan seperti mengiyakan ayahnya, dia dan yang lain lalu berpisah di jalan, karena rumah yang berbeda-beda satu sama lain.
Tinggal Mulyana, Aep dan Nando, mereka berjalan beriringan, Mulyana ditengah dan Aep serta Nando di samping kanan kirinya.
“Yan, aku lelah kalau harus selalu berpura-pur ....”
“Kak!” Mulyana mengingatkan Aep agar menahan kata-katanya, karena masih ada Nando di sana.
“Hah? oh ... ya.” Aep baru sadar kalau dia berbicara di ruang terbuka, dia seharusnya lebih hati-hati.
“Tuh kan, apa kubilang, pasti kalian sedang menyembunyikan sesuatu, apa sih yang kalian sembunyikan?” Nando terlihat senang karena di akhirnya bisa mendengar Aep keceplosan hampir mengatakan pura-pura.
“Kakakku itu memang suka ngelantur, dia itu paling nggak suka pura-pura pintar di hadapan orang tua kami, makanya dia begitu. Ya kan, Kak?” Mulyana meminta bantuan dari kakaknya.
“Hah? i-iya, aku ....” Aep terlihat gelagapan, mungkin masih merasa gugup dengan keceplosan perkataan tadi.
__ADS_1
“Tuh kan, gitu, udahlah Nando, jangan kamu curiga, kalau ada apa-apa aku pasti cerita.” Mulyana berusaha untuk tetap terlihat tenang, walau dia kesal sekali, kenapa bisa-bisanya Aep keceplosan.